Rahne Putri: Peran Storytelling dalam Menyampaikan Value bagi Influencer Parenting

Di kantor saya yang baru, saya punya seorang kolega yang telah memiliki dua anak. Dari dialah setiap hari saya mendapatkan berita terkini mengenai apa yang sedang tren di dunia parenting modern. Entah itu merek barang terbaru, tips dan trik terbaru, atau hal-hal yang berhubungan erat dengan tumbuh kembang anak. Saya bahkan mendapatkan banyak nama influencer sebagai tabungan role model saya ketika pada akhirnya saya memutuskan menikah dan memiliki anak kelak.

Salah satu influencer dunia parenting yang diperkenalkan oleh kolega saya adalah Rahne Putri. Sebagai seorang yang menyenangi gaya penceritaan menarik, saya tertarik mengikuti cerita yang dituturkan oleh Rahne Putri. Berkunjung ke akun  Instagram-nya, kamu akan disuguhkan dengan visual menarik yang  sebagian merupakan kerja samanya (bentuk sponsored content) dengan brand ternama serta terpercaya. Tak hanya itu, kamu juga bisa menemukan sebuah gaya penceritaan khas dan menarik untuk diikuti, ditelaah, serta dipikirkan sebagai bahan pertimbangan.

Kepalang tertarik dan penasaran dengan unsur gaya penceritaan atau storytelling dalam setiap pembuatan konten Rahne Putri dan seberapa pentingnya gaya penceritaan tersebut dalam konten, saya menghubunginya mewakili Crafters. Berikut wawancara kami membahas pandangan Rahne Putri terhadap industri influencer, peranan influencer parenting dalam persebaran informasi, dan pentingnya storytelling dalam pembuatan konten seorang influencer parenting.

Baca Juga: HelloDitta: Menjalani 3 Profesi Kreatif di Instagram

Rahne Putri: Peran Storytelling dalam Menyampaikan Value bagi Influencer Parenting
Rahne Putri: Peran Storytelling dalam Menyampaikan Value bagi Influencer Parenting
Boleh diceritakan bagaimana sih awal mulanya kamu menjadi seorang influencer?

Menjadi seorang influencer bukan sesuatu yang aku niatkan. Waktu itu aku hanya menggunakan media sosial pada umumnya saja. Pada tahun 2009, aku sedang rajin-rajinnya main Twitter, mengeksplor dan bersenang-senang di sana. Lalu somehow banyak yang follow. Terus akhirnya jadi sering support campaign dan diajak kerja sama oleh brand. Agak kaget juga sih, ternyata ada ya yang butuh jasa orang seperti aku yang pada masanya memiliki jumlah followers dengan jumlah lumayan.

Apa saja hal-hal yang menyenangkan dari menjadi seorang influencer bagimu? Apa perbandingannya dengan jenis pekerjaan kreatif lain yang kamu tekuni atau ketahui?

Aku hidup di dua dunia. Latar belakang aku sendiri adalah agency, bidang periklanan dari sisi brand. Tahun 2009, aku membantu bidang periklanan televisi. Oleh karena itu, aku merasakan di depan dan balik layar. Jadi selain aku tampil di depan dan berperan sebagai ‘corong’-nya, aku juga tahu proses pembuatan campaign itu ribetnya seperti apa hingga jadi seperti yang ditampilkan.

Nah, yang menyenangkannya buat aku adalah kesempatan untuk tahu lebih dahulu dan mencoba barang-barang duluan sebelum orang lain. Selain itu, aku juga jadi tahu lebih banyak brand dan value-value apa yang mereka percayai. Bagi aku itu menarik banget karena membuat aku jadi punya wider perspective tentang yang diperjuangkan berbagai brand sehingga membuatku terbantu di bidang pekerjaan utamaku.

Bicara perbandingan, menjadi influencer atau yang terlibat di bidang agency, sebenarnya mirip tapi beda media. Aku tidak merasakan banyak perbandingan. Justru menurutku ini sangat align dengan dunia aku.

Sekarang tantangannya paling hanya time management. Hanya saja mungkin kalau bicara tantangan saat dulu, itu berkisar pada bagaimana aku menjelaskan pekerjaan ini. Di awal-awal, aku sulit menjelaskan pekerjaan tambahan aku sebagai influencer ke keluarga karena pada waktu itu banyak yang belum paham mengenai lingkup pekerjaan sebagai influencer.

