Minat Baca Indonesia di Mata Rukii Naraya

Riset UNESCO pada 2016 menyatakan kalau minat baca di Indonesia -dibandingkan dengan 61 negara lainnya- tergolong sangat rendah. Indonesia duduk di peringkat tiga besar dari bawah. Tepatnya di posisi ke-60. Hanya satu tingkat di atas Botswana.

Argumen yang kemudian muncul adalah kurang atau minimnya akses terhadap bahan bacaan, terutama di daerah rural yang jauh dari kebisingan kota. Tentu saja argumen ini masuk akal. Distribusi literatur yang tidak merata sudah menjadi problem klasik di Indonesia sedari zaman Belanda masih sibuk memasok dan memilah rempah nusantara. Tapi benarkah perkara akses menjadi satu-satunya penyebab?

Kini, bertahun-tahun usai Belanda minggat, minat dan kebiasaan membaca di tanah air tak juga meningkat. Ketersebaran buku masih jauh dari kata merata. Jangankan di daerah rural yang sulit terjamah moda transportasi. Di megapolitan raksasa dengan jumlah toko buku berlimpah sekalipun, buku belum bisa dibilang aksesibel.

Berapa kali kita mendengar berita tentang pembubaran lapak buku? Berapa sering kita menyaksikan buku-buku dibakar hanya karena dianggap “berbahaya”? Jika syahdan orang bijak sempat berujar bahwa buku ibarat jendela dunia, berapa lama lagi waktu yang kita butuhkan untuk sadar bahwa jendela kita tidak bisa dibuka?

Buku boleh jadi jendela dunia, namun fenomena ini tak ubahnya tembok yang memblokir cakrawala.

Crafters mencoba merespons peristiwa literatur ini bersama Tampan Destawan. Seorang pegiat komik panel yang akrab dengan sapaan Komik Rukii. Sembari membahas literasi, Desta juga berbagi kisah mengenai komik strip, fungsi komik sebagai pengantar doktrin yang jitu, termasuk stigma negatif terhadap komik yang jamak di mata masyarakat. Berikut obrolan kami di sela-sela kopi Sumba dan gonggongan Badi yang ternyata setengah husky.

Minat Baca Indonesia di Mata Rukii Naraya
Badi~

Bagaimana proses kreatifmu?

Sebelum bikin komik, berhubung kebanyakan komikku berangkat dari sebuah isu, aku akan cari tahu dulu tentang isu terkait. Misalnya ngomongin korupsi, aku akan riset dulu tentang korupsi. Begitu aku dapat ide ceritanya, aku akan mengkhususkan isunya lagi, kayak “mau ngomongin apa nih dari korupsinya”. Kemudian aku akan cari lagi data-data yang lebih spesifik sebelum memulai sketsa.

Kalau sketsanya udah ada, selanjutnya udah tinggal jalan aja.

Baca Juga Obrolan Crafters tentang Proses Berkarya bersama Rukii Naraya

Minat Baca Indonesia di Mata Rukii Naraya

Bicara seputar komik, masih ada saja anggapan bahwa komik itu bacaan buat anak-anak. “Ketuaan” buat dibaca orang dewasa. Menurutmu gimana?

Mungkin orang-orang yang beranggapan seperti itu enggak tahu, ya. Dalam artian mungkin mereka bukan pembaca komik yang intens. Mereka tahunya komik itu cerita bergambar, dan cerita bergambar itu kebanyakan yang baca tuh anak-anak.

Tapi selama aku ngomik, ada banyak pengalaman ketika aku pergi ke negara-negara yang memang dikenal sebagai produsen komik. Kayak ke Jepang misalnya. Di sana semua orang ya baca komik karena komik yang beredar juga beraneka ragam. Ada komik yang untuk anak kecil, ada yang untuk pembaca dewasa, ada macem-macem komik di sana.

Aku punya adik kelas semasa kuliah yang nulis artikel tentang “Pengaruh Komik terhadap Sepak Bola Jepang”. Mengingat hampir seluruh penduduk Jepang aktif membaca komik, komik pada akhirnya mampu berfungsi sebagai medium doktrinasi yang ampuh.

Banyak kan komik-komik jadul tentang sepak bola di Jepang yang bercerita bahwa Jepang itu kuat, bahwa pemain-pemain Jepang sebenarnya mampu berkompetisi di ajang internasional. Hal itu pada akhirnya mempengaruhi performa sepak bola Jepang sampai bisa tembus piala dunia, Itu pengaruhnya dari komik, lho.

Jangankan sepak bola. Bacaan komik bagi anak kecil juga kerap menanamkan nilai-nilai nasionalisme yang tinggi, yang pada akhirnya membuat sense of pride mereka juga kuat.

Selain itu, mungkin jika orang-orang itu tahu tentang proses dan perjuangan seorang pembuat komik, stigma negatif terhadap komik enggak bakalan ada.

Baca Juga: Bisnis Komik di Indonesia

Ketimbang mempertanyakan minat baca, kenapa kita tidak malah melakukan aksi nyata. Bawa buku lebih banyak ke daerah, misalnya. Perluas akses dan jaringan distribusi buku.
Minat Baca Indonesia di Mata Rukii Naraya

Boleh ceritakan sedikit tentang komik ini?

Secara garis besar, tentang buku. Sedangkan dalam spektrum yang lebih sempit, tentang komik. Panel awal menyinggung soal rasa takut. Banyak orang ketakutan sama buku dan pada akhirnya menciptakan stigma negatif terhadap buku-buku yang dianggap “berbahaya”. Padahal kan belum tentu. Malah bisa jadi orangnya belum baca buku yang dimaksud.

Misalnya buku soal marxisme. Banyak orang menganggap itu topik berbahaya. Bahkan ada yang mengaitkan Karl Marx dengan kapitalisme. Ini jelas orangnya enggak baca. Mereka parno aja dengan hal-hal kayak gitu.

Lalu, panel ini dan panel-panel setelahnya juga berkaitan erat dengan isu minat baca di Indonesia. Tiap tahun selalu dipertanyakan “mengapa minat baca di Indonesia lebih rendah dibanding negara-negara lainnya?”

Yang sebenarnya terjadi dan seharusnya dipertanyakan adalah mengapa justru akses baca dibatasi? Dan karenanya, pertanyaan seputar minat baca jadi tidak relevan lagi.

Ketika aku jalan-jalan ke daerah yang jauh dari pusat kota, aku sering melihat anak-anak dan warga yang senang membaca. Namun mereka terjegal oleh kendala akses. Nyari buku susah, enggak tahu mau beli di mana. Kalaupun ada, harga bukunya mahal.

Ketimbang mempertanyakan minat baca, kenapa kita tidak malah melakukan aksi nyata. Bawa buku lebih banyak ke daerah, misalnya. Perluas akses dan jaringan distribusi buku. Nah, komikku ini menyinggung soal itu.

Apakah kamu seorang kreator yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?