Mengupas Sebab Kreativitas

Bagaimana cara Anda menilai seseorang lebih kreatif dari orang lainnya? Atau pernahkah Anda berpikir bahwa pada saat Anda memikirkan orang tersebut kreatif atau tidak, di momen itu Anda juga sedang melakukan pemikiran kreatif yang tidak pernah terpikirkan oleh orang lain?

Lalu siapa yang lebih kreatif dari orang lain? Rasanya sama seperti menentukan mana yang lebih dulu ada, ayam atau telur?

Lantas apakah orang yang bekerja sebagai pekerja lepas atau kreator di industri kreatif sah untuk dinilai lebih kreatif dari teller bank yang bekerja dengan rutinitas sama setiap hari?

Belum tentu, karena setiap hari, manusia pasti mengeluarkan pemikiran-pemikiran kreatif, sesederhana pemikiran dalam hati seperti,”Kumis nasabah satu ini mirip sisir yang ada di pesawat” atau “Duh, panas banget, enggak ada karet rambut, oh, pakai gelang ini aja deh buat kuncir rambut” sampai ke sesuatu yang lebih menuntut pemikiran kreatif (menulis puisi, pidato, atau bahkan memikirkan “bumbu tulisan” untuk membuat artikel ini enak dibaca).

kreativitas 2

Otak Manusia X Kreativitas

Secara sains, lewat sebuah survei, www.scientificamerican.com menemukan bahwa orang-orang dengan tingkat kreativitas tinggi mempunyai cara kerja otak yang kerap terhubung dengan tiga sistem yang terdapat di otak manusia, yakni: jaringan awal, jaringan fungsi kontrol eksekutif, dan jaringan saliensi.

Jaringan awal adalah jaringan yang mengaktifkan pemikiran spontan (saat orang berkhayal, daydreaming, dan berimajinasi), sementara jaringan fungsi kontrol eksekutif berfungsi mengontrol fokus seseorang saat berpikir, memegang peran penting dalam mengevaluasi ide dan memodifikasi ide tersebut untuk mencapai gol kreatif yang diinginkan. Sedangkan jaringan saliensi bertindak menukar mekanisme antara jaringan awal dan jaringan kontrol eksekutif di mana jaringan ini memegang peranan penting dalam hal: menggerakkan ide dan mengevaluasi ide / menyaring rangsangan dari luar.

Meski ketiga wilayah tersebut tampaknya berhubungan dengan pemikiran kreatif, tapi hubungan yang lebih kuat ditunjukkan dengan lebih banyaknya aliran darah yang sekitar ketiga area tersebut.

Dalam penemuan ini pula ada indikasi bahwa otak kreatif setiap orang memiliki konektivitas yang berbeda-beda dan orang-orang kreatif biasanya lebih mampu mengaktifkan ketiganya, juga lebih dapat mengendalikan koneksi di otak mereka.

Pembentukan Kreativitas

Pastinya, ada faktor-faktor lain yang memengaruhi pembentukan kreativitas seseorang, yang cukup berpengaruh adalah faktor lingkungan, keluarga, dan pendidikan awal. Menurut Direktur Edukasi Ekonomi Kreatif Bekraf, Poppy Savitri, orang-orang Indonesia itu sudah kreatif sejak dulu.

“Orang Indonesia itu DNA-nya kreatif, karena begitu banyak suku bangsanya, banyak produknya. Seperti pada zaman dulu, orang menghasilkan produk berdasarkan kebutuhan kehidupan keseharian dan upacara adat istiadat mereka dalam memenuhi kebutuhan upacara yang terkait dengan life-cycle, sehingga dulu orang menciptakan sesuatu yang kreatif dengan makna filosofisnya. Jadi dalam tekstil misalnya, setiap corak atau warna yang digunakan itu ada nilai dalam hidupnya. Itu simbol-simbol semua. Tidak asal keren dan cantik, tapi ada makna di baliknya,” ujarnya.

kretivitas

Poppy juga setuju bahwa satu hal yang sangat berpengaruh dalam pembentukan kreativitasan ini adalah pendidikan dan keluarga. Ini juga erat hubungannya dengan cara guru dalam mengajar.

