Crafters

Portal konten yang fokus mengangkat beragam hal seputar industri kreatif. Mulai dari wawancara, laporan khusus, sampai tips dari para kreator yang berkarya di bidang seni, kebudayaan, bisnis kreatif, dan teknologi.

Melalui Crafters, kami ingin memberikan kontribusi untuk perkembangan industri kreatif di Asia Tenggara.

Dikelola oleh

Sign up to receive bi-weekly creative inspiration, delivered directly to your inbox!

Sakuntala, Sastra Malam Hari, dan Takdir Bertemu Joko Anwar

Senin, 26 November 2018, jelas akan menjadi salah satu hari yang akan saya ingat sebagai “hari keberuntungan” di ingatan. Setiap malam sebelum tidur, saya sering berpikir, “Ada kejutan apa esok hari? Akankah nantinya menjadi memori yang membuat saya senyum-senyum sendiri tatkala mengingatnya?” Dan ya, ternyata hari ini menjadi satu hari lagi yang mengisi memori gemas di hidup saya. Bermula dari ajakan Kalya ke acara Membaca Sakuntala bersama sang penulis sendiri, salah satu penyair dan aktor teater yang saya kagumi, Gunawan Maryanto.

Chapter I: Review Sakuntala

Sakuntala, buku puisi 70 halaman yang dipersembahkan oleh Mas Cindhil (nama panggilan Gunawan Maryanto) ini dipersembahkan untuk Dian Suci Rahmawati, sang kekasih, dan ini tertera di halaman pertama buku ini. Ini juga yang memicu keinginan saya untuk membaca, karena saya yakin puisi di dalamnya manis dan romantis, seperti pemilihan aksara Mas Cindhil di beberapa buku puisinya.

Ada 70 puisi pendek di dalam buku yang rilis September tahun ini, dan tak ada satupun yang berjudul. Di acara Membaca Sakuntala yang diadakan di Reading Room, Kemang, beliau mengatakan bahwa jika memang ingin diberi judul, sebut saja (mulai dari puisi pertama), Sakuntala 1, Sakuntala 2, sampai Sakuntala 70. Alasannya tidak memberi judul karena keseluruhan puisi di sini adalah adalah Sakuntala, satu kesatuan, puisi-puisi pendek yang jika digabungkan menjadi satu puisi panjang. Itu sebabnya alur dalam buku ini tidak berurutan, karena setiap puisi bisa berdiri sendiri. Jika cukup jeli, kamu akan menemukan bahwa Mas Cindhil sudah menyelesaikan cerita Sakuntala di halaman 8, penggambaran akan apa makna cover dengan cincin di mulut ikan pun ada di sini. Namun meski selesai di halaman ini, cerita tetap berlanjut di halaman setelahnya.

Sakuntala, Sastra Malam Hari, dan Takdir Bertemu Joko Anwar
Puisi Sakuntala halaman 8 (Dok. Crafters)

Lantas, mengapa Sakuntala? Sebagai penyair yang lekat dengan kebudayaan Jawa sejak kecil (sang kakek adalah seorang dalang, ibunya penari, dan ayahnya pemain Ketoprak), pewayangan sudah mengalir di nadinya, namun mengapa dalam puisi-puisinya, ia kerap memilih tokoh yang jarang dikenal (sebut saja Banowati, Aruna, dan tokoh lain yang tidak terlalu populer)? “Ya, saya ingin mengambil angle lain saja, sengaja mengambil mengambil tokoh-tokoh yang memang kurang umum,” ujarnya. Itu sebabnya ia kerap berkata, “Saya tidak sedang melestarikan budaya, tapi meneruskan saja.”

