Trinity Traveler: “Traveling Bukan Hanya Soal Bagus-bagusnya Saja, Namun Juga Soal Journey-nya”

Di tahun 2017, tepatnya di bulan Maret, ada sebuah film layar lebar yang menceritakan kisah seorang perempuan muda pekerja kantoran yang cantik, pintar dan suka traveling. Tokoh ini diperankan oleh Maudy Ayunda. Dari segi film, mata kita akan dimanjakan oleh keindahan alam serta budaya yang mengambil latar tempat di tiga negara; Indonesia, Maldives dan Filipina. Selain itu, film ini memberikan pesan atau ide-ide bagaimana cara menjadi seorang smart traveler yang ceritanya juga dibumbui dengan cerita percintaan, persahabatan dan rasa cinta tanah air yang kuat. Sungguh sebuah film yang menarik. Setidaknya, bagi saya yang juga menyukai traveling.

Namun, yang membuat saya sangat antusias untuk menonton film ini pada saat itu bukanlah semata-mata karena saya tahu bahwa film ini syuting di Maldives (salah satu surga dunia dan bucket list tempat yang sangat ingin saya kunjungi) atau pun karena salah satu pemerannya adalah Hamish Daud. Melainkan, karena film ini diangkat dari salah satu buku yang saya suka berjudul The Naked Traveler karya Trinity, seorang pionir travel blogger pertama di Indonesia.

Trinity Traveler: "Traveling Bukan Hanya Soal Bagus-bagusnya Saja, Namun Juga Soal Journey-nya"
(Dok. Trinity)

Melalui kumpulan buku seri The Naked Traveler yang berjumlah delapan (buku terakhir baru saja terbit di Januari 2019), saya seakan-akan dibawa langsung ke tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi. Isi tulisannya asyik, kocak dan sudah pasti penuh dengan informasi seputar destinasi yang ada di buku ini. Lalu, ada juga tips unik yang bermanfaat, misalnya, seperti bagaimana berpakaian di musim dingin, juga bagaimana trik dan solusi apabila kehabisan uang saat traveling. Maka, tidak heran jika buku-bukunya menjadi salah satu best seller hingga kemudian diangkat menjadi  sebuah film layar lebar.

Baca Juga: Yusi Avianto: Menulis Itu Butuh Ketekunan dan Kekeraskepalaan dalam Derajat Tertentu

Beruntung rasanya saya bisa mewakili Crafters untuk melakukan wawancara dengan Trinity, yang tentu jadi legenda bagi para travel blogger/writer saat ini. Wawancara ini saya lakukan dari jarak yang sangat jauh karena kami sedang berada di negara (ya, Trinity sedang berada di Azerbaijan) dan zona waktu yang berbeda kala itu.

Namun, senang rasanya karena dengan segala kerendahan hatinya, Trinity mau menyempatkan waktu untuk saya wawancarai melalui WhatsApp call. Berikut wawancara kami.

Kapan pertama kalinya kamu mulai menulis, membuat punya blog pribadi, hingga kemudian dilirik publisher dan melahirkan seri buku The Naked Traveler?

Saya sudah suka menulis dari kecil, lalu dari kecil itu, saya selalu jadi reporter di sekolah sampai kuliah. Saya juga pernah jadi kontributor majalah. Sampai kemudian, kumpulan cerita-cerita perjalanan saya itu dibaca sama seorang teman, dia bilang “kenapa enggak dibikin blog aja?” Di 2005 itu kan masih ramai-ramainya cerita online, seperti blog-nya Raditya Dika, misalnya. Tapi memang sengaja saat itu saya mau buat yang hanya fokus ke tema traveling.

Setelahnya, jadilah sebuah travel blog pertama di Indonesia yang saya buat di tahun 2005. Sejak saat itu saya perhatikan traffic-nya semakin lama semakin naik. Saya berkesempatan diliput media dan sebagainya, dilirik penerbit, hingga akhirnya di 2007 dijadikan buku berdasarkan cerita-cerita dari blog itu. Dan seterusnya-seterusnya, sampai sekarang jadilah delapan buku dalam satu seri tersebut. Dan The Naked Traveler yang ke-8 itu baru saja diterbitkan tahun ini pada Januari 2019.

Trinity adalah seorang penulis dan sudah menjadi pembicara di berbagai event nasional maupun internasional; seperti Ubud Writers & Readers FestivalMakassar International FestivalFrankfurt Book Fair, dan sebagainya. Nah, apa arti dan motivasi menulis bagi seorang Trinity?

