Crafters

Portal konten yang fokus mengangkat beragam hal seputar industri kreatif. Mulai dari wawancara, laporan khusus, sampai tips dari para kreator yang berkarya di bidang seni, kebudayaan, bisnis kreatif, dan teknologi.

Melalui Crafters, kami ingin memberikan kontribusi untuk perkembangan industri kreatif di Asia Tenggara.

Dikelola oleh

Sign up to receive bi-weekly creative inspiration, delivered directly to your inbox!

Theoresia Rumthe: Menyuarakan Kegelisahan adalah Kewajiban untuk Penulis

Menjadi penulis yang bisa menyampaikan perasaan, perjuangan dan krisis memiliki daya tarik sendiri yang kuat–terutama untuk mereka yang dekat atau setidaknya beririsan dengan isu yang si penulis angkat dalam karyanya. Theoresia Rumthe adalah seorang penulis perempuan yang sudah mulai menerbitkan karyanya secara kolektif sejak tahun 2010 dan berhasil melakukan itu semua lewat karya-karyanya.

Terus produktif menulis, pada 2018, ia bersama dengan sang kekasih, Weslly Johannes menerbitkan kumpulan puisi mereka yang berjudul Cara-Cara Tidak Kreatif untuk Mencintai. Tantangan yang dihadapi Theoresia sebagai penulis semakin berkembang seiring dengan karyanya. Di buku tersebut, lewat tulisan berbentuk puisi, Theoresia dan Weslly saling merespon karya puisi satu sama lain dan tentu berhasil menghasilkan konten romantis, menyentuh, serta mudah dinikmati dengan interpretasi masing-masing pembaca. “Jangan lupa cek kadar gula darah setelah membaca kumpulan puisi TR dan WJ–manis banget,” ujar kawan saya mengingatkan.

Saya sendiri, selain buku Cara-Cara Tidak Kreatif untuk Mencintai, menikmati banyak project yang dilakukan Theoresia lewat media sosial dan blog-nya. Dengan disiplin, ia mampu membelah-belah eksplorasinya di tiga tema berbeda yaitu Memelihara Keriting, Molucca Project dan Sore Sehabis Hujan. Fleksibel dan santai berlatih sebagai penulis membuat tulisan-tulisan Theoresia terbaca luwes di kepala saya dan berhasil menyampaikan sesuatu yang vokal tanpa terdengar terlalu lantang.

Baca Juga: Sabda Armandio: Pentingnya Cara Penyampaian dalam Karya

Theoresia Rumthe: Menyuarakan Kegelisahan adalah Kewajiban untuk Penulis
Foto oleh Asita Yulia

Dari situ, saya memutuskan tidak mau berhenti penasaran dengan Theoresia sebagai penulis. Selagi melakukan riset dan meminta kesediaannya untuk melakukan wawancara untuk belajar darinya, saya semakin jatuh hati dengan tulisan-tulisannya. Lewat media sosial seperti Instagram dan Twitter, Theoresia mampu merespon isu yang meresahkannya melalui diksi dan permainan struktur kalimat menggugah.

Untuk Theoresia yang ramah dan baik hati membalas wawancara yang saya ajukan lewat surel (karena kami tinggal di kota yang berbeda), saya harap tulisan-tulisanmu tidak akan pernah padam, seperti kata Pak Pramoedya di bukunya yang berjudul Mama, yaitu “Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”

Berikut jawaban-jawaban Theoresia akan pertanyaan-pertanyaan saya.

Apa arti menulis untukmu?

Semakin ke sini, saya semakin yakin bahwa menulis dekat sekali dengan mereka yang patah hati, mereka yang sakit, mereka yang menderita, mereka yang sunyi. Membaca kisah-kisah dari Kurt Cobain, Charles Bukowski, hingga Jay Z, saya menemukan satu hal: menulis sedikit menyembuhkan dari rasa-rasa tersebut. Nah, pada saat saya menjawab pertanyaan ini, saya merasa, banyak kali saya menulis sebab didorong oleh rasa-rasa tersebut: patah hati, sakit, menderita, sunyi.

Bagaimana kali pertama proses penerbitan bukumu?

