Nadiyah Rizki & Astro Ruby: Spesialisasi Desainer dan Ilustrator Selalu Mengungguli Generalisasi

Dunia yang sekarang adalah dunia yang mengandalkan kekuatan gambar. Hidup di dunia yang semakin mengandalkan visual sebagai medium penyampai pesan seperti sekarang, para pekerja yang menekuni dunia visual jadi profesi primadona. Semua lini dan industri seolah berebut ingin mempercantik dan memberikan dampak lebih dengan menyertakan gambar di materi promosi serta edukasi mereka. Mereka tahu, melalui visual yang tepat, akan lebih banyak audiens yang  mampu mengingat dan menyerap informasi yang disampaikan.

Meski demikian, yang kerap luput dari pemikiran orang banyak adalah betapa banyaknya jenis pekerja yang menekuni dunia visual. Ada seniman komik, ilustrator, desainer grafis, dan lain sebagainya. Saking banyaknya, umumnya orang awam akan menganggap semuanya sama; sama-sama berkutat dengan komputer, sama-sama menghasilkan gambar. Padahal ada perbedaan mendasar yang harus diketahui banyak orang agar mereka bisa memilih tipe visual mana yang lebih tepat untuk menyampaikan pesan, utamanya jika dihadapkan dengan ilustrasi atau desain grafis.

Dalam perjalanan saya menyelami dunia visual dan menggali apa saja perbedaan desain visual dan ilustrasi, saya mengikuti beberapa akun ilustrator yang karya-karyanya tengah naik daun belakangan ini. Dua di antaranya; Nadiyah Rizki Suyatna dan Antares Hasanbasri (@astro.ruby di Instagram), memiliki kekuatan visual yang mampu membuat bahkan saya yang tidak familier dengan dunia desain ingin segera mengambil pensil warna dan mulai menggambar. Keduanya cukup sering menampilkan karya yang tak hanya inspiratif, tapi juga kritis akan cepat tanggap terhadap isu yang berkembang.

Nadiyah Rizki Suyatna sendiri adalah seorang freelancer illustrator/comic artist yang tinggal di Bandung. Melalui kecintaannya terhadap gaya penceritaan visual yang terus berkembang, gadis ini membuat karya visual yang mudah dicerna, kritis akan isu yang tengah berkembang, tapi tetap dekat dengan keseharian banyak orang. Nadiyah aktif membagikan karyanya di laman Instagram dan website-nya.

Baca Juga: Ilustrator dan Desainer Grafis, Apa Sih Bedanya?

Nadiyah Rizki & Astro Ruby: Spesialisasi Desainer dan Ilustrator Selalu Mengungguli Generalisasi
Nadiyah merespon isu kabut asap (Dok. Instagram/nadiyahrs)

Sementara itu, Antares Hasanbasri adalah seorang seniman asal Yogyakarta yang beberapa waktu lalu bekerja sama dengan Google menampilkan karikatur Chrisye saat peringatan ulang tahun ke-70 penyanyi tembang “Lilin-lilin Kecil” tersebut. Tak hanya itu, Antares juga pernah mendesain ilustrasi skandal laporan keuangan Garuda Indonesia. Mengunjungi laman Instagramnya, kamu akan melihat banyak ragam ilustrasi yang inspiratif.

Demi mengetahui dunia desain lebih mendalam, mewakili Crafters, saya menghubungi Nadiyah Rizki Suyatna dan Antares Hasanbasri untuk berbincang mengenai perjalanan mereka menekuni dunia visual, proses berkarya, inspirasi, komentar terhadap iklim politik tanah air, hingga tantangan yang dihadapi ilustrator. Berikut wawancaranya.

Apa yang membuat kamu ingin menekuni dunia ilustrasi dan desain?

N: Dulu iseng-iseng unggah gambar di media sosial, lalu ketemu komunitas art twitter yang betul-betul suportif dan inspiratif. Saya juga semakin sadar soal kekuatan ilustrasi sebagai alat untuk membentuk narasi dan membangun solidaritas.

A: Selain karena kesenangan pribadi, menggambar ilustrasi maupun desain menjadi alat saya bersuara atau menyampaikan pesan maupun perasaan.

Jika diminta untuk menjelaskan, bagaimana sih prosesmu saat mendesain dan membuat ilustrasi?

N: Riset menurut saya penting, mulai dari nonton film, baca komik, berita, dan buku yang berkaitan dengan isu yang diangkat, sambil memikirkan thumbnail yang ingin digambar. Bagian ini sebetulnya paling menyenangkan karena bisa belajar banyak hal baru, tapi paling memakan waktu dan menguras kerja otak. Selanjutnya bikin lineart dan mewarnai, yang menurut saya lebih ‘nguli’ dan butuh emotional labor yang banyak karena biasanya di bagian ini saya mulai mempertanyakan kemampuan saya sebagai pekerja seni. Biasanya, supaya seimbang, saya mengerjakan beberapa proyek sekaligus dengan timeline pengerjaan yang berbeda.

