Product Placement dalam Komik

Product placement atau embedded marketing merupakan bentuk pemasaran merek atau barang tertentu dalam medium hiburan. Seperti dalam film, acara televisi, termasuk komik.

Contoh klasik product placement misalnya pada permen cokelat Reese’s Pieces yang muncul di film layar lebar E.T. the Extra-Terrestrial (1982). Hershey sebagai produsen permen Reese’s Pieces sepakat dengan pembuat film E.T. untuk bekerjasama mempromosikan film tersebut. Sebagai imbalan, karakter E.T. dapat digunakan untuk materi promosi Hershey.

Itu kalau di film. Bagaimana dengan komik?

Product Placement dalam Komik
(Dok. E.T.)

Meski relatif lebih umum dijumpai dalam format audiovisual, ada kalanya product placement muncul dalam format komik.

Pertengahan 2012 misalnya, komik Marvel: The Avengers bekerjasama dengan Harley Davidson untuk mempromosikan moge tersebut di pangsa pasar pembaca komik rentang usia remaja-dewasa. Kalian bisa menebak superhero mana yang kira-kira butuh motor? Berhubung Iron Man dan Thor bisa terbang, sementara Hulk kegedean buat naik motor, yang kebagian mengendarai Harley tak lain dan tak bukan adalah Captain America dan Natasha Romanoff alias Black Widow.

Sesungguhnya tidak ada yang salah dengan product placement ini. Namun beberapa menilai kehadiran motor Harley justru menciderai logika cerita Avengers yang ada. Singkatnya, diceritakan berkat “kecepatan super” motor Harley, Captain America dan Black Widow mampu menemukan Hawkeye dalam tawanan musuh lebih cepat daripada rekan-rekannya yang bisa terbang. Adegannya jadi terlihat konyol, alih-alih keren.

Product Placement dalam Komik
(Dok. Marvel: The Avengers)
Product Placement dalam Komik
(Dok. Marvel: The Avengers)

Tantangan utama product placement dalam komik adalah bagaimana agar kemunculan sebuah produk, barang, atau merek, dapat menyatu secara inheren dengan semesta dan narasi utama komik itu sendiri. Fungsi dan penempatannya juga harus masuk akal. Enggak mungkin, kan, dalam komik superhero misalnya, saat adegan perang, tiba-tiba muncul produk pasta gigi? Selain konyol, hal ini tentu akan mengganggu perhatian dan kenyamanan pembaca.

Riset Kristofer Mehaffey, University of Florida tahun 2010 silam, menyatakan bahwa sedari awal kemunculannya, komik selalu menjadi medium yang digerakkan oleh iklan. Ibarat rangkaian program televisi, komik adalah jeda iklan yang muncul di tengah-tengah acara televisi, dan bukan acara televisi itu sendiri.

Ada masanya product placement dalam komik mengambil jatah satu halaman sendiri, seperti yang sering kita temukan dalam surat kabar dan majalah. Cara ini, sekalipun lebih mudah diterapkan karena pembuat komik dan pengiklan bisa mengabaikan konteks cerita secara keseluruhan, tetapi kurang disukai para pembaca. Mereka merasa seperti buang-buang uang saja: niatnya beli komik untuk hiburan, malah dapat iklan berlembar-lembar.

Jadi singkatnya, pembuat komik dan pengiklan punya dua pilihan. Pertama, menempatkan iklan produk atau merek di dalam bangunan cerita; kedua, menempatkan iklan produk atau merek di halaman terpisah. Cara pertama dinilai lebih efektif memikat minat pembaca, meski pembuat komik dan pengiklan harus bekerja ekstra menyusun konsep naratif yang berkelindan dengan produk atau merek yang ingin diiklankan.

Tantangan utama product placement dalam komik adalah bagaimana agar kemunculan sebuah produk, barang, atau merek, dapat menyatu secara inheren dengan semesta dan narasi utama komik itu sendiri.

Dalam menyiasati product placement dengan cerita komik, salah satu cara yang dilakukan oleh para pembuat komik adalah dengan potongan-potongan cerita pendek, atau yang juga kita kenal dengan istilah komik strip.

Tipe komik ini biasanya hanya sepanjang satu halaman dan terbagi dalam beberapa panel (biasanya 2-4). Contoh populer dalam beberapa tahun belakangan di Indonesia adalah komik tahilalats. Komik ini muncul di berbagai platform media sosial dan mampu menjaring banyak penggemar dalam waktu yang relatif singkat karena cerita-ceritanya yang lucu.

Baca Juga: Sponsored Content dalam Komik Strip

Selain itu, Tahilalats sanggup mengemas product placement menjadi sesuatu yang tetap dapat dinikmati bagi pembaca, tidak terkesan hard-selling.

Product Placement dalam Komik
(Dok. Komik Strip Tahilalats)

Apa kamu seorang kreator yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?