Mohammad Taufiq (Emte): Bicara Lewat Komik Bisu dan Karakter Si Gugug

Rasanya kita tidak pernah bisa menebak hal/karya selanjutnya yang akan dibuat oleh Mohammad Taufiq atau yang lebih dikenal dengan Emte. Ilustrator lulusan IKJ (DKV) ini sangat produktif dan terus membuat siapapun yang melihat karyanya kagum dengan keuletannya dalam berkarya, terutama ilustrasi. Menguasai banyak sekali medium dalam seni ilustrasi tidak membuatnya lelah mencoba sesuatu yang baru.

Sebelumnya, kita melihat karya Emte kebanyakan terpampang dalam bentuk ilustrasi editorial atau sampul buku beberapa penulis best seller seperti Sophie Kinsela. “Waktu itu, kayak ditantang dari pihak penerbit. Sampai kapan Te mau bikin sampul buku? Enggak mau bikin buku sendiri yang lo banget?”, cerita Emte sembari tertawa saat wawancara dengan Crafters. Datang mengenakan kaus berlambang Sprite, entah sengaja atau tidak, ia memesan minuman yang matching dengan kausnya tersebut.

Dari “tantangan” yang membuatnya semangat, lahirlah sebuah komik bisu yang berjudul Gugug. Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, sebagai seniman visual, ilustrator dan desainer ini berhasil membuat publik menengok ke karya buku uniknya yang satu ini. Bicara panjang dan santai, Emte menjelaskan tentang perjalanan panjang si Gugug, karakter tokoh dari komik bisu yang baru saja ia luncurkan tersebut.

Mohammad Taufiq (Emte): Bicara Lewat Komik Bisu dan Karakter Si Gugug
Emte dan si Gugug di acara peluncuran buku "Gugug" (Dok. Crafters)
Formula yang Pas

Bagi ilustrator yang sudah lama berkecimpung di industri kreatif visual, ada satu pertanyaan yang sangat mengganjal. “Ini buku pertama Anda?” Berpikir cepat, ia kemudian menjawab, “Ya, ini buku pertama saya.”

Rasanya itu sudah bisa menjelaskan kenapa buku ini sangat besar antusiasmenya. Emte saat ini terhitung sebagai salah satu ilustrator senior yang jarang absen berkarya selama bertahun-tahun. Para penggemarnya sendiri sudah tahu betul teknik dan eksekusi yang bakal disajikan dalam bukunya.

Baca Juga: Emte & Nadya Noor: Langkah Visualisasi Teks dalam Ilustrasi Editorial

Peluncuran buku Gugug dilaksanakan di Ganara Art Space, Kemang. Acaranya tidak hanya berisi bincang dan diskusi tentang buku oleh kreatornya sendiri, namun juga pameran karya Emte yang memenuhi satu ruangan tersebut dengan apik.

Tidak hanya karyanya yang terpampang acak di tembok-tembok, Emte juga melengkapi dengan mural spontan dan patung karakter Gugug yang dipajang di tengah ruangan pameran.

Buku pertama Emte ini disebutnya dengan komik bisu. Dengan layout panel acak, ia menggambarkan banyak potret kota, suasana, dan mood dalam bentuk ilustrasi yang dikunjungi dengan sengaja atau tidak oleh Gugug, si karakter tersebut. Garis-garis Emte yang khas tidak enggan ia tampilkan maksimal di tiap lembar hitam putih komik bisu itu.

“Waktu bikin ini, kita mutusin untuk membuatnya dalam tampilan greyscale (hitam putih) saja deh, karena hitung-hitungan produksi jadi lebih murah. Jadi, pada akhirnya harga bukunya bisa terjangkau. Yang penting, bisa bikin orang bisa beli. Ya, bisa aja sebenernya bikin berwarna–keren, memang. Tapi, ya ngapain kalau enggak semua orang bisa beli karena harganya yang mahal?” jelas Emte yang baru saja mengikuti pameran Unknown Asia di Jepang.

Ternyata, Emte sendiri sudah ingin berkarya dalam bentuk buku sejak lama. Apa alasannya? “Dulu sebenarnya karena belum ketemu formula yang pas buat buku saya sendiri. Soalnya pengennya kalau bukunya sudah jadi, dia bisa berumur panjang. Tahun 2016 pernah sih ngeluarin coloring book for adults yang sempat ngetren. Setelah itu beberapa tahun kemudian udah enggak tren. Kalau komik, buat saya sih bisa lebih everlasting. Ceritanya bisa terus relevan,” ujarnya.

