Remotivi: Upaya Mengangkat Isu Media dan Politik yang Kering Menjadi Populer

Sudah sekitar empat tahun belakangan media informasi yang saya baca hanya berkisar beberapa nama saja. Untuk mengetahui isu yang berkembang di luar negri, saya membaca berita artikel di nama-nama media besar seperti The Independent, New York Times, Business Insider, dan Vice. Pilihan itu mudah saja terpikir dalam kepala. Yang jadi masalah adalah ketika saya ingin mengetahui kabar terbaru mengenai kondisi dalam negeri sendiri.

Kebanyakan berita yang saya temui hanyalah pengulangan dari berita-berita yang telah ditulis sebelumnya. Perbedaannya tak banyak, palingan hanya ada pada penjabaran narasi. Itu pun sebabnya mungkin saja karena penulisnya yang berbeda. Ambil contoh saat terjadinya penembakan Sarinah tahun 2016 lalu.

Mendadak, berita banyak yang muncul ke permukaan. Setiap jamnya muncul tulisan-tulisan baru di internet menjabarkan situasi terkini tanpa potongan informasi yang baru. Hanya saja, bukannya membuat saya dan kawan-kawan kantor tenang, pola pemberitaan dengan kuantitas ekstra di saat-saat tersebut justru membuat kami merasa semakin tidak aman dan takut kalau-kalau ada sesuatu yang tidak disampaikan secara gamblang. Belum lagi ketika keadaan genting tersebut diselingi berbagai iklan produk yang menghabiskan hampir seperempat layar ponsel dan laptop. Yang tertinggal adalah sebuah perasaan muak dan tidak percaya terhadap media pemberitaan besar.

Perasaan muak dan tidak percaya itu tak berhenti sampai di media pemberitaan saja, tapi juga melebar ke media penyiaran. Daripada menonton televisi yang isinya itu-itu saja, saya pun lebih memilih untuk menonton YouTube atau memilih menonton film lewat layanan film streaming.

Hal-hal ini menimbulkan pertanyaan sendiri dalam benak saya. Apakah itu hanya perasaan saya yang terlalu berlebihan terhadap media penyiaran dan pemberitaan? Sebenarnya apa yang tengah terjadi terhadap kedua sumber informasi tersebut? Adakah sebuah lembaga lain yang mampu menyampaikan apa yang saya rasakan ketika KPI dan Dewan Pers tampak biasa saja menghadapi pola penyebaran informasi sekarang?

Menjawab pertanyaan terakhir, teman saya memberikan sebuah jawaban. “Cek aja Remotivi. Mereka itu membahas hal-hal yang lo tanyain tuh soal media penyiaran dan pemberitaan,” begitu saran teman saya. Dari teman saya pula saya tahu jika Remotivi merupakan lembaga studi dan pemantauan media yang cakupan kerjanya meliputi penelitian, advokasi, serta penerbitan. Lembaga ini dibentuk di Jakarta pada tahun 2010 dan berawal dari bentuk inisiatif warga yang merasa industri media semakin komersial serta abai terhadap tanggung jawab publik.

Remotivi: Upaya Mengangkat Isu Media dan Politik yang Kering Menjadi Populer
(Dok. Remotivi)

Benar saja. Mengunjungi website-nya, keingintahuan saya terhadap apa yang sebenarnya tengah terjadi pada gerbang informasi kita cukup terpuaskan. Meski demikian, masih ada beberapa pertanyaan yang belum terjawab. Beruntung, lewat seorang kawan lainnya, saya berhasil menghubungi salah seorang penanggung jawab Remotivi.

Mewakili Crafters, saya mengobrol dengan editor dan peneliti di Remotivi; Firman Imaduddin lewat surel mengenai beberapa hal dari awal berdirinya Remotivi, peran media yang ideal dalam produksi berita, sampai masalah edukasi dan seputar riset  tentang media di Indonesia sampai saat ini.

Baca Juga: Jurnal Ruang: Membahas Produk Budaya Populer Secara In-Depth

Dapatkah kamu menceritakan fase awal terbentuknya Remotivi?

Remotivi lahir sebagai sebuah LSM di tahun 2010. Awalnya bermula dari sebuah grup Facebook berisi orang-orang yang mengeluh soal konten-konten televisi yang bemasalah.

Jika harus menjelaskan kepada pihak awam, bagaimana sih seharusnya peran media yang ideal dalam produksi berita?

Aku akan berasumsi “media” di sini maksudnya pers. Pers idealnya menjalankan peranan penting dalam demokrasi, karena informed citizenship adalah fondasi dalam sistem pemerintahan yang secara teknis “dikepalai” oleh rakyat. Makanya ada istilah pers sebagai pilar keempat demokrasi. Nah selama ini, berbagai kode etik dan konsep profesionalisme pers dikembangkan sebagai ikhtiar untuk menjamin pers menjalankan peranan ini dengan baik. Misalnya, konsep imparsialitas, objektivitas dan lain-lain.

