Norman Erikson Pasaribu: Puisi dan Penghayatan Spiritual dalam Sergius Mencari Bacchus

Norman Erikson Pasaribu: Puisi dan Penghayatan Spiritual dalam Sergius Mencari Bacchus
(Dok. Goodreads)

Hubungan saya dengan puisi agak rumit. Sebagai seseorang yang menghabiskan waktu mempelajari karya sastra untuk mendapatkan nilai bagus di bangku perkuliahan, puisi seolah menjelma polisi tidur yang menyembul keluar di jalan tikus waktu malam. Tiba-tiba ia ada untuk membuat hari-hari saya di bangku kuliah semakin sulit; saya harus memahami meter dan rhythm; harus memutuskan puisi itu termasuk feet yang mana; belum lagi harus mencacah konteks apa yang tengah diperbincangkan puisi tersebut.

Puisi itu susah. Titik. Tapi pandangan itu mulai berubah semenjak saya selesai berkuliah. Saya mulai kembali mengunjungi cabang kepenulisan itu dan berkenalan dengan beberapa puisi yang akhirnya berdiam dalam kepala, salah satunya adalah puisi-puisi karya Norman Erikson Pasaribu. Setelahnya, saya jatuh hati. Lewat buku Sergius Mencari Bacchus, Norman Erikson Pasaribu berhasil menarik minat saya untuk mengetahui lebih banyak lagi hal mengenai puisi dan menilik kembali isu-isu yang disisipkannya.

Bicara soal Sergius Mencari Bacchus, buku kumpulan puisi ini menang penghargaan Sayembara Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta (2015) dan termasuk salah satu kandidat dalam daftar Kusala Sastra Khatulistiwa 2016.

Baru-baru ini Sergius Mencari Bacchus telah dialihbahasakan oleh Tiffany Tsao dan menarik minat pembaca internasional. Beruntung, saya berkesempatan untuk berkenalan dengan Norman beberapa waktu lalu dan mewakili Crafters, saya berhasil melakukan wawancara mengenai karya puisinya dalam Sergius Mencari Bacchus.

Baca Juga: Pratiwi Juliani: “Tidak Tertarik dengan Satu Tema Menulis”

Bagaimana sih cerita awalnya kamu tertarik menulis?

Ketika kecil, saya menemukan buku-buku yang saya suka dan sering berkhayal mengenai kehidupan para penulis. Saya terpana dengan kehidupan J. K. Rowling yang miskin, tetapi bukan dalam konteks bahwa ia sangat kaya sekarang. Namun bagaimana ia membesarkan anak perempuannya sendirian, bagaimana ia pergi ke kafe-kafe untuk menulis. Ketika kecil saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan ibu saya, karena ayah saya wartawan; ia tak pernah tak bekerja. Saya membayangkan ayah saya di sepatu J. K. Rowling, dan ini salah satu hal yang membuat saya ingin jadi penulis.

Buku apa saja yang mengangkat isu LGBTQ dengan sensitivitas yang tepat dan membuat kamu selalu termotivasi untuk menulis?

The Hunger Angel karya Herta Müller adalah salah satu buku yang paling saya suka. Saya mengunjunginya kapan saja saya merasa suntuk.Di buku itu kita bisa menemukan pergesekan antara politik mikro di kehidupan tiap insan dan politik yang skalanya lebih besar, yaitu konflik antar negara. Detail-detail kecil juga mengundang decak kagum sekaligus sedih: misalnya ketika novel itu menjelaskan sesama penghuni kamp saling berhubungan seks karena kebutuhan. Kemudian, bagaimana seseorang mesti menavigasi damba badaninya, ketika damba itu dilarang–bahkan dalam pembicaraan? Saya kira novel-novel Herta jadi kian penting dibaca kembali hari ini. Siapa mengatur tubuh siapa, dan kenapa?

Tantangan apa yang kamu hadapi saat proses kepenulisan sekumpulan puisi Sergius Mencari Bacchus?

Tidak ada. Saya pikir masa-masa saya menulis Sergius Mencari Bacchus adalah termasuk masa paling indah dalam hidup saya.

Dalam Sergius Mencari Bacchus, ada banyak unsur spiritualisme Nasrani. Bagaimana kamu melihat penghayatan spiritual sebagai medium mengungkapkan wacana yang kamu hadirkan?

Agar niscaya, pembebasan perlu bentuk. Contohnya, apa bentuk praktis ‘kesetaraan gender’? Dan bentuk ini dimanifestasi lewat imajinasi tentu saja, yang telah kita lama tahu adalah mesin realita. Kekristenan dalam Sergius Mencari Bacchus ada tidak hanya untuk dirayakan, tetapi diperiksa dan ditantang. Seperti kita tahu agama Kristen hari ini hampir selalu jatuh ke kubangan homo dan transphobia. Di berita bisa kita baca bagaimana Paus menginvalidasi identitas trans. Padahal, kalau kita pikir-pikir, trinitas (Tuhan yang tiga-persona) adalah Tuhan yang queer. Nah, sebagai bagian dari komunitas queer yang tumbuh dalam keluarga Kristen, saya merasa kekristenan perlu saya ‘ambil kembali’, setidaknya untuk diri saya sendiri dan teman-teman saya.

