Crafters

Portal konten yang fokus mengangkat beragam hal seputar industri kreatif. Mulai dari wawancara, laporan khusus, sampai tips dari para kreator yang berkarya di bidang seni, kebudayaan, bisnis kreatif, dan teknologi.

Melalui Crafters, kami ingin memberikan kontribusi untuk perkembangan industri kreatif di Asia Tenggara.

Dikelola oleh

Sign up to receive bi-weekly creative inspiration, delivered directly to your inbox!

Sabrina Rochelle: Terlalu Tampan, Industri Film, dan Privilege dalam Berkarya

​Kolaborasi, belakangan ini menjadi kunci dari karya-karya mutakhir yang diciptakan para kreator lintas medium. Dan hal ini cukup menjadi hal yang amat menarik di kalangan industri film. Mungkin di Indonesia, kita sudah biasa menyaksikan film yang diangkat dari sebuah novel atau buku berseri. Namun, lain lagi jika bicara soal sebuah film yang diangkat dari sebuah komik WebToon.

DC dan Marvel dianggap piawai dalam mengangkat cerita beragam superhero dari komik klasik mereka–dan kita sadar betul soal itu. Namun, komik Terlalu Tampan yang memiliki premis dan universe yang absurd dianggap sebagai tantangan baru oleh ViSinema, utamanya sang sutradara, Sabrina Rochelle.

Ia berhasil menjadikan komik serial WebToon itu menjadi sebuah film yang dinikmati banyak kalangan, terutama pasar yang mereka tuju yaitu remaja. Tidak kapok menggarapnya, ViSinema setelah ini akan terus mengangkat komik-komik WebToon menjadi film di masa depan. Judul seperti Eggnoid, Flawless dan Sarimin sudah berada di genggaman PH tersebut.

Sabrina Rochelle sebagai sutradara muda memikat para penontonnya dengan balutan visual yang komikal, cerita yang penuh makna dan nilai serta kegigihannya dalam berproduksi. Ini semua ia tunjukkan di dalam garapan film panjang pertamanya, yaitu Terlalu Tampan. Dengan merangkul komikus dan penulis aslinya, Sabrina dan ViSinema berhasil menghadirkan genre segar, yang saat ini amat dibutuhkan oleh industri film di Indonesia.

Dalam wawancaranya dengan Crafters, Sabrina menjelaskan bahwa dalam produksi live action-nya kali ini, ia banyak terinspirasi secara teknik dan visual dari karya-karya film seri Korea maupun Thailand. Tapi, setelah inspirasi, masih banyak peer dan tantangan yang ia hadapi dalam produksi Terlalu Tampan ini sendiri pastinya.

Lewat Crafters, Sabrina bicara soal industri film, penggarapan Terlalu Tampan dan tanggapan Sabrina akan kritik yang muncul setelah film tersebut rilis.

Baca Juga: Irfan Ramli, Bedah Profesi Sang Penulis Naskah

Sabrina Rochelle: Terlalu Tampan, Industri Film, dan Privilege dalam Berkarya
Sabrina Rochelle (Dok. Jozz Felix)
Ini film pertamamu?

Kalau sebagai sutradara sebenarnya sudah ada karya directorial-nya sebelumnya, cuma, memang bukan film panjang. Sebelumnya aku mengerjakan web series dan digital content.

Gimana rasanya pertama kali menjadi sutradara film panjang?

Kalau pertama kali sebagai karya film panjang, awalnya jelas tegang. Pressure dan output-nya sudah pasti beda juga. Di sini orang kalau mau lihat karya kita harus datang dan bayar (di bioskop). Selama ini juga, setiap kali aku berkarya aku selalu ingin membuatnya secara maksimal. Selama ada namaku di situ, besar atau kecil. Bicara film panjang, ini kan beda lagi. Orang semacam harus investasi waktu dan uang dan bawa ekspektasi soal apa yang bisa dia bawa keluar setelah nonton sebuah film. Itu hal-hal yang cukup menegangkan. Gimana caranya membuat sesuatu yang bisa diterima orang dan orang yang menonton enggak merasa rugi setelah nonton.

Jadi, paling lebih pressure ke situ. Sama bicara besar produksinya, timnya juga berkali lipat, panjang timeline-nya. Tapi, untungnya enggak ada kendala yang berarti ya.

Komikusnya ambil andil besar enggak sih dalam penggarapan live action dari WebToon ini dan gimana tanggapan mereka saat menonton?

