Tips Terjun Ke Bisnis Fotografi

Fotografer adalah salah satu profesi yang kini banyak digeluti para pelaku industri kreatif. Bidang itu memiliki cakupan luas, karena ada banyak jenis fotografi yang bisa jadi fokus seorang fotografer. Seperti misalnya, fotografi makanan atau populer dikenal sebagai food photography.

Yang jelas, apa pun bidang fotografi yang Anda pilih, hal yang perlu Anda ketahui juga adalah soal apa saja yang penting diketahui untuk terjun ke dunia bisnisnya?

Terkait hal itu, dalam gelaran Indonesia Creative Meetup (#IDCM) bersama jejaring kreator GetCraft yang diadakan di Apiary Coworking Space, Jakarta Barat, hadir tiga orang fotografer yang memiliki pengalaman mumpuni: Togi PanjaitanPeny Pujiati dan Danny Tumbelaka.

Pada kesempatan itu, mereka berbagi tentang hal-hal yang penting diketahui seorang fotografer untuk mengembangkan bisnis.

Lihat juga: Fotografer yang sudah menawarkan jasanya di GetCraft

Rawat klien, bangun jejaring, dan berkolaborasi

Ketika sesi diskusi, salah seorang peserta yang juga seorang fotografer, melontarkan pertanyaan terkait kekhawatiran mereka tentang cara bertahan sebagai fotografer profesional, di era digital yang serba cepat dan instan. Menanggapi hal ini, Danny Tumbelaka yang sudah puluhan tahun bergelut di dunia fotografi pun angkat bicara.

“Jangan khawatir. Sebagai fotografer, kita harus fokus create somethingThink of something and create! Yang penting teguh, konsisten, dan jaga hubungan baik dengan klien. Percaya lah, jika demikian, akan selalu ada pasar kita sendiri,” tandasnya.

Peny Pujiati pun mengungkapkan, menurutnya saat ini konten visual sangat dibutuhkan. “Anda harus banyak berkenalan dengan orang lain, dan berjejaring dengan sesama fotografer. Jangan anggap mereka sebagai kompetitor; justru berkolaborasilah dengan mereka,” ujarnya menegaskan. Disampaikan Peny, karier akan berkembang jika kita menjalin dan menjaga network, dan melakukan kolaborasi.

Melengkapi Danny dan Peny, Togi Panjaitan menambahkan, “Iya betul. Never underestimate the power of networking! Selain itu, sebagai freelancer saya juga banyak belajar melakukan branding diri sendiri melalui media sosial atau platform lainnya,” kata Togi.

Jika pun sedang sepi klien, salah satu yang dilakukan Togi adalah mengumpulkan foto stok, dan berusaha memasarkannya via Shutterstock. Ia mengiyakan komentar Peny, bahwa kebutuhan konten visual di pasaran saat ini tinggi, dan hal tersebut jelas merupakan peluang untuk para fotografer profesional.

Para kreator dan fotografer yang hadir di acara IDCM
Never underestimate the power of networking!
Lihat persaingan sebagai penyemangat dan amunisi untuk mengasah diri

Lalu mengenai persaingan, ketiga pembicara sepakat untuk tidak melihatnya sebagai ancaman, tapi justru amunisi untuk belajar dan meningkatkan kemampuan. Sempat dibahas pula, untuk mengatasi persaingan dengan fotografer instan (yang modalnya hanya sering memotret untuk media sosial) yang memasang harga murah, para fotografer profesional harus pantang lelah mengedukasi klien soal fotografi.

“Jangan hanya pasang harga. Tapi juga jelaskan dan sampaikan pada mereka, bahwa harga yang bakal mereka bayar bukan hanya untuk foto saja; tapi juga skill dan teknik, intuisi berdasar pengalaman, juga waktu dan effort yang dikeluarkan sebagai profesional,” tukas Danny.

Ditambahkan oleh Peny, jalani profesi ini sepenuh hati dan dengan pikiran positif. Percaya diri saja bahwa kita bisa menyajikan kualitas dan profesionalitas yang dijanjikan; jadi jangan lagi memikirkan soal harga yang ditentukan. “Toh kalau kita memang sudah ada di anak tangga ketiga, tidak perlu turun ke anak tangga kedua. Portfolio mestinya cukup untuk membantu klien memutuskan secara fair,” imbuh Peny.

Fair play di jenjang karier Anda juga harus menjadi salah satu list dalam berkarya lewat fotografi. GetCraft sebagai marketplace kreator lokal menyediakan ruang peluang dan persaingan yang adil. Sign up di sini untuk mempelajarinya lebih lanjut.

Para kreator, fotografer, dan panelis
Para kreator, fotografer, dan panelis