Leonard Theosabrata: Keluar dari Tempurung “Asyik Sendiri”

“Tujuh puluh persen pemenang lotre berakhir dengan kebangkrutan,” tulis sebuah artikel. Menurut Steve Lewit, CEO Wealth Financial Group di Chicago, pada tulisan itu, hal tersebut terjadi karena para pemenang merasakan euforia. “Mereka kemudian kehilangan kesadaran dan berpikir sudah jadi manusia kuat, seperti Superman,” ungkap Steve.

Euforia semacam itu memang godaan besar yang bisa menjerumuskan seseorang dalam keadaan yang tidak diinginkan. Maka itu pula, euforia jadi hal yang dihindari entrepreneur Leonard Theosabrata dalam menjalankan Indoestri, makerspace yang ia buat untuk jadi tempat berkarya para perajin kreatif. Sudah dua tahun kegiatannya itu berjalan, dan mendapatkan respon positif dari berbagai pihak.

Namun ia tidak mau merasa euforia atau sudah kuat. Berbagai langkah strategis terus ia lakukan, termasuk bekerja sama dengan pemerintah daerah DKI Jakarta dalam pembuatan Jakarta Creative Hub (JCH), coworking space yang resmi beroperasi beberapa waktu lalu di lantai 1 gedung Graha Niaga Thamrin, Jakarta Pusat.

Simak obrolan The Crafters dengan Leonard tentang JCH, Indoestri, dan industri kreatif Indonesia berikut ini:

Apa sebetulnya peran Indoestri di JCH?

Indoestri bertindak sebagai konsultan di tahap pembangunan, dan kalau lancar bakal jadi operating partner bersama dengan Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional) Jakarta.

Ini merupakan bentuk pengembangan bisnis, sekaligus visi dan misi Indoestri. Selama ini, kami lebih merupakan inisiatif pribadi, hingga ibaratnya seperti “asyik sendiri”. Setelah cukup independen dan punya stand point serta branding yang jelas, sekarang kami mau lebih keluar, berkolaborasi dengan pihak lain.

Punya stand point dan branding jelas ini penting, karena ketika ingin berkolaborasi dengan pihak lain, kita bisa menilai, apakah punya visi dan misi yang sama. Kalau kita sendiri tidak terang soal visi dan misi sendiri, kolaborasi tidak akan berjalan dengan baik.

Apa yang melandasi keputusan bekerja sama dengan Pemda terkait hal ini?

Saya melihat keseriusan Pemda DKI Jakarta soal ini. Saya minta mereka datang, dan mereka datang. Kalau saya yang disuruh datang ke mereka, mungkin saya tidak akan datang, hahaha.

Bukannya saya sombong, karena tidak selayaknya begitu. Tapi jika Pemda memang melihat JHC itu penting, maka mereka mesti memperlihatkan keseriusannya. Di sisi lain, sebelumnya saya punya kecenderungan malas berhubungan dengan pemerintah karena pengalaman bekerja sama dengan mereka beberapa kali di masa lalu, hanya bikin capek saja.

Maka itu, untuk kali ini saya ingin memastikan, kalau prosesnya harus benar. Visi dan misi sama, serta terbangun kepercayaan. Ibu Vero (Veronica Tan, Ketua Dekranasda DKI Jakarta) sendiri datang langsung untuk melihat kegiatan kami di Indoestri, sekaligus mengutarakan keseriusannya untuk bekerja sama dengan kami. Ini yang kami sambut baik.

Mereka melihat dan mengamati sistem yang kami bangun dan menyatakan secara terbuka, ingin mengadopsinya. Maka kami persilakan, karena tujuannya bagus.

Lalu, selanjutnya apa?

Kita bicara dari sisi pengembangan bisnis. Indoestri ke depan tidak hanya berkembang dari segi fisik, tapi lebih pada penyebaran expertise dan sistem. Perkembangan fisik jujur saja, biayanya mahal.

Tempat secara fisik tentu tetap ada, namun tidak perlu banyak. Yang dibutuhkan adalah expertise dan sistem model Indoestri ada banyak, tanpa perlu ikut berinvestasi. Jadi pada dasarnya, nanti jadi soal memadukan uang dan aset mereka; sementara ide, pemikiran, dan sistem dari kami. Begitu kira-kira bentuk kolaborasinya.

Karena kalau hanya Indoestri ada di sepuluh tempat, itu sudah jadi bad business practice. Kalau kemudian lima tempat saja “digoyang”, bisa seluruhnya tutup.

