Sabda Armandio: Pentingnya Cara Penyampaian dalam Karya

“Sebab buku nggak akan menyakiti pembaca seperti manusia menyakiti manusia lain.”

Adalah sebuah kutipan dari buku berjudul Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya karya Sabda Armandio Alif. Salah satu penulis yang saat ini karyanya dinantikan oleh banyak pembaca dan dianggap sebagai salah satu rising young writer menurut beberapa media.

Saya sendiri, banyak mendengar percakapan dari teman-teman saya tentang betapa menyenangkannya membaca karya-karya Dio, panggilan akrab penulis novel itu. Tentu, sebagai orang yang menolak ketinggalan, saya coba baca karya Dio yang pertama.

Menyentil, getir, namun pesan dan kesan dari si penulis berhasil sampai untuk saya. Untuk menilik kisi-kisi, mungkin kamu yang butuh inspirasi untuk menulis dan ingin membaca karya Dio, bisa melihat review GoodReads–seperti apa yang saya lakukan dulu. “Sial. Berkali-kali saya mengucap kata tersebut selama membaca buku ini. Dio berhasil, sangat berhasil meludahi seseorang, sistem, dan kehidupan dengan sopan melalui novel ini,” tulis Yulaika Ramadhani yang memberi bintang 4 pada laman GoodReads untuk novel pertama Sabda Armandio ini.

Terkesan dan punya banyak pertanyaan di kepala soal kepenulisan dan proses penerbitan yang dilalui Dio, saya langsung menghubunginya. Ini sebenarnya kali kedua kami janjian untuk wawancara. Pertama kali, dulu saya mewawancarai Dio untuk sebuah artikel isu soal infografik garapan Tirto.id. Ternyata, selain menjadi penulis, Dio juga merupakan otak di balik segala visual dari media tenar tersebut.

Baca Juga: Comma Books: Harapan Membawa Literatur ke Pelosok Indonesia

Kali ini kami janjian di Kemang Timur, di sebuah kafe yang dekat dengan kantornya. Dio datang dan langsung memesan kopi. Selama wawancara, ia terlihat cukup santai menyeruput kopi sembari sesekali menghembus asap rokok. Kami banyak bicara tentang ketertarikan Dio dalam menulis, proses penerbitan buku, cita-cita Dio menggarap novel grafis, caranya melatih kepenulisannya dan industri toko buku besar.

Poin yang terakhir adalah poin menarik, karena Dio sendiri menerbitkan dua buku (Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya dan 24 Jam Bersama Gaspar) lewat dua penerbit buku indie yang berbeda. Mungkin, untuk kamu yang ingin berkarya dengan maksimal lewat tulisan, beberapa masukan dan obrolan dari Dio bisa menginspirasimu. Berikut wawancara Crafters.

Sabda Armandio: Pentingnya Cara Penyampaian dalam Karya
Novel pertama Sabda Armandio yang diterbitkan oleh Moka Media (Dok. Google)
Pertama kali menerbitkan buku ceritanya gimana?

Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya itu sebenarnya materi-materi karakternya itu sudah ada sejak aku SMA. Jadi, ada beberapa karakter dan dari salah satu tokoh-tokohnya itu, aku membuat banyak cerita. Jadi, kalau dilihat dari bukunya itu sendiri kan sebenarnya itu potongan-potongan cerita pendek. Ya, itu bahannya dari aku SMA, terus setelah itu sempet nganggur. Akhirnya, aku baca-baca buku baru dan mulai dimatangkan lagi di tahun 2013 akhir, terus aku udah punya blog waktu itu. Jadi, semua naskahnya aku masukin ke blog di tahun 2014.

Ya, ada seorang teman yang kerja di penerbitan Moka Media, dan dia tertarik. Katanya, ya kita bukukan aja. Di situ akhirnya, kenal dengan Dea Anugrah, dan dia jadi editor. Yaudah, terus naskahnya itu diambil dari blog. Terbitnya sendiri tahun 2015 awal. 2014 itu proses untuk editing, cari ilustrator. Editingnya butuh sekitar 4 bulan. 24 Jam Bersama Gaspar (penerbit: Mojok) itu tahun 2016. Karena aku ngumpulin bahannya lama, sebenernya aku udah punya bahannya. Setelah Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya selesai digarap, aku sudah punya cerita baru.

