Rukii Naraya: Pentingnya Mengenali Diri Sendiri dan Berkarya untuk Masyarakat

Punya banyak ketertarikan dalam ranah seni tidak membuat Rukii Naraya pusing memikirkan mana yang harus menjadi fokus utamanya. Bukan, dia bukan orang Jepang. Nama itu adalah gabungan dari penulis Jepang favoritnya (Haruki Murakami) dan bahasa Sansekerta (Naraya dari kata Nararya yang artinya dimuliakan). Nama aslinya adalah Tampan Destawan, seorang kreator di balik Lemari BukubukuKomik Rukii dan masih banyak lagi.

Jika dirunut satu persatu, Desta, nama panggilannya, menggeluti hampir semua bentuk dari seni yang tercatat. Mulai dari fotografi–baru saja minggu lalu ia pameran di negeri Sakura. Seni rupa–ia menyalurkannya lewat karya-karya ilustrasi dan komik buatannya. Menulis–ia membuat sebuah media kreatif dengan nama Fur Digital. Bahkan musik–Desta pernah punya beberapa band dan terus tertarik untuk berkarya lewat iringan nada.

Bagaimana cara ia mengelola semua ketertarikannya? “Ra iso, aku tuh. Masalahku ya itu, kata temanku, seniman itu harus fokus. Aku enggak bisa, semuanya aku suka. Pada akhirnya aku enggak peduli dengan sebutan seniman itu. Semuanya adalah tools atau media untukku. Aku ingin menyampaikan apa, lalu aku pikir medianya yang cocok apa, ya aku akan pakai itu. Aku pengen memanfaatkan apa yang aku bisa,” katanya sambil minum jamu anti masuk angin pesanannya saat wawancara kami.

Desta sejak kecil sudah tertarik berkesenian dan ia sadar betul akan hal itu. Rajin menuruti ketertarikannya, sejak SD hingga kuliah (walaupun batal lulus), ia berhasil melompat-lompat dari satu bentuk seni ke seni lain. Kali ini, Crafters akan bicara dengan Desta soal Lemari Bukubuku, Komik Rukii dan sedikit banyak hal-hal lain yang telah dipelajari oleh Desta sebagai seorang kreator selama ini.

Baca Juga: Masdimboy: Untuk Berkarya Harus Buka Kuping, Mata dan Mulut

 

Rukii Naraya: Pentingnya Mengenali Diri Sendiri dan Berkarya untuk Masyarakat
(Dok. Tampan Destawan)
“Karya itu penting untuk kembali ke masyarakat”

Bicara soal Lemari Bukubuku, Desta memulai gerakan donasi buku yang dibalas dengan potret diri si donatur ini pada tahun 2013. Di waktu itu, ia menemukan bahwa sebuah sekolah di daerah Magelang memiliki kebutuhan buku untuk anak-anak SD. Ia mendapatkan informasi ini dari seorang temannya, yang hafal dengan salah satu hobi Desta, yaitu mengoleksi buku.

“Di saat itu, aku lagi zamannya senang gambarin potret orang. Dari situ kepikiran aja, gimana kalau donatur itu aku gambarin potret dirinya setelah dia donasi buku? Aku ajak beberapa teman lain, dan buat Lemari Bukubuku pertama kali di acara Car Free Day. Kami berhasil mengumpulkan sekitar tiga kardus besar buku. Nah, saat itu, pas banget, aku lagi mau pulang ke Jogja dan menyempatkan diri mengantar buku-buku tersebut ke sekolah di Magelang itu. Di situ, aku melihat perpustakaan yang kosong banget. Cuma tersisa beberapa buku pelajaran yang sudah usang,” cerita Desta.

Setelah kejadian itu, ia menyimpulkan bahwa sebuah sekolah di Magelang, yang daerahnya tidak terlalu sulit akses saja tidak punya banyak pilihan buku. “Gimana di kota-kota lain yang terisolir?” tanyanya. Belum lagi dengan fakta bahwa harga buku saat ini terbilang tidak murah. Keprihatinan Desta pada minat baca anak sekolah semakin besar dan ia berhasil menyalurkannya lewat gerakan Lemari Bukubuku yang sekarang hampir setiap minggu diadakan ini.

 

Rukii Naraya: Pentingnya Mengenali Diri Sendiri dan Berkarya untuk Masyarakat
Salah satu desain untuk kegiatan Lemari Bukubuku (Dok. Instagram LemariBukuBuku)

Lain lagi jika bicara soal Komik Rukii yang tercipta dari kegelisahan Desta lainnya. Komik karya Desta ini terkenal dengan sarkasme isu-isu sensitif yang bisa dikemas dengan baik dan menarik. Menjadi sebuah wadah bagi Desta untuk menyampaikan isu-isu tersebut, Komik Rukii bahkan sudah berhasil berkolaborasi dengan KPK untuk menyampaikan edukasi soal korupsi lewat visual karakter tersebut. Awal mula terciptanya?

“Dulu, aku punya sebuah project fotografi yang bernama Hidup Sebagai Kenalan. Di situ, aku mengangkat figur yang aku foto dan menjadikan beberapa obrolan yang menarik sebagai caption-nya. Komik Rukii awalnya berbentuk project itu, namun dalam bentuk komik. Tapi, semakin ke sini, enggak cuma Hidup Sebagai Kenalan saja. Lewat Komik Rukii, aku bisa semacam berani untuk ‘menyentil’ apa pun/siapapun lewat bahasa yang lebih sederhana dan bahasa visual yang lebih mudah diterima,” ujar Desta panjang lebar. Ia merasa, sebuah isu negatif itu sebaiknya memang harus disampaikan. Dan kenyataan bahwa komik tersebut bisa menjadi edukasi bagi pembaca Komik Rukii menjadi sebuah kenyataan yang menyenangkan untuknya sebagai kreator.