Baca Juga: Gunawan Maryanto: Sastra, Menulis dan Libatan Khasanah Budaya Jawa dalam Karya

Sakuntala adalah anak dari pertapa bernama Wismamitra yang jatuh hati pada Dewi Menaka, bidadari Kahyangan, yang ketika dewasa, Sakuntala menikah dengan Raja Dusyanta, melahirkan Barata, raja besar di Astinapura. Keputusan untuk memilih Sakuntala sebagai sosok sentral di buku ini tak lain karena tokoh wayang cantik ini entah mengapa selalu hadir di sepanjang perjalanannya, mulai dari sahabatnya, Sri Qadariatin yang membawakan monolog Sakuntala suatu hari, hingga ia berkenalan dengan seseorang bernama Sakuntala.

Tokoh-tokoh dan latar dalam buku ke-11 ini membubuhi nuansa kontemporer, merupakan campuran dari kisah pewayangan Jawa dan India. Jika kamu mempertanyakan mengapa ia beberapa kali menggabungkan keduanya dalam satu puisi, ia seolah menciptakan sebuah “dunia baru”, dunia yang hadir lewat imajinasi penulisnya, seolah tak ada batasan yang mengharuskan pewayangan Jawa dan India tak bisa digabungkan menjadi satu cerita. Beberapa tahun terakhir, ia memang banyak terinspirasi dari kisah-kisah Mahabarata, Ramayana and Serat Menak.

Dalam buku ini, ia bertutur sebagai multi-aktor, di beberapa puisi, ia seolah berlaku sebagai narator, di beberapa lainnya, ia berlaku sebagai sang tokoh dalam puisi tersebut. Ia meminjam banyak mata Sakuntala untuk menghidupkan puisinya.

Bagi saya pribadi yang semakin dewasa lebih suka membaca puisi dibanding cerpen (mungkin karena bobot pekerjaan semakin berat, maka saya suka membaca yang pendek-pendek saja), kini semakin banyak penyair muda yang hadir dengan bentuk puisi pendek yang ketika dibaca, bisa langsung ditangkap maknanya secara tersurat, ada juga yang masih terjebak dengan penggunaan rima yang harus senada.

Namun, ketika membaca Sakuntala, menariknya, meski tidak begitu paham dengan latar belakang tokoh pewayangan yang ada di buku ini, kamu tetap dapat merasakan apa yang ingin disampaikan Mas Cindhil. Sepenggal kisah-kisah di buku ini memang menggambarkan perasaan dan kejadian-kejadian yang dialami Mas Cindhil setiap harinya. Kamu juga akan tetap merasa puisi-puisi ini terdengar indah dan manis saat dibaca, meski tidak terikat pada rima yang senada, ini karena pada proses penciptaannya, ia selalu melafalkan puisi-puisinya dulu, apakah memang enak didengar atau tidak.

Cukup mudah rasanya menggaet target anak muda/millennials untuk jatuh cinta pada Sakuntala, kata-kata dan kisah dalam setiap puisi rasanya begitu dekat dengan kehidupan asmara kita. Mas Cindhil tentunya selalu melakukan riset literasi sebelum memulai proses penulisan bukunya, “Karena seni itu kan mencuri-curi, mencuri ilmu dari mana saja. Saya juga membaca puisi-puisi yang sedang ramai di era sekarang,” tuturnya.

Menariknya, proses penciptaan buku ini hanya dua bulan, di mana setiap harinya, ia menuliskan puisi-puisi Sakuntala di Instagram Story-nya, lalu karena responnya positif, maka disimpannya IG stories tersebut hingga akhirnya dibukukan. Sungguh takjub rasanya mendengar hanya butuh dua bulan untuk membuat sebuah buku puisi yang sangat bermakna, saya bertanya apa yang biasa ia lakukan untuk bisa termotivasi dalam mengejar deadline, sementara mood menulis kadang tidak bias berkompromi. “Bikin permainan buat diri sendiri saja, saya selalu begitu. Salah satunya, saya sering buat puisi akronim, menggunakan huruf-huruf pertama dari nama orang yang saya kenal,” ujarnya.

Lantas, apa buku selanjutnya? Mas Cindhil memberi bocoran bahwa buku selanjutnya adalah tentang Aruna, salah satu dari burung-burung Mahabarata.