Selama dua penerbitan buku itu kamu turut andil enggak untuk memilih si ilustrator?

Buatku, cover itu penting, ya, artinya, cover adalah sesuatu yang bisa dibilang terpisah dari si bukunya. Cover menjadi karya seni yang lain, di luar seni kepenulisan. Di buku pertama, aku enggak punya banyak pilihan. Waktu itu penerbitnya tidak memberikan aku kebebasan untuk memilih ilustrasi cover buku. Tapi, untuk ilustrasi di dalam bukunya sendiri dulu yang bikin itu Toro Elmar. Ilustrasi di dalamnya aku punya andil, kalau untuk cover-nya, yang mengerjakan adalah desainer in-house mereka. Aku paling cuma kasih beberapa referensi cover buku yang aku suka aja. Waktu itu aku kasih contohnya Vonnegut, dengan satu simbol. Dan saat itu yang paling dominan itu objek si mobil yang sering digunakan karakter-karakter itu. Dulu, aku dikasih tiga pilihan desain dan yang aku pilih itu yang terbit.

Kalau di buku 24 Jam Bersama Gaspar, prosesnya jauh lebih bebas. Keduanya itu temanku, Kupiarif dan Radityo, jadi dua-duanya aku tahu artist di bidangnya masing-masing dan punya style yang amat berbeda. Mereka mau. Aku kasih tahu cerita dan referensinya, aku juga kasih kebebasan untuk mereka. Aku membebaskan mereka untuk menginterpretasikan cerita yang sudah aku buat itu. Lalu, untuk ilustrasi dalam buku (Tio) itu malah lebih mudah lagi. Aku udah kenal Tio lama, jadi aku enggak terlalu khawatir. Dia juga menambahkan detail-detail kecil dan membuat cerita sendiri dari ilustrasi dia sendiri di dalam buku itu. Dan hasilnya oke.

Untuk menulis blog sendiri?

Iya, jadi tahun lalu aku sempat vakum menulis blog, terus blogku ditutup. Ya, aku buat blog baru dan belum sempat diisi lagi.

Ketertarikanmu untuk menulis sendiri dimulainya gimana sih?

Kalau mulai nulis itu agak panjang ceritanya. Waktu SD aku buat komik kecil-kecilan. Temen bikin gambar dan aku bikin cerita. Mungkin dari situ mulai terasah, ya. Keinginan untuk menulis sesuatu dan lingkungan rumahku waktu itu dipenuhi oleh orang-orang yang suka cerita jadi, selalu ada sesuatu yang ingin disampaikan. Waktu SMP, aku buat cerita detektif. Jadi, Gaspar itu sebenarnya obsesi lama. Terus mulai serius mendalami gaya bercerita dan cara menulis kalimat ya saat SMA lah. Udah mulai mencoba cara-cara lain, karena aku cukup bosen baca cerita lokal yang selalu seperti itu. Ya, karena dulu aku masih muda ya, jadi aku sering memikirkan perasaan-perasaan seperti itu.

Tapi, kemudian aku mulai serius membaca teks fiksi tahun 2011. Waktu itu aku mulai rajin menulis cerpen dan udah bikin blog, ya. Blog itu semacam laboratorium aku. Habis baca sesuatu, aku implementasikan dengan cara aku sendiri, semacam meniru tapi dibuat dengan prosesku sendiri.

Di luar menulis, kamu punya banyak ketertarikan lain seperti bermusik dan tentunya, pekerjaanmu sebagai Visual Head di Tirto. Apakah ini menyelamatkan atau menghambatmu dalam berkarya?

Sebetulnya, aku cuma suka sedikit A, sedikit B dan sedikit C. Akhirnya, karena suka, jadi aku pelajari semua satu-satu. Aku memang mudah bosan. Karena menulis itu sebenarnya memuakkan, ya, hahaha. Jadi aku merasa butuh refreshing. Terus, yaudah, jadi karena aku suka musik, aku suka buat komposisi, dulu sempat nge-band, terus juga kadang-kadang karena musik enggak terlalu seru, aku suka buat yang lain juga. Ya, cuma mengatasi rasa bosan satu ke rasa bosan lainnya saja. Minatku banyak sekali. Tapi, itu cuma sebagai sarana kebosananku. Enggak ada hal yang serius di balik itu.