Namun, seperti kreator lain, Desta memiliki sebuah idealisme yang ia pegang teguh dalam karya komiknya. “Aku mulai menghindari hal-hal yang receh. Karena sekarang makin banyak dan mudah orang bikin komik receh terus viral. Aku enggak mau. Dalam Komik Rukii, aku sisipkan banyak sarkasme, agar orang yang membacanya tertawa, tapi dengan cara lain–dengan perasaan lain,” tegasnya.

Rukii Naraya: Pentingnya Mengenali Diri Sendiri dan Berkarya untuk Masyarakat
Salah satu karya Desta dengan karakter Komik Rukii dalam bentuk mural

Dari dua bentuk karya Desta ini saja (Lemari Bukubuku dan Komik Rukii), kita seharusnya sudah dapat menyimpulkan, bahwa Desta kebanyakan menggagas karyanya dari isu masyarakat yang meresahkan untuknya, dan kemudian menyalurkannya dalam bentuk-bentuk karya yang membantu orang lain. Lewat karyanya, Desta berhasil menyampaikan dan menyalurkan kegelisahannya lewat bentuk yang tidak asal sembari mengedukasi pembacanya. Desta berhasil bijak dalam menyampaikan tiap-tiap konten buatannya untuk masyarakat Indonesia.

“Kalau menurutku, seniman itu ‘kan mengambil ide dari masyarakat. Karya itu penting untuk kembali ke masyarakat. Ya, tapi enggak ada yang harus juga, sih, hahaha. Tergantung senimannya dia mau melakukan apa. Tapi kalau untukku sendiri, ya fenomena yang terjadi di masyarakat jadi terlihat lebih menarik untuk disampaikan melalui karya. Melalui karya, aku memberi opini dan untuk penikmatnya; aku juga membuka sebuah ruang diskusi tentang isu itu,” ujar Desta.

Baca Juga: Marchella FP: Membawa Generasi 90an Menembus Era Digital

Masalahku ya itu, kata temanku, seniman itu harus fokus. Aku enggak bisa, semuanya aku suka. Pada akhirnya aku enggak peduli dengan sebutan seniman itu. Semuanya adalah tools atau media untukku.
Pentingnya Mengenali Diri Sendiri

“Aku memang, entah kenapa seneng banget sama manusia,” kata Desta. Selama ini, Desta membangun jejaringnya dengan baik melalui online maupun offline. Dilakoni dengan senang hati, hal tersebut mengantarkannya ke lingkungan tepat yang dapat medukungnya dalam berkarya. Bicara soal Desta, ia memang banyak dikenal di lingkungan seni. “Oh, kamu temannya Desta,” itu kalimat yang sudah biasa diucapkan jika saya jalan-jalan ke acara-acara yang mungkin ia minati.

Tertawa menanggapi, ia melanjutkan bahwa memang ia selalu penasaran dengan jalan pikiran orang, kata-kata dan statement yang dilontarkan orang lain. Secara online pun, Desta di Instagram juga tidak kalah penasarannya. Lewat Instagram, Desta berhasil bertemu dengan orang-orang yang membuatnya kagum. Namun, lewat Instagram juga, ia menemukan keresahan lain. “Literasi di Indonesia yang masih rendah itulah yang kemudian sering dijadikan sebuah alat politik atau isu sensitif lainnya lewat Instagram atau media sosial lainnya,” selipnya memprotes.

 

Rukii Naraya: Pentingnya Mengenali Diri Sendiri dan Berkarya untuk Masyarakat
Salah satu panel dari kritik Desta tentang minat baca di Indonesia (Dok. Instagram Komik Rukii)

Melanjutkan pembicaraannya soal itu, ia ternyata tidak setuju jika bicara bahwa lingkungan adalah penunjang utama dalam berkarya. Menurutnya, lingkungan yang baik otomatis akan terbentuk jika kita terus berkarya. “Menurutku, tanpa lingkungan yang tepat pun, kita harus tetap bisa berkarya. Kuncinya, sebagai kreator kamu harus mengenali dirimu sendiri dulu. Dari situ kamu akan tau apa yang kamu mau buat,” tegas Desta.

“Aku mempelajari diriku sendiri dulu, sampai akhirnya aku bisa berada di lingkungan yang tepat itu hanya bonus aja, sih. Ketika kamu sudah mempelajari dirimu sendiri dengan baik, kamu pasti akan di lingkungan yang tepat dan ketemu orang-orang yang tepat juga secara otomatis. Lingkungan itu bekerjanya menurutku kayak algoritma di media sosial aja: kalau kamu nge-like itu, kamu akan pelan-pelan ada di lingkungan itu. Jadi, jangan takut untuk mulai berjejaring,” tambah Desta panjang lebar.

Saat ini, Lemari Bukubuku sudah diadakan di lebih dari lima kota secara konsisten dan tidak berhenti mendistribusikan buku ke daerah-daerah yang membutuhkan. Komik Rukii juga telah menyampaikan isu-isu yang sulit disampaikan lewat penggambaran visual dan pilihan kalimat yang mudah dimengerti. Setelah mengenali dirinya sendiri, saat ini Desta hanya berpikir untuk tetap terus melanjutkan semuanya dengan konsisten.

“Aku masih berharap untuk semua yang aku lakukan semua ini berjalan dengan lancar. Tapi, kalau bicara mimpi, ada satu hal lagi yaitu suatu hari aku ingin punya perpustakaan dan sanggar. Nantinya, aku akan berhenti bekerja kantoran dan melanjutkan semuanya di situ,” tutup Desta.