Whiteboard Journal: Upaya Menghadirkan Konten Berdasarkan Data

Musik bukan sesuatu yang penting tempatnya di kehidupan saya. Ada ya syukur, enggak ada juga bukan jadi masalah besar. Hal itu berbeda dengan salah seorang sahabat saya. Ia sering melibatkan musik untuk semua kegiatan yang dilakukan; dari mulai bangun tidur, berlatih yoga, saat sedang mood bekerja, hingga tersedu sedan diterpa masalah. Sahabat saya itu tidak serta-merta tahu semua musik dari temannya yang lain. Kebanyakan ulasan musik yang ia ketahui ada di Whiteboard Journal.

“Apa sih itu?” Suatu waktu saya bertanya.

“Oh, itu kayak majalah online yang membahas musik. Enggak Cuma musik, sih. Kayaknya mereka juga membahas banyak hal lain. Ada wawancara juga sama pengarang kesukaanmu.”

Terdorong dengan ucapan kalau Whiteboard Journal punya kolom wawancara dengan pengarang bergengsi, saya pun mulai mengulik apa saja yang dibahas oleh majalah online tersebut.

Dari upaya mengulik yang saya lakukan, Whiteboard Journal bisa dibilang rumahnya komunitas yang hidup di dunia kreatif. Mereka memberikan para pembaca dalam negeri dan dunia internasional akses ke liputan berita harian, ulasan mendalam dan fitur pada lingkup fashion, musik, film, seni & desain, hiburan, publikasi, teknologi, makanan & minuman, perjalanan, dan budaya.

Diterbitkan dari Jakarta, Indonesia, tim Whiteboard Journal ini mengumpulkan konten dari setiap sudut dunia dan mengembangkan perspektif unik tertentu untuk pembaca mereka. Dari Jakarta ke New York hingga Amsterdam, beberapa individu paling berbakat dan terkenal telah menunjukkan kontribusi mereka dalam penulisan dan fotografi untuk jurnal ini, menjadikannya sebagai majalah online yang sangat berbeda dengan kebanyakan media online di luar sana.

Penasaran mengenai seluk beluk Whiteboard Journal, saya menghubungi Muhammad Hilmi, Managing Editor Whiteboard Journal. Mewakili Crafters, simak obrolan kami seputar perubahan apa saja yang terjadi di Whiteboard Journal, merchandising, dan konten-konten apa saja yang tengah digarap oleh mereka.

Baca Juga: Jurnal Ruang: Membahas Produk Budaya Populer Secara In-Depth

 

Whiteboard Journal: Upaya Menghadirkan Konten Berdasarkan Data
Whiteboard Journal

Bisa diceritakan bagaimana awal berdirinya Whiteboard Journal? Apa yang berubah dari Whiteboard Journal dari dulu sampai sekarang?

Bicara awal berdirinya, sebenarnya pada mulanya kami membentuk Footurama dulu sebelum Whiteboard Journal. Owner kita itu ada dua orang. Keduanya teman lama semenjak SMA dan suka fashion, terutama street fashion, serta segala macamnya. Lalu membuat Footorama dengan konsep seperti Reddit atau forum untuk platform mengobrol soal fashion, utamanya street fashion, secara online. Lama-lama forum itu makin ramai dan teman kami semakin banyak. Saat dilihat kembali ternyata teman-teman kami ini kebanyakan hidup sebagai dan menghidupi creative scene Jakarta.

Akhirnya, dengan latar belakang seperti itu, kami memutuskan untuk mengembangkannya dengan membuat media yang membahas aktivitas tentang teman-teman kami tersebut. Awal-awal, karena beberapa teman kita memiliki jaringan mereka luas banget sampai Amerika. salah satu goal awal kami adalah mengobrolnya dengan network mereka.