Baca Juga: Gunawan Maryanto: Sastra, Menulis dan Libatan Khasanah Budaya Budaya Jawa dalam Karya

Kamu punya target dalam menulis?

Enggak. Ya, aku sangat mencintai dunia kepenulisan, ya. Jadi kalau nulis enggak bisa buru-buru. Rentangnya bisa jauh. Bisa dua sampai tiga tahun. Bukuku yang cerpen baru itu juga kompilasi dari tahun-tahun lalu. Cuma sekitar 12-18 cerita nantinya yang akan diterbitkan di tahun 2019 ini. Semua bukuku penerbitnya berbeda-beda. Sekarang yang cerpen itu penerbit Gambang di Jogja.

 

Sabda Armandio: Pentingnya Cara Penyampaian dalam Karya
24 Jam Bersama Gaspar, novel kedua Sabda Armandio
Aku lebih suka mencari tau, penulis yang aku suka menyukai siapa, nanti baru aku cari tau lagi. Jadi berkembang dari situ. Dan kebanyakan yang aku baca juga bentuknya ebook. Cuma, perlu kita tahu bahwa kita tidak perlu menggantungkan diri kita ke toko buku besar.
Kalau bicara industri buku sekarang, itu pernah jadi pemikiranmu enggak untuk mengikuti tren di toko buku besar?

Enggak. Sebetulnya aku enggak terlalu peduli. Karena, aku pikir, kita sekarang bisa mendapat bacaan buku bagus itu bisa lewat internet. Dulu kan aksesnya terbatas. Kalau sekarang, akses kan banyak kita cuma perlu rajin-rajin cari referensi dan penulis baru. Aku lebih suka mencari tau, penulis yang aku suka menyukai siapa, nanti baru aku cari tau lagi. Jadi berkembang dari situ. Dan kebanyakan yang aku baca juga bentuknya ebook. Cuma, perlu kita tahu bahwa kita tidak perlu menggantungkan diri kita ke toko buku besar. Tapi terserah juga, sih. Sekarang, banyak juga penjual buku online yang menjual buku-buku bagus. Jadi, kalau ditanya apa pendapatku soal toko buku sekarang, aku agak enggak terlalu peduli.

Buku-buku/penulis yang kamu rasa wajib baca itu siapa dan apa aja?

Referensiku juga berubah-ubah. Tapi, aku selalu menyarankan untuk membaca ulang Idrus. Itu mungkin salah satu yang harus dibaca, karena Idrus itu lucu sekali. Kemarin juga ada novel baru karya Yaa Gyasi, judulnya Homegoing, itu juga bagus. Aku sekarang ini lagi baca-baca buku matematika malah, hahaha.

Saranmu untuk penulis yang ingin menerbitkan karya?

Kalau untuk novel, menurutku, seperti aku ya, aku banyak berteman dengan penulis juga. Jadi, dia bisa ngasih banyak saran. Dan aku orang yang cukup konservatif soal buku. Jadi, kalau aku penulis, aku butuh editor dan dia harus paham dengan dunia tulis menulis. Kalau pun menurut dia cerita yang aku buat enggak layak terbit, maka aku harus memperbaikinya.

Tapi, sebetulnya, blog itu sangat membantu. Artinya, aku bukan orang yang suka mengirim cerita ke penerbit–bahkan enggak pernah. Aku enggak akrab dengan tradisi seperti itu seperti beberapa teman-temanku. Karena aku tau aku lebih suka proses bereksperimennya, dibandingkan melihat karyaku diterbitkan. Jadi, blog sangat membantu aku, dan komentar di sana bisa membuat sebuah dialog dan diskusi juga. Apalagi, sekarang bentuk blog sudah makin banyak.

Namun, aku pikir, ketimbang menulisnya, lebih penting kita membaca dengan serius–dengan benar. Kalau kita sudah banyak membaca, banyak referensi, kita bisa memperbaiki mutu tulisan kita.

Soal kesiapan untuk penulisnya untuk menerbitkan buku sendiri, apa pendapatmu?

