Tren Desain Era Digital: 3 Jenis Ilustrasi

Semakin banyaknya ragam desain visual yang berkembang di era digital seringkali membuat para desainer minder untuk unjuk gigi. Padahal, dengan mengetahui kekuatan mereka sebagai seorang desainer secara lebih spesifik, bisa menjadi kelebihan yang sangat menguntungkan.

Obrolan seputar desain ini diperbincangkan akhir November lalu, GetCraft kembali mengadakan Indonesia Creative Meetup (IDCM) dengan tema Tren Desain di Era Digital dan mengundang panelis-panelis keren yakni Aruga Perbawa, Mohammad “Emte” Taufiq dan Dimaz Prasetya. Bekerja sama dengan Sucor Sekuritas dan Maubelajarapa, IDCM kali ini dihadiri oleh lebih dari 150 peserta yang antusias.

Ketiga panelis tersebut memberikan insights yang berbeda dari kacamata tren desain mereka sendiri. Aruga Perbawa, selaku President of Komikin Ajah paham betul industri comic strip. Untuknya, merangkul sebanyak-banyaknya talenta di Indonesia dan mengumpulkannya dalam sebuah komunitas adalah satu cara paten untuk memajukan industri kreatif.

Lain lagi dengan Emte yang sudah berkarier menjadi Visual Artist selama bertahun-tahun. Sebagai senior di industri ini, Emte yang mendapatkan banyak kesempatan berkolaborasi dengan brand terus mengasah kemampuannya dalam ilustrasi (terutama cat air, style khas dari Emte yang dikenal selama ini) untuk bisa terus mendapatkan kesempatan-kesempatan lainnya.

Dimaz Prasetya, sebagai salah satu pendiri Pionicon paham betul tentang penjualan karakter IP (Intellectual Properties) pada brand. Menurutnya, karakter IP ini bukan hanya umumnya bersifat panjang umur, namun juga cukup meningkat demand-nya pada tahun ini.

Baca Juga: Definisi Desainer di Industri Digital

 

 

Tren Desain Era Digital: 3 Jenis Ilustrasi
Ketiga pembicara dan moderator dalam acara IDCM

Visual ilustrasi

Setiap tahunnya, permintaan akan desain yang secara spesifik berbentuk ilustrasi terus bertambah. Ingat-ingat saja, betapa kita sering disuguhkan dengan ilustrasi-ilustrasi lucu yang di publish oleh brand-brand besar.

Segala suatu cara tentu saja dilakukan oleh para brand untuk membuat kita mengingat produk mereka. Nah, bentuk desain visual ilustrasi ini rasanya cukup efektif. Jika bicara komik strip, Aruga, yang mengatur 121 komikus yang tergabung dalam Komikin Ajah melihat permintaan besar dan mengambil kesempatan. Selain (tentu saja) memiliki banyak style yang bisa dipilih dengan klien mereka sesuai persona brand, Aruga menjanjikan engagement besar dari 2,1 juta followers-nya di akun Instagram Komikin Ajah. Karena komik strip sendiri mudah diolah dan pendekatannya mudah, komik strip menjadi salah satu bentuk visual yang sangat digemari oleh para brand.

Lihat inspirasi desainer yang bergabung di GetCraft!

Jika bicara tentang ilustrasi klasik yang sering dikolaborasikan oleh brand dengan Emte, rasanya cukup klasik. Kita sendiri juga tahu bahwa kerja sama Emte dengan brand-brand besar seperti Uniqlo, Sogo dan Giordano pernah menghiasi sejumlah mal. Emte juga merasa bahwa pada tahun ini, meningkatnya permintaan ilustrasi oleh banyak brand yang tidak hanya fashion juga meningkat. Dalam berkolaborasi sendiri, Emte punya satu hal yang ingin ia ingatkan, bahwa jika kita merasa belum mampu atau terlalu banyak meng-handle pekerjaan, kita harus berani untuk berkata “tidak” dan menolak. Karena menurutnya, kalau memaksa, pada akhirnya hal ini akan berakibat buruk untuk si desainer karena tidak maksimal dan brand karena merasa tidak puas dengan hasil.

Dimaz di lain sisi bicara tentang karakter IP yang punya waktu kerja sama lebih lama dibandingkan kolaborasi per-project yang dihadapi Aruga dan Emte. Karena karakter, bisa menjadi persona brand seumur hidup atau hanya di campaign spesifik saja. Ia setuju jika permintaan untuk desain karakter IP juga meningkat di tahun 2018 ini. Jadi, ia sangat mendukung para ilustrator yang gemar mendesain karakter untuk lebih berani “pamer karya” dan mendapatkan klien dari kegemarannya tersebut.

Baca Juga: Belajar Desain Secara Autodidak? Kenapa Tidak?

 

Tren Desain Era Digital: 3 Jenis Ilustrasi
Peserta yang hadir di IDCM

Komunikasi dalam kerja sama

Ketiga pembicara yang hadir banyak setuju dengan satu poin penting dalam kerja sama yaitu komunikasi. Komunikasi yang dimaksud adalah untuk terus menyampaikan semua kesepakatan dan kemampuan untuk bernegosiasi agar kedua belah pihak (brand dan desainer) sama-sama mendapatkan keuntungan yang cocok.

“Emang sih, komunikasi dengan brand itu enggak ada patokannya harus gimana. Tapi, daripada satu pihak ada yang merasa dirugikan seiring kerja sama, mendingan semuanya di breakdown di awal kesepakatan aja,” jelas Emte yang selama presentasi ia menunjukkan lebih dari dua puluh karya hasil kolaborasinya dengan brand.

Dilema terbesar para desainer selama ini mungkin adalah harga. Hal ini dirasa memang sangat sensitif, namun wajib dibicarakan dengan terbuka. Pembicara yang hadir sepakat bahwa ini juga saatnya para desainer bisa berkomunikasi dengan baik. Tips yang mereka berikan adalah, untuk selalu membuat rate card yang cocok dan masuk akal dengan pengalaman kalian. Dengan begitu, di awal pendekatan juga, para klien setidaknya sudah bisa meraba kira-kira harga yang kalian tentukan.

Bagaimana kalau belum berani membuat rate card? Ya, memang terkadang beberapa orang kurang pede membuat rate card di saat belum punya banyak portofolio. Cara mengatasinya? Kalian, para desainer bisa mulai dengan bertanya dulu tentang budget yang mereka siapkan. Setelah itu, menambahkan beberapa persen untuk kemudian dinegosiasikan menjadi hak para desainer sepenuhnya. Ingat, harus berkomunikasi dengan baik!

Kamu seorang desainer dan sudah siap terjun ke industri desain? Yuk, gabung menjadi kreator di GetCraft!