A: Membaca seputar topik yang ingin dikaryakan sebanyak-banyaknya. Kemudian mencari keyword dan brainstorming ide dan sketsa. Selain itu, mencari-cari referensi dari karya-karya ilustrasi maupun desain yang sudah ada juga penting.

Siapa atau apa yang menjadi sumber inspirasi serta mempengaruhi kamu dalam melahirkan sebuah karya?

N: Sejauh ini, saya banyak memusatkan karya saya pada perempuan-perempuan yang memberi saya inspirasi dan pantas mendapatkan apresiasi lebih. Misalnya, saya menggambar perempuan sebagai astronot, bidang yang didominasi laki-laki, atau prajurit estri; prajurit perempuan Mangkunegaran yang badass banget. Atau ada lagi karya yang diadaptasi dari cerita rakyat tentang Nini Anteh yang terbang ke bulan untuk menenun selamanya. Banyak sekali tokoh yang sudah menginspirasi saya dan saya harap dengan menggambar mereka bisa memberi inspirasi bagi perempuan lain juga.

A: Untuk saat ini, music video dari Weval berjudul Someday menjadi pendorong utama saya dalam mendalami dunia desain maupun ilustrasi. Video musik yang menggambarkan struktur-struktur bangunan dan kota memiliki pengaruh emosional yang selalu memotivasi untuk membuahkan karya-karya.

Menurut pandanganmu, apa sih perbedaan mendasar dari desainer dan ilustrator?

N: Kayaknya emang skillset-nya yang beda, ya. Saya sebagai ilustrator pun kewalahan kalau ada yang minta saya bikin kerjaan desain grafis kayak logo dan poster. Mungkin Antares yang latar belakangnya desain bisa kasih penjelasan yang lebih mendalam.

A: Desainer dan ilustrator sudah menjadi dua bidang yang saling bersinggungan. Seorang ilustrator bisa sekaligus menjadi desainer, pun juga sebaliknya. Menurut Saya pribadi yang berbasis seorang ilustrator, ranah desain sangat bermanfaat untuk merumuskan karya-karya ilustrasi untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu. Metode-metode yang berhasil dirumuskan oleh bidang desain yang diambil dari banyak disiplin ilmu lain seperti psikologi, matematika dan sosiologi sangat dapat diterapkan pada bidang ilustrasi. Perbedaan intuitif mengenai ilustrator dan desainer mungkin bagi saya ilustrator memiliki kebebasan yang lebih sembrono sedangkan desainer memiliki pakem serta metode-nya sendiri yang diagunakan sebagai garis bawah dalam berkarya.

 

Nadiyah Rizki & Astro Ruby: Spesialisasi Desainer dan Ilustrator Selalu Mengungguli Generalisasi
Karya Antares/ Astro Ruby untuk Tempo (Dok. Instagram/astro.ruby)

Apa pandanganmu terhadap spesialisasi vs generalisasi terhadap desainer dan illustrator?

N: Ini Antares aja yang jawab, ya, hehe.

A: Menurut saya pribadi, spesialisasi selalu mengungguli generalisasi. Spesialisasi memerlukan ciri khas dan kebaruan di dalam berkarya sedangkan generalisasi kasarnya hanya memerlukan kemampuan yang bersifat teknis atau nukang. Namun realitanya, sebagai pekerja kreatif sering kali kita dihadapi oleh realita yang membunuh idealisme. Tidak bisa selamanya bergantung pada spesialisasi dalam berkarir. Skill-skill lain-nya tetap terpaksa maupun tidak terpaksa harus dipelajari. Mungkin generalisasi bisa dinikmati sebagai proses menuju spesialisasi.

Belakangan ini, kebanyakan karyamu berkomentar terhadap iklim politik tanah air. Apa yang mendasarimu untuk lebih banyak mengangkat tema-tema tersebut?

N: Berbagi keresahan saja. Kalau rasa takut udah bersarang di kepala, nggak sehat juga dibiarkan. Ternyata banyak orang yang relate juga, jadi beban di kepala rasanya sedikit terangkat, karena setidaknya ada kontribusi ke pergerakan ini walaupun belum seberapa.

Dengan keputusanmu membuat karya yang menyentil iklim politik tanah air, adakah tantangan eksternal yang kamu hadapi seperti ketidaksetujuan beberapa orang dan sebagainya? Bisakah kamu menceritakan pengalamanmu?

