Crafters

Portal konten yang fokus mengangkat beragam hal seputar industri kreatif. Mulai dari wawancara, laporan khusus, sampai tips dari para kreator yang berkarya di bidang seni, kebudayaan, bisnis kreatif, dan teknologi.

Melalui Crafters, kami ingin memberikan kontribusi untuk perkembangan industri kreatif di Asia Tenggara.

Dikelola oleh

Sign up to receive bi-weekly creative inspiration, delivered directly to your inbox!

Kolase Saudari: Mempererat Sisterhood Sembari Berkarya Seni Kolase

Setiap minggu, hari Minggu rasanya jadi hari dilema terbesar saya. Kadang, saya dikejutkan dengan mood uring-uringan karena ingin rebahan saja rasanya mengingat besok sudah harinya mulai bekerja. Tapi, tidak 3 Maret lalu. Saya memulai hari dengan bangun pagi, dibangunkan dengan alarm pagi tanpa mengeluh. Jarang-jarang.

Setelah itu, baru kemudian saya buru-buru bersiap untuk berangkat ke sebuah acara yang sudah lama saya nantikan. Salah satu acara yang diselenggarakan sebagai pre-event Women’s March untuk mendukung kelangsungan event tersebut nantinya. Bertema Kolase Saudari dan diadakan di 2Madison, Kemang, event tersebut dimentori oleh dua seniman kolase perempuan, yaitu Ika Vantiani dan Shera Rindra.

Para peserta yang ikut diingatkan untuk mendaftarkan berpasang-pasangan dengan teman perempuannya untuk sekaligus berkarya kolase bersama. Sembari berkarya kolase, kami juga diajak untuk membahas seputar pertemanan perempuan dan segala usaha di baliknya.

Saya mereka ulang beberapa kejadian yang nyata rasanya di diri saya sebagai perempuan. Tidak dipungkiri, kadang rasa persaingan, iri, dan sebagainya muncul kala berteman dengan perempuan lainnya dan ini adalah hal yang wajar. Membuat support system yang baik dalam pertemanan perempuan adalah misi yang ingin diangkat oleh panitia dari acara Women’s March ini.

Secara teknis juga, saya, teman perempuan saya, dan peserta lain yang hadir berpasangan juga diajarkan untuk mengolah tema spesifik lewat eksekusi kreatif yang berbentuk kolase ini. Terima kasih kepada Gizela Cindy (teman yang mau berpasangan dengan saya untuk membuat karya kolase, mentor Ika Vantiani, Shera Rindra dan para panitia Women’s March, saya belajar banyak dan pulang dengan membawa perasaan lega.

Baca Juga: “A Little Pause” Selebrasi Penulis dari Comma Books

 

Kolase Saudari: Mempererat Sisterhood Sembari Berkarya Seni Kolase
Suasana kelas Kolase Saudari (Dok. Panitia Women's March)
Kolase sebagai karya kolaboratif

Kolase sendiri adalah sebuah kesenian yang memiliki eksekusi menarik. Saat hadir di meja, kami diberikan banyak pilihan majalah lama untuk karya kami. Kami diperbolehkan merobek, menggunting, dan memilih dari gambar-gambar yang ada di majalah untuk kemudian kami sajikan dalam karya kolase kami berdua.

Ika Vantiani dikenal dengan karya kolasenya yang vokal dalam penyampaian dan temanya. Isu-isu soal perempuan sering jadi tema besar yang ia angkat dalam berkarya. Sedangkan, Shera Rindra dikenal dengan zine-zine buatannya soal relasi sehat, menstruasi, dan isu perempuan lain yang tidak kalah kuat–beberapa tahun belakangan juga, ia mulai berkarya dalam bentuk kolase.

Dengan dua mentor yang saling melengkapi ini (dan kenyataan bahwa mereka bersahabat), kami pelan-pelan diberikan cara-cara teknis dalam membuat kolase.

Ika mengatakan, proses kreatif pertama yang biasa ia lakukan adalah mencari gambar sebanyak-banyaknya, dan menggunting bagian-bagian yang menarik mata kita. Setelah mengumpulkannya, ia menyarankan untuk kemudian mengonsepkan bentuk barunya di atas sebuah kertas. Jangan dilem langsung, ya! Biarkan semua bentuk guntingan gambar membaur dan kamu puas dengan bentuk baru yang hadir di atas kertas. Baru kemudian, kamu bisa mulai menempelkan potongan-potongan gambar tersebut sesuai urutannya.

