Crafters

Portal konten yang fokus mengangkat beragam hal seputar industri kreatif. Mulai dari wawancara, laporan khusus, sampai tips dari para kreator yang berkarya di bidang seni, kebudayaan, bisnis kreatif, dan teknologi.

Melalui Crafters, kami ingin memberikan kontribusi untuk perkembangan industri kreatif di Asia Tenggara.

Dikelola oleh

Sign up to receive bi-weekly creative inspiration, delivered directly to your inbox!

Uly Novita: Disiplin dan Komitmen, Kunci Menjadi Beauty Influencer

Uly Novita: Disiplin dan Komitmen, Kunci Menjadi Beauty Influencer
(Dok. Uly Novita)

Seseorang pernah mengatakan kepada saya, ketika kita menginjak umur dewasa setidaknya ada tiga hobi yang harus dilakukan; satu hobi yang dapat membuat pikiran kita tenang, satu hobi yang menuntut tubuh kita aktif, satu hobi yang membuat kreativitas kita berkembang. Bagi saya, makeup memenuhi kriteria hobi ketiga. Di waktu-waktu luang, makeup menjadi suaka tersendiri di mana saya bisa menjelajahi potensi dan melupakan kesibukan sebentar. Saat memegang kuas makeup, semua terasa baru dan menyenangkan.

Namun lewat beberapa waktu, sama seperti hobi pada umumnya, menekuni makeup juga punya masa-masa surut ide. Untung saya besar di masa banyak content creator kecantikan eksis. Meremajakan kecintaan terhadap makeup pun mudah. Tinggal pergi ke jejaring sosial dan menemukan content creator kecantikan yang inspiratif saja. Masalahnya, mencari content creator yang memiliki semangat berkarya tinggi dan tak terjebak pada pola yang sama itu sulit.

Akhirnya saya meluangkan waktu. Saya berselancar di dunia jejaring sosial dalam misi mencari content creator kecantikan yang mampu membuat saya terinspirasi dan menemukan Uly Novita SiahaanLooks yang terpampang di halaman Instagram Uly Novita membuat saya terkagum-kagum dan berpikir bagaimana proses kreatif dibalik setiap tata riasnya yang spektakuler.

Penasaran dengan proses kreatif di balik pembuatan looks Uly Novita dan pandangannya dengan komunitas kecantikan yang belakangan telah mengakar kuat dalam masyarakat Indonesia, saya menghubunginya mewakili Crafters. Berikut wawancara kami.

Baca Juga: Endi Feng: Makeup Tak Melulu Milik Wanita

Bagaimana awal mula kamu berkenalan dengan dunia makeup?

Awal mula berkenalan dengan dunia makeup itu sebenarnya udah lama, karena dulu itu pas sekitar kuliah – SMA aku kan nyanyi, terjun di dunia model juga dan aku enggak mau rugi gitu anaknya jadi aku belajar makeup supaya bisa ngedandanin diri sendiri. Jadi nggak perlu pake MUA. Tapi ya, dulu jujur aja makeup-nya jelek sih. Menurut aku sih nggak bagus.

Kalau ditanya dunia makeup yang literally aku belajar tekniknya itu mungkin sekitar 2 tahun lalu ya. Aku mulai interest untuk belajar makeup lebih bagus supaya kalau di panggung itu kelihatannya bagus. Cuma kalau berhubungan dengan kerjaanku yang sekarang which is content creator yang khusus makeup, aku baru mulai itu tahun lalu, sekitar bulan Juni atau Juli, dan itu memang khusus art makeup gitu. Pertamanya karena intinya waktu itu lagi desperate banget dalam karier. Kebetulan nyanyi lagi nggak ada [tawaran kerja], model juga nggak ada. Aku menemukan sebuah face paintingwhich is itu adalah kado ulang tahun tahun sebelumnya dari mamaku. Aku iseng-iseng aja tuh bikin.

