Suanjaya Kencut: Memaknai Fase Hidup Lewat Kaum Mata Kancing

Skena seni rupa di Jakarta baru saja mendapat kejutan dan penyegaran dari seorang seniman muda asal Bali, I Putu Suanjaya “Kencut”. Di dalam sebuah coffee shop yang terkenal di daerah Jakarta Selatan, Kencut berhasil memadukan karya seni rupanya dengan balutan teknologi dan tentunya, keindahan visual yang luar biasa.

Kali pertama saya menuju Kopi Kalyan, Cikajang, saya amat bersemangat. Bagaimana tidak, saya dengar ini kali pertamanya Kencut mengadakan sebuah pameran tunggal–di Jakarta pula. Menjalani studi kuliah di ISI Yogyakarta membuat Kencut sebelumnya sering melakukan pameran kolektif di sana. Namun, dengan tawaran untuk melakukan sebuah pameran tunggal di sebuah coffee shop populer di Jakarta, tentu menjadi sebuah kesempatan besar untuk Kencut sebagai seniman sendiri. Mungkin mengadakan sebuah pameran seni rupa (lukisan dan instalasi boneka) tunggal di dalam coffee shop bukan hal baru, tapi jelas sebuah tantangan untuknya.

Masuk ke Kopi Kalyan, saya takjub karena Kencut berhasil menyulap arena coffee shop tersebut menjadi sebuah pengalaman baru bagi pengunjung, mulai dari yang sekadar mampir membeli kopi atau memang berniat melihat pameran bertajuk Kaum Mata Kancing (oleh Rupanan, dikuratori oleh Ary Indra) karya Suanjaya Kencut tersebut. Dengan keseluruhan tembok yang dicat pink terang (sebelumnya putih), ia dan tim Kopi Kalyan berhasil menghidupkan suasana baru di tempat tersebut.

Para penikmat karya Kencut hari itu berlomba-lomba untuk berfoto di depan karya lukis dan boneka-boneka yang terpajang di seluruh area Kopi Kalyan. Hari itu, saya hanya hadir bertujuan untuk menikmati seluruh karya Kencut, yang didukung dengan teknologi Augmented Reality (AR). Dengan cara mengunduh aplikasi yang bernama ARS., penikmat dapat melihat karya Kencut bergerak-gerak, berenang bagaikan animasi lewat layar handphoneMind blowing.

Baca Juga: Isa Indra Permana: Fokus Pada Ilustrasi Musik dan Fashion

Suanjaya Kencut: Memaknai Fase Hidup Lewat Kaum Mata Kancing
"Green Snake" karya Suanjaya Kencut (Dok. Instagram @suanjaya_kencut)

Diiringi dengan teknologi kekinian, Kencut berhasil menarik pasar generasi millennial yang juga penasaran dengan bentuk karya seni rupa tersebut. Kita diajak berenang, menilik fase hidup, lewat “mata-mata kancing” dari karyanya. Lewat pameran ini, sebagai seniman yang memiliki andil dalam perkembangan industri kreatif, ia berhasil turut serta memajukannya.

Beruntung, di kali kedua saya menghadiri pameran Kaum Mata Kancing, saya bisa bertemu langsung dengan Kencut. Terlihat sedikit lelah, karena di pagi hari ia mengadakan acara artist talk sekaligus acara penutupan dari acara Kaum Mata Kancing tersebut, Kencut tetap menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan bersemangat.

Jadi ini pameran solo pertamamu ya? Pasti pengalamannya berbeda ya dengan pameran pertamamu.

Iya, aku dulu pameran pertama saat SMA. Di SMSR Bali, cuma memang pameran kolektif. Kemudian beberapa kali di ISI, ada pameran tahunan saat kuliah. Jadi dari 2012 saat masuk kuliah, aku intensitas berpamerannya mulai cukup besar.

Klik disini untuk melihat desainer freelance yang tergabung dalam jejaring GetCraft!​

Aku perhatikan dari akun Instagram dan rekam jejakmu sebagai seniman, sejak sekitar 2015 kamu sudah mulai berkarya “Mata Kancing”. Apa sih sebenarnya yang ingin kamu sampaikan?

