Sukutangan: Pentingnya Memahami Naskah dalam Menjadi Book Cover Designer

“Semua naskah buku berhak memiliki sebuah wajah (sampul) yang baik” -sukutangan

Pasangan asal Bali yang menamakan diri sukutangan ini telah berhasil membuat sebuah industri desain kreatif baru. Book Cover Designer, sebut mereka tentang profesinya. Sejak dua tahun lalu, Genta dan Ndari konsisten terjun ke industri desain sampul buku dan sudah menghasilkan lebih dari 100 sampul yang beredar di skena buku nasional.

Sebagai kutu buku, saya turut mengerti visi besar mereka. Kecintaan mereka pada bukulah yang menggiring Genta dan Ndari untuk berpikir kreatif agar tingkat minat membaca di Indonesia terus berkembang. Faktanya, para bibliophilia di zaman ini semakin menghargai desain sampul buku yang mereka koleksi.

Apalagi, jika desainnya digarap dengan baik, penuh esensi dan tidak sekadar ‘enak dilihat’. Kecanggihan media sosial jelas juga memiliki andil besar dalam industri desain sampul buku ini. Tapi apakah benar bahwa desain buku yang sekadar aesthetic dan instagrammable dianggap sebagai sebuah patokan untuk sukutangan?

Baca juga: Nick Filbert: Ilustrator di Balik Sampul Buku Harry Potter

Saya berkesempatan ngopi bareng Genta dan Ndari beberapa hari lalu. Obrolan kami ngalor-ngidul seputar skena perbukuan lokal yang penuh pro dan kontra, bahkan dari kreatornya sendiri. Naik turunnya industri percetakan buku masih dirasakan kuat karena banyaknya buku yang naik cetak produksi setiap bulannya. “Kalau kita masuk ke sebuah toko buku lokal, pasti kita akan merasa overwhelmed. Dengan fakta bahwa banyaknya buku yang tersedia, genre dan tipenya. Jumlahnya ini yang sering bikin kita bingung untuk mencari buku yang tepat,” jelas Ndari.

Sukutangan tidak hanya dua orang kreator yang memiliki visi mulia saja, namun juga penuh idealisme dan identitas. Berikut obrolan menarik saya dengan Genta dan Ndari.

Apakah sukutangan benar-benar konsisten terus mendesain sampul buku? Bagaimana awalnya?

G: Sebenarnya awalnya sukutangan hanyalah sebagai media katarsis yang aku pakai untuk mengisi waktu luang. Dan saat itu, aku enggak menggunakan media sosial untuk portofolio, jadi hanya gambar suka-suka. Kemudian aku pikir, sukutangan bisa dikelola lebih jauh lagi sebenarnya. Kemudian kami enggak sengaja mengerjakan sebuah project bersama. Saat itu, Ndari menulis cerpen dan aku mengilustrasikannya. Ternyata flow kerja kami cocok banget. Saat kami bekerja sama, ternyata hasilnya lebih memuaskan. Project pertama cover buku ini dari teman kamu, dan kami mulai mencoba mendesain book cover pada tahun 2016. Kebetulan pada saat itu, Ndari memiliki channel yang cukup banyak di skena perbukuan dan penerbitan. Akhirnya kami memutuskan untuk bikin portofolio sampul buku yang kemudian kami bergerilya untuk mendistribusikannya ke banyak penerbit dan editor buku yang kami tahu.

Klik di sini untuk melihat para penulis di GetCraft yang terbuka untuk berkolaborasi dengan brand atau penerbit

Bagaimana sih prosesnya?

N: Jadi, aku mengolah naskah. Keunikan kita sebagai book cover designer itu adalah karena kita benar-benar mementingkan naskah. Kita harus tahu naskahnya kayak gimana. Aku baca, lalu aku bikin poin-poin bagian naskah yang enak dibikin visualnya. ‘Kan untuk bikin book cover itu banyak cabang, ya. Dalam arti, bayak obyek visual yang bisa kita angkat. Seperti tokohnya, atau latar waktunya, tempat, tone, dan sebagainya. Baru setelah itu, aku bikin ekstrak atau kisi-kisinya. Lalu aku ceritain ke Genta. Terus, aku direct Genta soal visualnya. Aku pengen bikin cover bukunya berdasarkan poin-poin yang sudah aku pilih. Setelah itu, aku bikin semacam mood board, yang berisi elemen-elemen desain yang penting. Baru pada akhirnya, Genta yang mengeksekusi.