“Guru ngajar juga harus kreatif. Mengajari anak-anaknya agar mereka juga kreatif. Nah ini yang saya lihat ada kemunduran di pendidikan. Karena, saya sudah jarang sekali melihat guru mengajarkan muridnya untuk mendengarkan guru bercerita, kemudian muridnya harus menceritakan kembali apa yang diceritakan gurunya. Saya banyak melihat di TK-TK itu, lebih fokus mengajarkan Matematika, sebetulnya kan belum saatnya mereka menerima ini. Nah jadi, bagaimana kita berharap akan semakin banyak orang yang kreatif kalau pembelajarannya seperti itu?” urai Poppy.

Ketika sedari kecil seorang anak sudah mendapatkan banyak tuntutan, dan sudah diharuskan berbagai hal, akan sulit bagi anak tersebut untuk menjadi diri sendiri, melakukan apa yang sebenarnya mereka suka.

“Saya mengalami sendiri, bagaimana guru-guru itu, hanya banyak menghargai murid-murid yang nilai rapornya bagus. Hanya akademis yang bagus tapi anak yang skill-nya bagus masih kurang dihargai di sekolah. Bahkan orangtuanya juga begitu. Yang penting rapornya harus bagus,” ujarnya lagi.

``Ketika dari kecil seorang anak sudah mendapatkan banyak tuntutan, akan sulit bagi anak tersebut untuk melakukan apa yang sebenarnya mereka suka. ``

Peran Keluarga

Selain di sekolah, keluarga juga memegang peranan penting dalam hal ini. Seringkali sebagai orang tua, anak-anak yang punya sisi kreatif kerap kali dilarang melakukan hal-hal yang mereka suka. Misalnya, sang anak suka mencorat-coret, sebaiknya jangan dilarang tapi ingatkan saja bahwa dia tidak boleh corat-coret tembok, tapi boleh corat-coret di kertas.

Hal ini berbeda dengan apa yang dirasakan oleh pendiri dan Creative Director Table 6, Fandy Susanto, ia terlahir dari keluarga yang tidak punya latar belakang kreatif namun menurutnya, karakter dirinya sendirilah membentuk dirinya menjadi stand out dan kreatif dan keluargalah yang juga berperan membentuk karakter dirinya ini.

“Sebenarnya saya bukan orang yang kreatif-kreatif banget. Tapi saya itu orang yang lebih sensitif, peka dengan apa yang terjadi di dalam lingkungan saya,” ujarnya.

Baca juga: Meniti Karier di Industri Kreatif: How To Tell Your Parents?

Fandy yang terlahir sebagai anak kembar tentu punya pola pikir yang berbeda, yang satu berpikir dengan cara rasional dan satunya lebih kreatif.

“Saya rasa saya kebagian yang ada side kreatif. saya lebih sensitif dan peka terhadap lingkungan. itu yang membuat saya ingin membuktikan diri saya. Saya sekolah di luar negeri dan membuka mata saya, oh, tenyata ada dunia yang kreatif, bukan soal intelektual saja. Dulu saya kuliah visual komunikasi di Australia. saya enggak pernah dilarang oleh keluarga saya. Malah rasanya dengan individu saya sendiri,” ujarnya.

Tak jarang, faktor agama dan keyakinan juga berpengaruh dalam pembentukan pola pikir kreatif seseorang. Fandy yang terlahir dari keluarga yang religius sempat mengalami dilema ketika dihadapkan pada studi anatomi yang mengharuskannya untuk melakukan live drawing alias nude live painting.

“Dengan latar belakang keluarga yang religius, saya seharusnya menentang, tapi saya juga sadar penuh dengan panggilan saya sebagai pekerja seni. Akhirnya saya melakukannya. Seperti religion, saya memutuskan itu. desain dan art adalah sesuatu yang paling pure. itulah kenapa saya menganggap desain adalah agama saya,” ujar Fandy.

Saya pun menanyakan hal yang sama dengan pertanyaan pada Poppy, seperti apa Fandy melihat mindset orang Indonesia akan pembentukan kreativitas ini, ia pun menjawab, “Waktu masih muda, perbandingannya pasti tentang intelektual. Kebobrokan edukasi indonesia yang membuat kita selalu berpikir kalau orang kreatif itu tidak pintar.”

“Tapi saya percaya kalau semua orang punya perbedaan,” pungkas Fandy menutup perbincangan.

Foto: Allef Vinicius, Alice Achterhof on Unsplash