Tips Menjadi Freelancer Profesional

Sekarang ini, banyak anak muda yang memimpikan hidup sebagai freelancer. Di mana mereka bisa bangun sesuka hati tanpa absen yang menghantui. Tidak harus terjebak dengan rutinitas membosankan pergi pagi pulang malam, gaji pas-pasan. Kini, bekerja freelance kerap dianggap sebagai definisi “dapat menikmati hidup” dan pilihan seksi untuk melanjutkan hidup dengan penuh kebebasan.

Walau banyak yang kelihatannya enak, tetapi menjadi freelancer tidaklah selalu menyenangkan. Ada juga berbagai permasalahan yang kerap mendera, seperti yang diungkapkan survei dari Indonesia Digital Creative Economy 2018 GetCRAFT, yakni kesulitan mencari klien, permasalahan pada pembayaran yang kerap tidak profesional/telat dibayar, dan kesulitan mendapatkan akses/minimnya sarana-sarana pelatihan yang dibuat pemerintah.

Nah, untuk itu, kalau memang ingin menjadi seorang freelancer profesional tentunya dibutuhkan langkah-langkah untuk dapat bertahan di dalam rimba freelance yang semakin penuh persaingan dan tantangan ini. Lalu, apa yang harus dilakukan?

Freelancer Profesional
Tahap Persiapan
1. Tentukan bidang dan ambil spesialisasi

Mungkin alasan menjadi freelancer adalah karena percaya pada skill kita di suatu bidang. Entah itu sebagai fotografer, videografer, penulis atau yang lainnya. Tetapi ingat, di luar sana banyak freelancer yang juga punya kemampuan sama atau malah melebihi kita.

Maka itu, kita perlu menentukan spesialisasi dari bidang yang kita geluti, misalkan sebagai Fashion Videographer, Food Photographer, atau Music Writer. Dengan begitu kita akan lebih cepat menemukan ciri khas atau keunikan dari karya kita dan memudahkan untuk mencari klien yang cocok. Dan ketika mengerjakan apa yang disukai tentu kualitas konten akan lebih bagus daripada membuat dengan keterpaksaan.

2. Membuat portofolio dan tayangkan secara online

Salah satu hal penting bagi seorang freelancer adalah portofolio yang menarik karena akan banyak orang yang ingin melihat seperti apa karya yang kita buat. Namun, portofolio yang baik tidaklah cukup kalau belum disiarkan secara online.

Mengapa? Karena dengan dimuat di portal online akan memudahkan siapa saja untuk melihat karya kita kapan saja di mana saja. Dengan begitu akan semakin mendekatkan kita dengan calon klien.

3. Menentukan harga per project

Ketika menentukan harga kerja per project, kita bisa mengacu pada portofolio dan tentunya harus cekatan dalam menilai kemampuan diri sendiri. Selain itu, coba cari informasi mengenai harga pasaran seorang freelancer, misalkan ajak ngobrol sesama freelancer untuk mendapakan masukan mengenai tarif kerja yang akan kita tawarkan.

Danny Tumbelaka pernah mengungkapkan, “Jangan hanya pasang harga. Tapi juga jelaskan dan sampaikan pada mereka, bahwa harga yang bakal mereka bayar bukan hanya untuk foto (karya) saja, tapi juga skill, teknik, intuisi berdasar pengalaman, juga waktu dan effort yang dikeluarkan sebagai profesional.”

4. Mencari target klien

Hal penting yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mencari tahu siapa yang cocok menjadi klien kita. Klien potensial itu bisa kita cari di mana saja, bisa dari Google, media sosial, teman, saudara, bahkan tetangga. Jangan malu untuk bertanya karena kemungkinan itu akan selalu ada. Setelah itu buatlah daftar klien, update, dan selalu tambah target setiap bulannya.

Ketika sudah mengetahui target klien, langkah selanjutnya adalah mencari tahu sebanyak mungkin link yang dapat menyambungkan kita ke klien tersebut. Bisa lewat e-mail atau mencari tahu dari teman atau apapun saja hingga benar-benar terhubung dengan calon klien tersebut.

Kalau memang sudah menemukan klien potensial yang cocok dengan spesialisasi kita, maka jangan ragu untuk mengajukan penawaran kerja.

