Leila S. Chudori: Sastra, Isu Politik, dan Generasi Z

“Apakah kita sudah harus mengambil jeda dalam perjalanan yang masih panjang ini. Saat menulis, aku tak suka titik. Aku gemar tanda koma. Tolong jangan perintahkan aku untuk berhenti dan tenggelam dalam stagnansi. Jangan.” -Leila S. Chudori, Pulang

Sudah lebih dari 40 tahun seorang perempuan bernama Leila Salikha Chudori atau Leila S. Chudori berenang dalam lautan literatur dan jurnalistik. Beberapa media bahkan memberi sebutan “anak emas sastra Indonesia” untuk beliau yang dulu sempat “menghilang” dari lingkaran kesusastraan Indonesia.

“Saya sudah mulai dipublikasikan di berbagai majalah anak-anak sejak usia 12 tahun. Jadi, menulis sudah merupakan bagian dari hidup. Ini terjadi secara alamiah saja,” jelas Leila di pertanyaan pertama wawancara.

Sebagai penulis, saya sudah cukup lama menunggu wawancara ini, tentu saja. Karena saat ini, Leila sepertinya sedang banyak disibukkan dengan rentetan event dari rilisan novel terbarunya yaitu Laut Bercerita.

Latar belakangnya sebagai jurnalis di Tempo selama puluhan tahun dan prestasinya dalam karya-karya fiksinya membuat Leila patut diberi apresiasi tinggi. Setiap karya tulis yang dibuatnya sarat makna dan penuh dengan kejujuran, keyakinan, dan tekad. Kali ini saya berkesempatan mewawancarai beliau via surel perihal tema politik yang sering ia angkat dalam novel-novelnya. Beliau bersedia menjawab bahkan menyertakan makalah tentang novel terbarunya; Laut Bercerita.

Baca juga: 5 Tips Menulis Artikel Sejarah untuk Media Online

Leila S. Chudori Credit by Proust Bookstore, Essen, Germany
Dok. Proust Bookstore, Essen, Germany

Jika ditanya siapakah penulis favorit seorang Leila S. Chudori? Beliau membalasnya dengan penjabaran yang sangat menarik. “Terlalu banyak. Waktu kecil, kami (kedua kakak saya dan saya) sudah dibelikan buku-buku karya Charles Dickens seperti The Tale of Two Cities dan Oliver Twist. Karena itu, sejak kecil kami sudah paham tentang revolusi di Prancis yang menjadi latar belakang The Tale of Two Cities. Kami juga sudah dibiasakan mengenal Ramayana dan Mahabharata melalui komik karya R.A Kosasih; setelah dewasa tentu saja saya kemudian mencari versi yang paling dekat dengan keaslian dari India. Sekarang saya sedang menikmati karya-karya Alice Munro , hampir semua buku kumpulan cerpennya saya beli dan saya juga sedang mencoba menghabiskan novel The Red Haired Woman karya Orhan Pamuk.” jelas Leila.

“Ada beberapa penulis yang sudah pasti akan saya beli karyanya kalau ketemu di toko buku, seperti Mario Vargas-Llosa yang sangat produktif (kalau Gabriel Garcia Marquez sudah lengkap), Amitav Ghosh, Julian Barnes dan Roberto Bolano. Setiap karya mereka tentu memiliki keunikannya masing-masing. Alice Munro sangat kuat membentuk karakter dan memberi kejutan. Tokoh-tokohnya tak pernah hitam putih. Marquez seperti yang sudah banyak diketahui pembaca Indonesia adalah master magical realism, belum ada yang bisa menandingi dia. Yang ada hanyalah peniru, para epigonnya. Pamuk mempunyai masterpiece berjudul My Name is Red yang luar biasa, tetapi karya-karyanya sesudah itu tak menegangkan seperti My Name is Red,” jelasnya.

