Yusi Avianto Pareanom: Menulis Itu Butuh Ketekunan dan Kekeraskepalaan dalam Derajat Tertentu

Seorang kenalan saya pernah memberi saran. Kalau ingin menulis, benar-benar ingin menjadikan menulis sebagai sesuatu yang serius, setidaknya ada tiga karya yang perlu dibaca (dan lebih bagus lagi, dipelajari): The Old Man and The Sea karya Ernest Hemingway, The Great Gatsby karangan Scott Fitzgerald, dan One Hundred Years of Solitude oleh Gabriel Garcia Marquez.

Mungkin saja ia lupa menyebut karya penulis asal Indonesia, atau mungkin menurutnya memang belum ada penulis sekelas tiga nama di atas dalam kepalanya. Entah. Namun, dalam perjalanan saya mencari bacaan sebagai penulis (termasuk tiga judul buku di atas, dan banyak lainnya yang mencatat rating tinggi), ada banyak juga penulis Indonesia memiliki karya menarik dan layak dipelajari untuk siapapun yang ingin menjadikan penulis sebagai tujuan hidup. Salah satunya, karya-karya Yusi Avianto Pareanom.

Yusi Avianto Pareanom adalah penulis, editor, dan pendiri Penerbit Banana. Novelnya yang berjudul Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi (2016) memenangkan penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa, dan masuk ke dalam daftar prosa pilihan salah satu majalah terkemuka. Ia juga menulis Rumah Kopi Singa Tertawa yang diterbitkan kembali pada 2017, serta kumpulan cerpen Muslihat Musang Emas (2017). Beliau juga diangkat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta periode 2016-2019, dan menjadi ketua panitia Jakarta International Literary Festival (JILF) yang akan diadakan pada Agustus 2019 mendatang.

Baca Juga: Avianti Armand: “Dengan Menulis, Saya Menemukan Suara Saya yang Paling Jujur”

 

Yusi Avianto Pareanom: Menulis Itu Butuh Ketekunan dan Kekeraskepalaan dalam Derajat Tertentu
(Dok. Salihara)

Ditemui seusai diskusi prafestival JILF ketiga pada Sabtu (22 Juni) lalu di toko buku Post Santa, Crafters mendapat kesempatan berbincang dengan Yusi Avianto Pareanom tentang perjalanan kepenulisannya, dan peranan festival dalam lanskap kesusastraan Indonesia. Berikut wawancara kami.

Kapan tepatnya Mas Yusi pertama jatuh hati pada dunia tulis-menulis?

Selalu dimulai dari membaca. Kalau membaca, kan memang sejak kecil; sejak usia kanak-kanak, Sekolah Dasar, memang tersedia cukup banyak bacaan karena ibu saya guru. Kemudian ayah saya juga sering membelikan buku berlangganan, surat kabar, dan sewaktu aku kecil juga ada persewaan komik di kampung.

Seingatku ada tiga tempat persewaan. Artinya, sebagai anak-anak tumbuh kesadaran membaca lewat akses tersebut. Dari situ kan mulai senang dan berlanjut-lanjut. Kemudian ketika SMP, perpustakaan sekolahnya bagus di Semarang, SMA-nya juga begitu. Ada juga perpustakaan daerah yang bagus.

Jadi dari membaca, baik komik atau apa pun, timbul ketertarikan. Asyik ya ternyata, kalau bisa ke tempat-tempat yang dituliskan oleh para penulis dalam buku-buku merekaNah, dari situ, sepertinya kok asyik juga kalau suatu saat memulai menulis. Untuk latihan menulis sendiri sudah dari SD, tapi sebelumnya berawal dari membaca dulu.

Menurut Mas Yusi, apa elemen terpenting dari tulisan yang baik?

Seluruh unsurnya bagus. Maksudnya, kalau tulisan dalam pengertian satu karya utuh itu semua unsurnya bagus. Bagaimana gagasan diolah, pengalimatannya beres, pembuatan plot—kalau kita ngomong fiksi—penokohannya juga beres. Kalau bisa ada terobosan. Kalau tidak, juga tidak apa-apa. Yang penting segala unsurnya beres.

Paling gampangnya, bikin kalimatnya benar atau enggak? Kalau kalimat saja belum benar, ya mungkin pembaca enggak perlu meneruskan membaca sampai selesai. Kemudian, bisa enggak tulisan-tulisan itu terhindar dari klise? Tukang foto kan sudah menghindari klise, masa kita, penulis, masih memakai klise? Kira-kira begitu.