Yang menyenangkan dari seni kolase adalah bebasnya aturan dari bentuk seni tersebut. Dari wawancara saya bersama salah satu seniman kolase, Resatio, ia menjelaskan tentang beberapa ketentuan hak cipta dari gambar-gambar majalah yang akan kita gunakan dalam karya kolase. Ia menjelaskan mulai dari public domainde minimis dan found objects. Beberapa hal memang harus kita perhatikan ketika “menghancurkan” sebuah gambar untuk membuat gambar baru lainnya. Namun jelas, itu yang membuat seni kolase menarik. Dekonstruksi visual selalu menarik untuk dieksplorasi.

 

Kolase Saudari: Mempererat Sisterhood Sembari Berkarya Seni Kolase
Peralatan yang disiapkan oleh panitia dan mentor (Dok. Crafters)
Kolase Saudari: Mempererat Sisterhood Sembari Berkarya Seni Kolase
Ika Vantiani dan Shera Rindra, mentor dalam Kolase Saudari (Dok. Panitia Women's March)
Kolase Saudari

Selain berproses secara teknis, kami juga disarankan untuk mengingat-ngingat apa saja yang pernah terjadi di hubungan pertemanan kami. Saya dan Cindy kemudian bernostalgia tentang kali pertama kami berteman–6 tahun lalu–dan suka duka yang kami lewati. Kemudian, sembari berproses, kami menemukan gambar-gambar yang kami pikir bisa melambangkan perjalanan persahabatan kami: sebuah meja.

Dipikir-pikir, saya dan Cindy memang selalu bertemu di sebuah coffee shop. Karena rumah kami yang berjauhan, minimal sebulan sekali kami bertemu dan ngobrol soal kehidupan dan hal-hal remeh–di atas sebuah meja, saya dan Cindy bertemu, bergurau, menangis, dan bercerita. Berusaha melupakan kisah sedih, Cindy memberi judul karya kami: Sebuah Meja Bahagia.

Baca Juga: Resatio Adi Putra dan Rahasia Seni Kolase

Meja ini menyajikan segala kebahagiaan yang berisi mimpi, kegemaran, hobi, perasaan dan segala hal remeh temeh lain yang semakin mempererat kami sebagai saudari.

Enam tahun sudah kami bersaudari. Tiap kali kami bertemu rindu, kedai kopi selalu jadi pilihan kami menghabiskan waktu bersama. Kami bisa dengan bebas bercerita, bermimpi, bahkan bergurau bersama di satu meja.

Kami mungkin tak bisa selalu bertemu setiap waktu, tapi tiap kali kami bertemu, kami selalu menghargai setiap waktu yang ada untuk kami saling berbagi cerita.

Begitu tulis Cindy dalam deskripsi karya kolase kami. Menariknya, pasangan lain juga punya cara sendiri-sendiri untuk berteman. Saat mempresentasikan dan menjelaskan karyanya, kami jadi mengerti bentuk pertemanan perempuan yang hadir. Ada yang satu kantor dan memiliki kepribadian amat berbeda namun bisa bersahabat, ada yang baru bersahabat 8 bulan dan ada yang bersahabat karena pasangannya bersahabat juga. Hahaha.

Hal-hal seperti ini merangkum perasaan kami: lega. Lega karena ternyata support system untuk pertemanan perempuan ini memang sebenarnya harus kita sendiri yang menciptakan. Dimulai dari kita, sebagai perempuan ke teman perempuan lainnya, kita bisa saling menguatkan, bahkan berkarya kolase bersama.

 

Kolase Saudari: Mempererat Sisterhood Sembari Berkarya Seni Kolase
Peserta saat membuat kolase (Dok. Panitia Women's March)
Kolase Saudari: Mempererat Sisterhood Sembari Berkarya Seni Kolase
Mempererat Sisterhood Sembari Berkarya Seni Kolase (Dok. Panitia Women's March)

Apakah kamu seorang kreator yang tertarik bergabung dalam jejaring GetCraft?

March 4, 2019
Thomas Hanandry: Misi Mengembangkan Industri Ilustrasi di Surabaya
Thomas Hanandry adalah seorang ilustrator dan dosen asal Surabaya yang memiliki misi besar untuk...
March 6, 2019
5 Aplikasi Membuat Infografik dengan Mudah
Bagaimana sih cara membuat infografik yang mudah tapi efektif? Kali ini Crafters telah merangkum...