Jadi, aku kan datang dari Bali. Di sana, kebudayaan amat kental, ya. Dan kebanyakan ada sangkut pautnya dengan ritual. Kalau di Bali, ada ritual orang-orang pasti ke Banjar untuk sesuatu yang berhubungan dengan kerajinan. Nah, dari situ, aku mulai membuat sesuatu. Aku pernah belajar membuat kriya waktu kelas 6 SD. Jadi, secara tidak sadar aja aku membuat sebuah karya yang nyata, yang bisa digerakkan oleh manusia (dalam konteksnya, aku bicara soal boneka).

Boneka itu bisa dikatakan sebagai Barong atau Rangda, karena itu dibuat oleh tangan manusia. Itu digunakan sebagai kepentingan ritual, sedangkan aku merasa membuat sesuatu yang sederhana dan dekat untukku itu lebih mudah. Apalagi, jika aku ingin menyisipkan pesan moral dalam karyaku.

Dari 18-20 karyamu yang terpajang di pameran Kaum Mata Kancing ini, apa semuanya karya baru?

Semua dari karya aku membuat karya boneka, sekitar tahun 2015. Sebelumnya, aku juga membuat karya dari tema eksplorasi boneka, tapi belum seperti ini ya karyaku. Ini sebenarnya juga bentuk dari perjalanan kesenian aku. Karyanya sendiri aku susun dengan fase-fase dari perjalanan itu.

Salah satu fasenya adalah repetisi dan guardian. Di bagian itu, aku mencoba memetakan sebuah tema. Tentang repetisi beberapa karya dan tentang guardian beberapa karya juga. Jadi, jelas apa yang mau aku bicarakan lewat peta-peta itu.

Kalau mata kancing ini kan seperti apa yang benar-benar yang aku lihat. Aku dulu mikir, benda apa ya yang cocok menjadi mata. Kancing itu jawabannya. Nah, aku mengonsepkan kancing ini juga sebagai pengganti mata. Aku rasa, kita, yang punya mata, tiap kali melihat sesuatu yang seharusnya, kita berdosa. Orang juga bagaimana melihat kita. Sedangkan mata kancing itu untukku tanpa dosa. Lewat mata kancing yang datar itu juga, kita tidak bisa melihat langsung ekspresi dan perasaan dari si boneka–sedih, air mata dan perasaan lainnya tidak terlihat.

Memang, salah satu inspirasi dari para kaum mata kancing ini juga film Coraline (Laika Pictures, 2009). Kita ini kalau berkarya, apalagi di zaman sekarang, kita bisa menyantumkan tema dari media lain. Secara tidak sadar, aku terinspirasi dari medium film tersebut.

Baca Juga: Roby Dwi Antono: Mempertajam Karya Lewat Teknik Digital dan Manual

 

Suanjaya Kencut: Memaknai Fase Hidup Lewat Kaum Mata Kancing
Kencut di depan karya Augmented Reality-nya yang berjudul "Life is About Challenge" (2018)
Suanjaya Kencut: Memaknai Fase Hidup Lewat Kaum Mata Kancing
"Kaum Mata Kancing" di Kopi Kalyan, 19 Januari-9 Februari 2019 lalu
Saat melihat pameran ini, aku merasa sedang berada di film-film buatan Tim Burton, seperti The Nightmare Before Christmas yang menjadi tato di lengan kananmu itu. Apakah kamu juga penggemar berat Tim Burton?

Ya, ini kan ibaratnya, Jack dan Sally ada di film yang bertema seram tapi ini lucu. Nah, aku juga ingin menggambarkan seperti itu. Bagaimana kehidupan itu menyedihkan, menyakitkan, tapi di balik itu juga ada kebahagiaan, yang aku sampaikan lewat pilihan warna dalam karyaku.

Apa yang membuatmu pindah ke Jogja dan memulai karier sebagai perupa di sana?

Aku merasakan atmosfer seni rupa di Yogyakarta berbeda dengan Bali. Kalau di Jogja, aku lebih merasakan feel-nya. Lebih mudah diakses, komunitasnya lebih saling mendukung, saling sharing. Untuk eksistensi kesenimanan, di Jogja untukku cukup kuat.

Beberapa kali aku juga kembali ke Bali untuk melakukan pameran atau kegiatan kesenianku yang lain.

Setelah ini rencananya?

Setelah ini saya mau berkarya saja dulu.

Kamu seorang desainer yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?