Tren Logo dan Ikon: dari 2D ke 3D, lalu Kembali ke 2D

Logo 3D (tiga dimensi) sempat booming di awal 2000-an. Tapi, dalam rentang satu dasawarsa setelahnya, hampir semua logo 3D kembali ke bentuk 2D (dua dimensi). Kira-kira kenapa, ya?

Pada masa transisi abad ke-19 dan 20, masa di mana penggunaan teknologi komputer masih asing, tentu saja logo-logo yang beredar di pasaran masih berbentuk 2D. Semuanya murni buatan tangan. Hampir seluruh logo yang muncul terlihat kompleks dan detil, persis seperti karya ilustrasi. Masing-masing perusahaan seolah berlomba untuk menampilkan logo yang lebih artistik dan lebih mencolok dibanding kompetitornya.

Tanpa sadar, kita tidak lagi bisa dengan mudah membedakan antara logo perusahaan dengan karya seni ilustrasi maupun lukisan. Semuanya terlihat mirip. Nyampur jadi satu.

Tren Logo dan Ikon: dari 2D ke 3D, lalu Kembali ke 2D
(Dok. Apple)

Jelang pertengahan abad ke-20, tren mulai berubah. Para pemilik perusahaan mulai menyadari bahwa yang mereka butuhkan adalah logo yang sederhana dan mudah dikenali dengan cepat. Namun begitu, bukan berarti mereka menafikan unsur estetis dari sebuah logo. Mereka lebih menginginkan logo yang terorientasi pada awareness masyarakat. Yang simple, memancing perhatian, dan terlebih mudah diingat oleh konsumen mereka.

Momentum ini juga bertepatan dengan kemunculan tren komputer dan perangkat portabel seperti telepon genggam. Kita mengenal fase ini dengan istilah revolusi digital. Yakni saat roda teknologi berputar demikian cepat. Dan jika lengah sekejap saja, kita bakal ketinggalan oleh teknologi baru yang lebih mutakhir. Tren analog berangsur pudar, tombol-tombol fisik berganti layar sentuh, dan penggunaan logo 3D banyak ditemukan.

Tren Logo dan Ikon: dari 2D ke 3D, lalu Kembali ke 2D
(Dok. Google)
Tren Logo dan Ikon: dari 2D ke 3D, lalu Kembali ke 2D
(Dok. Google)

Lalu bagaimana dari sudut pandang masyarakat, kita, sebagai konsumen? Kemampuan kita beradaptasi dengan teknologi baru tentunya relatif. Generasi yang lebih muda, misalnya, boleh jadi lebih cepat menyerap tren-tren mutakhir. Sementara generasi yang lebih tua, yang sudah terbiasa berhadapan dengan instrumen analog, membutuhkan waktu yang lebih lama untuk dapat menyerap pembaruan teknologi ini. Maka dari itu, di awal kemunculan logo 3D, kita juga menjumpai komponen 3D lain dalam bentuk ikon.

Ikon, dalam hal ini, menjadi sarana yang mempermudah konsumen untuk beradaptasi dengan format 3D. Ikon virtual didesain semirip mungkin dengan benda fisik, terutama yang berkenaan langsung dengan penggunaan layar sentuh. Lagi-lagi, bagi generasi yang lebih senior dan sudah lama berhadapan dengan instrumen fisik (tombol telepon, tuts keyboard, bahkan tuas listrik), konsep desain yang sedemikian rupa amat membantu proses adaptasi mereka ke ranah digital.

Ikon 3D menjadi moda efektif untuk menjembatani era analog dan era digital dengan mengimitasi polah instrumen fisik ke dalam bentuk virtual. Penggunaan ikon 3D yang disertai getaran dan bunyi ‘klik’, misalnya, bertujuan untuk membuat konsumen merasa bahwa mereka sedang menekan tombol asli.

Sampai akhirnya tren ini mati begitu saja dalam sekejap mata. Persisnya di pertengahan 2013, saat Apple memperkenalkan sistem operasi iOS 7 yang bersih dari penggunaan format 3D.

Selain tampilan logo dan ikon 2D yang terlihat lebih bersih, format ini memungkinkan penggunaan kapasitas layar menjadi lebih optimal.
Tren Logo dan Ikon: dari 2D ke 3D, lalu Kembali ke 2D
(Dok. Brightside)

Sebagai trendsetter semesta teknologi, apa yang dilakukan Apple terbilang revolusioner. Dan dalam tempo singkat pula, perusahaan-perusahaan lain ikut mengganti logo dan ikon mereka kembali ke dalam format 2D. Desain logo dan ikon 3D yang tadinya memiliki depth, volume, dan tekstur, beralih flat karena format 2D. Tidak ada lagi logo dan ikon yang menyerupai instrumen fisik, semuanya diratakan kembali ke bentuk semula. Bentuk 2D.

Meski berlangsung singkat, perubahan kembali ke format 2D nyatanya mendapat respons positif dari konsumen. Selain tampilan logo dan ikon 2D yang terlihat lebih bersih, format ini memungkinkan penggunaan kapasitas layar menjadi lebih optimal. Layar di telepon genggam, misalnya, jadi lebih vibrant dan mampu memuat lebih banyak ikon dari sebelumnya.

Kini, dalam format 2D, logo tampil sederhana, minimalis, dan mudah dikenali. Semakin simple sebuah logo, semakin cepat pula ia dipahami. Namun begitu, tidak berarti tren logo akan berubah kembali di kemudian hari.

Apa kamu seorang kreator yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?