Penasaran dengan harga per-posting-an dari para influencer? Download di sini!

Bagaimana aktivitas kamu sebagai influencer membantumu menemukan pribadimu dan apa pengaruhnya terhadap proses kreatifmu?

Jadi, dari 2010 itu hitungannya aku sudah lumayan banyak bekerja sama dengan brand dari berbagai macam industri. Saat itu juga pekerjaan influencer masih jadi pekerjaan tambahan dengan euforia “this is the new ‘it’ job”. Terkadang aku ambil aja tawarannya tapi ternyata enggak semuanya mulus; ada beberapa industri yang kayaknya aku enggak nyaman dalam pengerjaannya. Misalnya, kerjaan untuk support politik. Itu yang membantu membentuk aku. Dengan mengenal banyak brand, tentunya aku jadi mengenal mana yang membuatku nyaman dan mana yang tidak.

Menurutku, diikuti banyak orang atau memiliki banyak followers itu adalah sebuah privilege. Kadang kita mudah terbawa. Kita berpikir kalau, “Ya sudahlah cuma begini doang.” Tapi ternyata ada rasa ketidaknyamanan dan hasil pekerjaannya pun tidak maksimal. Seolah-olah itu jadi membohongi diri sendiri dan aku kurang bertanggung jawab terhadap followers aku. Jadi, aku mulai berhati-hati, mengenal diriku dengan tahu berbagai brand serta industri yang sekiranya pas denganku, dan memilih serta memilah dalam perjalananku.

Apa tantangan terberat yang pernah kamu hadapi selama menjadi influencer?

So far tantangan terberat aku sih waktu, karena menjadi influencer ini bukanlah pekerjaan utamaku. Aku punya banyak prioritas-prioritas lainnya. Cuma sekiranya aku memutuskan untuk menerima pekerjaan, ya itu juga harus jadi prioritasku. Jadi, kadang memang jadi battling sama diri sendiri antara mana yang harus diutamakan. Selain itu, masalah selanjutnya adalah mengatur tenaga.

Semua pekerjaan influencer ini kulakukan sendirian. Belum ada manajer dan tim yang membantu mengedit. Selama ini aku meminta bantuan orang sekelilingku saja seperti suami. Jadi itulah tantangan terberatnya, mengatur waktu dan tenaga.

 

Rahne Putri: Peran Storytelling dalam Menyampaikan Value bagi Influencer Parenting
Rahne Putri: Peran Storytelling dalam Menyampaikan Value bagi Influencer Parenting
Hal-hal apa saja yang membuatmu mau bekerja sama dengan suatu brand?

Yang pasti, brand tersebut enggak bertentangan dengan value aku. Aku pastinya harus percaya dulu sama brand tersebut dan brand-nya terpercaya. Selain itu, aku sendiri memang menggunakan barang dari brand tersebut. Sekalipun ada yang mengajak kerja sama tapi aku belum mencoba, aku usahakan mencoba terlebih dahulu barangnya sebelum aku terima tawaran tersebut.

Kadang aku juga bisa menerima pekerjaan dari brand tersebut karena aku suka dengan misinya dan brand tersebut bukan kompetitor brand yang sedang aku pegang. Bagiku itu etika. Kan influencer parenting mungkin orangnya itu-itu saja, sedangkan brand ada banyak. Penting bagiku untuk membangun loyality dengan tidak bersikap melompat-lompat dari satu brand ke brand lain.

Adakah brand yang menawarkan hubungan kerja sama namun bertentangan dengan idealisme kamu?

Makin ke sini sih enggak ada karena sudah pasti aku cut di depan, tapi kalau yang dulu-dulu sih ada. Biasanya brand dengan campaign dan pesan-pesan berlebihan yang sepertinya mengarah ke eksploitasi anak atau perempuan.

Sebagai seorang influencer yang memiliki fokus pada tumbuh kembang anak dan keluarga, apakah storytelling itu penting dalam menyampaikan maksudmu?

