Sitta Karina: Perjalanan Kepenulisan Fiksi Sampai Blog

Sitta Karina: Perjalanan Kepenulisan Fiksi Sampai Blog
(Dok. Sitta Karina)

Mengalami masa remaja di pertengahan 2000-an adalah salah satu fase hidup yang sangat saya syukuri. Di masa-masa itu, saya sempat melihat dan merasakan derasnya arus terbitan buku novel remaja. Beberapa nama penulis remaja putri pun mencuat ke atas dan menjadi primadona bagi saya beserta teman-teman yang baru mencicipi asyiknya beralih dari bacaan komik ke bacaan yang lebih kompleks.

Nama-nama penulis teenlit (teen literature) seperti Esti Kinasih, Dyan Nuranindya, dan Sitta Karina selalu kami perbincangkan di sela-sela jam sekolah. Kadang kami bertanya apakah kisah-kisah yang kami baca sepenuhnya merupakan kisah nyata si penulis? Dari mana sih mereka bisa terpikir membuat kisah cinta yang membuat kupu-kupu di perut kami berseliweran tanpa henti? Jangan-jangan…. Ini bukanlah fiksi?

Setelah terlena beberapa waktu dengan tren teenlit yang populer masa itu, tema bacaan saya dan kawan-kawan pun semakin berkembang. Dari teenlit kami merambah genre fantasi; dari fantasi kami mencoba novel detektif; dari novel detektif, kami mencoba thriller, horror, chick lit, buku kumpulan cerpen, puisi, autobiografi, filsafat… Banyak, deh. Semua berawal dari teenlit, semua berkat penulis teenlit kesayangan seperti yang sudah saya sebutkan namanya satu per satu itu.

Baca Juga: Boy Candra: “Saya yang Membuat Peta, Bukan Ikut Peta yang Ada”

Tanpa terasa, waktu telah berlalu hampir lima belas tahun semenjak perkenalan saya pribadi dengan buku novel remaja yang menjadi titik awal kecintaan saya dengan tulisan dan buku. Saya dan teman-teman yang awalnya sering mengobrol masalah plot cerita dalam buku teenlit kesukaan kami sudah beranjak dewasa, ditenggelamkan kesibukan masing-masing. Minat saya pada bacaan teenlit tetap ada, namun tak berapi-api seperti dulu. Saya pikir, para primadona penulis teenlit kecintaan kami pada masa itu mungkin sama seperti kami, telah memiliki kehidupan mereka masing-masing. Bisa jadi mereka pun memutuskan untuk berhenti menulis.

Memasuki era di mana semua orang sudah menggenggam ponsel pintar dan berkecimpung di dunia digital, tak pernah sekalipun saya berpikir akan kembali berapi-api seperti baru jatuh hati pada buku lewat teenlit sampai akhirnya saya menemukan cuitan Sitta Karina di Twitter. Penulis pujaan saya semasa remaja ternyata tak berhenti menulis. Ia malah masih sangat aktif menulis; 21 buku telah berhasil terbit di bawah namanya—-jumlah yang fantastis dan jauh dari total buku buatannya yang saya ingat dulu. Saya pergi ke semua akun jejaring sosial medianya, mengunjungi situs miliknya dan merasa senang.

Dalam blog-nya yang bisa kamu kunjungi di sini, Sitta Karina yang pernah saya kenal dulu tak hanya menulis fiksi, tapi juga membagikan beragam macam tips yang menarik untuk menghasilkan karya, menulis, dan mengembangkan diri. Walau bukan lewat tulisan fiksi, kekuatan kata yang ia miliki masih mampu membuat hati saya terusik, terhibur, lalu terinspirasi.

Beruntung lewat Crafters saya dapat berbincang dengan Sitta Karina. Dalam kesempatan kali ini, saya bertanya mengenai perjalanannya kariernya dari menulis buku hingga blog. Simak wawancaranya berikut ini.

Sitta Karina: Perjalanan Kepenulisan Fiksi Sampai Blog
(Dok. Sitta Karina)
Kapankah kamu menyadari pertama kalinya jika ingin menjadi seorang penulis?

Saya menulis sejak usia 8 dan sempat berhenti selama masa SMA. Ketika kuliah, saya merasa profesi penulis adalah salah satu cita-cita yang ingin saya capai selain menjadi marketer.

Dari sekian banyak buku yang telah ditulis, manakah proses menulis yang menarik buatmu?

Sepertinya Lukisan Hujan, cerita yang pertama dibukukan. Karena, tokoh utamanya (Diaz Hanafiah) adalah laki-laki. Demi menyelami perasaan si tokoh, saya mengamati cara bersikap mantan pacar dan beberapa sahabat lelaki saya saat itu. Jadi, proses pembentukan karakter Diaz dalam cerita tersebut cukup menantang.

Keduanya sama-sama mengkomunikasikan maksud si penulis. Sama-sama memiliki struktur tulisan “awal-tengah-akhir”. Yang berbeda adalah pendekatannya. Dalam fiksi, maksud dikomunikasikan melalui cerita imajinatif, sedangkan dalam ngeblog melalui pengalaman dan opini pribadi.
Buku atau hal apa saja yang pernah kamu baca dan membuat kamu memikirkan hal yang berbeda mengenai fiksi?