Sebenarnya dulu karena awalnya cuma nge-blog, tulisan ini saya jadikan sebagai arsip pribadi dari perjalanan saya, kalau dulu kan masih offlineditulis di notebook dan sempat hilang. Belajar dari situ, setelahnya saya mulai menulis di blog–sebenarnya sesederhana itu aja.

Tapi lama-lama, ternyata pembaca suka, dan sebagai ajang menulis juga juga untuk saya karena kalau dilatih menulis dari situ, lama-lama menjadi profesi, dan ternyata sampai sekarang blog-nya tetap aktif. Ya, lumayan sudah bertahun-tahun berjalan dari 2005 sampai 2019.

 

Trinity Traveler: "Traveling Bukan Hanya Soal Bagus-bagusnya Saja, Namun Juga Soal Journey-nya"
(Dok. Trinity)
Buku-buku yang sudah terbit ini kan menceritakan pengalaman nyata Trinity selama traveling. Sebagai orang yang gemar menulis, ada tidak keinginan untuk menulis hal lain. Fiksi, misalnya?

Iya, ada. The Naked Traveler tahun ini kan sudah jadi seri yang terakhir. Saya memutuskan untuk menulis yang berbeda selanjutnya, belum dipikirkan bentuknya bagaimana, tapi tentu saya mau. Fiksi kek, atau non-fiksi, pokoknya dalam bentuk lainlah.

Tetapi walaupun The Naked Traveler ini sudah selesai, tetap akan aktif nge-blog ya?

Iya, memang saya masih aktif nge-blog sampai sekarang, jadi kalau mau lihat cerita-cerita perjalanan saya yang lain ya ada di blog. Kalaupun akan dijadikan buku, nanti belum tentu jadi seri The Naked TravelerEh, bukan belum tentu, sih. Tapi sudah pasti bukan lanjutan dari seri tersebut dan akan terbit dengan judul lain.

Apa sih pandangan Trinity soal perbedaan menulis di blog saat ini dan dulu?

Ada. Maksudnya begini, tingkat membaca orang Indonesia memang naik turun. Tapi, tujuanku kan bukan semata-mata untuk uang, tapi memang untuk sharing, rutin menulis dan juga menjadikannya arsip pribadi. Jadi, saya akan terus menulis di blog.

Bicara media sosial lain, ya, mungkin kalau di Instagram saya enggak bisa terlalu maksimal lewat visual; maksudnya fotonya biasa-biasa aja menurutku tapi caption-nya bisa saya lebih bercerita. Kalau YouTube, sebenarnya saya sudah punya akunnya dari 2012, hanya saja saya masih belum fokus ke arah situ, karena memang, basic saya kan menulis. Dan saya rasa, sampai sekarang saya belum menemukan konsep yang tepat.

Apa keuntungan menulis di blog bagi kamu dari dulu sampai saat ini?

Sebagai sarana untuk latihan menulis karena memang saya suka menulis. Ya, enggak menyangka aja dari mulai nulis di blog, lalu bisa diterbitkan dan akhirnya jadi jadi profesi tetap. Bonusnya, bahkan naskah itu dijadikan film!

Saya juga berkesempatan diundang jadi pembicara di mana-mana. Jadi, saya rasa semua itu legacy-nya dimulai dari blog, walaupun menulis itu karena memang awal-awalnya hobi, dan belum kepikiran; ‘wah, bisa menghasilkan dan segala macam.

Untungnya juga banyak ya, misalnya; “travel blogger siapa, sih?” Trinity Traveler, gitu, kan. Dan menyenangkannya, hingga sekarang, masih banyak orang yang membaca blog-ku.

Seri buku The Naked Traveler kan berawal dari menulis di blog, lalu dilirik oleh beberapa publisher. Nah, kenapa akhirnya memilih penerbit Bentang Pustaka?

Iya, awalnya memang dilirik beberapa penerbit, terus saya temuin deh satu-satu; meeting tentang tawaran, royalty dan sebagainya. Kenapa Bentang Pustaka? Ya, karena chemistry-nya cocok, cielahHahaha.  Orang-orangnya juga enak diajak kerja sama dan tukar pikiran, meskipun saat itu belum nge-top, dengan maksud saat itu sebenarnya masih banyak penerbit lain yang lebih besar.

Menurut Trinity, menjadi travel writer/blogger yang baik itu bagaimana dan seperti apa sih?