Visinya kemudian bergeser. Dari yang awalnya cuma forum akhirnya kita ingin punya media sendiri. Pada dasarnya kami bercerita tentang hal-hal kreatif yang dibuat oleh orang-orang lokal sama yang terjadi di luar negeri. Ketika itu bahasa pengantarnya adalah bahasa inggris dan lingkup pembahasan topiknya juga masih kecil karena di awal-awal Whiteboard Journal masih berbentuk forum. Enggak hanya itu, semua artikel editorialnya pun berbentuk blog. Seiring berjalannya waktu, kami lantas mengembangkan program kami sendiri. Beberapa di antaranya yakni interview, fokus yang membahas profil, lalu column yang merupakan tempat di mana orang-orang di luar editor bisa menulis. Kemudian ada W Music dan beberapa program lain yang akhirnya dikembangkan. Bersamaan dengan itu, yang tadinya Whiteboard Journal bersifat sebagai blog, akhirnya berubah menjadi media.

Saat Whiteboard berubah menjadi media yang lebih serius dengan agenda editorial yang lebih besar, jumlah timnya pun kemudian bertambah. Setelah terbentuknya tim tersebut, kami hanya memiliki program W Music. Itu salah satu program awal kami. W Music itu dulunya berbentuk platform membagikan musik. Apa pun jenis musiknya dibagikan di W Music. Dulu konten utamanya adalah mixtape. Saat itu kami punya akun di Soundcloud dan kami banyak mengundang orang untuk mengirim playlist mereka. Program itu awet banget dan sampai sekarang pun masih bertahan cuma kita ganti platform. Sekarang adanya di Mixclub.

Mungkin itu jadi salah satu jawaban kenapa musik yang selalu kami usung. Walaupun kami membahas berbagai macam hal, tapi musik selalu jadi garis besarnya. Musik menjadi hal yang kami sepakati dan nikmati bersama. Selain itu, kami juga sempat membuat semacam podcast. Waktu itu istilah podcast belum terlalu dikenal, jadi kami menamakannya Soundclass.  Di program tersebut Bagas jadi host-nya dan dia mengobrol sama beberapa tamu dan berbincang topik musik-musiknya pilihan mereka. Jadi, W musik memang sejak awal menjadi core content kami. Awalnya, aktivasi offline kami pun musik banget. Sempat bikin acara DJ party dan mengundang beberapa DJ Eropa dan Amerika. Kami juga sempat nge-host di The Goods Café.

Jalan beberapa tahun, masuk ke periode saat gue masuk di tahun 2013-2014an, ada satu transisi yang lumayan besar. Dari 2009-2014, bahasa pengantar Whiteboard Journal itu kan bahasa Inggris. Tapi ternyata ketika dilihat semakin ke sini dari analytic, ternyata readers kami kebanyakan orang lokal. Nah, sehabis itu kita shifting ke bahasa Indonesia sekitaran tahun 2013-2014.

Setelahnya pula tim kami semakin bertambah. Kami mulai hiring beberapa orang dan tim editorial serta merambah area-area yang belum kami dalami. Dulu kami sempat membuat seri video di W Music, cuma waktu itu sempat vakum. Sekarang kami mulai rutin membuat program video, ada Vindy Ngapain dan Footorama ShowLalu kami juga sedang kembali mengoptimalkan program podcast lagi; yang dulunya di bawah W Music, sekarang dinamai East Kemang Radio. Fokusnya, kami memberi wadah bagi orang-orang.

Bicara podcast, itu adalah medium di mana orang-orang bisa sangat subjektif. Lo bisa membicarakan topik apa pun dengan super spesifik dan kami ingin menjadi wadah itu. Makanya, kalau teman-teman lihat, pembahasanya macam-macam. Ada yang membahas fashion dan kami beri nama FYI. Di sana, kami berkolaborasi sama anak-anak USS (Urban Sneakers Society) dan kami yang menjadi host-nya.

Selain itu kami juga membuat program yang bernama Problema Nona untuk membahas masalah-masalah gender dan di-host sama Sanchia & Mar. Nah soal Problema Nona ini, lucunya lahir sebagai komik karena kami waktu itu berkolaborasi sama Sanchia untuk bikin konten di Whiteboard. Waktu itu formatnya komik karena Sanchia komikus dan kenapa perempuan karena concern dia sedang mengarah ke sana. Berawal dari komik sekarang jadi podcast. Podcastnya lumayan seru karena dia mengajak orang untuk ngomongin beberapa hal tabu yang selama ini kita takut bahas. Beberapa waktu yang lalu, kami sempat mengobrol dengan Yacko dan Kartika Yahya.