Saya membaca segala karya fiksi mulai dari Goosebumps sampai Geni Jora. Fiksi itu luas dan membutuhkan daya imajinasi untuk menyusun maupun menikmati kisahnya. Ini yang saya sukai dari fiksi.

Apakah kamu percaya dengan writer’s block?

Percaya—dan pernah beberapa kali mengalami ini. Kebuntuan menulis biasanya terjadi ketika banyak aspek dalam kehidupan, bukan soal kegiatan menulis saja, bergerak di luar kendali kita. Akhirnya kita kewalahan, stres, dan sulit berkarya. Saat ini terjadi, biasanya saya coba sortir kembali daftar prioritas. Kehidupan lancar, menulis pun jadi lancar juga.

Bagaimanakah kesuksesan seorang penulis menurutmu?

Ketika karyanya bisa dinikmati secara luas oleh pembaca.

Kamu telah menulis dan menerbitkan sebanyak kurang lebih 21 judul buku, tapi belakangan kamu tampak menikmati menulis dalam format blog. Bisakah menceritakan alasan mengapa lebih aktif di blog belakangan ini?

Saya tetap aktif menulis fiksi, kok. Ngeblog adalah sarana untuk menyalurkan minat saya berbagi pengalaman dengan proses kreatif (termasuk editing) yang lebih singkat daripada menulis fiksi.

Menurutmu, apa persamaan dan perbedaan menulis buku fisik dan menulis blog?

Keduanya sama-sama mengkomunikasikan maksud si penulis. Sama-sama memiliki struktur tulisan “awal-tengah-akhir”. Yang berbeda adalah pendekatannya. Dalam fiksi, maksud dikomunikasikan melalui cerita imajinatif, sedangkan dalam ngeblog melalui pengalaman dan opini pribadi.

Selama menulis untuk blog, perubahan apa saja yang telah dialami sebagai seorang penulis? Boleh tolong dijelaskan?

Saya jadi belajar untuk menulis lebih efektif dan gamblang. Selama menulis fiksi, lebih banyak gunakan diksi dan kiasan. Kini, karena melakoni menulis fiksi dan ngeblog secara bersamaan, saya berusaha menyeimbangkan keduanya.

Sebagai penulis buku yang juga aktif menulis blog dan membagikan hasil kepenulisan di jejaring sosial, bagaimanakah kamu menilai minat baca para penikmat tulisanmu? Apakah minat baca buku jauh lebih sedikit daripada blog? Ataukah sebaliknya?

Saya rasa tulisan di blog saya lebih bisa dinikmati oleh berbagai kalangan ketimbang karya fiksi yang selama ini segmennya untuk remaja. Pembaca blog saya rata-rata usia 17-35. Berbeda dengan pembaca novel saya yang paling tua berumur 25-an.

Tantangan-tantangan apa saja yang dihadapi saat menulis saat berpindah dari menulis buku ke menulis dalam blog?

Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, tantangan terbesar adalah menyusun kalimat secara efektif, yakni kalimat yang lebih singkat, tidak bertele-tele, dan bermakna jelas.

 

Sitta Karina: Perjalanan Kepenulisan Fiksi Sampai Blog
(Dok. Sitta Karina)
Menurutmu, apakah cara terbaik untuk memasarkan diri sebagai seorang penulis? Apakah para penulis harus melalui jalur konvensional seperti menulis buku fiksi dan menerbitkannya lewat penerbit? Ataukah para penulis dapat langsung menulis dalam blog?

Dari dulu saya memilih untuk menulis sekaligus ikut memasarkan karya saya. Cara itu terbukti efektif. Basis pembaca pun berkembang, bahkan saat karya saya tidak terbit sesering dulu.

Baca Juga: Pratiwi Juliani: “Tidak Tertarik dengan Satu Tema Menulis”

Apa satu yang akan kamu korbankan untuk menjadi seorang penulis yang lebih baik? Dapatkah Anda menceritakan alasannya?

Menonton TV atau streaming tayangan online apa pun. Sebenarnya ini sudah saya lakukan sejak dulu, karena bikin keasyikan dan akhirnya waktu menulis pun terganggu. Padahal, kegiatan sehari-hari sudah cukup padat mulai dari berolahraga, memasak, mengurus anak-anak (kebetulan di rumah tidak ada nanny), ngeblog  sampai menulis cerita.

Jika dapat mengatakan sesuatu kepada dirimu yang baru saja meniti karier sebagai penulis, apa yang akan kamu katakan?

Jangan terlalu pusing memikirkan opini orang lain. Ambil sesuai kebutuhan, mengingat kita tidak bisa menyenangkan semuanya.

Adakah saran yang ingin dibagikan kepada para penulis yang baru ingin memulai?

Terus membaca, latih keterampilan menulis, dan disiplin dengan jadwal. Seorang penulis juga butuh membaca agar kemahiran berbahasanya terus terasah.

 

Kamu seorang penulis yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?