Kalau mengaku sebagai travel writer/blogger ya harus banyak jalan-jalan. Bukan harus, tapi karena kita kan memproduksi tulisan, ya lebih baik sih jangan kebanyakan mencari sponsor, karena kalau gitu kan jadi ‘pesanan’ isi tulisannya.

Menulisnya harus karena memang menarik pesannya, menarik angle-nya dan bermanfaat bagi bagi pembaca. Enggak apa-apa sih terima sponsor untuk jalan-jalan dan menulis tentang sponsornya itu, cuma ya, menurut saya kalau bisa jangan kebanyakan karena tulisanmu nantinya akan terbatas.

 

Trinity Traveler: "Traveling Bukan Hanya Soal Bagus-bagusnya Saja, Namun Juga Soal Journey-nya"
(Dok. Trinity)
Karena kebanyakan tulisan travel itu kan yang ditulis yang bagus-bagusnya saja. Padahal sebenarnya travel itu kan enggak cuma bicara soal destinasi tetapi juga journey-nya.
Berbicara soal sosial media, apa pandangan Trinity akan peran sosial media untuk memperluas audiens?

Sangat membantu, karena dulu awal nge-blog di tahun 2005, atau di tahun 2007 awal The Naked Traveler jadi buku, sosial media kan belum banyak. Dulu, kalau misalnya kita mau bikin meet & greet, prosesnya susah banget karena harus cetak brosur lalu dibagikan secara manual. Hectic dan costly banget! Sekarang dengan media sosial, tinggal posting, informasinya langsung tersebar. Dan secara biaya promosi jauh lebih lebih murah.

Selain itu ada faktor lain, tidak?

Apa ya? Kalau zaman sekarang, blog tidak dianggap sexy lagi, ya. Traveler itu disebutnya traveler influencer sedangkan dulu sebutannya travel blogger. Sekarang travel influencer karena mereka mainnya di media sosial, tapi kadang-kadang kalau di media sosial itu isinya jadi bukan data perjalanan, informasi tentang bagaimana cara mengaksesnya, atau tentang tempat dan lain sebagainya. Jadi lebih banyak pajang foto selfie tanpa ada keterangan apa-apa.

Tapi karena media sosial juga berpaku pada followers, kalau followers-nya banyak pasti dianggap traveler yang berpengaruh. Menurut saya, kalau hanya dari media sosial, jalan-jalan jadi terkesan berbeda. Untuk menulis kan kita membutuhkan observasi lebih dalam, lebih exploreYa kalau di media sosial kan ya jadi foto-foto aja.

Adakah sosok atau inspirasi dari kesuksesan Trinity saat ini sebagai penulis?

Dari segi tulisan dalam bahasa Indonesia, aku baca fiksi seperti Dee Lestari, Leila S. Chudori, Eka Kurniawan dan penulis Indonesia lainnya. Jadi memang, kalau ingin jadi penulis ya harus banyak baca sebenarnya.

Baca Juga: Bernard Batubara: Industri Buku, Media Sosial dan Konsistensi

Apa yang ingin disampaikan kepada mereka yang ingin menjadi travel writer/blogger seperti Trinity? Adakah tips yang bisa bagikan?

Yang jelas harus spesifik mau di bidang apa, misalnya travel writer/blogger, ya harus banyak baca dan jalan-jalan. Dan banyak harus banyak menulis tentunya! Kuncinya konsistensi. Latihan menulis terus. Paling tidak minimal dua minggu sekali. Terus konsistensi dalam bentuk gaya bahasa, bahkan font dan warna yang digunakan. Dan dengan sering jalan-jalan dan menulis kita akan jadi tahu apa yang menarik untuk turis. Intinya sih: konsistensi.

Pertanyaan terakhir, dan tentunya bikin banyak orang penasaran; kenapa sih namanya Naked Traveler?

Jadi waktu awal bikin itu, dulu masih kerja kantoran. Zaman dulu itu internet paling kencang ya di kantor. Nah, karena menggunakan fasilitas kantor, jadi saya menggunakan nama anonimus.

Kenapa Naked? Itu plesetan dari nekat. Tapi, secara filosofis, maknanya adalah sesuatu yang tidak ditutup-tutupi karena kebanyakan tulisan travel itu kan yang ditulis yang bagus-bagusnya saja. Padahal sebenarnya travel itu kan enggak cuma bicara soal destinasi tetapi juga journey-nya.

 

Apakah kamu seorang penulis yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?