Leila S. Chudori
Dok. Angga Yuniar, Media Indonesia

Selebihnya, saya banyak bertanya tentang tema politik dan budaya yang sering diangkat beliau dalam karyanya. Leila menjabarkan bahwa setiap kali memulai suatu tulisan, beliau cukup saklek dalam penciptaan karakter. Beliau berkata bahwa ia tidak pernah memulainya dengan narasi besar sejarah yang dianggap menarik. Dalam makalahnya, Leila berujar “Segalanya selalu dimulai dari tokoh. Bukan peristiwa sejarah atau tema. Bukan pula dari ideologi atau narasi besar cita-cita sebuah negara. Seperti banyak penulis umumnya, saya selalu memulai penciptaan jagat baru saya dari lahirnya seorang tokoh atau istilah sastrawan Orhan Pamuk: following the character.

Menulis untuk audience siapa pun harus jujur , tidak contrive dan harus membuat pembaca bisa terlibat secara emosional (emotionally engaged).

Novel terbarunya, Laut Bercerita, lahir dari tokoh yang bernama Biru Laut. “Di awal tahun 2003 , majalah Tempo tempat saya biasa bekerja, memutuskan untuk menerbitkan Edisi Khusus Soeharto. Bersama kawan-kawan lain, saya diminta untuk menjadi tim penggarap. Selain sisi politik dan bisnis, saya juga berpikiran bahwa begitu banyak pelanggaran hak asasi manusia selama berdirinya Orde Baru, ada yang cenderung dilupakan orang, yakni penculikan para aktivis tahun 1998. Hingga sekarang kita semua menyaksikan bagaimana para orangtua, keluarga, dan kawan para aktivis setiap hari Kamis–terinspirasi para Madre dari gerakan Plaza de Mayo di Argentina (dan Chile)-berdiri di hadapan Istana Negara menuntut jawaban tentang hilangnya anak-anak mereka yang tak ketahuan nasibnya. Dari 22 nama orang-orang yang diculik, hanya ada sembilan orang yang kembali,” tulisnya dalam makalah yang berjudul Mendengar Cerita Dari Dasar Laut. Dari dasar itu, pengembangan ceritanya berlanjut menjadi sebuah novel yang terbit pada akhir tahun 2017.

Baca juga: Irfan Ramli, Bedah Profesi Sang Penulis Naskah

Leila S. Chudori
Novel terbaru Leila, Laut Bercerita

Buncahnya apresiasi terhadap novel tersebut-terutama oleh anak muda menjadi hal yang menarik untuk saya. Dalam hal ini, Leila menjelaskan “Saat menulis, saya jarang memikirkan segmentasi anak muda atau orang tua. Yang jelas karya saya bukan untuk anak-anak. Tetapi bahwa ternyata anak-anak muda menyukai novel saya adalah sesuatu yang mengejutkan karena sering ada tuduhan bahwa generasi milenial dan generasi Z adalah generasi cerdas tetapi lebih suka bergaul dengan hal yang trivial, “me me me” (demikian yang ditulis majalah Time) dan terlalu dimanjakan oleh revolusi internet. Bahwa ternyata lumayan banyak yang kini membaca buku saya dan rekan-rekan penulis lainnya itu suatu fakta yang menyenangkan. Satu-satunya yang bisa saya sampaikan bahwa menulis untuk audience siapa pun (tua atau muda) harus jujur , tidak contrive (memaksakan diri) dan harus membuat pembaca bisa terlibat secara emosional (emotionally engaged).

Pesan darinya untuk para generasi muda adalah untuk banyak membaca dan mampu memilah bacaan yang bermutu–bukan yang “sampah”. Beliau merujuk pada fake news yang saat ini kerap beredar dan menyebar dengan mudah. Sadar akan perkembangan zaman dan digital yang semakin canggih juga, saya sedikit penasaran dengan tanggapan beliau.

Ia juga menyatakan bahwa, “Persoalan perkembangan digital itu bagus untuk marketing dan saya didukung oleh tim yang baik dari penerbit saya, juga sejumlah orang-orang di sekeliling saya yang lebih paham tentang digital. Hanya saja, kalau didukung dengan tim marketing yang dahsyat, kalau karyanya sendiri tidak melekat di hati pembaca, menurut saya ya percuma.”

“Adalah tugas saya bercerita dengan asyik dan meringkus perhatian pembaca hingga mereka merasa menjadi bagian dari jagat cerita itu. Itu adalah kepuasan yang tak terhingga bagi seorang penulis.” tutupnya.