Buku Tempat Paling Liar di Muka Bumi (diterbitkan oleh Gramedia, tahun 2016). Buku ini adalah hasil kolaborasi menulis puisi bersama Weslly Johannes, tapi jauh sebelum diterbitkan menjadi buku, karya puisi yang ada di dalam buku itu adalah hasil menantang diri saya dan Weslly untuk saling berbalas puisi. Saya ingat puisi pertama kami, rampung melalui SMS! Kemudian kami pindah ke aplikasi WA. Beberapa puisi yang berhasil ditulis melalui platform lainnya, pun kami kumpulkan dan menjadi (katakanlah) sebuah draf buku puisi berbalas-balasan antara saya dan Weslly.

Pada sebuah kesempatan di tahun 2016, ketika saya dan Weslly sementara menikmati kopi sore di sebuah coffee shop di Ambon, saya katakan kepada Weslly, “Bagaimana kalau draft buku puisi ini, kita kirim ke penerbit?”, Weslly mengangguk setuju. Saat itu juga, kami menulis email kepada penerbit (Gramedia), mengirimkannya, dan beberapa minggu setelah email dikirim, kami mendapat balasan, bahwa mereka tertarik untuk menerbitkan buku kami.

Apakah berkolaborasi dengan penulis lain memliliki tantangan tertentu?

Tentu saja. Khususnya dalam soal membaca ‘perasaan’ apa yang dikirim oleh penulis satunya. Sebab di dalam menulis, setiap orang punya fase perasaan yang berbeda, dan tantangannya adalah menerima perasaannya dan menyeimbangkannya dengan perasaan kita pada saat itu. Dengan kata lain, kita mencoba masuk ke alam perasaan seseorang. Saya pikir itu tantangan yang cukup sulit.

Apakah untukmu menulis dan menerbitkannya lewat media sosial menjadi salah satu cara untuk menyampaikan suara dan karyamu dengan efektif?

Sebagai penulis, saya pikir menyuarakan kegelisahan di dalam diri, kegelisahan dari lingkungan sekitar, kegelisahan bangsa, sudah mesti menjadi sebuah kewajiban. Apalagi menyangkut suatu isu yang penting bagi diri penulis tadi, biasanya dari sekian banyak isu yang ia hadapi, ada satu isu yang berbicara sangat keras kepada dirinya melalui pengalaman-pengalamannya. Kemampuan merasa, mengenali, dan menyuarakannya, tidak boleh dianggap remeh. Media Sosial kemudian menjadi pintu utuk bersuara dengan efektif, sebab di situlah kekuatan saya, bukan hanya sebagai penulis, melainkan juga sebagai manusia untuk memaksimalkan kemampuan berpikir dan bebas berbicara. Jika sudah begini, hal lainnya yang perlu diperhitungkan adalah, tanggung jawab, baik di dalam menulis (di media sosial) maupun membuat karya.

 

Theoresia Rumthe: Menyuarakan Kegelisahan adalah Kewajiban untuk Penulis
(Dok. Instagram @theoresiarumthe)
Buku apa yang kamu rekomendasikan untuk dibaca dan alasannya?

Sebab terlalu banyak, maaf sekali saya tidak dapat merekomendasikan apa pun. Tapi membaca buku selalu baik, bacalah buku sampai selesai—dengan tujuan mengetahui buah pikir orang lain. Dengan satu nasihat, jangan hanya foto buku (tanpa dibaca) untuk hanya di-posting di Instagram.

Baca Juga: Gunawan Maryanto: Sastra, Menulis dan Libatan Khasanah Budaya Jawa dalam Karya

Apa buku pertama yang menginspirasi kamu untuk kemudian menulis dalam bentuk puisi dan prosa?

Setelah direnungkan dengan cukup lama, akhirnya saya memutuskan: Alkitab, dengan bagian Kitab Kidung Agung. Saya ingat ketika remaja, saya membaca bagian-bagian kitab Kidung Agung (secara sembunyi-sembunyi)—tentang bagaimana laki-laki dan perempuan saling merayu untuk kemudian bercinta, tanpa ada sebuah perasaan jijik, atau menganggapnya porno. Saya malah berpikir dan bertanya-tanya, bagaimana bagian itu semua dapat ditulis dengan indah.

Menurut kamu, apa cara terbaik untuk memasarkan bukumu?