Apa bedanya sukutangan sebagai book cover designer dengan pembuat sampul buku yang lain?

N: Kalau kita mau membahas soal identitas kami sebagai kreator, kami memang enggak punya gaya visual yang pasti. Kami sendiri, karena kami tidak mengakui diri sebagai seniman, kami mengakui diri kami sebagai book cover designer. Karena itulah kami punya gaya visual yang berubah-ubah sesuai dengan naskahnya. Identitas kami adalah bagaimana kami bisa membuat visual yang nggak cuma aesthetic saja, tapi juga penuh esensi. Yang pasti ada hubungannya dengan naskahnya. Sedangkan kalau permintaannya adalah yang kekinian dan Instagrammable, yang ditakutkan adalah kami tidak bisa memenuhi idealisme dan identitas kami.

Jadi, kalau menurut kami, memang agak tricky zaman sekarang, karena tren selalu berubah, kemauan pasar selalu berubah. Kalau kita selalu diminta membuat visual yang sama dengan yang lainnya, takutnya bukunya pada akhirnya gak kebaca. Maka itu kami menghargai penerbit yang memberikan ruang untuk kami bermain dengan desain kami. Kalau hanya relevan dan sesuai tren, tapi akhirnya tidak bisa dinikmati sebagai buku, ya untuk apa? Jadi kita selalu ingin kasih pendekatan yang segar, dengan gaya visual yang beda dari teman-teman se-genre-nya, tapi tetap ada esensinya–ada hubungan yang kuat dengan naskahnya.

Identitas kami adalah bagaimana kami bisa membuat visual yang nggak cuma aesthetic saja, tapi juga penuh esensi. Yang pasti ada hubungannya dengan naskahnya.
Sukutangan: Pentingnya Memahami Naskah dalam Menjadi Book Cover Designer
Sukutangan, Ndari dan Genta (Dok. sukutangan)
Apakah pernah menolak untuk mendesain sebuah naskah buku yang kurang cocok dengan selera literatur personal kalian?

G: Enggak pernah. Kita enggak mau menolak naskah.

Kita anggap itu jadi sebuah tantangan. Walaupun kadang kita enggak suka naskahnya, misalnya, tapi kita pikir semua naskah berhak untuk mendapatkan wajah yang baik.

Terlepas dari itu baik atau buruk, ‘kan subyektif. Jadi, kita anggap itu sebagai sebuah project yang harus diselesaikan semaksimal mungkin.

N: Menurutku, meskipun kita freelancer, kami ingin sebisa mungkin bekerja seprofesional mungkin dan enggak merasakan project apa pun menjadi personel. It’s never personal. Meskipun bukunya kami enggak suka, meskipun misalnya penulisnya problematik, tapi menurut kami, tugas kami sebagai pewajah dari buku itu harus selesai. Aku enggak pakai perspektifku sebagai ‘aku’ yang membaca. Tapi aku pakai perspektifku sebagai desainer yang menghargai buku ini. Karena menurut kami, dalam kami bekerja sebagai book cover designer, kami harus memuaskan tiga pihak, yaitu penulis, yang sudah meluangkan waktu dan pikiran untuk menghasilkan karya ini. Jadi, kami harus menghargai mereka dengan memberikan karya yang baik. Pihak lainnya adalah penerbit, karena kembali lagi, bahwa buku saat ini sudah jadi produk komoditas. Buku adalah sebuah produk yang harus dijual. Jadi, sebisa mungkin kami menghasilkan packaging sebaik mungkin agar produk ini bisa dijual. Yang terakhir, jelas para pembaca.

Bagaimana cara kalian untuk membuat sebuah sampul buku yang netral, tanpa keberpihakan personal sama sekali?

N: Untuk masalah preferensi personal, misalnya, aku suka satu karakter dalam naskah itu, kemudian aku memutuskan untuk memilih dia jadi visual si sampul, aku rasa aku enggak pernah ya melakukan ini dalam project-project itu. Karena kembali lagi, aku selalu melihat di sebuah obyek yang mau ditampilkan di cover, apa sih value-nya? Pro dan kontranya seperti apa, kecocokannya untuk ditampilkan di cover seperti apa. Aku juga akan mendiskusikan ini dengan Genta.

