Crafters

Portal konten yang fokus mengangkat beragam hal seputar industri kreatif. Mulai dari wawancara, laporan khusus, sampai tips dari para kreator yang berkarya di bidang seni, kebudayaan, bisnis kreatif, dan teknologi.

Melalui Crafters, kami ingin memberikan kontribusi untuk perkembangan industri kreatif di Asia Tenggara.

Dikelola oleh

Sign up to receive bi-weekly creative inspiration, delivered directly to your inbox!

Tips dan Trik Menulis Konten Makanan dan Pentingnya Branding!

Makanan ternyata memiliki sejarah amat panjang dalam hidup manusia. Apalagi jika bicara soal Indonesia. Setidaknya itulah yang disampaikan Kevindra Soemantri, seorang Food Writer di acara Jakarta Creators Meetup: Meracik Rasa Lewat Kata.

Diadakan di Mandiri Inkubator Bisnis dan didukung oleh Rumah Kreatif BUMN, Wirausaha Muda Mandiri dan Bank Mandiri, JCM kali ini diadakan pada tanggal 25 April 2019 lalu. Tidak hanya mengundang Kevindra Soemantri, GetCraft juga mengundang Rahma Wulandari (Culinary Content Editor Traveloka) dan Gupta Sitorus (Principle Sandpiper Indonesia) sebagai pembicara.

Kevindra memberi ilustrasi soal betapa seriusnya makanan sebagai sebuah kultur dengan menceritakan penyebab penjajahan Indonesia, yaitu rempah. Mengambil titik poin yang amat valid itu, Kevindra kemudian menjelaskan karena alasan itulah, menjadi seorang food writer maupun food influencer tidak bisa sembarangan.

Selain itu, poin lain yang dijelaskan oleh Gupta Sitorus selaku Principle Sandpiper Indonesia adalah pentingnya branding untuk para kreator, apa pun bentuk konten mereka. Selain pengetahuan mendalam soal konten yang disajikan, branding dirasa sebagai salah satu bahan “jualan” paling efektif di media sosial.

Baca Juga: Tren Konten di Bulan Ramadhan 2019!

 

Tips dan Trik Menulis Konten Makanan dan Pentingnya Branding!

“Tidak hanya produk yang punya branding, tapi sebagai kreator konten, kita juga harus memiliki branding,” jelasnya. Branding menjadi salah satu elemen pembeda paling besar untuk para kreator. Jelas, karena menurut Gupta, branding mengandung esensi, personifikasi dan personality setiap orang. Apalagi, branding ditekankan oleh Gupta karena ia merasa saat ini kita berada di sebuah era “cut-copy-paste”. Jangan sampai membuat branding-mu sama dengan yang lain ya!

Dari sisi brand, Rahma Wulandari menjelaskan banyak insights untuk para penulis dengan tema makanan. Salah satu yang menarik adalah Rahma menjelaskan asal-usul kata “Food Porn” yang saat ini bahkan sudah dianggap sebagai sebuah industri besar yang spesifik. Istilah yang digunakan Rosalind Coward pada tahun 1984 itu sekarang dianggap sebagai fenomena besar.

Kita mungkin mengenalnya dari konten-konten food porn di Instagram, padahal, media sosial yang pertama kali menggunakan istilah tersebut adalah Flickr (menjadi sebuah kategori di 2004). Food porn sendiri menjadi sebuah standar baru bagi para pengusaha makanan/restoran. Sampai-sampai, setidaknya para pengusaha ini memikirkan 3 hal dasar saat mengembangkan bisnisnya: dekorasi (desain tempat), presentasi makanan (tampilan dan rasa) serta branded moments yang dapat membuat restoran tersebut terasa spesial untuk para pelanggannya.

Standar ini juga perlu dipahami para food writer saat eksekusi penulisan mereka. Mari membedah hal yang telah disebutkan di atas lebih dalam lewat poin di bawah.

 

Tips dan Trik Menulis Konten Makanan dan Pentingnya Branding!
Ketiga pembicara yang hadir di JCM: Meracik Rasa Lewat Kata
Tips dan Trik Menulis Konten Makanan dan Pentingnya Branding!
Peserta yang hadir di Jakarta Creators Meetup
Konten makanan yang menarik

“Makanan itu adalah pengalaman yang amat subjektif. Tapi, pasti ada benang merah di situ. Karena kita bisa menggali dari beberapa elemen. Jadi, menurut saya, sekarang ini yang dibutuhkan (brand) adalah honest review yang isinya genuine, dengan story-telling yang baik dan dapat mengakomodir kebutuhan brandPolish your crafting process,” jelas Rahma.

Baca Juga: Surabaya Creators Meetup: 4 Tips Sukses Para Kreatif

Untuk Rahma, dalam rangka mengembangkan diri sebagai food writer dan food influencer, para kreator harus terus belajar, membaca, bepergian dan banyak mengasah palet rasa dengan cara mencoba banyak makanan. Mencari cara untuk menyampaikan konten juga menjadi hal yang ia ingatkan pada kreator. Jika semua itu dibarengi dengan visual yang menarik, pasti kontenmu akan menonjol!

Sebagai praktisi, Kevindra juga menjelaskan beberapa insights penting untuk para penulis makananIa menjelaskan tentang bentuk-bentuk food writing yang mungkin belum pernah dicoba oleh para kreator yaitu buku resep, literature (fiksi), guides & review (petunjuk dan ulasan) serta academic writing (tulisan akademis yang didukung data dan riset).

Nah, mungkin, dari empat bentuk tulisan soal makanan itu saja, para kreator bisa membelahnya menjadi banyak bentuk konten lain. Kevindra menjelaskan bahwa para food writer dan food influencer tidak boleh lupa bahwa mereka memiliki tanggung jawab kepada industri, pembaca dan orang lain yang bersangkutan. Maka itu, jangan sampai sembarangan membuat tulisan, ya!

Lihat para influencer yang tergabung dalam jejaring GetCraft!

Penulis makanan juga membutuhkan pengertian soal proses dari makanan itu sendiri untuk bisa kemudian menuangkannya dalam tulisan. Ia juga menambahkan, tips terpenting dalam menulis konten makanan: involving senses! Artinya, libatkan seluruh panca inderamu dalam menyampaikan konten tersebut. Ini termasuk penciuman, tekstur, bunyi, penglihatan, temperatur dan rasa. Selamat mencoba!

 

Kamu seorang content creator yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?

April 30, 2019
Cynantia Pratita: Bersenang-senang Lewat Konten Media Sosial
Dikenal sebagai seorang influencer sekaligus musisi yang aktif dalam band alternatif Stereowall, Cynantia Pratita...
May 6, 2019
5 Tools yang Harus Dikuasai Content Writer
Seorang content writer harus menguasai beberapa tools berikut untuk membantu menyempurnakan tulisanmu!