Pratiwi Juliani: “Tidak Tertarik dengan Satu Tema Menulis”

Pratiwi Juliani kali pertama mengirimkan naskah novelnya ke UWRF pada 2018 dan mendapat penghargaan sebagai salah satu Emerging Writer yang kemudian tulisannya lalu dibukukan dalam sebuah buku Antologi.

Ternyata, Pratiwi Juliani memulai semuanya dari sebuah toko buku kecil di Kalimantan Selatan. Ia sendiri, besar dengan membaca buku dan menulis. Maka itu, menulis dan membaca sepertinya sudah mendarah di perempuan yang baru saja meluncurkan buku novel pertamanya yang berjudul Dear Jane (diterbitkan oleh Comma Books).

Lewat surel, Crafters berhasil mewawancarai Pratiwi Juliani, menanyakan tentang kepenulisan menurutnya. Berikut wawancaranya.

Baca Juga: Dear Jane: Takdir Novel Pertama Pratiwi Juliani

Pratiwi Juliani: "Tidak Tertarik dengan Satu Tema Menulis"
(Dok. Comma Books)
Kapan dan apa yang membuatmu jatuh cinta dengan menulis?

Saya suka menulis sejak saya lancar membaca, barangkali usia awal sekolah dasar. Saya ingat, setiap hari saya menulis di buku diari. Dan kelas empat SD, saya sempat membuat beberapa majalah kecil yang ditulis tangan, yang kemudian saya minta orang tua dan kakak saya untuk membeli dan membacanya.

Siapa sosok yang mempengaruhimu secara besar dalam berkarya?

Saya dipengaruhi banyak hal hingga akhirnya sampai ke titik sekarang ini. Keluarga saya sangat besar pengaruhnya; ayah dan ibu saya gemar membaca dan memiliki banyak koleksi musik dan film, yang kemudian turut saya nikmati. Mereka juga sangat terbuka dalam membicarakan banyak hal. Saya kira itu yang menjadi dasar dari pemikiran saya, yang sekaligus tentu saja mempengaruhi tulisan saya.

Untukmu, 3 hal penting untuk bahan bakar menulismu?

Tiga bahan bakar untuk menulis? Membaca, mengamati, berpikir.

Bicara soal Dear Jane, kamu menghasilkan naskah novel ini dari sebuah kelas penulisan. Proses apa sih yang paling kamu nikmati saaat penggarapannya?

Khusus untuk Dear Jane, karena kelas menulis itu berjarak 3 jam perjalanan dari rumah, saya menikmati perjalanannya. Saya berangkat pagi hari, bertemu teman-teman di kelas kemudian, lalu progres kepenulisan kami didiskusikan, rasanya menyenangkan sekali. Saya dan teman-teman kelas itu masih terhubung hingga kini, dan setiap kali kami mengingat kembali akan kebersamaan waktu itu, rasanya kesenangannya masih sama, tidak berkurang sama sekali.

Banyak penulis yang membuat banyak karya namun bermuara pada satu tema. Untukmu sendiri, apa sih tema yang ingin kamu angkat dan mengapa?

Saya tidak tertarik dengan satu tema. Saya lebih senang terbuka terhadap apa pun, karena sesuatu yang baru rasanya selalu terasa lebih menyenangkan untuk digali.

 

Pratiwi Juliani: "Tidak Tertarik dengan Satu Tema Menulis"
(Dok. Instagram @thecommabooks)
Saya tidak tertarik dengan satu tema. Saya lebih senang terbuka terhadap apa pun, karena sesuatu yang baru rasanya selalu terasa lebih menyenangkan untuk digali.
Untukmu ke depannya, apakah kamu akan memprioritaskan dalam menulis novel/kumcer/ bentuk lain?

Saya sudah selesai menulis dua novel; satu panjang dan satu pendek. Yang pendek, direncanakan akan rilis di Comma dan KPG musim depan. Bercerita tentang kehidupan para buruh kasar di sebuah pekerjaan jalan di delta (tepian laut). Semua tokohnya laki-laki.

Baca Juga: Boy Candra: “Saya yang Membuat Peta. Bukan Ikut Peta yang Ada”

Apakah Atraksi Lumba-Lumba (buku kumcer yang terbit sebelum novel Dear Jane) memiliki andil dalam penulisan naskah Dear Jane? Boleh diceritakan soal ini?

Atraksi Lumba-Lumba sama sekali tidak berkaitan dengan Dear Jane, baik tema, nuansa maupun isi. Dear Jane bahkan sebenarnya ditulis satu tahun sebelum Atraksi. Ini dua karya yang benar-benar berbeda.

Apakah pesan yang ingin kamu sampaikan pada para penulis yang saat ini masih berusaha menerbitkan bukunya?

Pesan saya untuk para penulis yang tengah berusaha menerbitkan bukunya adalah; terus berada dalam jalur kompetisi kepenulisan yang sehat. Jika memang belum lolos seleksi penerbit, itu berarti tulisan kita memang belum layak. Pahami bahwa penerbit telah memiliki standar, dan tugas kita adalah melampaui standar itu. Sebab dari sanalah bakat kita akan terasah. Penulis yang baik tidak dibidani oleh pujian, tapi ditajamkan oleh sikapnya yang terbuka terhadap kritik dan mau belajar.

 

Kamu seorang desainer yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?