Selain  fashion dan isu kesetaraan perempuan, kita juga punya beberapa program lain, utamanya masih di musik. Sekali lagi, karena musik adalah yang paling dekat dengan kita. Ada Emo Night, kolaborasi sama kolektif Emo Night untuk bikin podcast membahas nostalgia era-era tersebut. Terus ada juga Soundclass, yang sempat gue bahas sebelumnya.  Saat kami mulai memperbanyak konten video, website kami juga sempat berganti. Website Whiteboard Journal yang sekarang itu kontennya lebih banyak. Kalau dulu kontennya sehari cuma satu, sekarang kami menayangkan minimal 3-5 artikel sehari. Semuanya di-host oleh kami.

Ya, hopefully dengan pengalaman website yang baru ini bisa lebih refresh. Karena kalau dulu kami berangkat dari data ketika mau refresh program, atau mau riset, mau bikin sesuatu yang lain. Selain itu, karena menurut data banyak yang mengakses website kami dari mobile, sekarang tampilannya sudah diusakahakan mobile friendly; teksnya dibikin lebih besar, gambarnya dibuat lebih enganging, dan sebagainya. Walau demikian, sebenarnya ini masih sesuatu yang kami ingin kembangkan. Jadi, ini adalah proses awal, versi 1. Dalam waktu dekat akan ada refresh website versi 2, versi 3, dan seterusnya akan semakin mengikuti yang kami pelajari dari data sih.

 

Whiteboard Journal: Upaya Menghadirkan Konten Berdasarkan Data

Bagaimana dengan merchadising? Apakah kegiatan tersebut sudah dilakukan dari lama?

Dari awal memang kami sudah melakukan merchandisingBasic owner-nya sendiri memang fashion anyway. Cuma semakin ke sini kami ingin bikin merchadise yang di luar hal-hal yang sudah gampang ditemukan serta dijual kayak kaos dan totebag. Sekarang ini kami sedang mengembangkan untuk produk-produk lain di luar selain fashion. Yang paling dekat sebenarnya kami sedang merencanakan untuk merilis buku. Jadi, ini bakal jadi rilisan cetak pertama kita. Dulu sempat pernah dibikin planning-nya, cuma sekarang yang baru ini bakal berpusat di program kami, column. Kami mengumpulkan segala macam tulisan seperti yang ditulis dari kontributor luar. Waktu itu kita bikin kayak open call submission, terus kami mengundang 3 kurator; Mas Iwang Ahmed, Cholil, sama Cecil Mariani. Jadi, 3 orang ini kami pilih untuk menjadi kurator submission yang temanya kesetaraan dan keberagaman. Harusnya buku tersebut rilis pertengahan bulan ini. Bukunya sudah jadi sebenarnya, tinggal rilis saja.

Berarti kalian mencetak sendiri merchandise tersebut?

Dan itu adalah satu hal lagi yang ingin kami explore lagi. Tahun ini kalau ada terbitan lagi, inginnya bisa seperti itu.

Lalu, untuk tim editorialnya terdiri dari berapa orang?

Tim editorialnya inti sebenarnya cuma ada 3 orang, tapi kami di bawah itu bekerja sebagai studio. Atas nama Studio1212. Jadi studio ini untuk running bisnisnya, tapi kami punya fashion project; ada Footurama, ada Whiteboard Journal, ada sempat dulu kita bikin Play Request, ada Cereal Nation. Nah salah satu bisnis studio tersebut adalah Whiteboard Journal. Di studio tersebut, semua orang kami harapkan untuk bikin sesuatu di Whiteboard. Kayak misalnya si Vindy. Dulu pertama Vindy masuk sebagai intern Whiteboard Journal. Kemudian di-hire untuk jadi salah satu timnya studio, studio ini kan semacam agensi gitu. Terus kami lihat Vindy, oh Vindy potensinya bisa bikin apa ya. Oh, dia ternyata orangnya punya personality yang kuat banget. Akhirnya kami buatkan vlog. Ambil contoh lagi, gue dulunya anaknya suka musik banget. Sehabis itu, gue dibikin program Lokasuara. Jadi sistemnya seperti itu, sih. Kami sebisa mungkin memberi wadah semua anak-anak di dalam untuk bisa bikin sesuatu di Whiteboard Journal, karena itu harusnya jadi passion project semua orang di dalam.

