Crafters

Portal konten yang fokus mengangkat beragam hal seputar industri kreatif. Mulai dari wawancara, laporan khusus, sampai tips dari para kreator yang berkarya di bidang seni, kebudayaan, bisnis kreatif, dan teknologi.

Melalui Crafters, kami ingin memberikan kontribusi untuk perkembangan industri kreatif di Asia Tenggara.

Dikelola oleh

Sign up to receive bi-weekly creative inspiration, delivered directly to your inbox!

Nadya Natasha : Menangkap Romantisme Lewat Lensa

Salah satu momen yang akan menciptakan kenangan manis seumur hidup adalah proses pernikahan. Maka itu, banyak pasangan ingin mengabadikan momen tersebut, secara spesial. Entah dalam bentuk foto, video, ataupun gabungan keduanya. Maka itu, tak sedikit juga pasangan yang mencari vendor fotografer atau videografer, agar prosesi itu bisa dikekalkan, untuk dikenang anak dan cucu mereka.

Alasan ini pula yang menyebabkan kini banyak anak-anak muda memilih bekerja sebagai fotografer lepas (freelance) yang menggarap foto-foto proses pernikahan; biasanya disebut sebagai wedding photographer. Potensinya sebagai profesi memang menjanjikan. Salah seorang yang menekuninya adalah Nadya Natasha.

Menurutnya, menjalani peran sebagai fotografer wedding selalu menyenangkan. “Gue melihat wedding itu indah banget. Selalu ada cerita baru yang bisa dinikmati,” ujar Nanas, sapaan akrab Nadya Natasha.

Baca Juga: Nicky Gunawan : Passion Seorang Fotografer Fashion

Nadya Natasha : Menangkap Romantisme Lewat Lensa
Nadya Natasha
Inti dari fotografi wedding itu adalah menangkap momen romantis

Nanas mengungkapkan kalau gaya fotografi wedding yang ia senangi adalah yang menonjolkan romantisme di antara kedua mempelai. “Gue lebih senang menangkap kemesraan mereka. I like it more touchy,” begitu ungkapnya.

Meski momennya pernikahan, menangkap atau memunculkan sisi romantis dari pasangan yang dipotret tetap menantang. Karena, menurut Nanas, mereka juga masih suka malu menunjukkannya di depan orang lain, yang mungkin mereka belum kenal baik, seperti fotografer.

Untuk itu, teknik yang biasa digunakan Nanas adalah menciptakan suasana santai dan tidak kaku, lewat cara memberikan beberapa pertanyaan seputar kisah percintaan pasangan terkait. “Ya kita ajak ngobrol biar loose gitu sih. Jadi mereka merasa nyaman sama gue. Intinya, biar enggak ada boundaries atau menghilangkan kecanggungan,” imbuhnya.

Jika batasan itu sudah teratasi, maka proses photoshoot jadi lebih lancar, dan romantisme yang ingin ditangkap kamera pun hasilnya lebih menonjol dan memuaskan buat kedua belah pihak. Tak hanya itu, prosesi foto pun jadi satu cerita romantis tambahan buat si pasangan; seperti pengalaman yang dialami Nanas berikut ini:

“Gue enggak bakal lupa (sama cerita ini) sampai gue mati. Bayangin, ketika harus foto prewedding, tapi couple itu habis berantem besar. Dari awal (sesi foto), muka mereka kelihatan bete banget. Kayak ‘boleh senyumnya enggak’ gitu udah enggak dapat. Mereka udah benar-benar sembap, saling marah satu sama lain. Sampai ada satu titik, di mana gue bilang ‘ya udah enggak usah lihat-lihatan, kalian pelukan aja’. Lalu yang awalnya si cowok itu meluknya (sambil) bete, ceweknya juga kayak gitu, tapi lama-lama mereka carried away sendiri. Terus dari awal yang gue foto-foto, akhirnya gue tinggalin mereka. Karena mereka perlu momen itu,” kisah Nanas

“Itu sih pengalaman menariknya. Karena mereka yang tadinya saling melihat mata aja enggak mau, sampai akhirnya akur sendiri. I took a few shot saja, karena gue merasa mereka perlu waktu privacy,” kata Nanas menambahkan, tentang pengalaman menarik yang pernah dilaluinya.