Norman Erikson Pasaribu: Puisi dan Penghayatan Spiritual dalam Sergius Mencari Bacchus
Norman Erikson Pasaribu (Dok. British Council)
Maksud lebih spesifik dari kata-kata itu adalah keadaan di mana menjadi queer berarti mobilitas emosional kita dibatasi. Bagaimana orang lain mengatur cara kita melihat, merasai, dan mengelola tubuh kita sendiri.
Sergius dan Bacchus merupakan nama yang merujuk pada dua Santo sekaligus martir. Masih berhubungan dengan wacana yang kamu hadirkan, adakah kritik soal penggunaan kedua nama tersebut dalam karyamu? Bagaimana kamu menanggapi respons tersebut?

Ada. Ada pembaca yang menyalahkan saya, mengapa memilih dua orang kulit putih sebagai judul buku, padahal keduanya orang Arab Kristiani pada masa pemerintahan Galerius. Keduanya harus masuk ke bawah tanah untuk beribadah, keduanya “ketahuan” dan dihukum mati. Kehidupan mereka mengingatkan saya kepada pengalaman sendiri dan pengalaman teman-teman saya sebagai queer yang tinggal Indonesia. Yang menarik dari asumsi pembaca tadi: Kekristenan punya wajah yang sangat putih, dan juga sangat kolonial. Namun, seperti kita tahu, asumsi kita menunjukkan cara pikir kita. Karena itu saya merasa baik kekristenan maupun cara berpikir kita–keduanya perlu didekolonisasi. Marianne Katoppo menulis soal ini di bukunya Compassionate and Free.

Wacana yang kamu hadirkan dalam karyamu terutama Sergius Mencari Bacchus merupakan sesuatu yang masih jadi perbincangan panas di Indonesia. Dengan kondisi tersebut, pernahkah kamu berpikir untuk menulis di bawah pseudonim? Mengapa?

Tidak pernah.

Dalam sebuah wawancara dengan media luar, kamu mengatakan jika hidupmu dan kaum Queer di Indonesia berada dalam sekitaran kata “tinggal” dan kita yang selalu dalam sebuah pencarian akan sesuatu. Menurut kamu, kapankah pada akhirnya kaum Queer negara kita telah menemukan sesuatu itu?

Maksud lebih spesifik dari kata-kata itu adalah keadaan di mana menjadi queer berarti mobilitas emosional kita dibatasi. Bagaimana orang lain mengatur cara kita melihat, merasai, dan mengelola tubuh kita sendiri. Ringkasnya: Kalau mau “tinggal”, silakan “sembuh”; kalau tidak mau “sembuh”, harus “meninggalkan”; kalau berkeras, nanti bisa dibikin “meninggal.” Sering ketika saya membuka soal pengalaman kekerasan yang berbasis orientasi seksual, pengakuan saya hanya bisa sepenuhnya dipercaya dan dipahami sepenuhnya oleh teman-teman yang juga queer, yang juga secara praktis mengalami apa yang saya alami. Teman-teman hetero saya tak sedikit yang hanya bersimpati tetapi miskin tindakan. Soalnya mereka tidak merasakan marahnya. Padahal ketika kamu dicekik dan temanmu diam, itu artinya dia setuju kamu dimatikan, ‘kan?

Ada tiga puisi yang membuat saya terpana: Inferno, Purgatorio, dan Paradiso. Ketiganya menyajikan rangkuman pergumulan. Bisakah kamu menceritakan sedikit mengenai ketiganya?

Ketiga puisi itu sebetulnya respon terhadap karya Dante, Divine Comedy. Kehidupan dan puisi Dante punya resonansi dengan kehidupan saya sendiri.Dan menarik bahwa Virgil, yang membimbing Dante sebelum Dante bertemu Beatrice, queer. Dan saya pun merasa hubungan yang dimiliki Dante dan Beatrice juga punya kualitas yang sebanding dengan yang saya alami dan saya lihat pada teman-teman saya.

Baca Juga: Joko Pinurbo: “Aku Menulis Puisi, Maka Aku Ada”

 

Norman Erikson Pasaribu: Puisi dan Penghayatan Spiritual dalam Sergius Mencari Bacchus
(Dok. Tilted Axis Press)
Adakah keinginan untuk membuat karya selain bentuk puisi di masa depan? Misalnya saja novel, esai, atau naskah film?

Tahun 2018 saya pergi mengunjungi Banggai dan sempat bertemu penyair Amalia Achmad dan juga main sebentar di rumah penulis Erni Aladjai. Perjalanan ini menjungkirbalikkan cara pandang saya soal menulis dan aktivisme. Sepanjang perjalanan singkat itu, saya mencatat dan ingin membagikan ingatan-ingatan saya, tetapi sampai hari ini masih bergulat dengan pandangan saya sebagai orang luar Banggai. Barangkali saya akan menerbitkan buku esai soal itu.

Siapa saja penulis yang tengah kamu gandrungi belakangan ini?

Baru-baru ini saya juga dikirimi kumcer Armin Bell, Perjalanan Mencari Ayam, dan senang sekali buku ini terbit. Saya juga menikmati novela Intan Ruhaeni, Arapaima, dan berharap lebih banyak lagi tulisan dari dia. Selain itu, Raisa Kamila dan para penulis perempuan seumuran saya menerbitkan kumpulan cerita dengan hibah dari Cipta Media. Saya belum baca bukunya, tetapi saya pikir bagus sekali kalau buku itu tersebar luas dan dibaca banyak orang.

 

Kamu seorang penulis yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?