Tren Influencer Marketing

Kita tengah berada di ambang revolusi digital. Era di mana dunia maya di balik layar dapat mempengaruhi pemikiran kita di dunia nyata. Periode 15 tahun pra-internet, iklim ekonomi berjalan dengan moda periklanan konvensional, seperti koran dan papan reklame. Hingga akhirnya media sosial dan internet hadir dan menggantikan peran platform periklanan tersebut.

Kini, salah satu traffic iklan terbesar berada di tangan para digital influencer. Crafters akan menyinggung bagaimana digital influencers menggeser posisi koran dan papan reklame di era digital, serta dari mana mereka bisa menjadi sangat berpengaruh untuk dunia periklanan dan pemasaran.

Baca Juga: Memulai Karier Fashion Influencer dengan Budget Minim

Tren Influencer Marketing
(Dok. Unsplash)

Gadget dan Influencer

Demand pasar banyak yang beralih ke ranah digital karena beberapa alasan praktis. Seperti kemudahan akses (accessibility) dan kecenderungan masyarakat menghabiskan waktu di depan layar gadget pun media sosial. Rata-rata pemakaian media sosial sendiri mencapai 9 jam/hari. Dan sebagian diantaranya kerap menghabiskan waktu menonton para influencer di media sosial.

Influencer dalam pengertian paling sederhana ialah pengguna media sosial dengan citra personal yang populer, memiliki banyak pengikut (followers), serta mampu membuat konten-konten menarik. Nilai yang dijual oleh influencer berbeda dengan selebritas. Selebritas menjual keahlian dan talenta seperti akting, bermusik, dan lainnya, sedangkan influencer menjual keterkaitan (relatability) dan cenderung bersikap seperti apa adanya agar pengikutnya dapat lebih merasa dekat dengannya.

Strategi Marketing

Mengapa pemasaran dengan influencer atau influencer marketing menjadi salah satu moda paling efektif untuk periklanan? Kemungkinan terbesar adalah karena sekitar 70% keputusan audiens untuk membeli sesuatu dipengaruhi oleh rekomendasi para influencer, dan 60% keputusan untuk membeli barang di dalam toko dipengaruhi dari melihat review atau rekomendasi influencer via media sosial dan blog.

Misalnya, seorang selebritas ngetop mengiklankan produk perawatan kulit wajah. Audiens akan secara alamiah berpikir bahwa si selebritas pasti tidak menggunakan produk tersebut, melainkan produk yang lebih mahal yang tidak akan dibeli oleh penonton. Beda ceritanya dengan influencerInfluencer yang me-review produk perawatan kulit wajah bisa terlihat seperti seorang teman yang sedang merekomendasikan barang, terlebih lagi apabila mereka mendokumentasikan proses penggunaannya. Influencer terasa “lebih dapat dipercaya”.

Contoh nyata lainnya adalah produk HiSmile yang menggunakan pendekatan pemasaran yang sangat milenial. Mereka mengawali dari menggunakan exposure dari mid-level dan micro-influencers dengan harga terjangkau, hingga pada akhirnya mereka dapat menggunakan exposure dari Kylie Jenner yang pada saat itu memiliki 75 juta pengikut di akun media sosialnya. Walhasil penjualan mereka laku keras.

Baca Juga: 5 Strategi Marketing Ampun untuk Freelancer

Kini, salah satu traffic iklan terbesar berada di tangan para digital influencer.
Tren Influencer Marketing
(Dok. Unsplash)

Revolusi digital menggeser nilai efektivitas dalam pemasaran dan periklanan. Di era digital kini, aspek relatability menjadi kunci untuk bisa memasarkan suatu produk dengan efektif. Periklanan dan pemasaran terus berubah dan beradaptasi seiring perubahan sosio-kultural dalam masyarakat, dan belum ada suatu pakem yang dapat merapikan sistem pemasaran dan periklanan secara menyeluruh. Apakah tren influencer marketing akan panjang umur? Atau akan lenyap disapu tren marketing lain di masa mendatang?

Apa kamu seorang influencer yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?