Kebaruan itu bisa dari sisi tema, bisa dari pengolahan. Tapi, kalau tema itu tidak ada yang benar-benar baru; semisal, payung besarnya coming of age, derita minoritas, atau peristiwa gejolak suatu negara, tema-tema seperti itu kan pasti selalu ada. Tapi, bagaimana kita menceritakannya dengan cara yang tidak menjemukan? Tidak mengulang yang sudah-sudah, dan juga tidak mengulangi kesalahan penceritaan yang lama. Kalau penceritaan yang lama itu mengandung kesalahan, ya jangan diulangi.

Kalau dalam penulisan nonfiksi, yang nomor satu adalah akurat. Kalau bahannya bagus, diolah sederhana sekalipun pasti akan menarik. Tapi, kalau bahannya terlalu simpel, butuh seorang jago masak yang benar-benar ahli, apalagi kalau bahannya sudah bermasalah.

Dengan Mas Yusi menekuni dunia tulis-menulis; menjadi seorang penulis, editor, sekaligus penerbit, bagaimana aktivitas-aktivitas tersebut membantu menemukan pribadi Mas Yusi yang sekarang?

Kalau pribadi dalam pengertian karakter manusianya, ya melalui interaksi dengan lingkungan, dengan orang-orang. Pekerjaan sebagai penulis, editor dan penerbit itu mau enggak mau mengharuskan banyak baca, banyak riset; itu membuat sadar bahwa apa yang kuketahui itu masih sedikit sehingga harus makin belajar lagi dan lagi. Menarik, tapi sekaligus sebetulnya sebuah pekerjaan yang menuntut kekeraskepalaan. Kalau enggak keras kepala ya enggak jadi-jadi. Harus ada kekeraskepalaan dalam derajat yang mungkin kurang bisa dipahami oleh orang-orang yang tidak menekuni tulis-menulis, tapi ini sebetulnya berlaku secara universal.

Kita juga enggak bisa paham kenapa ada orang menghabiskan puluhan tahun untuk naik sepeda roda satu dan ukuran bannya semakin lama semakin kecil. Nah, itu yang saya pikir baik. Seseorang menjadi tekun kemudian menjadi mahir. Ada ketekunan yang membutuhkan kekeraskepalaan dalam derajat tertentu.

Jika Anda diberikan sebuah kekuatan untuk menjadi seorang penulis yang lebih baik dan diminta untuk mengorbankan sesuatu, apa yang akan Anda berikan?

Kemalasan saya. Hahaha. Waktuku buat doing nothing but aging akan kukorbankan. Sebetulnya begini, tidak ada sesuatu yang misterius untuk seseorang bisa menjadi penulis yang lebih baik. Pertama-tama dia punya modal awal yang cukup. Aku selalu percaya ada bakat; ada modal awal yang cukup. Modal awal ini bisa berkembang kalau si penulisnya juga melakukan sekian kegiatan untuk membuat modalnya berkembang. Nah, kebanyakan penulis, termasuk yours truly ini pemalas. Begitu aja, sih. Yah, aku berharap aku lebih militan.

Yusi Avianto Pareanom: Menulis Itu Butuh Ketekunan dan Kekeraskepalaan dalam Derajat Tertentu
(Dok. Goodreads)
Apakah yang ingin Mas Yusi bagikan melalui tulisan-tulisan Mas Yusi, dan bagaimana dunia tulis menulis berhasil menjadi medium yang tepat dalam membagikan maksud Mas Yusi?

Setiap penulis itu sebetulnya ada keinginan berbagi cerita yang menurut dia menarik. Tapi kalau aku; kalau dalam pengertian punya agenda untuk mengubah sesuatu sih, tidak. Ada teman-teman yang menulis untuk mengubah, misalkan memperjuangkan kelompok minoritas, atau isu-isu gender. Kalau concern-ku sih lebih menghadirkan penceritaan yang menurut pribadiku, sudah layak dibagikan.

Bahwa orang menafsirkan isinya itu apa, terserah. Ya, aku memang tidak melakukan aktivisme dalam karya-karyaku. Bagiku agenda itu jangan sampai mengalahkan kualitas tulisan itu sendiri.

Sama seperti yang pernah aku bilang kalau dalam nonfiksi itu fakta (adalah) suci. Jangan diotak-atik. Kalau di fiksi, itu bisa saja aku ubah semau-maunya. Tapi bagaimana mengubah atau memodifikasi, sekecil atau sebesar apa pun, ujung-ujungnya cuma satu; meyakinkan atau tidak.

Soalnya, ada beberapa agenda yang mungkin lebih layak diperjuangkan dengan turun ke lapangan, alih-alih membuat karya sastra yang mungkin karyanya baru muncul setelah agenda itu lewat waktunya. Jadi, setiap orang punya agenda masing-masing baik di bidang kemanusiaan, politik, sosial, segala macam. Aku memilih bercerita saja. Bercerita apa-apa yang menurutku menarik.