Terus dari yang mulai Instagram like-nya sedikit banget, kok ini naik. Terus aku mulai ketagihan buat bikin. At least seminggu dua atau tiga kali dengan konsep yang aku pikirin banget supaya orang tertarik. Aku mulai ikut lomba-lomba makeup, walaupun kalah untuk dua tiga kali awal mencoba, cuma kok juri-jurinya pada follow aku. MUA-MUA yang namanya sudah besar juga follow aku. Akhirnya mereka repost posting-an dan makin semangat karena followers aku juga semakin bertambah setelah di-repost oleh mereka. Jadi itu awalnya.

Kemudian aku ikut semua giveaway yang ada art makeup atau makeup competition-nya. Puji Tuhan menang terus sampai sekitar delapan atau sepuluh kali berturut-turut. Abis itu aku udah nggak ikutan lagi. Nggak sempat. Makin ke sini makin ketagihan aja apalagi juga udah, Puji Tuhan, diajak kerja sama dengan brand kan. Akhirnya jadi rajin terus, tapi tetep aku nggak akan meninggalkan art makeup karena itu awal mula aku bisa terjun di dunia makeup. Jadi lebih diseimbangkan saja beauty sama art [makeup]-nya.

 

Uly Novita: Disiplin dan Komitmen, Kunci Menjadi Beauty Influencer
(Dok. Uly Novita)
Sama seperti aturan penting yang sudah aku bilang. Ada komitmen buat bikin target terus supaya semakin maju. Selain itu, mau mendengarkan kritik dan saran orang lain juga.
Masih ingat looks apa yang pertama kali kamu buat?

Looks yang pertama aku buat, kamu bisa scroll  (di Instagram), itu adalah aku nyanyi. Ceritanya mau bikin Deadpool tapi Deadpool pink dan menurut aku sih failed. Sebenarnya, sempat dulu aku dandan Annabel cuma itu sih buat konten nyanyi bukan buat konten makeup. Kalau yang emang bener-bener awal mula makeup itu Deadpool pink. Ya itu sih, menurut aku jelek banget.

Melihat looks yang kamu bagikan di Instagram, kamu tampak sering menggunakan warna-warna terang dan dramatis. Apakah alasan khusus di balik pemilihan warna dan konsep looks tersebut?

Kalau warna terang dan dramatis enggak ada konsep khusus sih, cuma aku memang penyuka warna dan aku suka banget sesuatu yang kontras. Aku suka banget sesuatu yang colorful dan berani. Jadi sebenernya nggak ada alasannya. Kalau bikin (looks) tuh bener-bener enggak dipikir sih. Lagi pengin warna ini ya sudah dipakai saja. Spontan aja.

Dari mana sajakah datangnya inspirasi pembuatan looks makeup kamu?

Datangnya dari mana saja. Misalkan lagi liburan ke Puncak, enggak ngapa-ngapain aja tiba-tiba bisa ada inspirasi. Lagi di kamar mandi aja bisa ada inspirasi. Tapi kalau ibaratnya panutan yang pertama kali kukagumi sebenernya Cindercella. Lainnya, kebanyakan sih orang luar. Sebenarnya karena menurut aku orang luar (negeri) itu lebih berani mengeksplor dan mengskpresikan diri kan daripada orang sini yang biasanya makeup-nya masih gitu-gitu aja. Kalau orang luar itu lebih berani pakai pakaian dan makeup yang aneh-aneh. Mimles juga one of my biggest inspiration.

Siapa tokoh yang yang kerap mempengaruhi kamu dalam membuat sebuah karya makeup? Bagaimana pengaruh mereka terhadap proses kreatif di balik pembuatan karya makeup kamu?

