Sekar Larasati: Konsistensi Seorang Fashion Stylist

Konsistensi. Satu kata yang sangat powerful dan bisa menjadi senjata untuk mencapai kesuksesan. Terdengar sederhana namun tidak dalam pelaksanaannya. Selain keyakinan, kesabaran juga diperlukan untuk mengecap label “konsisten” itu sendiri. Dan Sekar Larasati atau akrab disapa Laras adalah salah seorang yang cukup sabar dalam menjalani kariernya sebagai fashion stylist komersial.

Layaknya koki atau dokter yang punya spesialisasi tersendiri, kategori profesi stylist atau pengarah gaya pun beragam; ada stylist untuk film, pemotretan untuk majalah, ada juga komersial (biasanya untuk kebutuhan iklan). Buat perempuan berusia 33 tahun ini, awal ketertarikannya dengan industri periklanan dan fashion sudah terpacu sejak ia masih duduk di bangku kuliah. Dan kini, ia sudah menjalani kariernya sebagai desainer dan stylist komersial selama sekitar 12 tahun.

“Saya enggak suka kantoran dan enggak terlalu suka belajar formal,” ujar Laras. Meski demikian, ia terus belajar, secara autodidak dan nyatanya, dengan cara ini ia lebih menemukan apa yang benar-benar ia cari, dan seperti apa ciri khasnya dalam setiap karya. Dari mulai belajar secara autodidak, ia mulai melangkahkan kaki ke dunia kreatif dengan mengikuti kelas-kelas di Digital Studio (program pendidikan desain dan animasi​, yang kini menjadi bagian dari IDS Education).

Berawal dari fotografi

Selain belajar di Digital Studio, ia juga belajar di kelas fotografi Darwis Triadi. Saat itu, ia juga tak ketinggalan hype “bermain Lomo” kemudian ia bergabung dengan Lomonesia. Dari situ ia mulai bertemu banyak orang-orang dari industri kreatif, dan menuntun keinginannya untuk mengambil kelas fotografi lainnya, yakni Kelas Pagi, asuhan fotografer Anton Ismael.

“Belajar motret, sering dikasih esai, lalu mempertanggungjawabkan karya kita di Kelas Pagi. Lalu saya berhenti di Darwis dan serius masuk Kelas Pagi sampai setahun. Belajar kamera digital dan analog,” ujarnya. Di sini, ia tak hanya belajar fotografi tapi juga aspek-aspek lain dalam kerja kreatif.

Moulage X trash fashion

Di Kelas Pagi, kreativitasnya makin terasah berkat banyaknya tugas dari Anton Ismael. Pada proses membuat karya foto inilah ia berkenalan dengan dunia styling dan desain. Dengan dana yang terbatas, ia dituntut untuk kreatif dan banyak akal. Ia pun membuat baju-baju sendiri dari dan sisa kain yang digabung-gabungkan, siapa sangka jika hasilnya ternyata cukup menarik.

Proyek iklan pertama yang ia kerjakan adalah iklan keramik Venus, di mana ia diminta membuat baju dari material keramik. Perlahan-lahan ia semakin mahir dalam trash fashion. Trash fashion sendiri merupakan wearable art atau karya seni yang terbuat dari kolase berbagai macam material, dan dapat dikenakan. Di sinilah ia belajar teknik moulage, atau cara menggabungkan beberapa material untuk dipakai; kadang tidak menggunakan jahitan namun hasilnya lebih ekspresif.

“Biasanya, kalau moulage itu, enggak akan bisa dapat hasil yang sama kedua kalinya, karena kita berkarya saat itu juga, di tempat itu,” kata Laras.

Aktif di Kelas Pagi, membuat Laras ingin juga berbagi ilmu, ia pun sempat mengajar trash fashion di sana. “Dulu yang ikut Kelas Pagi itu enggak semua orang berada, ada yang tukang koran, mahasiswa, dan lain-lain, maka itu saya memilih untuk mengajar trash fashion agar orang-orang ini bisa bikin karya walaupun uangnya terbatas,” ujarnya.

Stylist komersial

Segala yang diperoleh secara instan belum tentu bertahan lama, begitu juga dengan fenomena munculnya stylist-stylist baru yang berniat menjadi stylist hanya karena tren. Sebagai stylist lama, ia memandang banyaknya stylist baru ini sebagai kemajuan di ranah fashion Tanah Air, dan kompetisi membuatnya termotivasi untuk inovasi baru.

