Crafters

Portal konten yang fokus mengangkat beragam hal seputar industri kreatif. Mulai dari wawancara, laporan khusus, sampai tips dari para kreator yang berkarya di bidang seni, kebudayaan, bisnis kreatif, dan teknologi.

Melalui Crafters, kami ingin memberikan kontribusi untuk perkembangan industri kreatif di Asia Tenggara.

Dikelola oleh

Sign up to receive bi-weekly creative inspiration, delivered directly to your inbox!

Tommy Thomdean​: Kartunis Editorial Harus Lincah

Tommy Thomdean - kartunis indonesia 1

Banyak kartunis yang mungkin tidak tersenyum saat ini. Padahal salah satu fungsi karyanya adalah membuat orang tersenyum lewat karya yang lucu. Menurunnya keuntungan industri media cetak ditebak jadi salah satu penyebabnya.

Kartunis yang selama ini banyak bekerja sama dengan media sebagai kartunis editorial pun kena getahnya, mulai dari jatah halaman yang berkurang, atau bahkan pemutusan kerja sama.

Dan Tommy Thomdean termasuk salah satu kartunis yang terkena dampak itu. Sejak tahun lalu kontraknya bersama The Jakarta Post tidak berlanjut.

Padahal ia bukan kartunis sembarangan. Di media berbahasa Inggris ini, namanya sempat mencuat karena berhasil meraih penghargaan karya jurnalistik Anugerah Piala Adinegoro 2017, untuk kategori karikatur lewat karya 1965 Victims.

Namun Thomdean, begitu ia lebih dikenal, masih bisa tersenyum hangat. Ia tak habis akal untuk mencari akal agar eksistensinya sebagai kartunis terus terjaga. Termasuk di antaranya, sejak 2010 mendirikan Joker Syndicate, situs sindikasi para kartunis yang menyediakan kartun bagi media atau pihak lain yang memerlukan.

Thomdean yang mengawali kariernya di Kompas, sebagai kartunis editorial ini, kini tercatat sebagai kontributor di beberapa media; termasuk di antaranya Kontan, tempat ia terlibat dalam buku Duitto, tokoh kartun buatan Kontan.

Berikut perbincangan The Crafters dengan kartunis yang jadi langganan mendapat penghargaan di luar negeri ini; tentang profesinya dan tantangan kini:

Apa idealisme yang harus dimiliki seorang kartunis?

Aktual dan mempunyai pesan. Kartun itu berbeda dengan ilustrasi yang cenderung hanya untuk kebutuhan estetika. Kartun itu harus membawa suatu pesan, dan pencerahan kepada yang melihatnya.

Misalnya ingin membuat kartun tentang investasi bodong di industri keuangan. Maka kartun harus ada pesannya, misalnya kartun harus mengingatkan kita agar jangan mudah tertipu dengan investasi semacam itu. Itulah kekuatan kartun. Dia bisa masuk ke semua lini tema.

Tommy Thomdean - 1965 victims
Kartun Thomdean tentang keturunan korban peristiwa kekerasan oleh Partai Komunis Indonesia, berjudul 1965 Victims; diterbitkan di The Jakarta Post.
Apakah kartun memerlukan teks?

Kartun itu ada dua macam. Pertama adalah kartun lucu, yang kalau Anda melihatnya akan tertawa. Jadi sifatnya hanya untuk hiburan. Terkadang hanya perlu diberikan satu kalimat saja sudah bisa membuat kita tertawa.

Yang kedua, kartun politik. Ini untuk mengkritisi banyak hal, misalnya saja pemerintah, hukum, korupsi hingga isu sosial seperti macet dan banjir. Karena tema ini sering terjadi, kartunis harus dituntut cerdas sehingga mendapatkan cara penyampaian yang baru.

Contohnya saja kartun saya di The Jakarta Post yang mendapat penghargaan Adinegoro. Sudah lama misalnya keturunan korban 1965 (peristiwa kekerasan oleh Partai Komunis Indonesia—PKI) meminta pemerintah untuk melakukan permintaan maaf, namun hingga sekarang tidak dilakukan. Mungkin karena memang polemiknya sangat rumit.

Ya sudah saya buat ide, korban dan pelaku sudah “maaf-maafan” di alam kubur, sementara keturunannya masih sibuk berselisih. Jadi kartun ini sekadar mengingatkan, tidak perlu ada solusinya.

Berkaca dari kartun Charlie Hebdo di Prancis yang membuat heboh, apa sebenarnya rambu-rambu dalam membuat kartun?

Kita harus melihat di mana kita berkarya. Kalau saya tinggal di Prancis, kartun saya mungkin akan lebih “gila”, tetapi saya tinggal di Indonesia, sehingga rambu-rambunya tentu berbeda.

Kita tidak bisa mengatasnamakan kebebasan berekspresi, kemudian membuat kartun yang misalnya menyerang agama lain.

Tommy Thomdean - Terror Love

Ini bukan persoalan muslim saja. Ada juga yang misalnya mengkritik Paus dan Romo. Di Indonesia saya belajar tiga hal untuk kartun di media. Pertama tidak bisa membuat kartun kekerasan, dengan ilustrasi darah tertumpah misalnya.

Kedua, tidak bisa vulgar atau menggambarkan pornografi. Ketiga, konteksnya dengan Charlie Hebdo, kita tidak bisa menggambarkan simbol-simbol agama, kemudian menyerang kelompok tertentu.