N: Mungkin komentar-komentar netizen yang enggak enak, jumlahnya pun enggak banyak. Hahaha, tapi enggak apa-apa, sih. Saya cuekin aja.

Sebagai seorang perempuan yang berkarya di dunia visual, apa pandanganmu terhadap peranan perempuan dalam dunia desain?

N: Kalau di dunia visual selama ini, kan perempuan seringkali dijadikan objek yang ‘diamati’, makanya sampai saat ini kita masih menemukan banyak karya yang sarat akan ‘male gaze’ dan objektifikasi tubuh perempuan. Ketika perempuan memilih untuk berkarya dan menyampaikan gagasan visualnya, eksistensinya sebagai subjek dalam karyanya tidak hanya penting dalam menulis ulang narasi, namun juga dalam menantang male gaze dan patriarki. Perlu diingat juga bahwa ekosistem yang sehat memerlukan ruang yang inklusif dan representatif bagi semua: perempuan queer, perempuan adat, perempuan penyandang disabilitas, dan perempuan dari kelompok terpinggirkan lainnya.

Menurutmu apa yang menjadi tantangan seorang desainer dan lustrator di zaman sekarang, utamanya bagi seorang desainer dan illustrator perempuan?

N: Ilustrator itu rentan dieksploitasi klien, apalagi yang masih muda dan belum banyak tahu soal industri kreatif ini, seperti diri saya yang dulu (hehe). Untuk menjawab tantangan itu,  saya pikir penting sekali untuk berserikat (SINDIKASI contohnya) atau mencari agen. Sekarang saya direpresentasikan oleh Bright Agency US. Kalau kedua opsi itu belum tersedia, bisa selalu cari tahu tentang red flag klien yang tidak mau menghargai pekerja kreatif dan terus update soal pertimbangan menentukan rate pekerjaanmu. Di sinilah transparansi rate menjadi penting.

Kalau soal perempuan, tantangannya mungkin male gaze yang sudah disebut sebelumnya dan sulitnya menjaga rasa percaya diri, ya, kalau dari aku pribadi. Makanya komunitas dan mentorship itu penting sekali. Sejauh ini komunitas art twitter betul-betul wholesome dan suportif, nggak ada yang namanya sikut-sikutan, malahan saya sering sekali dapat pekerjaan dan berbagai macam dukungan dari sana.

A: Menjadi desainer dan ilustrator di zaman sekarang memiliki peran yang krusial terutama perannya sebagai penyampai narasi. Desain dan ilustrasi merupakan alat yang mematikan sekaligus bermanfaat untuk mencapai kepentingan-kepentingan tertentu seiring melek-nya masyarakat menikmati dan menggunakan karya-karya berbasis ilustrasi maupun desain.

 

Nadiyah Rizki & Astro Ruby: Spesialisasi Desainer dan Ilustrator Selalu Mengungguli Generalisasi
Karya Antares/ Astro Ruby (Dok. Instagram/astro.ruby)
Nadiyah Rizki & Astro Ruby: Spesialisasi Desainer dan Ilustrator Selalu Mengungguli Generalisasi
Karya Nadiyah Rizki (Dok. Instagram/nadiyahrs)

Adakah proyek di masa mendatang yang tengah kamu garap?

N: Lagi banyak proyek komik pendek yang mengangkat isu dan cerita Asia Tenggara.

A: Untuk saat ini belum bersedia menerima proyek-proyek dikarenakan mata kuliah yang sedang berat-beratnya, haha, juga karena belum ada yang menawarkan saja.

Baca Juga: Ardhira Putra: Pentingnya Konsistens pada Kebebasan Karya Personal 

Adakah saran yang ingin kamu berikan terutama untuk mereka yang ingin terjun ke dunia desain?

N: Isi portofolio dengan tipe karya yang ingin kamu kerjakan kedepannya. Jangan terlalu khawatir soal style, kamu akan menemukan suaramu perlahan-lahan. Kamu tetap seniman walaupun kamu punya day job, part time job, atau kerja lepas full time. Kamu tetap seniman kalau kamu bikin karya seni, terlepas kamu lulusan sekolah seni atau bukan. Kamu tetap seniman walaupun kamu bikin karya setahun sekali atau seminggu sekali. Jangan lupa istirahat dan stretching. Satu lagi: menggunakan referensi itu penting dan memudahkan proses kreatif, bukan perbuatan curang yang memalukan.

A: Menjadi ilustrator tidak mesti memiliki ijazah formal maupun pengalaman akademis, namun dalam berkarya tentu kemampuan untuk kritis serta memiliki pengetahuan yang luas akan sangat membantu dalam proses berkarya. Kemampaun teknis harus diseimbangi dengan pengetahuan teoretis.

 

Apakah kamu seorang desainer atau ilustrator yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?