Pembaca memaknainya seperti apa, silakan, itu sudah wilayah merdeka mereka. Pengarangnya sudah lepas tangan. Ya pengarangnya masih ada urusan sama penerbitnya, urusan royalti saja. Tapi, kalau orang udah menafsirkan, enggak bisa dia (penulis) datang ke pembaca dan bilang, “Maksud saya ya enggak gitu.” Lho, ya terserah yang baca. Kan orang baca punya latar pengalaman masing-masing mendekati satu persoalan, satu ide, atau satu gagasan.

Sebagai seorang yang menulis fiksi maupun nonfiksi, menurut Mas Yusi, bagaimana sih kedua jenis tulisan tersebut saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya? Mengapa Mas Yusi menggeluti keduanya?

Pertama-tama tidak ada larangan, ya kan? Tidak ada larangan dan keduanya sama-sama menarik. Ada beberapa yang tulisan yang lebih cocok untuk fiksi, ada beberapa yang lebih cocok untuk nonfiksi. Lagi pula kan aku lama di Majalah Tempo sebagai wartawan, jadi ada beberapa materi yang menurutku akan lebih kuat kalau disampaikan nonfiksi dan sebaliknya.

Tapi, sama seperti yang pernah aku bilang kalau dalam nonfiksi itu fakta (adalah) suci. Jangan diotak-atik. Kalau di fiksi, itu bisa saja aku ubah semau-maunya. Tapi bagaimana mengubah atau memodifikasi, sekecil atau sebesar apa pun, ujung-ujungnya cuma satu; meyakinkan atau tidak.

Efeknya, bagaimana kalau sebuah cerita bahan yang sama ditulis fiksi atau nonfiksi? Tergantung kemahiran si penulisnya. Multatuli menulis Max Havelaar itu kan fiksi, tapi berdasarkan materi dari pengamatan dan observasi dia, mengubah kebijakan Belanda, lalu ada politik balas budi, segala macam itu.

Makanya kembali lagi, sepenting apa pun agendanya, penyajiannya bagaimana? Semisalnya penyajiannya tidak bagus, mungkin harus belajar bikin penyajian yang bagus dulu kalau memang mau kekeuh dalam memperjuangkan agenda yang terkandung di tulisan itu.

Dalam diskusi prafestival menuju Jakarta International Literary Festifal (JILF) 2019, Mahfud Ikhwan pernah berkata jika Jakarta adalah kota yang paling mungkin dibayangkan seorang penulis untuk lekas jadi pusat perhatian.
Ia mengatakan, seorang penulis lebih mudah mendapatkan label “penulis nasional”, meski tanpa kejelasan arti cap tersebut. Setujukah Mas Yusi dengan ketimpangan kondisi dunia menulis antara Jakarta dan daerah-daerah lainnya seperti yang diungkap Mahfud Ikhwan?

Kalau kita bicara 10 atau 20 tahun yang lalu itu mungkin, tapi sekarang jarak dilipat, diringkus. Seberapa kita mau memanfaatkan akses yang terbuka itu. Dan sama saja di setiap tempat itu, kedekatan dengan pihak-pihak yang bisa menjadi katalisator untuk seseorang namanya naik itu ya enggak terhindarkan.

Aku tetap percaya bahwa tulisan yang bagus mungkin perjalanannya lebih lama, tapi akan menemukan pembacanya. Tapi kan, maksudnya, si penulis ini tetap harus berusaha melakukan upaya-upaya yang perlu dilakukan. Kalau tulisan, ya kirim ke penerbit. Kalau cerpen, dikirim ke koran. Tapi kalau tidak pernah melakukan apa-apa terus bilang, “Sebetulnya, saya ini penulis buku, loh.” Tahunya dari mana? Kan begitu.

Sekarang ya, cap penulis nasional masih ada, masih relevan, kan enggak penting itu. Kembali lagi, sekalipun mau tinggal di ujung Aceh atau mau di ujung Nusa Tenggara Timur, kalau karyamu bagus ya bagus saja. Azhari Aiyub tinggal di Aceh, karyanya novel Kura-kura Berjanggut menang Kusala Sastra Khatulistiwa juga.

 

Yusi Avianto Pareanom: Menulis Itu Butuh Ketekunan dan Kekeraskepalaan dalam Derajat Tertentu
(Dok. Nyimpang)
Sebelum JILF, dunia sastra Indonesia telah mengenal festival kesusastraan lainnya baik dalam skala yang kecil sekitaran kampus dan komunitas hingga yang tarafnya internasional. Menurut Mas Yusi sendiri, seberapa besar dampak festival-festival yang telah berlangsung ini terhadap lanskap kesusastraan Indonesia? Apa harapan Mas Yusi sebagai ketua acara JILF terkait hal yang ingin dicapai acara ini untuk sastra Indonesia?