Tokoh yang mempengaruhi ya itu tadi Cindercella, Mimles, Kathy Elizabeth… ada beberapa di Instagram content creator juga cuma kebanyakan orang luar. Pengaruhnya sih sebenarnya lebih ke ya sudah mereka bikin look yang luar biasa menurut aku, tinggal aku recreate persis seperti aslinya, atau aku kembangin sendiri. Untuk proses yang kedua, saat ngembangin makeup itu, kayak jalan sendiri aja sih otaknya; tiba-tiba mau bikin apa atau nambahin apa.

Bicara soal komunitas kecantikan, menurut kamu seberapa penting peran beauty community dalam membentuk MUA dan beauty influencer?

Menurut aku sih komunitas MUA, aku nggak tahu sih kalau MUA karena aku bukan MUA, tapi kalau komunitas beauty influencer itu penting. Dengan ada komunitas kita bisa saling sharing. Kadang banyak istilah-istilah yang asing, apalagi untuk orang yang seperti aku, seorang baru yang sebenarnya tidak ada niatan awal untuk jadi beauty influencer. Memang aku suka saja coret-coret di muka tapi akhirnya jadi beauty influencer dan orang-orang seperti aku kan tetep butuh pengetahuan product knowledge yang bagus dan istilah-istilah per-beauty-an itu sendiri seperti highlighter itu ada blinding dan subtle..

Kayak gitu kan awalnya aku enggak tahu. Dengan adanya komunitas kita bisa saling sharing, banyak temen-temen juga yang bisa membantu. Menurut aku penting banget, sih. Karena dalam satu event pun biasanya kalau beauty butuh banyak content creator atau influencer. Kalau kayak nyanyi kan satu acara butuh maksimal cuma lima. Kalau beauty butuh banyak, supaya kita bisa meng-influence orang-orang dan memberi tahu product knowledge yang benar ke masyarakat.

 

Uly Novita: Disiplin dan Komitmen, Kunci Menjadi Beauty Influencer
(Dok. Uly Novita)
Menurutmu, bagaimana sih iklim beauty community di Indonesia? Apakah dengan bergabung ke dalam sebuah komunitas kecantikan, seseorang yang ingin mengembangkan sayapnya menjadi beauty influencer atau MUA dapat lebih berkembang?

Menurut aku tergantung dirinya sendiri. Ikut komunitas, tapi dia tidak punya satu; percaya diri, kedua; identitas dirinya sendiri… enggak akan berkembang. Karena gini, walaupun banyak (beauty influencer yang eksis) tetep menurut aku yang bisa cepet majunya, bisa mencuat adalah mereka yang punya identitas sendiri, yang punya percaya diri untuk membangun konten yang khas daripada yang lain. Walaupun ibaratnya komunitas itu sebagai sarana untuk membantu kita jadi lebih kreatif, lebih komunikatif, dan lebih baik, tapi kalau dari dirinya sendiri itu tidak punya disiplin untuk ada target berkembang sih menurut aku belum tentu bisa berkembang juga sayapnya.

Baru-baru ini beauty community ramai memperbincangkan drama antara Tati Westbrook dan James Charles. Apa pendapatmu mengenai drama yang terjadi di beauty community? Pernahkah kamu mengalami atau terjebak dalam drama dalam sebuah komunitas kecantikan?

Di mana pun dan apa pun yang kita kerjakan, di bidang apa pun pasti ada dramanya. Waktu di nyanyi pun ada dramanya. jadi menurut aku sih wajar. Karena pada dasarnya manusia itu pasti punya sifat baper-nya. Pasti punya ekspektasi dan lain lain. Jadi biasa aja sih kalau aku. Terjebak dalam drama dalam sebuah komunitas sih pernah. Cuma aku cenderung menghindari. Jadi kalau ada yang memang terlihat terlalu sensitif atau tipenya tuh terlalu membesar-besarkan masalah yang sebenarnya sepele banget, aku cenderung langsung menghindari sih.

Menurutmu, apa sih 3 aturan penting bagi seorang beauty influencer atau MUA dalam merintis karier mereka?

