Tyson Tirta: Membuat Artikel Sejarah jadi Kekinian? Bisa!

Apa topik artikel yang biasanya diminati millennials? Fashion, gaya hidup, kecantikan, atau travel mungkin mendominasi urutan teratas. Tapi, bagaimana dengan sejarah? Bisa jadi peminatnya adalah orang-orang yang cenderung sudah berumur, atau mungkin ada saja orang yang menganggap artikel sejarah sebagai artikel yang: “Awalnya seru, tapi lama-lama kok bosen ya?”

Nah, Tyson Tirta, sejarawan berlatar Master of Arts in History dari Kingston University, London, yang juga kontributor di Tirto.id ini ternyata punya pemikiran seru yang mungkin bisa mengubah minat generasi millennials terhadap artikel bertopik sejarah (jadi, untuk Anda para penulis artikel sejarah, jangan khawatir, masih ada harapan untuk tetap eksis!).

Simak cara Tyson mengubah artikel bertema sejarah jadi makin menarik:

Harus dibawakan secara teatrikal

Di mata Tyson, ilmu sejarah itu ibarat melihat guru, guru yang menarik itu adalah yang ekspresif dan teatrikal. “Dia mau ngebohong pun, kita ingin dengerin. Menariknya sejarah itu, kita bisa baca sesuatu dan melihat dari ekspresinya, bukan hanya dari ceritanya saja. Jadi ilmu sejarah itu sebenarnya ekspresif banget. Sesuatu yang sudah terjadi bisa diolah jadi menarik banget, dan kita bisa membayangkan kejadiannya saat mendengar sejarah,” ujarnya.

Menurutnya pula, sistem pendidikan sejarah di sekolah itu intinya adalah menghafal, bukan memahami konteks dari peristiwa. Dan seharusnya guru jangan meminta murid untuk menghafal, tapi memahami peristiwanya; apa yang terjadi, di tahun berapa, dan pengaruh sosialnya apa, hingga membuat perubahan apa dalam peradaban manusia. Selain itu pula, efeknya sepenting apa, karena dengan memahami peristiwa, otomatis, murid akan hafal.

“Di zaman sekarang, kemarin saya sempat lihat teman mengajar menggunakan infografis, di mana ia menggunakan dukungan multimedia lalu bercerita, seperti mendongengkan anak kecil tapi sebetulnya mengajarkan sejarah dengan cara yang lebih populer dan hangat, ketimbang memberikan materi dan minta dihafalkan,” ujar Tyson.

Tyson Tirta: Membuat Artikel Sejarah jadi Kekinian? Bisa!

Baca juga: Cara Membangun Infografis dalam Lima Langkah 

Menyadari bahwa ilmu sejarah mempelajari masa depan

Banyak faktor yang membuat sebuah artikel menarik untuk dibaca, salah satunya adalah ketika pembaca mulai berpikir apa dampak yang didapat dari membaca artikel tersebut; semisal jika artikel tersebut ternyata baik untuk aktualisasi diri, atau bahkan sekadar untuk memberikan kesenangan sesaat.

Artikel sejarah, dalam hal ini bisa dibilang membantu Anda memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan. Pernyataan yang cukup aneh, mengingat sejarah mempelajari masa lalu, dan bukan masa depan.

Padahal, menurut Tyson, ilmu sejarah sebenarnya ilmu yang mempelajari tentang masa depan, karena yang bisa menjadi pelajaran dari ilmu sejarah itu sebenarnya polanya. Jadi, event atau peristiwa apa pun dalam sejarah tidak akan berpengaruh pada masa sekarang, kalau kita tidak memahami polanya.

Pola dalam sejarah selalu berulang di setiap era. “Misalnya sekarang di Indonesia lagi banyak isu korupsi, itu sebenarnya berulang juga. Di akhir abad-18, VOC bangkrut karena pejabatnya pada korupsi dan kerjanya malas-malasan, karena di Belanda sangat dingin, sementara di sini ada matahari. Akhirnya sebagai perusahaan, bangkrutlah mereka. Ibaratnya, kalau kita belajar dari pejabat-pejabat zaman VOC ini, kita enggak akan bangkrut, kalau kita nggak korupsi,” ujarnya.

Riset, riset, dan riset

Perbedaan dari penulis lifestyle yang menulis artikel bertopik sejarah, dengan penulis yang memang berprofesi sebagai sejarawan biasanya terlihat dari riset, daya analisis, dan cara pandangnya. Sejarawan kerap mencari riset lewat arsip, dokumen, hingga wawancara narasumber/sumber primer; cara yang cukup konvensional namun sangat terpercaya.

Di era sekarang, ketika semua proses dipermudah digitalisasi, penulis cenderung malas untuk mencari materi dari sumber pertama. Google menjadi media satu-satunya untuk bahan penulisan, ini membuat daya menelitinya tidak dalam bentuk fisik lagi, lebih ke digital.