Setuju dengan Emte, bahwa karakter si Gugug yang berlari-lari dengan polosnya keliling kota, mengunjungi bagian kumuh di kota besar serta menjadi bagian dari skena yang ia ilustrasikan itu akan selalu relevan bagi yang membaca. Isu itulah yang mau diangkat Emte dalam komiknya.

 

Mohammad Taufiq (Emte): Bicara Lewat Komik Bisu dan Karakter Si Gugug
Karya Emte yang dipajang di Ganara Art Space (Dok. Crafters)
Lahirnya Komik Bisu dan Si Gugug

“Memutuskan membuat komik bisu aja keputusannya baru di akhir sebenarnya,” kata Emte. Seiring berproses dalam pembuatan komik ini selama bertahun-tahun, ia sudah banyak mencicil karyanya yang sekarang sudah dibukukan ini.

Jika bicara bentuk komik, Emte merasa bahwa elemen teks di dalam karya komik sedikit tidak pas dengan apa yang ingin ia sampaikan. “Waktu itu, saat saya baca tentang ‘apa itu komik’, ya memang gambar yang bertutur, dengan teks yang sifatnya membantu. Intinya kan memang gambarnya. Contohnya saja, pada Candi. Kita bisa melihat cikal bakal komik di sana. Dan kita bicara komik bisu, kan? Kita bisa menerka cerita dari gambar yang terpahat di sana,” jelasnya panjang lebar.

“Kalau pakai teks juga, saya takut semua seperti didikte untuk hanya memahami satu jalan cerita saja,” tegasnya. Namun, sebuah cerita pasti butuh benang merah dan ia sadar akan hal ini.

Emte mengaku bahwa dirinya senang menggambar apa pun dan telah nyicil menggambar skena-skena yang bisa kita temukan dalam komiknya itu sejak bertahun lalu. Untuk mengeneralkan semua gambar-gambarnya, ia menolak terpatok oleh satu jalan cerita yang punya risiko monoton. Dengan ide untuk menjadikan satu tiap-tiap panel komik pendek yang sudah ia buat, akhirnya muncullah benang merah yang selama ini sudah ditunggu-tunggu oleh Emte.

Benang merah dari semua karya yang telah dikumpulkan oleh Emte adalah karakter si Gugug tersebut. “Dia ada terus. Dia bisa menjadi penonton, bisa dia ikut andil. Saya juga kebayang kalau ini nantinya dibikin sekuelnya, ini bisa saya bawa ke mana-mana. Karakter Gugug ini fleksibel banget untuk saya menyampaikan pesan dalam buku saya,” jelas Emte.

 

Mohammad Taufiq (Emte): Bicara Lewat Komik Bisu dan Karakter Si Gugug
Eksplorasi Emte dalam karakter si Gugug (Dok. Instagram @emteemte)

Si Gugug sendiri disimbolkan Emte sebagai sikap tahan banting, anti-ngeluh dan selalu moving forward. “Ia menyimbolkan sesuatu yang menghadapi kebrengsekan dengan senyuman. Dan kenapa figur binatang? Menurut saya, binatang lebih bisa mewakili banyak sifat manusia. Kurang lebih kan sama, cuma katanya kita setingkat di atas mereka karena kita berakal. Padahal sebenarnya, kalau kita enggak memaksimalkan cara berpikir, kita kan sama saja dengan mereka. Tapi buat saya, mereka terlihat lebih tulus,” katanya sambil tertawa.

Baca Juga: David Farrier: Tidak Sepadan untuk Sekarat Jika Bisa Menghindarinya!

Terlebih lagi, ia juga menjelaskan bahwa jika ia melambangkan karakternya dengan manusia, ia merasa tidak semua manusia bisa terwakili dengan baik. Emte merasa keberatan jika harus memilih ras, daerah asal, atau latar belakang lainnya. Gugug ini adalah sebuah benang merah yang menyatukan semua pemikiran, imajinasi dan perasaan yang muncul saat kita membaca komik bisu itu. Karena mungkin pada akhirnya, relevansi isu yang diangkat oleh Emte tidak sesulit itu untuk dicari kenyataannya pada kehidupan kita sehari-hari, asal kita tidak menolak menengok sedikit lebih dalam.

 

Mohammad Taufiq (Emte): Bicara Lewat Komik Bisu dan Karakter Si Gugug
Buku "Gugug" karya Emte yang bisa dibeli di toko buku (Dok. Instagram @emteemte)