Aku selalu butuh editor. Posisi editor sendiri buatku sangat penting. Dia bukan cuma sekadar editor, tapi juga teman ngobrol. Misal, buku apa sih yang kira-kira bisa jadi referensiku? Jadi, sebetulnya tulis menulis ini akhirnya juga berhubungan dengan cara kita bersosialisasi. Dengan orang-orang yang punya ketertarikan yang sama. Kita bisa tukar pikiran. Sangat penting untuk ada teman ngobrol. Misal, menurut kita itu sudah bagus, ya. Tapi, akan lebih objektif kalau ditangani oleh orang yang mengerti.

Kepikiran untuk menulis dalam bentuk lain kah? Puisi mungkin?

Puisi bukan bidangku. Kalau bentuk lain, mungkin komik. Untuk menggabungkan kedua ketertarikanku. Aku suka visual dan aku suka cerita. Bentuk komik/novel grafik itu sudah kepikiran lama cuma belum sempat aku garap.

Latihan seperti apa yang kamu lakukan untuk mengembangkan kepenulisanmu?

Latihan menulis itu penting. Dan menurutku, itu harusnya muncul secara otomatis ya sebenarnya. Setelah membaca sesuatu, kita kepikiran “Oh, mungkin, kalau ceritanya seperti ini akan lebih menarik!” Dulu sih, aku rutin membaca cerita dan setelah selesai, aku buat alternatifnya. Semacam spin off versiku. Misalnya, yang paling aku ingat, Sun Also Rises karya Hemingway, itu aku bikin cerita sendiri tentang naratornya. Jadi, aku buat kemungkinan-kemungkinan baru tentang si tokoh karakter itu.

Dan, salah satu yang paling membantu, sampai hari ini, yang aku lakukan itu menerjemah. Jadi, menerjemah cerita (umumnya dari bahasa Inggris) ke bahasa Indonesia. Itu sangat membantu. Karena saat menerjemahkan, itu sama sekali bukan perkara sepele. Karena untuk menyampaikan maksud, kita juga harus tau tentang pikiran apa yang ingin disampaikan si penulisnya.

Bisa juga, kalau kita mendengar kalimat-kalimat bagus gitu, ya dicatat saja. Aku suka ngetik di handphone sih, sambil dengerin lagu.

 

Sabda Armandio: Pentingnya Cara Penyampaian dalam Karya
(Dok. Sabda Armandio)
Untukmu distribusi lewat media sosial seberapa penting?

Aku enggak terlalu memikirkan itu, karena aku enggak bakat jualan. Tapi, promosi karya sendiri itu sebenarnya membantu penerbit untuk mengurus bisnis mereka. Jadi, aku kan suka dengan penerbit-penerbit dekat yang juga temanku. Mereka punya industri sendiri, bisnis sendiri, alangkah enaknya aku membantu mereka. Aku suka berteman saja, sih. Membantu usaha mereka kan, enggak ada salahnya.

Sebetulnya dalam karyamu, gagasan apa sih yang selalu ingin kamu sampaikan lewatnya? Apakah itu penting untuk kamu sebagai penulis?

Sebetulnya, ada yang ingin aku sampaikan. Tapi, yang kemudian aku cari adalah bentuk penyampaiannya. Bentuk penyampaiannya jangan sampai menjadi seperti menggurui, atau buku ceramah. Jadi, di novel pertama aku contohnya, aku menceritakan tentang murid yang hamil di luar nikah terus dikeluarkan dari sekolahnya, ada yang gagal Ujian Nasional lalu bunuh diri–yang aku cari sebenarnya penyampaian ceritanya. Sebetulnya, di novel pertama itu aku sekarang menganggapnya masih sangat kasar dan di novel pertama aku merasa masih ada tendensi untuk menceramahi.

Itu yang pelan-pelan aku kikis. Di buku keduaku, soal pernikahan di bawah umur dan juga betapa terganggunya aku dengan orang-orang yang fanatik. Tapi kemudian, cara menyampaikannya yang aku buat enak dibaca aja. Aku enggak pernah berusaha menjual gagasan di dalam karyaku. Namun, itu terbentuk saja seiring aku berproses. Kalau untukku make sense, maka akan aku lanjutkan. Tapi lagi-lagi, yang paling penting adalah cara menyampaikannya.

 

Foto feature oleh: Meisya Citraswara