Freelancer Profesional
5. Pitching

Kita perlu mengasah kemampuan pitching kita ketika menjadi seorang freelancer. Karena kita perlu untuk menyampaikan dengan baik kemampuan terbaik kita. Kita perlu mengomunikasikannya secara menggugah agar apa yang kita bicarakan bisa berubah menjadi penghasilan.

Selain itu, klien potensial akan lebih menanggapi serius kalau apa yang kita bicarakan adalah sesuatu yang spesifik atau terspesialisai. Dengan begitu klien merasa tidak akan buang-buang waktu dibandingkan harus mendengarkan presentasi servis yang umum. Jadi kalau sedikit kembali ke awal, menentukan spesialisasi itu penting.

Setelah pitching, namun klien potensial belum merespon, jangan ragu untuk follow up kembali kepada mereka.

Pelaksanaan (produksi)

1. Ketika sudah mendapatkan projectkita perlu menentukan MOM dan perjanjian antara kita sebagai kreator dengan klien. Perjanjian ini bisa berisi tentang pembayaran, kuantitas revisi, lalu apakah project ini nantinya boleh kita publish atau masuk ke dalam portofolio dan lain sebagainya.

2. Kalau mendapatkan brief dari klien, pahami dengan teliti agar nantinya dapat mempermudah kita untuk menentukan kebutuhan yang diperlukan selama project berlangsung dan kita menjadi tahu metode apa yang harus dilakukan untuk mengeksekusi project tersebut. Sehingga kualitas output yang dihasilkan bisa menjadi yang terbaik dan mendapat kesan positif dari klien. Kalau memang ada yang kurang jelas jangan malu untuk bertanya kepada klien kita tersebut.

3. Jika membutuhkan tim karena project yang besar, segera cari sumber daya yang mumpuni untuk membantu project ini. Lakukan quality control secara baik, detail dan bijak terhadap sumber daya yang kita ingin ajak kerja sama. Jangan sampai nantinya rekan kita tersebut malah merugikan kita dan klien dalam project tersebut.

``Jangan hanya pasang harga. Tapi juga jelaskan dan sampaikan pada mereka, bahwa harga yang bakal mereka bayar bukan hanya untuk foto (karya) saja, tapi juga skill, teknik, intuisi berdasar pengalaman, juga waktu dan effort yang dikeluarkan sebagai profesional.``

4. Kalau memang memerlukan kreator lain, kita perlu membuat brief yang jelas agar dapat menerjemahkan keinginan klien sebaik mungkin baik kepada kreator atau ke diri sendiri.

5. Pada tahap produksi, kita harus mengeksekusi project tersebut secara profesional dengan memberikan kualitas terbaik dan tetap sesuai timeline pengerjaan. Jangan sampai melewati deadline yang sudah ditentukan.

6. Setelah proses produksi dilaksanakan, sampaikan hasil karya kita tersebut kepada klien dan kalau ada revisi, tetap harus kita lakukan dengan serius. Dan kita tetap harus berpacu pada jumlah revisi yang sudah ditentukan sebelumnya di dalam MOM sampai menghasilkan output yang sesuai dengan apa yang diharapkan klien. Namun kita tetap harus memberikan keunikan dan ciri khas kita di dalam karya tersebut.

Paska Produksi

1. Jika diperbolehkan untuk di-publish/menjadi konten portofolio, maka tambahkanlah project itu ke dalam portofolio, publikasikan juga secara online.

2. Jangan lupa untuk meminta feedback dari klien, karena ini penting bagi branding kita sebagai freelancer dan untuk project-project ke depannya.

3. Jaga hubungan baik dengan klien, berikan tanda terima kasih dan terus berkomunikasi dengan harapan klien tersebut akan memberikan project lainnya di lain waktu.

Baca Juga : Kerja Freelance itu Harus Serius!

Untuk menjadi seorang freelancer profesional yang sukses memang dibutuhkan berbagai langkah. Tekun dan disiplin bisa menjadi kunci kesuksesan kita sebagai freelancer. Langkah selanjutnya untuk menjadi freelancer profesional, bisa diawali dengan mendaftarkan diri di marketplace kreator konten seperti GetCRAFT yang bisa mempermudah Anda mendapatkan jejaring klien.