“Teman-teman yang lahir setelah era 1990-1991, saat runtuhnya tembok Berlin, dunia maya jadi dunia realitas buat mereka. Ini membuat kesadaran mereka kurang dan menjelaskan mengapa mereka rajin berbagi urusan pribadi ke dunia maya. Karena mereka merasa itu realitas mereka, Nah, untuk mereka yang punya sikap seperti itu, sumber sejarah jadi tidak sepenting itu, mereka enggak peduli lagi dengan arsip. Zaman dulu tahun ’80-an, orang yang belajar sejarah mau enggak mau harus datang ke perpustakaan arsip, bongkar-bongkar arsip yang panjang dan tebal, dengan kertas-kertas yang sudah lapuk,” ujar Tyson.

Menurutnya, ini berdampak baik dan tidak. Dampak baiknya, zaman sekarang kita sibuk menyaring informasi yang masuk, ibaratnya kepala kita diserang oleh informasi dari seluruh dunia, kecanggihan anak-anak sekarang, terletak pada bagaimana cara untuk memfilter informasi yang dibutuhkan dan mana yang tidak dibutuhkan. Sementara itu, anak-anak yang belajar sejarah di tahun 80-an, mereka punya orisinalitas yang jauh lebih tinggi. Mereka bongkar sendiri arsipnya dan bisa menginterpretasikan langsung dari arsipnya. Kalau sekarang. lebih melalui perantara komputer atau perangkat digital.

Walaupun jadi sumber sejarah yang penting, arsip-arsip digital ini perlu disikapi sebagai arsip yang masuk ke perantara digital. “Jadi ibaratnya, dari satu peristiwa, kita tidak mengakses langsung, tapi dengar dari cerita orang, jadi kalau bikin interpretasi yang maksimal ya kadang-kadang pagarnya di situ, kita jadi mentok di perantara ini, enggak bisa mengakses langsung ke pusat sakit kepala, logikanya begitu,” ujar Tyson.

Sebaiknya, dalam proses riset, tingkatkan lagi daya meneliti, jika sudah terbatas di pagar yang satu, kejar dan bongkar lagi, dapatkan sumber aslinya; karena ilmu sejarah sangat bergantung pada sumber-sumber tertulis.

Ilmu sejarah itu ibarat melihat guru, guru yang menarik itu adalah yang ekspresif dan teatrikal. Dia mau ngebohong pun, kita ingin dengerin.
Cobalah membangun kedekatan

Artikel yang akan diingat biasanya adalah artikel yang “dekat”atau familier dengan apa yang dialami atau dirasakan pembacanya. Kelemahan ilmu sejarah sekarang adalah tidak berhasil membangun kedekatan dengan generasi millennials, padahal sebagai konten, sejarah itu menarik; tapi karena tidak ada kedekatan dengan mereka, mereka jadi tidak peduli.

“Kalau kita melihat orang di seberang jalan, kita enggak akan berpikir ‘lagi ngapain ya orang itu’ karena kita enggak kenal, tapi kalau itu ternyata adik kita, kita akan berpikir ‘eh, itu adik kita lagi ngapain ya?’ kita jadi mencari tahu. Sementara ibarat kata, materi sejarahnya adalah ‘dia lagi bikin nasi goreng’ itu jadi enggak penting, karena yang jadi penting adalah karena kita kenal jadi ingin tahu. Karena kedekatannya itu,” ujar Tyson.

Ada sejumlah cara untuk membuat artikel menarik di mata millennials, salah satunya dengan menggunakan multimedia, bisa juga dengan menggunakan infografis, atau menyelipkan wawancara dengan orang yang sedang digemari anak muda.

Cara lainnya adalah dengan membangun relevansi, karena peristiwa sejarah di mana pun kalau mereka tidak merasakan relevansinya dengan apa yang mereka hadapi di zaman sekarang, mereka belum tentu peduli. “Balik lagi ke pola, untuk menjelaskan kenapa kita banyak korupsi, ya itu warisan Belanda. Jadi masuk ke zaman sekarang dulu, baru dicari pengulangan pola yang dulu, karena biasanya pola selalu sama persis, peristiwa berbeda-beda,” ujar Tyson.

 

Banyak penulis berkualitas seperti Tyson Tirta yang telah bergabung di GetCraft untuk menawarkan jasa penulisan dan editing untuk para klien di seluruh Indonesia. Ingin tahu penulis mana saja yang sudah gabung? Yuk lihat disini!

 

Baca juga artikel-artikel lainnya:

5 Tips Menulis Sejarah untuk Media Online

5 Tips Menulis Naskah Komedi ala Soleh Solihun

Tips dan Kiat Menulis Fashion