Strategi keluar ini juga kami pilih untuk mempertahankan visi dan misi selfmade yang salah satu kuncinya adalah sustainability. Kalau kita sendiri tidak sustain, maka misinya akan mati. Maka, penting sekali untuk bisa bertahan dan berkembang dengan cara yang cermat. Karena profit dari bisnis ini tidak gila-gilaan, bahkan bisa dibilang cukup saja.

Apakah sehari-hari Anda in-charge langsung di Indoestri?

Saya perlahan mulai lepas. Istri saya yang justru lebih sering di sana. Saya juga mau melatih tim agar lebih mandiri dan capable. Kembali ke visi dan misi; percuma kita ngomong selfmade kalau timnya saja tidak bisa independen dan harus terus di micro-manage.

Kami sendiri harus selalu bisa menerapkan value independen, youth, dan communities. Percaya dan terus berusaha agar makin baik lagi hidup dalam value tersebut.

Ada berapa jumlah anggota Indoestri saat ini?

Paling ramai mencapai 120 orang; tapi yang aktif masih sedikit.

Kenapa?

I don’t care jikapun kita hanya punya 10 anggota, asal semuanya “jagoan”. Itu yang saya mau! Kami itu breeder champion; artinya kami fokus melahirkan seorang champion. Karena kalau tidak, orang tidak bakal percaya. Maka itu, berbagai program kami bentuknya long haul; untuk mencari champion yang mampu mandiri dan sustain dengan baik.

Tapi apakah champion bisa didapatkan dalam tempo dua tahun? I don’t know, but we try. Apakah sekarang sudah ada? Jujur saya bilang, belum ada. Dua tahun itu menurut saya adalah masa sibuk mencari jati diri. Tapi sekarang sampai dua tahun ke depan, kami harus sudah melahirkan champion.

Maka itu juga, bekerja sama dengan pemerintah menjadi salah satu cara memunculkan champion. Karena melahirkan champion memerlukan uang dan infrastruktur, dan pemerintah dengan dana negara bisa membantu dalam hal ini.

Contohnya, di Indoestri tidak ada alat laser cut, karena mahal. Nah, di JCH ada alat itu. Tentu sarana yang disediakan di sana memang sudah dipikirkan betul, bukan hanya buang-buang uang. Semua fasilitas dibeli karena ada alasan jelas dibaliknya.

Dengan dukungan pemerintah seperti itu, dan banyaknya orang yang terjun ke bidang kreatif ini, apakah menurut Anda industri ini sudah di rel yang benar?

Kalau dari euforianya, menurut saya tugas kita masih banyak. Untuk mencapai level efektif, efisien, dan fungsional, masih jauh sekali. Pemerintah menurut saya juga punya keterbatasan di banyak hal, seperti sulit berbisnis kecuali dibentuk BUMN atau BUMD.

Sementara, jika menggunakan APBD untuk operasional, bisa membuat perusahaan swasta yang ikut juga menjadi kaku, atau tidak fleksibel, karena semua harus dianggarkan. Kita bisa saja melakukan budgeting, tapi kalau di tengah jalan ada keperluan lain, jadi tidak ada budget-nya, karena tidak masuk anggaran. Akhirnya inisiatif itu tidak terlaksana, atau momennya sudah terlewat.

Percuma kita ngomong selfmade kalau timnya saja tidak bisa independen dan harus terus di micro-manage.
leonard dan ahok di jakarta creative hub
Bagaimana dengan sisi pelakunya tadi?

Memang sekarang banyak yang serius, capable, dan berniat tinggi. Namun di antara semua itu, masih lebih banyak yang hanya euforia, dan ini bisa merusak. Contoh saja, ketika saya dan teman-teman memulai Brightspot Market, konsep pop-up market itu terlihat keren sekali.

Coba sekarang, bicara pop-up market, orang mungkin sudah mau “muntah”. Sanctity dan function-nya tidak lagi diperhatikan, sehingga sudah seperti “sampah”. Itu yang saya sayangkan. Kita seperti tidak punya mental untuk merawat sesuatu.

Mungkin niatnya bagus, dengan mencoba membuatnya jadi versi masing-masing; namun sebaiknya jangan hanya ikut-ikutan, dan harus dipikirkan kebutuhan sebenarnya.

Kita ini seperti mudah ikut-ikutan, dan gampang merusaknya. Seems like we’re good in destroying.

Saya tidak mau hanya bitching around, maka itu saya mau bantu dengan membuat Indoestri. Karena saya tidak senang dengan keadaan ini. Saya sering komplain dan marah, namun daripada pada akhirnya jadi antipati, saya memutuskan untuk mulai berbuat sesuatu, membantu, berkontribusi, dan berpartisipasi membuat perubahan.