Komikusnya kita libatkan banyak dari saat developing cerita. Tapi, saat casting, mereka enggak turut andil. Kemarin itu kan pengarang komiknya dan ilustratornya dilibatkan saat awal draft yang kita kirim karena mereka tinggalnya di Malang. Kita tanya pendapat mereka, kroscek soal karakter dan minta masukan “gimana kalo pas bagian ini tuh gini?” Lebih kayak skrip dokter. Cuma memang bukan masalah ceritanya karena kita kan juga enggak mau para pembacanya pas nonton merasa ini beda banget dengan komiknya.

Jadi walaupun kita ada adjusment cerita untuk kebutuhan medium film, tetap harus ada pembaca yang nonton dia familiar dengan dunia ini dan karakter-karakter di dalamnya. Komikusnya sendiri untungnya suka banget dengan hasil akhir filmnya. Mulai dari nilai moral yang ditanamkan, cerita yang diubah untuk medium film, casting dan jokes yang kita sampaikan.

Mereka senang banget karena tenyata dari apa yang mereka buat sambil iseng-iseng bisa menjadi sebuah film yang menyampaikan pesan untuk orang lain juga.

Ini nantinya membuat interest/genre baru tentunya untuk para sineas, membuat live action dari komik, spesifiknya Webtoon. Kenapa sih yang dipilih Terlalu Tampan?

Karena pertama-tama Terlalu Tampan ini punya universe yang unik dan punya latar belakang kehidupan remaja. Si produsernya juga pengen film pertama dia adalah film remaja pertamanya ViSinema. Beberapa komik WebToon yang lain kan juga bentuknya kayak Terlalu Tampan, tapi mungkin terlalu dewasa. Kalau Terlalu Tampan memang kehidupan remaja dan kita memang ingin mencoba menyasar pasar baru dan secara premis itu menarik banget–walaupun sebenarnya tidak ada premis jelasnya ya. Kita lihat potensi universe-nya besar dan karakternya bisa dikembangkan.

Karena bagaimana pun, untuk cerita kita akan crafting ulang, tapi yang paling penting, core ceritanya sudah kuat. Jadi, kenapa kita angkat Terlalu Tampan? Selain karena kita terhibur sama komiknya, kita ingin coba sesuatu yang baru.

Sebenarnya ketika bisa dikembangkan, ini menjadi sesuatu yang baru juga. Orang mungkin juga udah mikir ini bisa jadi genre orang Indonesia yang baru juga. Selama ini kan kebanyakan dari novel.

 

Sabrina Rochelle: Terlalu Tampan, Industri Film, dan Privilege dalam Berkarya
Film Terlalu Tampan yang diangkat dari WebToon (Dok. Instagram @visinemaid)
Untuk detail visualnya sendiri dalam film ini kamu gimana?

Ya untuk bagian itu aku cukup bawel dan perfeksionis sebenarnya. Di beberapa bagian dalam film pun kita menggunakan CGI dan ada beberapa kali yang harus kita rework. Visual itu penting banget baik itu CGI atau look cast-nya. Karena kita bicara ketampanan dan absurd itu kan enggak bisa dengan visual yang nanggung. Kalau nanggung jadi garing malah. Jadi pasti akan ngejar visualnya semaksimal mungkin.

Tentunya pendekatan komikalnya tetap kamu pertahankan dalam film. Ini sebuah tantangan besar pasti untuk kamu, ya. Genre komedi di Indonesia sendiri kan semakin berkembang. Tanggapan kamu akan proses Terlalu Tampan sendiri gimana sih?

Selain menjaga kesan “membaca komik” buat para penonton, aku juga ngerasa humornya Terlalu Tampan di WebToon-nya pun memang sangat surreal atau absurdlah–dari premis “satu keluarga tampan semua” aja udah keliatan, kan, dan agaknya surreal komedi memang harus enggak tanggung-tanggung dan paling bisa ditampilkan secara visual.

Surreal komedi memang masih sedikit di Indonesia sih, jadi mungkin buat beberapa penonton ini sesuatu yang baru. Harapannya sih dengan begini juga bisa ngasih opsi film komedi dengan format baru di Indonesia yang kebanyakan masih pake jokes verbal yang terpisah sama cerita intinya. Jadi di film ini aku berusaha bikin komedinya sangat visual dan meminimalisir jokes verbal. Hampir semua pake visual ataupun situasinya yang sengaja dibikin “ngehe“.