Sakuntala, Sastra Malam Hari, dan Takdir Bertemu Joko Anwar
Gunawan Maryanto saat berbincang soal latar belakang buku Sakuntala (Dok. Crafters)
Chapter 2: Sastra Malam Hari

Acara bedah buku ini jadi makin menarik karena cukup intimate, dihadiri oleh wajah-wajah yang tidak asing lagi di dunia sastra, teater, dan perfilman. Serunya, Mas Cindhil membacakan dua puisi dari buku ini, Mbak Uung, aktor senior dari dari Teater Garasi juga membawakan satu cerita, Pak Richard Oh juga, dan saya pun ditodong untuk membacakan satu puisi pendek!

Selesai acara, saya, Kalya, Linda (teman Kalya), dan Dewi (moderator acara) masih nongkrong bersama Mas Cindhil, dan Richard Oh, pemilik Reading Room yang juga tokoh sastra, sutradara, dan produser terkenal pada eranya. Alhasil, kami bicara banyak seputar sastra, teater, dan film di Indonesia. Pembicaraanya beragam, mulai dari pertanyaan; kapan teater di Indonesia punya gedung yang layak dan mengadakan pertunjukan rutin untuk rakyat, hingga bahasan seputar bagaimana cara membuat penonton bertahan jika pertunjukan teater durasinya lama, katakan saja 4 jam.

Sempat pula, Mas Cindhil sebagai salah satu yang membesarkan Teater Garasi bercerita seputar kemiripan “dilema keaktoran dan penyair”, di mana banyak orang yang beranggapa kedua profesi ini mudah dilakukan sebab setiap hari kita berlaku sebagai aktor dan bertutur seperti penyair. Tapi kenyataannya, tentu tak semudah itu.

Baca Juga: Bicara Buku Anak Sembari Nyore Bersama Reda Gaudiamo

Chapter 3: Takdir Bertemu Joko Anwar

Satu, dua pisang goreng sudah habis, obrolan masih saja seru, apalagi ketika sosok yang sudah Crafters kejar-kejar sejak dua tahun lalu mendadak muncul. Joko Anwar for the sake! Dan dia bergabung dengan meja kami. Untuk sosok seorang sutradara film yang cukup melambung namanya, pembawaannya sangat santai. Ia sedang disibukkan dengan persiapan film terbarunya yang akan rilis pertengahan tahun depan: Gundala Putra Petir.

Berhubung Crafters sudah mengejarnya 2 tahun untuk bisa wawancara (Mas Joko sangat sibuk dan belum ketemu jadwal yang pas), akhirnya kami beranikan diri untuk mengutarakan bahwa ia adalah most wanted person yang kemungkinan bisa membuat kami naik gaji jika bisa mendapatkan Page View tingi dari hasil interview dengannya nanti. Mendengar hal ini, ia langsung setuju dan berjanji tidak akan memberikan janji palsu atau hanya me-read WhatsApp kami jika menghubunginya nanti. Jadi, wish us luck dan segera baca artikelnya nanti.

Ikuti pengalaman seru jadi penulis yang bergabung di GetCraft!

Pertemuan yang tak direncanakan, obrolan ngalor-ngidul yang bobotnya setara dengan kuliah umum (berhubung teman ngobrol kami adalah para legenda di dunia sastra), dan Membaca Sakuntala langsung bersama sang penulisnya menjadi penutup hari yang manis buat saya.

Sakuntala, Sastra Malam Hari, dan Takdir Bertemu Joko Anwar
Suasana hangat saat acara "Membaca Sakuntala" di Reading Room, Kemang Timur (Dok. Instagram @gunawanmaryanto)
November 29, 2018
Cara Mudah Merangkai dan Membuat CV Kreatif
Crafters membedah cara membuat serta merangkai CV (Curriculum Vitae) kreatif untuk mempermudah kamu membuatnya!
December 3, 2018
Tren Desain Era Digital: 3 Jenis Ilustrasi
Di Indonesia Creative Meetup lalu, kami mengundang Komikin Ajah, Emte, dan Pionicon untuk membahas...