Bertahan di ranah yang sama tanpa pembaruan karya akan membuatnya semakin cepat tergeser oleh jiwa-jiwa baru yang masih fresh dan aktif. Maka itu, ia tak pernah berhenti belajar, tahun lalu ia pun mengambil les jahit di Collezioni, Mayestik, meski saat itu ia sudah mempunyai label pakaian sendiri, KULO.

Bekerja dengan banyak klien

Ketahanan mental, bersikap baik, dan tuntutan untuk selalu kreatif adalah tiga hal yang menjadi pegangan Laras saat bekerja dengan berbagai macam tipe klien. Meski sudah memantapkan diri sebagai stylist komersial, ia juga sempat menjadi stylist untuk musisi papan atas, mulai dari PADI, Glenn Fredly, NIDJI, juga video klip Afgan.

Di industri film, ia juga pernah menjadi produser Anton Ismael untuk fotografi di film Drupadi, besutan Riri Riza. Sedangkan untuk proyek iklan, pada 2008, ia ditawari Anton Ismael untuk jadi produser TVC di production house (PH) yang menggarapnya. Dari tujuh orang dalam tim saat itu, ia satu-satunya perempuan.

Proyek-proyek iklan dari brand besar pun berdatangan, dari mulai iklan Class Mild, Bank Jabar, A Mild, hingga XL. Kini, jika Anda melihat iklan Dian Sastro sedang naik Go-Jek, Laras adalah pengarah gaya di iklan itu.

iklan go-jek sekar larasati

Iklan Dian Sastro naik Go-Jek, salah satu hasil arahan Sekar Larasati.

Nyatanya, proses styling untuk iklan itu tak semudah apa yang tampak di depan mata penikmatnya. “Kelihatannya kalau iklan terkesan gampang, padahal tidak semudah itu prosesnya. Apalagi kalau lagi berhubungan dengan brand berbeda, saya jadi harus belajar menentukan karakter dari brand-brand itu, dan seperti apa styling-nya. Belum lagi kalau ketemu dengan klien yang susah,” ujarnya.

Tantangan untuk mendapatkan persetujuan klien memang bukan perkara mudah. Banyaknya individu yang terlibat saat proses produksi juga bisa membuat proses jadi lebih lambat.

“Kadang, prosesnya bisa ribet sekali. Sulit untuk mendapatkan approval. Saya bisa bawa baju untuk dipilih sampai sekamar banyaknya. Ada dulu salah satu klien namanya Hesty Damayanti, stylist lain suka nangis kalau sama dia. Dialah orang yang membuat saya terpacu, karena ia bisa sukses dari nol. Karena dia sangat tahu apa yang ingin ia deliver ke publik. Dan selama kita bisa meyakinkannya, ia pasti bisa fair,” ujar Laras.

Dituntut untuk selalu kreatif, Laras harus bisa berpikir cepat dalam kondisi apa pun, semisal ia harus syuting di tempat terpencil, dan ada kendala soal baju untuk talent, maka ia harus berpikir cepat dan merombak baju di tempat. Karena itu ia selalu membawa mesin jahit portable beserta segala peralatan “darurat” untuk styling setiap kali syuting.

Roda itu berputar, saat down, saya harus berpikir bagaimana cara bangkitnya.
sekar larasati
Membuka peluang bisnis

Bertahun-tahun menggeluti industri ini, membuatnya punya banyak bekal untuk membuka usaha sendiri. Maka itu ia membuat lini usaha bernama KULO pada 2014; toko pertamanya di Pasar Santa, Jakarta.

Di Pasar Santa itu, pernah diadakan acara Santa Fashion Week, di mana “para desainer pasar” ini ditantang untuk membuat koleksi yang dipertunjukan pada sesi fashion show acara tersebut; dan penjahitnya wajib menggunakan para penjahit di pasar itu.

Saat itu, Laras dengan label KULO-nya berhasil meraih juara satu. “Saat itu, saya berpikir ikut fashion show sungguhan, someday,” ujar Laras.

Siapa sangka, dua tahun kemudian (2016), Laras berkesempatan untuk meramaikan pergelaran Batik Fashion Week, yang diadakan di Plaza Indonesia, Jakarta.

Perhelatan ini merupakan fashion week besar pertamanya, dan ia bersanding dengan nama-nama besar seperti Iwan Tirta, Ghea Panggabean, Jeffrey Tan, Rinda Salmun, Rama Dauhan, dan lini Chitra Subiyakto; Sejauh Mata Memandang.

Membesarkan KULO menjadi salah satu caranya untuk bisa tetap eksis di dunia fashion, dan berjaga-jaga kalau karier styling-nya bergeser suatu saat. “Roda itu berputar, saat down, saya harus berpikir bagaimana cara bangkitnya,” ujarnya menutup perbincangan.