Ke depannya, akankah Whiteboard Journal terus mengikuti konsep seperti itu atau adakah perubahan?

Ke depannya akan begitu terus, karena semakin hari tim kami semakin beragam. Dulu timnya terdiri seputar teman-teman kami saja, tapi makin ke sini kami dapat teman-teman baru gitu dan mereka punya interest yang lucu-lucu. Contohnya, Gina, dia into fashion banget. Nah, akhirnya kami bikin Footurama Show yang arahannya banyak dari dia dan Nana. Pokoknya kita berharap semua orang yang ada di kantor bisa punya tempatnya sendiri. Kami inginnya Whiteboard Journal ini buka bukan cuma punyanya orang-orang di dalam saja, tapi juga di luar.  Kami ingin semakin banyak merangkul orang. Dengan begitu, kami bisa terus refresh. Sebab kalau dari tim inti saja, kontennya bakalan begitu terus, dan kami enggak ingin jadi media yang seperti itu.

Jika Whiteboard Journal sefleksibel itu, siapa sih sebenarnya yang memutuskan untuk membuat Column khusus seperti untuk Vindy, misalnya?

Kalau seperti itu sih, kami rembukin bareng. Jadi, misalnya kayak kami mengajak Sanchia untuk berkolaborasi. Kami bakalan ngobrol sama Sanchia dan bertanya, “Lo sukanya bikin apa?” Kemudian setelahnya membahas apa yang akan kami lakukan. Gampangnya, seperti bikin deck presentasi bareng. Bentuk programnya bisa seperti apa, bagaimana cara mengembangkannya, eksekusinya akan bagaimana, itu semua akan kami discuss bareng as a team di bawah. Bakalan ada gue, ada Ken, ada bos kita yang namanya Max, chief editor-nya. Itu bakal kami evaluasi bareng; apakah ide tersebut kami ambil. Kalau kami ambil, apakah ada yang perlu kami tweak dan segala macamnya.

Kegiatan mengatur media sosial seperti Instagram dan Twitter bagaimana?

Kalau Instagram sih sekarang kami sedang bereksperimen. Karena trennya setiap hari berubah dan algoritmanya setiap hari berubah, jadi kami sedang mencoba mengadaptasi beberapa hal baru. Seperti dulu dari website, kami pun belajar. Ambil contoh, dulu kebanyakan posting-an kurang deskripsi. Sekarang kami menerapkan kayak ada yang lebih banyak kata-kata dalam penulisan caption; lebih deskriptif, ada break down, dan segala macamnya. Jadi, sekarang ini kami sedang bertransisi menuju arahan baru yang lebih deskriptif.

Dilihat lagi secara data, kami melihat kalau di Jawa ternyata semakin banyak yang baca Whiteboard, tapi beberapa topik kami ketika di-posting dalam platform berbeda, seperti misalnya saat mengangkat profil seseorang, ada yang tidak tahu siapa dia. Mungkin orang-orang pembaca kami di Yogya atau di Surabaya kurang tahu dan itu yang sedang pelan-pelan kita perbaiki dengan beberapa program di sosmednya. Di website mungkin enggak terlalu banyak perubahan, tapi di sosial media kami berusaha sebisa mungkin membuat konten yang kontekstual dan bisa relate ke sama orang.

Berarti kalau disimpulkan, website Whiteboard Journal masih bisa akan berubah lagi. Tapi apa benar Whiteboard Journal memiliki konsep dengan memperkenalkan tim  intinya agar dapat lebih dekat dengan pembaca?