Bukan influencer atau MUA saja, menurut aku aturan penting itu pertama; percaya sama rezeki yang udah diatur oleh Tuhan. Kedua, disiplin dengan diri sendiri. Itu penting banget. Mau ada kerjaan atau enggak, kita harus disiplin untuk latihan terus, untuk bikin konten terus, untuk nggak pernah berhenti berkreasi dan bikin sesuatu yang kira-kira orang bakal tertarik. Ketiga, konsisten dengan apa yang sudah kita lakukan. Ya komit aja kalau memang itu jalan yang dipilih. Komit untuk menjalani itu. Lebih bagus gitu loh setiap harinya.

Mungkin yang kedua dan ketiga agak mirip ya. Cuma maksudku lebih begini sih: kalau yang kedua itu antara kamu dan diri kamu sendiri, yang ketiga (soal komitmen) lebih ke antara kamu dan orang lain. Disiplin diri benar-benar menanamkan kalau apapun yang terjadi atau bagimana pun ya tetap harus melakukan yang terbaik dan punya target diri sendiri.

Kalau ke yang lain itu, komitmen karena bagimana pun influencer itu kan tetep menyenangkan orang lain. Maksudnya kita tuh bikin konten, pusing mikirin konten itu, kan supaya disukai orang. Nah, itu kita harus tetap komit juga untuk bisa terima masukan dari orang lain, terus bisa lebih baik untuk penonton atau viewers kita.

Baca Juga: Millen Cyrus: Menyebarkan Hal Positif dengan Menjadi Diri Sendiri

Terakhir, adakah saran yang ingin kamu bagikan kepada mereka yang baru memulai langkahnya menjadi MUA atau beauty influencer, khususnya yang juga terjun langsung di beauty community?

Saran sih mungkin kalau aku jujur aja orang itu kebanyakan saking penginnya perfect atau mungkin kepo atau enggak ngerti juga aku ya… kadang terlalu banyak nanya hal yang nggak perlu ditanyain. Misalnya, “Kak emang perlu beli kuas, ya?”, “Kak, emang perlu beli foundation, ya?”

Ibaratnya, kita mau berenang tapi nggak bisa berenang. Pikiran pertama pasti, “Coba, deh beli pelampung.” Gitu kan, ya? Menurut aku sih, pelajari yang ada seperlunya. Misalnya, mau jadi beauty influencer. Pasti tahu, dong, butuh makeup yang kira-kira orang udah pada tahu; yang orang awam juga udah pada tahu. Paling tidak butuh foundation, butuh blush-on, butuh bedak. Ya sudah dicoba dulu aja. Apply yang bener itu seperti apa.

Terus mulai coba bagikan ke orang-orang di sekitar. Mulai coba latihan bicara di depan kamera. Jadi daripada kebanyakan bertanya, mendingan langsung coba sendiri karena pengalaman akan membuat nanti, ketika kita menjelaskan produk, penjelasannya lebih natural karena kita merasakannya sendiri.

Terus, ya sama seperti aturan penting yang sudah aku bilang. Ada komitmen buat bikin target terus supaya semakin maju. Selain itu, mau mendengarkan kritik dan saran orang lain juga. Karena bagimana pun kita dilihat orang, bagimana pun orang yang menilai diri kita menarik atau tidak. Jadi harus bisa menerima kritik dan saran orang lain tanpa harus mengubah jati diri kita sendiri.

 

Kamu seorang beauty influencer yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?

June 4, 2019
Norman Erikson Pasaribu: Puisi dan Penghayatan Spiritual dalam Sergius Mencari Bacchus
Lewat buku puisi Sergius Mencari Bacchus, Norman Erikson Pasaribu menghadirkan spiritualisme nasrani, eksistensi queer,...
June 10, 2019
Apa Sih Bedanya Content Writer dan Copywriter?
Meski sama-sama menulis konten, Content Writer dan Copywriter memiliki lingkup kerja yang berbeda. Crafters...