Dampak diukur secara kuantitatif aku enggak punya data, tapi saat datang ke festival-festival itu, yang menggembirakan adalah selalu banyak anak muda datang. Jadi, acara literasi, acara sastra itu masih punya tempat sendiri di teman-teman muda. Apalagi kita lihat di media sosial. Mungkin kalau niat awalnya si anak-anak muda ini hanya ingin pamer datang ke festival sastra, datang ke pameran lukisan, pegang buku sastra, ya tidak masalah. Lama-lama kan sebetulnya (hal-hal tersebut) bikin menarik, akhirnya baca. Nantinya, dari satu kegiatan memulai jadi menular ke kegiatan lainnya.

Khusus JILF, yang membedakan JILF adalah; satu, pendana utamanya adalah Pemerintah Daerah. Selama ini kan bertahun-tahun, kita punya sekian banyak festival tapi belum pernah ada yang didanai oleh Pemerintah Daerah. Padahal Pemerintah Daerah memiliki anggaran untuk itu. Setelah pengajuan dua tahun lebih akhirnya disepakati tahun ini ada.

Yang kedua sebetulnya kami, artinya kami keseluruhan panitia, ingin menjadikan negara-negara dunia belahan selatan ini saling baca. Kita ini kan enggak, secara umum ya lagi-lagi, tentu ada orang yang membaca karya penulis Vietnam, Thailand, Filipina, Papua Nugini. Namun, secara umum kan kita enggak baca.

Kau akan lebih kenal dengan penulis dari Inggris, Amerika, mungkin beberapa dari Jepang. Semisalnya saja ada yang bertanya tentang penulis Myanmar, ada enggak (nama) yang nyantel? Enggak, kan? Sama juga, kalau penulis Amerika Latin, kita kenal, tapi nama-nama besar yang lampau; Marquez, Llosa, Borges.  Sebetulnya setelah mereka, kan ada penulis-penulis yang juga tidak kalah menarik. Tapi kan biasanya kita membaca mereka setelah karya mereka ini diinggriskan dan menjadi ngetop.

Makanya, di festival nanti tidak hanya ada simposium, pembacaan dan segala macam, tapi juga pasar hak cipta. Hal itu memungkinkan negara-negara selatan saling beli dan akhirnya saling baca supaya semangat Asia-Afrika plus Amerika Latin-nya ini muncul lagi. Kira-kira begitu.

Karena aku percaya, mungkin karya-karya mereka belum diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris tapi pasti banyak mutiara. Sama kayak karya bahasa Indonesia yang belum diterjemahkan. Yang bagus kan juga banyak.

Baca Juga: Joko Pinurbo: “Aku Menulis Puisi Maka Aku Ada”

Dapatkah Mas Yusi menceritakan proyek yang ambisius mendatang yang tengah Mas Yusi garap?

Setiap penulis pasti punya ambisi, tapi bisakah disebut ambisius? Kalau aku sih cukup akan bilang aku sedang menyelesaikan novel, sedang menulis ulang novel lama, dan sedang mempersiapkan novel baru. Gitu saja lah ya. Apakah itu ambisius? Ambisius itu kan sudah peyoratif, kayak orang ngoyo. Gitu kan? Hahaha. Mungkin perlu juga sih ngoyo. Wong aku pemalas, kok.

Bagi sebagian orang, menulis dapat menjadi sebuah kegiatan yang menekan dan menguras emosi. Adakah tips yang ingin Mas Yusi bagikan untuk mereka yang ingin menjadi penulis?

Tentu saja. Itu benar semua. Tipsnya, dirampungkan saja tulisannya. Karena akan ada kelegaan setelah rampung. Ini tidak eksklusif menulis saja. Pekerjaan yang membutuhkan ketekunan dan kekerasankepalaan ini seperti petinju masuk ring. Ini bukan pendapatku personal tapi pendapat F.X. Toole, penulis Million Dollar Baby. Kira-kira kalau kau masuk ring, sebagus apa pun kau bertinju, pasti akan kena pukul. Kadang-kadang ada pukulan enggak terduga yang bisa bikin kau K.O., bahkan bisa cedera, dan duitnya enggak banyak.

Hanya orang-orang yang masuk ring yang tahu nikmatnya masuk ring. Nah, itu sama dengan menulis sebetulnya. Apakah kau sepakat seperti itu, ya silakan saja. Ini menekan, tapi ini mungkin kecanduan yang bagus.

 

Apakah kamu seorang penulis yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?