Bagi aku itu penting banget karena yang mengikuti aku di media sosial itu rata-rata enggak melihat aku di keseharian. Mereka hanya menangkap sepersekian bagian dari apa yang aku gambarkan. Nah, storytelling ini bagiku memberikan sudut pandang dengan ceritaku yang aku jahit untuk aku tampilkan ke para followers aku. Jadi aku bisa memberikan sudut pandang lain serta cerita-cerita yang hanya bisa kusampaikan di caption ini. Storytelling itu kesempatan bagiku bercerita tentang hal-hal yang enggak followers-ku lihat di layar hp.

 

Rahne Putri: Peran Storytelling dalam Menyampaikan Value bagi Influencer Parenting
Rahne Putri: Peran Storytelling dalam Menyampaikan Value bagi Influencer Parenting
Saat membuat konten dengan topik parenting, utamanya dalam konteks kerja sama dengan brand, apakah kamu dituntut mengikuti brief atau dibebaskan? Apakah dalam setiap brand, semuanya menuntut gaya penceritaan atau storytelling tertentu dalam penyampaian maksud mereka?

Brand pasti punya guideline karena mereka punya kepentingan di situ. Balik lagi, sejauh enggak bertentangan dengan value aku, tidak melebih-lebihkan, dan tidak mengeksploitasi perasaanku atau perasaan followers, aku tidak masalah dengan guideline-nya. Tapi kadang aku juga memberikan pandangan lain untuk brand. Soalnya, aku yang lebih mengenal followers-ku. Jadi, dicari saja jalan tengahnya; brand punya persepsi apa? Aku punya insight apa? Seperti itu.

Ada juga brand yang menuntut mengikuti kemauan mereka. Itu juga aku enggak apa-apa, sih. Hanya saja aku akan bilang ke mereka kalau ada kemungkinan engagement-nya enggak tinggi dan enggak dibaca banyak orang. Kalau mereka tak masalah dengan hal itu, ya aku enggak apa-apa. Yang penting aku menyampaikan secara jujur dan tidak membohongi.

Apa pandanganmu terhadap industri influencer tanah air? Menurutmu sendiri, apa peranan dan pengaruh influencer utamanya influencer parenting di masyarakat kita?

Influencer sekarang ini banyak; ada yang tahu value mereka, ada juga yang tidak tahu. Jadi sebenarnya dengan menjadi influencer, kita punya kesempatan untuk mempengaruhi pihak lain.

Khusus untuk yang tidak tahu dan mengambil tanpa menimbang-nimbang, inilah yang harus berhati-hati. Menurutku, followers adalah titipan. Walau kita tidak bertanggung jawab sepenuhnya terhadap perilaku followers kita, tapi kita bertanggung jawab atas informasi yang kita sebarkan. Jadi mempromosikan sesuatu itu ya harus bertanggung jawab, utamanya influencer parenting.

Aku merasa influencer parenting harus menyaring informasi karena influencer parenting ini akan mempengaruhi orangtua-orangtua lainnya dalam mendidik masa depan anak. Jangan sampai kita salah menginformasikan sesuatu dan berdampak negatif untuk generasi selanjutnya. Oleh karenanya, bagiku seorang influencer parenting itu penting untuk tahu value mereka dan bagaimana mereka bisa membantu orang lain ketika memutuskan menyebarkan informasi.

Baca Juga: 5 Tips Memilih Angle Foto Menarik untuk Instagram

Apa saja 3 kunci mengasah gaya penceritaan atau storytelling bagi influencer, khususnya influencer parenting?

Fokus pada pesan yang mau disampaikan. Storytelling itu mau menceritakan apa sih? Kemudian berangkat dari fakta yang terjadi pada diri. Terakhir, selalu memikirkan kira-kira siapa yang terbantu dengan membaca caption ini.

Apa pesanmu terhadap para pengguna media sosial di era digital seperti sekarang ini dalam memilih jenis informasi, khususnya yang berhubungan dengan informasi seputar keluarga?

Pilih dan pilah serta filtering. Sekarang ini, kita hidup di dunia yang makin bising dengan pendapat. Ke mana pun kita melihat, mata kita selalu dihadapkan pada informasi, testimoni baru, dan lain sebagainya. Itu adalah sesuatu yang eksternal. Makanya penting bagi pengguna media sosial untuk tahu diri mereka sendiri supaya mereka mendapatkan informasi yang tepat bagi diri mereka. Selain itu, lakukan riset yang banyak. Jangan terlalu mudah percaya juga.

 

Apakah kamu seorang influencer yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?