Crafters

Portal konten yang fokus mengangkat beragam hal seputar industri kreatif. Mulai dari wawancara, laporan khusus, sampai tips dari para kreator yang berkarya di bidang seni, kebudayaan, bisnis kreatif, dan teknologi.

Melalui Crafters, kami ingin memberikan kontribusi untuk perkembangan industri kreatif di Asia Tenggara.

Dikelola oleh

Sign up to receive bi-weekly creative inspiration, delivered directly to your inbox!

Ykha Amelz Bicara Perjalanan Karier, Art Merchandising, dan HAKI

Menjadi ilustrator–apalagi full-time, sama dengan harus mengasah terus ingatan visual, fundamental, dan teknis estetis lainnya melalui beragam media. Hal-hal yang dibutuhkan sebagai ilustrator ini menjadikan karier tersebut cukup menantang, bagi mereka yang jatuh cinta dengan aktivitas menggambar.

Faktanya, di era visual macam sekarang, industri ini semakin maju. Kebutuhannya sendiri juga meluas, menjadikan profesi ilustrator ini diidam-idamkan banyak orang dengan harapan karya-karyanya juga dapat terus dikembangkan menjadi sebuah visual yang membantu permasalahan para klien.

Yfana Khadija Amelz atau yang lebih dikenal dengan nama Ykha Amelz mendedikasikan dirinya sebagai ilustrator full-time sejak 11 tahun lalu. Sejak awal kariernya itu, Ykha berhasil bereksplorasi lewat karya-karya visualnya. Sebut saja tahun 2014 saat ia memutuskan untuk membuat sebuah fashion brand yang bernama DIBBA. Atau beberapa tahun lalu saat Ykha membuat merchandise Babbot, karakter anjing french bulldog-nya yang kini menjadi icon karya Ykha.

Ykha Amelz Bicara Perjalanan Karier, Art Merchandising, dan HAKI
Ykha dan Babbot (Dok. Instagram @ykhaamelz)

Saya bertemu dengan Ykha tidak sengaja pertama kali di sebuah kafe untuk mampir ke kegiatan Ladies Drawing Club yang digagas oleh para ilustrator perempuan di Jakarta. Hadir di sana, Ykha saat itu sedang membuat doodle Babbot dengan lancar–sudah hafal dengan tiap lekukan tubuh si bulldog gemas itu.

Pulang dari sana, saya berbincang dengan beberapa teman soal karya-karya Ykha Amelz yang amat profesional di atas media yang amat variatif. Sudah menjalani karier sejak 2008 sebagai ilustrator, jelas Ykha saat ini dapat dianggap sebagai salah satu ilustrator senior di Indonesia yang memiliki portofolio baik.

Akhirnya, saya berhasil berbincang dengan Ykha soal kariernya, project ke depannya, dan hal-hal yang ia lakukan untuk mencegah karyanya dibajak oleh pihak lain. Berikut wawancara kami.

Baca Juga: Studio Tomodachi: Perjalanan, Misi dan Hal Penting Bagi Ilustrator

Apa sih yang membuat kamu jatuh cinta dengan ilustrasi kemudian pada akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang ilustrator profesional?

Aku jatuh cinta waktu umur 3 tahun, aku gambar benang kusut lalu tiba-tiba kepikiran dikasih gambar mata. Itu momen yang paling aku ingat bagaimana perasaanku bisa begitu excited dari aktivitas menggambar. Rasa senang itu tidak pernah hilang hingga aku beres dari kuliah arsitektur dulu di UNPAR di tahun 2005. Begitu lulus aku memilih untuk kembali menggambar, karena aku pribadi merasa lebih memiliki kebebasan untuk berekspresi sebagai seorang ilustrator. Dari situ pelan-pelan aku mulai membangun portfolioku hingga sekarang.

Jika ilustrator lain membuat merchandise dari karya buatannya, kamu sampai membuat brand sendiri dari karakter Babbot. Gimana sih cerita pertama kalinya kamu mengembangkan karakter Babbot?

Karakter Babbot adalah karyaku yang mengalir apa adanya. Babbot sendiri adalah anjingku yang kehadirannya selalu menghibur di tengah-tengah penat kerja dan hidup. Kalau lagi pening deadline aku suka menyempatkan menggambar Babbot, sekitar 5 atau 10 menit saja kusempatkan menghilangkan segala pikiran dengan doodle karakter dia.

Lama-kelamaan semakin banyak kumpulan gambar tersebut dan orang-orang bereaksi di media sosial, menyatakan kalau mereka juga bisa relate dengan karakter ini dan keluh kesahnya bisa membuat mereka juga tertawa sejenak di tengah kesibukan masing-masing. Jadi bukan cuma aku saja yang dia hibur sekarang, dari situ aku akhirnya memutuskan untuk terus mengembangkan Babbot.