Untuk itu jika kartunis ingin mengkritisi yang mungkin berkaitan dengan tema di atas, kita harus pintar meramu sehingga kartun yang ada tetap tidak melanggar rambu, dan tetap membuat orang tertawa.

Kalau sampai ada yang marah atau terjadi pergesekan di masyarakat, bagi saya kartun itu gagal. Salah satu mentor saya, GM Sudarta, juga pernah menyatakan, kalau ingin membuat kartun di Indonesia, maka kita harus melihat budaya yang ada di negara ini.

Tommy Thomdean - New Devil
Seiring situasi negara dewasa ini, apakah rambu-rambu itu makin kuat dipegang oleh media?

Relatif iya.

Di beberapa media rambu-rambunya bahkan sangat banyak, karena kita memang harus berhati-hati. Tetapi tentu kebijakan redaksi setiap media berbeda.

Di The Jakarta Post misalnya, karena target pembacanya adalah ekspatriat, maka kebijakannya relatif lebih longgar. Tetapi tetap ada rambu, misalnya saja larangan menampilkan simbol-simbol agama.

Sebagai kontributor, saya juga harus tahu budaya media tempat kita bekerjasama. Untuk karya yang lebih “bebas”, saya sendiri biasanya memilih untuk mengunggahnya di media sosial.

Kartunis saat ini memang harus lebih pandai untuk mendapatkan galeri-galeri yang dapat menyalurkan karyanya, sehingga tetap dapat dinikmati orang lain.

Saya sendiri membuat komik perang itu supaya tidak bosan dengan rutinitas membuat kartun yang ada. Kartunis menurut saya tidak bisa bekerja di satu bidang.

Lalu, apa tujuan Anda membuat Joker Syndicate?

Awalnya ingin membuat wadah supaya bisa memamerkan karya-karya yang sifatnya stock. Setiap kartunis biasanya punya karya yang sudah dibuat, namun tidak terpakai.

Makanya kita buat Joker, sehingga bisa dibeli oleh pihak yang memerlukan, bahkan pihak di luar negeri. Tetapi pada perkembangannya, yang banyak menggunakan itu adalah pihak di Indonesia.

Joker pada perkembangannya, juga menjadi tempat untuk menampung portofolio. Saat ini juga, kami menjual dua hal, karya stock maupun karya baru sesuai pesanan klien. Karena kemudian banyak pihak yang hanya mau membeli karya baru.

Karya-karya stock cenderung hanya menjadi preferensi klien untuk menemukan gaya kartunis yang cocok dengan kebutuhannya.

Tommy Thomdean - kartunis indonesia 3

Di sisi lain, saya menganggap kartunis itu tetap harus berkaya sesuai dengan idealisme yang dia miliki. Jika ada pihak yang mau kartun anak-anak, namun yang mengerjakannya adalah kartunis yang biasa dengan gaya lain, maka tidak akan cocok.

Ya mungkin saja ada kartunis yang mengaku bisa menggambar gaya apa saja, ya saya hormati jika ia punya idealisme seperti itu.

Kami sendiri di Joker sifatnya seperti agensi, jadi mengarahkan kebutuhan klien ke kartunis yang memang sesuai gaya kartunnya. Tapi memang saya sudah berpikir, bahwa ini harus dirombak agar lebih modern. Sejauh ini ada 8 orang yang bergabung, tapi yang aktif 3-4 orang.

Kita tidak bisa mengatasnamakan kebebasan berekspresi, kemudian membuat kartun yang misalnya, menyerang agama lain.
Tommy Thomdean - kartunis indonesia 2
Menurut Anda, apa antisipasi yang mesti diambil para kartunis, seiring industri media cetak yang makin menurun?

Harus melek teknologi, banyak membaca, dan bisa berkolaborasi; sehingga kartunis punya nilai lebih dalam menyampaikan karyanya. Saya sendiri, saat ini sedang mencoba berkolaborasi dengan animator, untuk mengembangkan karya animasi.

Kelebihan kartunis, dia bisa bermain di semua media. Misalnya saja di media bisnis, maka dia bisa membuat kartun tentang bisnis. Saya juga kebetulan kontributor komik strip di Sindo, untuk rubrikasi belanja, dengan kartun Shop Till You Drop.

Teman saya, fisioterapis yang juga suka menggambar kartun. Saya kemudian menyarankan dia untuk membuat humor rumah sakit. Dia akhirnya bisa membuat buku dan dijual. Jadi ada kemandiriian, dan tidak bergantung dengan kondisi industri media cetak.

Kecenderungan kebanyakan kartunis itu, berasal dari era 80′-an dan sangat mengandalkan media; sementara saat ini, para kartunis harus lebih cerdas mencari cara dan “mencairkan” pikirannya untuk menemukan celah lain buat menjual karyanya.

 

Banyak desainer berkualitas seperti Tommy Thomdean yang telah bergabung di GetCraft untuk menawarkan jasa desain untuk para klien di seluruh Indonesia. Ingin tahu desainer mana saja yang sudah gabung? Yuk lihat disini!

July 6, 2017
Gembira Putra Agam: Pentingnya Mendengar dan “Membaca” Musik
​Kegemaran terhadap musik membuat Gembira Putra Agam hanyut jauh ke dalamnya; hingga menyentuh profesi...
July 12, 2017
Jason Ranti: Bicara Soal Pak Haji dan Komunis, Lewat Lagu
Ia bicara hal serius, dengan tajam juga jenaka lewat musik. Bagi Jason Ranti bermusik...