Dari cerita Nanas itu, jelas bahwa fotografer wedding punya peran sangat penting untuk menciptakan momen (dan bahkan cerita) romantis buat pasangan yang bekerja sama dengan mereka. Walaupun mungkin awalnya fotografer hanya membuat satu cerita romantis untuk keperluan foto saja, tapi di sisi lain cerita itu bisa juga membangkitkan perasaan romantis yang alami dari pasangan yang dipotret.

Tantangan menjalani profesi sebagai wedding photographer

As a woman especially. Karena beda tantangannya ketika lo wedding photographer atau videographer laki-laki, karena sekitar 97 persen mungkin pelaku di industri ini adalah laki-laki. Tantangannya at some point, gue merasa direndahkan,” ujarnya.

Tapi, bagi Nanas, tantangan itu tidak lantas membuat dirinya merasa down. Ia justru menjawab tantangan itu dengan memberikan pembuktian bahwa walau dirinya perempuan, tapi karya miliknya tetap bisa diperhitungkan. “Not necessarily foto gue itu bagus, gue enggak mau cepet puas, itu masih longway to go to that. Tapi gue tahu at least karya gue ada di standar profesional. Bisa dijual,” kata Nanas dengan penuh semangat.

Dirinya juga tidak mau ambil pusing ketika ada orang lain yang meremehkannya. Karena Nanas sendiri bisa membuktikan bahwa foto miliknya merupakan karya yang memang bagus dan disukai banyak orang.

 

 

Nadya Natasha : Menangkap Romantisme Lewat Lensa
In frame, Cherry dan Ridy, salah satu karya fotografi Nadya Natasha
Jangan sampai ketika cari referensi, malah menjadi sosok yang enggak punya identitas, enggak punya touch of yourself
Tips menjadi wedding photographer

Sama dengan fotografer di bidang lain, menjadi wedding photographer bukanlah pekerjaan mudah; karena dibutuhkan ketekunan dan komitmen dalam menjalaninya agar dapat terus bersaing di industri yang sedang berkembang pesat ini.

“Latihan mata dengan cara rajin motret aja. Enggak harus bawa DSLR kemana-mana juga; pakai kamera handphone terus ambil foto-foto wherever you go, I think. Karena kalau enggak gitu, mata enggak terlatih,” kata Nadya Natasha mengenai tips pertama menjadi seorang wedding photographer.

Selain itu, cara lain untuk bisa terus bertahan di industri ini adalah dengan memperkaya referensi. “Referensi untuk tahu mana yang disukai atau enggak. Mana yang menurut kita bagus, mana yang enggak. Tapi jangan sampai ketika cari referensi, malah menjadi sosok yang enggak punya identitas, enggak punya touch of yourself,” ungkap Nanas melanjutkan.

Baca Juga: Timur Angin : Jadilah Fotografer yang Rendah Hati

Salah satu cara untuk bisa terus berkembang sebagai wedding photographer adalah tidak cepat merasa puas dan selalu ingin belajar. Hal ini pula yang sedang dikejar oleh Nanas. Dirinya punya cita-cita untuk melanjutkan S2 jurusan Film and Photography Studies di Universitas Leiden, Belanda. Selain itu, Nanas juga tidak menutup kemungkinan untuk bekerja sama fotografer lain, karena baginya ilmu bisa didapat dari mana saja.

Dan lebih lanjut, rencana jangka panjangnya adalah ingin menjadi akademisi di bidang fotografi. “Pengen ngajar. Karena di sini praktisi sudah banyak, tapi akademisinya masih kurang,” ungkap Nanas menutup obrolan.

 

 

Nadya Natasha : Menangkap Romantisme Lewat Lensa
Karya fotografi Nadya Natasha
August 24, 2018
Tips Influencer: Menulis Sponsored Content Sesuai Personamu
Bagaimana sih menyiasati rangkaian sponsored content yang gitu-gitu aja? Jangan sampai kredibilitas kita sebagai...
August 31, 2018
Memahami Cara Menulis Konten Native Advertising yang Baik
Bagaimana cara menulis native advertising atau sponsored content yang bisa mengambil hati kedua belah...