Dan bagaimana juga pertama kali kamu mengembangkan brand Babbot sendiri?

Kalau brand dari iseng aja sih coba-coba bikin merchandise. Ternyata responnya juga baik. Biar Babbot ada di mana-mana, makanya hashtag-nya #babbotbabbot. Semoga nanti semakin bisa aku perluas aplikasinya.

 

Ykha Amelz Bicara Perjalanan Karier, Art Merchandising, dan HAKI
Karya ilustrasi Ykha yang berjudul "Fascinación" (Dok. Ykha Amelz)
Ykha Amelz Bicara Perjalanan Karier, Art Merchandising, dan HAKI
Karya Ykha dalam bentuk merchandise Babbot (Dok. Instagram @BABBOT_)
Waktu itu kita ketemu di acara ladiesdrawingclub. Untuk kamu, seberapa penting sih berjejaring dengan sesama pegiat kreatif?

Penting sekali. Kita belajar untuk saling support, saling berbagi pengalaman, dan saling mengarahkan. Setiap ilustrator di ladiesdrawingclub sudah berpengalaman bekerja bertahun-tahun, masing-masing telah memiliki style ilustrasi yang khas.

Proses latihan dan pembuatan sebuah ilustrasi itu gimana sih Ykha?

Bukan latihan ya mungkin, tapi perluas research. Lihat budaya-budaya yang ada dari dulu hingga sekarang, pelajari sejarah, perhatikan apa yang terjadi sehari-hari, coba-coba media lain untuk menggambar atau cara lain pengaplikasian gambar. Intinya sih ulik hal-hal yang bisa menarik perhatianku. Banyak sekali hal yang bisa menjadi trigger inspirasi. Bagiku ini mempermudah proses dan bayanganku untuk memulai sebuah karya.

Baca Juga: Thomas Hanandry: Misi Mengembangkan Industri Ilustrasi di Surabaya

Kalau bisa memberi tips ke ilustrator lain yang masih mencari-cari karakter khas/style buatan mereka, apa yang ingin kamu sampaikan?

Sabar, terus dan terus latihan, terus berkarya. sebuah style atau karakter khas bukan sesuatu yang bisa didapatkan secara instan. Biarkan terbentuk secara natural, jangan dipaksakan. Gali apa yang sesungguhnya kamu sukai, apa yang ingin kamu sampaikan.

Dalam diskusi pameran “Reka Rupa Rasa”, kamu menceritakan tentang kasus ilustrasimu yang diplagiat atau dicetak tanpa izin. Dari sisi ilustrator, apa sih yang bisa dilakukan oleh mereka untuk melindungi karya dari praktik-praktik yang tidak diinginkan?

Seperti yang didiskusikan waktu itu. Yang pasti awareness mengenai hak intelektual karya perlu selalu diangkat, sosialisasi harus dijalankan terus-menerus kepada publik dan praktisi-praktisi desain. Untungnya generasi baru saat ini sudah semakin peka dengan hal ini, social media membantu untuk menemukan dan mengungkap sesuatu yang dianggap tidak benar dengan lebih cepat, termasuk plagiat karya. Dari hasil laporan seseorang yang melihat di social media juga aku bisa tahu mengenai karyaku yang dibajak, dan sebelum keadaan semakin parah bisa segera ditegur dan dihentikan.

Lihat para desainer lain yang tergabung dalam jejaring GetCraft!

 

Ykha Amelz Bicara Perjalanan Karier, Art Merchandising, dan HAKI
Karya Ykha Amelz yang berjudul "Faux Extinction" (Dok. Ykha Amelz)

Untuk perlindungan karya sebaiknya hak paten karya juga segera didaftarkan. Bisa secara online jika butuh cepat (ada beberapa situs yang bisa memberikan sertifikat karya, tinggal ikuti prosedur aplikasinya sebagai bukti kepemilikan karya kita. Coba searchprotect my work) Atau saat ini BEKRAF juga sudah meluncurkan aplikasi informasi Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) di mana kamu bisa mendapatkan informasi lebih detail mengenai hal ini.

Terakhir, apa di masa mendatang kamu memiliki rencana untuk berkarya di bidang lain?

Untuk saat ini sih belum. Tapi yang pasti dalam waktu dekat Babbot akan menjadi sebuah buku, mungkin dari sana akan ada petualangan lain yang bisa terjadi.

 

Kamu seorang ilustrator yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?

March 25, 2019
Tips Memotret Fashion dengan Smartphone
Selain menggunakan kamera mahal, ada peluang untuk memotret fashion ramah budget. Yuk mulai gunakan...
March 26, 2019
5 Kemampuan yang Wajib Diasah oleh Content Writer
Penulisan, sebenarnya merupakan topik yang cukup luas, tapi kali ini, Crafters ingin membagikan 5...