Tren Online Video Advertising dan Proses di Baliknya

Viral. Sebuah kata sifat yang sering dijadikan patokan kesuksesan bagi para kreator di balik misi pembuatan video online advertising. Memang, belakangan konsep-konsep out of the box semakin dituntut dari para videografer di seluruh dunia. Namun, bagaimanakah proses kerja kreatif di balik pembuatannya? Apakah alasan berkembangnya online video advertising?

Dalam Indonesia Creative Meetup lalu, GetCraft membahas tema The Creative Process Behind Online Video Ads yang diadakan di Sucor Sekuritas, serta bekerja sama dengan maubelajarapa. Mengundang dua pembicara, Bahari Ck selaku Creative Director Go-Jek dan Anggi Sonsen selaku Creative Producer reKreasi, acara tersebut dimoderatori oleh Syarief Hidayatullah, SVP Creative GetCraft Indonesia.

Baca Juga: Sederet Hal Penting untuk Persiapan Produksi Video

 

Tren Online Video Advertising dan Proses di Baliknya
Indonesia Creative Meetup, 13 September 2018 lalu.
Meledaknya online video advertising

Pertanyaan pertama yang diangkat dari diskusi tersebut adalah: “Sejak kapan online video advertising menjadi bentuk content marketing yang digemari para brand?”. Fenomena ini dirasa mulai menjadi efektif sejak sekitar tahun 2015.

“Ya memang, video online advertising rasanya sudah menjadi lebih efektif dari TVC untuk objektif awareness sejak tiga tahun lalu,” kata Anggi Sonsen, seorang kreatif di balik reKreasi yang sudah menghasilkan beragam video menarik.

Lihat juga, para kreator video yang terbuka untuk berkolaborasi dengan brand di marketplace GetCraft

Kesuksesan reKreasi dan Go-Jek dalam menggarap konten video online advertising ramadan lalu tidak diragukan lagi berhasil viral oleh audiens. Menurut Bahari sendiri, ketenaran online video advertising alasannya cukup jelas karena hasilnya dapat diukur dengan pasti, berbeda dengan TVC. “Online video ads bisa diukur dengan cara views penonton, engagement dan comment. TVC lebih generik, sedangkan online video ads lebih targeted. Kita bisa menargetkan siapa saja audiens kita. Sudah secanggih itu,” jelasnya.

Selain dapat mengukur dengan lebih pasti, online video advertising dirasa lebih responsif oleh para kreator. Dengan adanya isu atau tren baru yang muncul, video online ads dapat dibuat lebih sigap untuk merespon isu dan tren tersebut, berbeda dengan TVC. Contohnya, campaign Ramadan yang digarap reKreasi dengan tema ibu-ibu kasidah yang menarik minat para audiens dengan objektif awareness untuk brand Ramayana.

Dengan ide-ide besar yang unik dan hasil akhir yang mudah di-share, pertanyaannya adalah, bagaimana proses di balik kesuksesan video online advertising tersebut?

Baca Juga: Tips Meniti Karier Menjadi Videografer

 

Tren Online Video Advertising dan Proses di Baliknya
Para peserta di sesi tanya jawab Indonesia Creative Meetup
Behind the scenes

Dari pihak brand, Bahari menyampaikan bahwa walaupun tim Go-Jek memiliki tim kreatif internal untuk menetapkan ide besar, mereka tetap menggunakan jasa produksi ke production house (PH). “Kami selalu mengharapkan partner kreatif kita (PH) tidak hanya menjadi tukang jahit saja, melainkan tetap membantu proses kreatif. Karena yang lebih mengerti produksi kan mereka,” ungkapnya.

Jika bicara tentang proses kreatif, Anggi memiliki banyak insights karena ia datang dari sisi production house. Menurutnya, tahap produksi sebuah online video advertising tidak serumit yang orang-orang pikirkan, asal dapat mengomunikasikannya dengan pihak klien dengan baik. “Kita sebagai kreator ke klien itu jangan terlalu baper, karena klien punya tugas untuk menjaga brand mereka,” katanya menanggapi isu revisi yang sering terjadi di antara klien dan kreator.

“Kalau masih bisa secara produksi direvisi, maka kerjain aja, jangan ngeluh. Kalau secara budget sudah enggak bisa, ya jangan dipaksa. Yang penting komunikasikan semuanya dengan baik sama klien,” tambahnya.

Menurut Anggi, cara menggarap video online advertising yang paling efektif adalah dengan mengangkat ide besarnya. Setelah itu, carilah konteksnya secara relevan untuk para audiens. “Lima detik pertama sudah harus menarik perhatian. Tarik ide seliar-liarnya, tapi tetap harus masuk ke konteks!” jelasnya. Selain itu, mencari banyak insights dari brand tersebut atau kejadian (tren) yang sedang naik juga perlu dilakukan oleh para kreator.

Untuk menempatkan ide besar sendiri, Anggi mengatakan bahwa “Jangan ikut di kerumunan lain. Kita harus bikin kerumunan sendiri,” ungkapnya. Penting untuk mengetahui apa tren yang sedang bergulir namun keluar dari kerumunan sangat penting agar ide kreatifmu bisa tampil beda dan tampil menonjol.

Ia juga menambahkan bahwa hal yang perlu diperhatikan oleh para kreator adalah untuk terus menerapkan pola pikir kreatif dalam tim sangatlah penting agar tidak mentok ide. Tantangan lain juga terus dihadapi oleh para kreator video belakangan ini. Dengan isu bahwa sudah banyak brand yang memiliki tim kreatif sendiri, Anggi merasa tidak perlu takut. “Di industri ini kita harus bisa adaptif menanggapi tantangan itu. Sebagai kreator, kita harus bisa mencari selling point-nya ketika klien memiliki tim kreatif sendiri. Jangan anggap itu sebagai ancaman, justru cari cara bagaimana kita menonjolkan kemampuan kita,” tuturnya.

 

 

Tren Online Video Advertising dan Proses di Baliknya
Peserta di Indonesia Creative Meetup