Kalau nanti kamu nonton Terlalu Tampan, bakal keliatan banget kalo ada jokes verbal yang diucapkan karakternya pun, jokes-nya itu bukan jokes sebenernya, tapi situasinya yang jadi jokes atau di beberapa kesempatan malah ngasih konteks cerita, bukan komedi.

Baca Juga: Theoresia Rumthe: Menyuarakan Kegelisahan Adalah Kewajiban untuk Penulis

 

Sabrina Rochelle: Terlalu Tampan, Industri Film, dan Privilege dalam Berkarya
Sabrina Rochelle saat produksi film Terlalu Tampan (Dok. Andreansyah Dimas WPG)
Kamu ada rencana menyutradarai lagikah?

Kebetulan, untuk tahun ini akhir tahun akan ada project lagi–cuma memang enggak dari WebToon. Hahaha, nanti jadi spesialis WebToon. Jadi, coba yang lain dulu setelah ini. Mungkin nanti bisa jadi menyutradarai dari WebToon tapi aku ingin coba dari genre komik yang berbeda.

Dari kritik yang masuk selama ini, sebagai sutradara, apa tanggapanmu?

Dari pembaca komiknya kebanyakan tanggapannya positif. Tapi, aku juga belajar, kalau kita pada akhirnya enggak bisa muasin semua orang dan semua pihak. Pasti segala sesuatu bakal tetep ada yang suka atau enggak suka, karena balik lagi ke selera. Memang pastinya ada kritik dan saran membangun juga yang aku dapat dari review-review yang ada dan aku juga jadi belajar gimana supaya ke depannya lebih maksimal. Cuma yang pasti satu yang aku pegang sih, buatlah sesuatu yang enggak bakal kamu sesali ke depannya. Walau pasti enggak bakal sempurna, tapi ketika kita buat suatu karya semaksimal mungkin, dan pakai hati, gak akan ada penyesalannya. Pembelajaran pasti tetap ada, tapi penyesalan enggak.

Karena setiap karya pasti nanti akan ada struggle-nya masing-masing, kendala, tapi buatlah semaksimal mungkin sampai enggak ada penyesalan. Kalo memang nanti tetap dapat kritik membangun, ya syukuri, karena berarti masih ada ruang untuk berkembang dan memaksimalkan di karya berikutnya.

Berkarya dalam industri ini, kalau bisa menyampaikan, apa sih yang mau katakan untuk pelaku di dunia perfilman lainnya?

Kalau bicara general, membuat film kan privilege ya. Enggak semua orang punya kesempatan itu, Gak semua orang bisa menyampaikan suaranya. Walaupun selain lewat film masih banyak cara dan sekaligus bikin orang terhibur.

Kalau aku sih harapannya selain memberikan hiburan, lewat film Terlalu Tampan ini yang bentuknya kayak film remaja, orang-orang yang di industri film ini semoga mereka melihat itu sebagai kesempatan dan tidak menyia-nyiakan. Industri film kan lagi subur banget ya, cuma memang aku berharap–tanpa menggurui, aku berharap kedepannya walaupun mungkin kamu belum bisa membuat film di bioskop, misalnya, tapi mulailah dengan buat sesuatu yang matters. Dan bikin dengan sepenuh hati. Karena itu semua dimulai dari hal-hal kecil kan.

Lihat videografer yang tergabung dalam jejaring GetCraft!

Kalau sekarang penonton untuk film Indonesia masih sedikit, itu mungkin karena  mereka sedikit “trauma” setelah beberapa kali menonton dan enggak sesuai ekspektasi mereka. Jadi, kita juga enggak bisa salahin mereka kalau mereka belum terlalu percaya dan mau nonton film Indonesia. Harapannya sih kita bisa memanfaatkan privilege dalam berkarya untuk memberikan value lebih bagi penonton–walaupun kita enggak harus selalu politically correct. Inget aja, itu sebuah privilege kita untuk menyampaikan sesuatu jadi jangan sampai orang pulang dengan tangan hampa.

Dan tanpa sadar, apa yang kamu kerjain itu kan mendukung industrimu untuk maju.

 

Apakah kamu seorang videografer profesional?

Foto feature oleh Andreansyah Dimas WPG

February 25, 2019
5 Trik Hasilkan Foto Produk dengan Budget Terbatas
​Cari tahu bagaimana cara menghasilkan foto produk yang memuaskan dengan low budget tools di...
February 27, 2019
Rahmat Budiman: Toy Photography Mengubah Hidupnya
​Rahmat Budiman menggeluti toy photography sejak 6 tahun lalu. Baca wawancara Crafters soal industri...