Cara terbaik untuk memasarkan buku, ya, media sosial, baik. Tapi, saya lebih senang dengan diskusi, atau bedah buku, karena di situlah saya betul-betul berjumpa dengan orang-orang dan mendiskusikan ide yang ada di balik sebuah tulisan. Tidak melulu membuat buku menjadi laku juga sih, tapi ada kesan yang jauh berumur panjang yang tercipta melalui sebuah perjumpaan. Lagipula, saya senang berjumpa dengan orang-orang.

Lihat penulis-penulis profesional yang telah bergabung dengan jejaring GetCraft!

 

Theoresia Rumthe: Menyuarakan Kegelisahan adalah Kewajiban untuk Penulis
(Dok. Instagram @theoresiarumthe)
Theoresia Rumthe: Menyuarakan Kegelisahan adalah Kewajiban untuk Penulis
Theoresia Rumthe dan Weslly Johannes (Dok. Instagram @theoresiarumthe)
Dalam waktu satu hari, apakah kamu selalu menyempatkan diri untuk menulis?

Akhir-akhir ini, paling tidak saya menulis untuk caption instagram. Ia semacam latihan kecil untuk berpikir, menangkap kata-kata, melatih membuat kalimat, dan bagaimana membuat buah pikir saya dibaca dengan sekali lahap. Tujuan lainnya adalah, terus membangun koneksi dengan pembaca. Menulis kecil-kecil di caption Instagram, juga sebagai penanda bahwa hal-hal besar di dalam hidup, dapat dipindahkan sebagai perenungan kecil-kecil bagi saya maupun bagi orang yang membacanya.

Molucca Project dan Memelihara Keriting menjadi beberapa wadah untuk kamu menuangkan tulisan dengan tema spesifik. Apakah menurutmu sebagai penulis, menulis dengan tema spesifik menjadi latihan yang baik untukmu? Boleh diceritakan?

Ya, keduanya adalah latihan yang baik. Setelah saya renungkan ulang, ide besar di balik Molucca Project maupun Memelihara Keriting adalah: berbagi kegairahan tentang menulis untuk orang lain. Menuliskan tentang buah pikir, kegairahan, inspirasi dari orang lain, adalah sebuah hal baik. Ia bentuk dari cara berbagi yang lain.

Molucca Project adalah sebuah wadah untuk bercerita kepada orang lain tentang pilihan-pilihan menarik dari anak-anak (berdarah Maluku) di mana pun mereka berada, yang berani mengikuti kegairahan di dalam dirinya—dan menolak untuk menjadi sama. Dan Memelihara Keriting adalah wadah untuk ‘memprovokasi’ perempuan/laki-laki untuk mencintai tubuhnya (khususnya rambut) dengan tidak termakan oleh budaya kapitalis besar baik produk maupun media.

Terakhir, apa pesanmu untuk para penulis perempuan yang masih takut untuk menulis tentang diri dan segala isu yang terjadi di sekitarnya?

Pertama, kenali dirimu. Kedua, temukan dulu niat baik apa yang mendorong kamu untuk menulis. Ketiga, temukan apa yang menjadi kegelisahanmu di dalam menulis. Dan kesemuanya ini dapat ditemukan dari: menulis catatan harian dalam jangka waktu yang sangat panjang. Saya melakukannya. Jika kamu sudah punya tiga modal awal tadi, silakan dilanjutkan dengan yang keempat, menjadi artikulatif di dalam kata-kata, baik lisan maupun tulisan. Latihan artikulatif, didapat dari banyak sekali latihan membaca dan menulis. Setelah itu, kelima, temukan satu isu, dan mulai menuliskan tentangnya. Ingat, cukup satu isu saja, dan belajar berkonsentrasi menuliskan dengan artikulatif segala perasaanmu dan perspektifmu tentang isu tersebut. Jadilah berani!

 

Apakah kamu seorang penulis freelance?

Foto feature oleh Asita Yulia

February 15, 2019
5 Tips Kreatif Membuat Podcast
Membuat podcast dengan kreatif bisa menarik banyak pendengar. Dengan 5 tips ini, kamu bisa...
February 19, 2019
Stephanie Priscilla: Berkarya Ilustrasi untuk Dua Budaya
Stephanie Priscilla adalah ilustrator asal Indonesia yang saat ini tinggal di Singapura. Simak bincang...