Iya.

 

Whiteboard Journal: Upaya Menghadirkan Konten Berdasarkan Data
(Dok. Giphy)

Apakah upaya itu selama ini berhasil? Misalnya seperti Vindy. Video tersebut banyak yang menonton atau memang sebenarnya dia adalah seorang influencer atau yang mengeluarkan vlog?

Untuk beberapa kasus mungkin lebih cepat. Kalau untuk Vindy, dia memang sudah punya background tersebut. Jadi PR-nya lebih pendek. Beda kasus dengan Footurama Show. Walaupun konsep Footorama Show itu random banget, yang setiap episode topiknya bisa macam-macam banget, kami ingin menonjolkan sesuatu. Sebenarnya apa sih yang ingin diputar di Footurama Show? Acara tersebut memiliki misi diantaranya; satu, pasti memperkenalkan footurama sebagai salah satu dari Whiteboard. Kemudian, memperkenalkan produk-produk yang ada di sana apa aja. Selain itu juga kita setiap episode itu kita memberi highlight ke tim Footurama-nya sendiri. Sekarang ini kami sedang cukup sering mengangkat salah satu fotografer, namanya Ardi. Dia unik banget karena ketika di kamera dia lucu banget. Itu pasti pelan-pelan, kan Ardi beda sama Vindy yang sudah punya followers di Instagram. Kalau kasusnya Ardi dia bukan sosok yang dikenal tapi pelan-pelan melalui profiling dia di video, di beberapa komen video itu highlightnya justru komen yang membicarakan dia. Itu salah satu yang kami inginkan; meng-highlight semua orang.

Pembaca Whiteboard Journal sendiri masih banyak dari Jakarta ya?

Cenderung Jakarta. Hal itu sebenarnya ingin kami geser pelan-pelan. Kami enggak pengen yang terlalu Jakarta sentris.

Jadi kalau dibagi ke beberapa pilar, ada berapa banyak pilar dalam Whiteboard?

Bisa dilihat langsung di website; ada topik, ada program. Tim kami ini kebanyakan beraktivitasnya di dunia kreatif. Emang orang-orang seni, orang-orang desain, orang-orang fashion, film, musik dan segala macamnya. Cuma ini beberapa hal yang fokusnya akan kami giring ke arah lain menuju akhir tahun karena inginn mengobrol sama orang-orang di sini juga. Inti sebenarnya, kami berangkat dari yang kami punya, yang kami tahu, tapi sehabis itu kami juga ingin expand ngobrolin hal yang seru juga. Nah, salah satu caranya adalah dengan mengajak ngobrol dengan banyak orang juga sih; mengajak orang nulis di Whiteboard Journal, bikin konten di sana. Hal-hal seperti itu.

Berarti konten champion-nya itu masih W Music ya?

W Music sebenarnya justru agak di turn-down, karena musik cukup banyak. Sekarang kami inginnya sih mengencangkan aspek seperti culinary, sports dan travel. Kami juga punya program unggulan kami seperti Places to Go. Di sana setiap minggu kita posting tentang makanan. Kami sedang berupaya menambah porsi tipe-tipe konten seperti itu.

Intinya sih, kami berupaya untuk memaksimalkan anak-anak kantor untuk membuat sesuatu dan menjadikan Whiteboard platform untuk semua. Yang paling jelas sih, yang sekarang kami upayakan banget ya bentuk-bentuk kolaborasi tadi yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Terus ke depannya adakah rencana besar lainnya seperti menambah kolom baru atau yang lain?

Ke depan sih kami pengen beneran jadi apa yang selama ini kami masih cita-citakan. Satu, ingin menjadi platform bagi semua untuk membuat sesuatu, tapi tetap dengan karakter kami baik secara visual atau angle. Lalu dalam waktu dekat kami akan membuat lebih banyak offline event, mulai dari release produk, tapping ke beberapa event yang udah ada untuk menguatkan keberadaan East Kemang Radio, lebih banyak konten video, dan kolaborasi.

 

Apakah kamu publisher yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?