Berapa lama proses yang dibutuhkan?

G: Biasanya 15 hari kerja, mulai dari penyerahan naskah. Yang biasanya prosesnya lama itu mungkin setelahnya. Feedback dan revisi.

N: Kalau baca naskah, bisa 1-3 hari. Karena aku termasuk pembaca yang cepat. Tapi kemudian setelah aku baca, aku perlu menandakan bagian-bagian yang aku harus pelajari lebih lanjut untuk konsep. Itu biasanya 2 hari. Baru kemudian saya godok konsepnya sekian hari dan aku oper ke Genta. Feedback itu yang biasanya lama, karena editor kerjanya enggak cuma nge-review cover. Itu yang kadang suka lama. Terus belum lagi kalau editornya harus menunggu feedback dari si penulisnya. Belum lagi revisi, dan lain-lain.

Baca Juga: Elfandiary: Pentingnya Berjejaring Dan Berbagi Karya di Media Sosial

Menurut kalian, apa yang membedakan desain sampul buku lokal dan internasional?

N: Dari aku pribadi, yang pertama secara visual, desain-desain buku lokal itu banyak yang terlalu literal. Kami punya desainer buku yang kami favoritkan, yaitu Chip Kidd. Dia pernah kasih lecture bahwa dalam membuat cover buku itu ada yang namanya mystery dan clarityClarity adalah di saat kamu memberikan informasi selengkap-lengkapnya, sejelas-jelasnya dalam desainmu. Mystery itu, adalah saat kamu hanya memberi informasi penting yang padat supaya kamu memberikan space imajinasi untuk pembaca. Dan, kami suka desain-desain penuh misteri itu. Karena, untuk apa kami memberikan spoiler di cover? Untuk apa kami memberikan jawaban di cover? Karena pada akhirnya orang enggak pengen baca dan beli. Banyak cover yang beredar sekarang lebih literal dengan memberikan objek-objek visual yang enggak ada hubungannya dengan naskah, hanya untuk sekedar kepentingan relevansi tren.

Yang kedua, masalah finishing. Ini ada hubungannya dengan dampak dari media sosial ke buku. Kalau di luar itu udah melihat banget kalau teknologi digital itu punya dampak yang sangat besar ke buku. Mungkin banyak yang baca e-book dan audio book. Mereka malah melihat hal tersebut jadi tantangan untuk gimana caranya bisa menghadirkan kembali sensasi kinetik yang menyenangkan dari membaca buku fisik. Caranya, adalah dengan berinvestasi mendesain buku cetak dengan cover semenarik mungkin dengan berbagai finishing. tu yang membuat orang melihat ada value dari memiliki buku fisik. Sedangkan di sini, kertas aja mahal. Kami cuma punya beberapa pilihan untuk finishing cover buku. Itu yang aku sayangkan. Aku ingin banget buku di Indonesia suatu hari bisa jadi sebagaimana orang membeli sebuah artwork atau lukisan. Jadi, buku itu nilainya enggak cuma dari harganya, tapi dari value seninya.

G: Kuantitas buku yang mereka produksi lebih banyak, dibarengi juga dengan pembelian yang jauh lebih tinggi daripada di Indonesia.

Visi dan mimpi ke depannya sukutangan?

N: Pastinya untuk meningkatkan minat baca terus-menerus. Salah satunya membuat desain cover untuk buku internasional. Itu alasannya kenapa kami banyak pakai bahasa Inggris di media sosial kami. Sebenarnya ya, mimpi kami itu ingin nunjukkin ke skena perbukuan luar kalau dunia perbukuan dan literasi di Indonesia itu tidak lambat dan ketinggalan. Sebenarnya desain-desain buku indonesia itu patut diperhitungkan. Jadi, aku sengaja setahun ini fokus ke konten-konten dengan bahasa Inggris. Benar-benar berusaha mengoptimalkan konten-konten kita.

G: Kita ingin suatu hari nanti garap project personal kita. Entah kita mau bikin buku sendiri, atau bikin pameran atau sejenisnya, yang masih ada hubungannya dengan buku.