Misi Gila Vinyl Wahyu “Acum” Nugroho

Emile Berliner, penemu vinyl (piringan hitam) pasti tersenyum bangga dari alam baka sana, melihat ulah Wahyu “Acum” Nugroho yang gila vynil. Pada sebuah kios kecil yang terletak di gang kecil beraroma pesing di kawasan Poncol, Jakarta, Acum mencoba mengais tumpukan vinyl yang tak terurus.

Berbekal masker dan tisu basah, Acum membiarkan jari-jari tanganya dipenuhi debu, memilih satu demi satu “harta karun” yang ia dapatkan di daerah yang justru terkenal dengan berbagai kios yang menjual onderdil kendaraan dan pakaian bekas.

Sambil beberapa kali bersin akibat debu yang berterbangan, dan rehat sejenak akibat kelelahan, dari sekitar 200-an vinyl berukuran 7 inci yang ia pilah, Acum akhirnya berhasil membawa pulang puluhan vinyl berisi rekaman musik dari berbagai genre, mulai dari motown, pop, hingga mandarin.

Kegiatan Acum menyambangi kios kecil tadi hanyalah satu dari sekian cerita yang bisa dibaca di portal gilavinyl.com, sebuah situs yang dibuat Acum, dan ditujukan untuk siapa saja yang mempunyai ketertarikan pada rekaman musik di media piringan hitam.

Berlatar belakang jurnalis, Acum yang kini menjadi Creative Writer di Malesbanget.com ini memilih website sebagai media yang tepat untuk berbagi kecintaannya terhadap vinyl, pada lebih banyak orang. “Karena website ini free dan lebih tepat sasaran,” ungkap mantan Managing Editor majalah Trax ini.

Acum sendiri bukan orang baru di dunia musik. Ia merupakan personil band Bangkutaman yang sudah terbentuk sejak 1999, dan telah melahirkan berbagai single seperti Pekerja (2016) dan Ode Buat Kota (2017).

Dan sejak akhir 2013, Acum dibantu beberapa temannya yang turut menjadi penulis kontributor, terus menjaga gilavinyl.com agar terus ter-update. The Crafters pun berbincang dengan Acum lebih jauh tentang dunia vinyl yang ia “gilai”.

Di mana letak keistimewaan vinyl, sampai bikin Anda kesengsem?

Alasan pertama, Pasti cover-nya yang punya bidang besar. Selain suara, gue juga suka dengan artwork vinyl. Karena bidang yang besar, artwork-nya jadi lebih kelihatan. Apalagi kalo buat tandatangan si artisnya. Kebayang kan kalau (hanya bidang artwork) kaset?

Alasan kedua, sudah pasti suaranya yang memang beda frekuensi kalo loe dengerin CD atau kaset. Ini memang enggak bisa gue jelasiin sih, loe harus coba sendiri!

Alasan ketiga, ada ritus-ritus yang hebat yang loe tidak bisa temukan kalau denger musik via kaset, CD atau digital music. Dari mengeluarkan vinyl dari sleeve-nya, siapkan amplifier, turntable, sampai naruh jarum di groove vinyl-nya. Itu gokil sih rasanya. Loe harus baca bagian chapter 1 di buku gue (Beberapa bulan lalu Acum meluncurkan buku #gilavinyl).

Lalu Anda membuat website tentang vinyl, apa tujuannya?

Awalnya, ini cuma jurnal gue saja sih, isinya tentang bagaimana gue cinta banget sama vinyl, nothing more.

Apa upaya Anda agar website itu dibaca orang banyak?

Gue share artikel-artikelnya ke media sosial. Plus gue juga buat hashtag #gilavinyl dan #jajanrock sebagai movement yang awalnya cuma buat gue saja, eh sekarang sudah dipakai sama banyak orang yang punya akun Instagram.

Anda sudah kenal vinyl sejak 12 tahun yang lalu. Kenapa baru menjalankan website-nya sekarang?

Ya karena gue baru ngeh kalo apa yang gue jadikan hobi ini sepertinya butuh dicatat. Gue tidak mau kayak Indonesia yang sepertinya lemah akan urusan pengarsipan dan dokumentasi sejarah.

Apa saja tantangan untuk mempopulerkan kembali vinyl?

Susah sih, khususnya menerangkan vinyl ke generasi millennials atau awam yang besar dengan mendengarkan musik digital, atau bahkan kaset saja mereka mungkin tidak tahu.

Tapi, dengan makin banyaknya orang yang tertarik mengoleksi vinyl, apa Anda merasa misi sudah mulai menunjukkan tanda keberhasilan?

Belum maksimal. Paling sekian kecil persen. Dan proses ini memang pelan-pelan sih, tidak bisa langsung menjadi tren.

Tapi tren bisa turun sewaktu-waktu. Bagaimana cara ideal untuk terus menikmati vinyl sehingga bukan ikut tren saja?

Do what you like saja terus. Lakukan ini jadi bagian dari jam biologis, kebiasaan serta jati diri loe. Kalau gue dengerin musik, ya salah satunya lewat vinyl.

Setelah menerbitkan buku, apa lagi rencana ke depan?

Saat ini sudah bisa talkshow tentang vinyl di sebuah radio dengan nama acara #ngobrolvinyl. Talkshow ini sudah 3 kali digelar, dan gue pengen lagi dan lagi, biar orang semakin tahu.

Terus mau lanjutkan merapikan web dulu, membuat YouTube series, tapi gue belum ketemu partner yang cocok, sampai keinginan membuat buku kedua

Sebutkan satu koleksi vinyl lo yang spesial?

Hmmm apa ya? Mungkin Fleet Foxes S/T, karena gue dapatkan dari hasil bidding di eBay, dan harus begadang biar dapat, hehehe