Mengenal Poster Propaganda dan Perjalanannya di Indonesia

Pernah melihat poster propaganda? Lantas apa beda propaganda dengan provokasi? Propaganda secara umum dapat diartikan sebagai rangkaian pesan yang bertujuan untuk memengaruhi pendapat dan perilaku sekelompok individu. Dengan demikian, pesan atau informasi yang terkandung di dalamnya tidaklah bersifat objektif.  Ada upaya untuk membentuk persepsi, bahkan memanipulasi secara mendasar, sehingga pada konteks tertentu propaganda tak ubahnya sebuah provokasi.

Dalam perkembangannya, definisi propaganda mengalami pergeseran makna ke arah yang lebih buruk. Kata “propaganda” sendiri kian terasosiasi dengan “berita palsu”, “informasi sesat”, atau bentuk-bentuk peyoratif lainnya. Tidak salah memang, namun tidak sepenuhnya benar juga. Tidak ada batasan baku yang mampu memisahkan “propaganda” dengan “provokasi”. Lantaran keduanya sama-sama bertujuan untuk mengendalikan persepsi khalayak umum.

Mengenal Poster Propaganda
(Dok. Hendrik Pieck)

Indonesia, sebagaimana banyak negara lainnya di dunia, mengenal propaganda lewat medium poster. Poster-poster propaganda banyak berseliweran semasa Perang Dunia II. Banyak diantaranya menyerukan tema tentang perlawanan sipil terhadap agresor. Di Indonesia sendiri, poster-poster propaganda lahir dan berlipatganda di ruang-ruang publik pada era penjajahan Belanda dan Jepang.

Poster-poster ini muncul dan berhasil menggugah perhatian massa. Memicu reaksi dan aksi berkelanjutan. Indonesia mulai akrab dengan medium poster di zaman kolonial. Kira-kira kisaran abad ke-18, saat pemerintah kolonial sedang asyik menyebar pelbagai pemberitaan via poster. Misalnya poster untuk kebutuhan perdagangan, lowongan pekerjaan di pemerintahan, informasi wisata, tidak terkecuali dalam merekrut bakal perwira KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger).

Sebaliknya, penggunaan poster-poster propaganda dari kalangan bumiputra diinisiasi oleh golongan pemuda terpelajar dan cendekia anti-penjajahan. Termasuk diantaranya beberapa seniman. Baik itu yang berkarya sebagai individu maupun mereka yang terhimpun dalam kelompok-kelompok kesenian seperti Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi), Seniman Muda Indonesia (SIM), juga Pusat Tenaga Pelukis Indonesia (PTPI).

Mengenal Poster Propaganda
(Dok. Poster Propaganda Era Kemerdekaan - Istimewa)
Mengenal Poster Propaganda
(Dok. Poster Propaganda Era Kemerdekaan - Istimewa)

Sebagai karya seni visual, poster propaganda terbilang cukup unik. Ia tidak selalu berorientasi pada aspek-aspek estetis. Bukan berarti poster propaganda bebas mengabaikan estetika visual lho ya, namun dalam praktiknya, kekuatan utama dari poster propaganda adalah muatan konteks sosial yang relevan dengan kondisi masyarakat kontemporer.

Poster Boeng, Ajoe Boeng! karya kolaborasi penyair Chairil Anwar dan pelukis Affandi pada 1945 silam bisa dijadikan contoh. Poster tersebut menggambarkan rupa seorang pemuda yang tengah menggenggam bendera merah putih sembari memutus rantai di tangannya, disertai teks “Boeng, Ajoe Boeng!” sesuai judul. Tampak begitu sederhana dan tidak bertele-tele. Sepintas tidak ada yang spesial dengan poster itu sendiri. Akan tetapi,  kesederhanaan visual dan teks yang sedemikian rupa berhasil menggetarkan khalayak ramai, lantas mendorong mereka turun ke jalan untuk menentang kolonialisme di Indonesia. Sekali lagi: konteks sosial.

Mengenal Poster Propaganda
(Dok. Affandi & Chairil Anwar, 1945)

Prinsip ini masih terus berlaku hingga sekarang. Di zaman modern, kita mengenal sosok Banksy, seniman visual yang populer akan karya-karya muralnya sejak tahun ’90-an. Kekuatan Banksy, lagi-lagi seperti banyak seniman propaganda lainnya, terletak pada kontekstualisasi sosial masyarakat kontemporer. Alih-alih menyertakan teks, ia lebih bermain-main lewat preteks bernuansa satir, yang dalam hal ini adalah dimensi ruang di mana karyanya terpampang, yakni pada ruang-ruang publik.

Tidak jarang ia dikritik sebagai seniman vandal yang merusak properti umum, dan karenanya tidak layak dijadikan sebagai panutan dalam berkarya. Akan tetapi mustahil pula menampik kenyataan bahwa karya-karyanya memberi pengaruh besar terhadap masyarakat luas. Salah satu karyanya yang paling fenomenal adalah penggambaran Yesus sedang menggenggam bingkisan natal. Karya ini terang-terangan menyindir obsesi konsumerisme manusia di masa hari raya natal, ketimbang memperingati nilai maupun makna dari hari raya natal itu sendiri secara instrinsik.

Mengenal Poster Propaganda
)Dok. Banksy)
Poster propaganda bertujuan untuk membentuk opini, bahkan memanipulasi persepsi khalayak umum secara mendasar.

Singkatnya, propaganda merupakan metode yang ampuh untuk menarik perhatian dan membentuk persepsi masyarakat luas. Seorang seniman propaganda memerlukan pemahaman kuat mengenai konteks sosio-politik maupun sosio-kultural sebagai bekal kreatif dalam berkarya. Semakin kuat sebuah propaganda, semakin besar pula dampak sosialnya.

Apa kamu seorang desainer yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?