Masalahnya, pers sejak dulu berdiri di dua kaki karena mereka juga punya kepentingan sebagai industri untuk memperoleh keuntungan. Sayangnya kepentingan ini kerap menghambat peran ideal mereka sebagai sumber informasi rakyat. Sekilas bisa diliat bagimana ini terjadi di dua konteks: media penyiaran dan internet.

Media penyiaran, yang secara teknis meminjam frekuensi yang sesungguhnya milik publik, sebenarnya punya tanggung jawab yang lebih besar untuk melayani kepentingan publik Tapi, hal ini enggak terjadi karena badan regulator seperti KPI itu powerless. Akhirnya, media penyiaran didominasi oleh konglomerat yang membawa kepentingan politik masing-masing.

Bisa lihat videonya di sini.

Di internet, perkembangan teknologi dan perubahan bentuk pasar juga cenderung melukai peran ideal pers. Lebih jauh bisa baca di artikel ini.

Dengan banyaknya isu yang berkembang di masyarakat dan hangatnya dua tema paling laris di Indonesia sekarang; keagamaan dan nasionalisme, bagaimana Remotivi memilih isu mana yang seharusnya mendapat perhatian publik?

Kecenderungan ini bukan cuma dominan di Indonesia, tapi merupakan bagian dari arus neo-reaksioner dan konservatifisme yang juga terjadi di berbagai negara seperti Amerika Serikat yang sekarang tengah dikepalai oleh Donald Trump, India, banyak bagian Eropa, Malaysia dan lain sebagainya.

Sulit untuk menjelaskan kenapa ada kecenderungan ini. Satu yang pasti, narasi populis macam dua hal tersebut memang sedang jamak digunakan oleh politisi. Kedua sentimen kuat tersebut mudah menjadi populer dan powerful, juga kerap sangat menarik secara emosional bagi masyarakat. Sayangnya, bentuk pengejewantahannya kerap kali berlawanan dengan nilai-nilai seperti kesetaraan dan HAM.

Enggak ada jawaban mudah dari hal ini. Salah satu solusi yang Remotivi percaya adalah pengetatan regulasi untuk mencegah narasi-narasi kebencian terburuk yang mungkin muncul dari kedua sentimen tersebut. Selain itu, adalah pendidikan publik mengenai nilai-nilai progresif. Karena selama demand atas narasi-narasi ini masih kuat, bisa dibilang narasi ini akan terus banyak dipakai.

Delapan tahun sudah Remotivi berdiri, dapatkah kamu menceritakan apa saja upaya-upaya literasi media yang telah dijalankan oleh Remotivi? Bagaimana respon publik terhadap upaya tersebut?

Awalnya, Remotivi banyak bergerak di bidang advokasi dan bekerja bersama badan pemerintah seperti KPI untuk mencoba mempengaruhi kebijakan-kebijakan soal media, penyiaran, dan lain sebagainya.

Sekarang, Remotivi lebih berfokus ke bidang penelitian dan juga pendidikan literasi media publik. Diseminasi informasi pada publik yang seringkali terlalu kering dan berat untuk diikuti masyarakat selama ini kami pandang sebagai titik lemah dari gerakan progresif.

Akhirnya, narasi-narasi konservatif seperti agama dan nasionalisme yang dominan. Lewat artikel dan video, Remotivi mencoba memperkenalkan kajian media pada publik yang lebih luas dan turun dari menara gading perbincangan akademik yang itu-itu aja.  Sejauh ini responsnya cukup baik, tapi kami masih perlu banyak belajar.

Baca Juga: Jurnalis Komik: Berangkat dari Kekosongan Dunia Jurnalisme

 

Remotivi: Upaya Mengangkat Isu Media dan Politik yang Kering Menjadi Populer
(Dok. Remotivi)
Dengan Remotivi yang berada dalam posisi sebagai lembaga studi dan pemantauan media ini, apa tantangan yang dihadapi oleh para staf ketika mengulas cara kerja media besar yang semakin komersial setelah Orde Baru?

Ketika berhadapan dengan sistem yang sudah besar dan lamban, dan meliputi kepentingan uang dan politik yang sangat kuat dan mengakar, sulit untuk membuat perubahan. Apalagi kami cuma LSM kecil. Ini juga yang mengalihkan fokus kami ke arah pendidikan publik daripada ke arah advokasi, setidaknya untuk saat ini.

Sekarang, tantangannya mungkin seputar beberapa pihak yang kepentingannya merasa terganggu oleh konten-konten kami. Wujudnya sekitar upaya demonetisasi konten, somasi, dan lain-lain. Tapi sejauh ini belum ada yang jadi masalah eksistensial.

Tantangan utamanya mungkin malah soal bagimana caranya membuat konten pendidikan media yang menarik untuk publik. Bagaimana caranya mengangkat isu media dan politik yang kering untuk menjadi populer. Ini kami masih belajar.

 

Lihat penulis news, law & politics lain di marketplace GetCraft!