Kerja Freelance Itu Harus Serius! Ini Kiatnya

Bisa menjalani rutinitas pekerjaan yang cocok dengan gaya hidup pilihan sehari-hari​, dan bukan sebaliknya, merupakan salah satu daya tarik menjadi freelance. Misalnya, bekerja di rumah sambil agar bisa lebih dekat dengan anak, atau menggarap project di kedai kopi dari sejak sarapan hingga menjelang makan siang.

Memang iya, hal itu bisa jadi terdengar sangat menyenangkan, dan membebaskan. Tapi, kalau tidak disiplin dan cermat menjalaninya, bisa-bisa kita akan makin stres menghadapi pekerjaan yang tak berkesudahan.

Nah, sebagai freelancer, apa saja yang mesti kita perhatikan, agar fleksibilitas waktu yang bisa disesuaikan dengan gaya hidup pilihan kita benar-benar berujung pada hasil kerja yang memuaskan?

Perhitungkan kebutuhan finansial secara cermat

Sebagai tahap awal, urai gaya hidup pilihan dan perhitungkan kebutuhan finansial untuk memenuhinya. Tujuannya, untuk menjaga agar jangan sampai pengeluaran kita lebih besar daripada pemasukan. Selain itu juga, dengan melakukan hal ini, kita juga bisa memetakan waktu yang bakal kita alokasikan untuk bekerja pada tiap harinya.

Terkait hal ini juga, hitung modal yang dibutuhkan untuk mendukung pekerjaan. Berbeda dengan bekerja di kantor yang lazimnya sudah menyediakan berbagai perangkat atau tool pendukung buat menuntaskan pekerjaan. Sebagai pekerja mandiri, kita tentu mesti memastikan, misalnya, ketersediaan laptop, koneksi internet, kamera, sampai berbagai peranti pendukung lainnya.

Tentukan tipe layanan yang mau ditawarkan

Setelah mengurai kegiatan sehari-hari, alokasi jam kerja, dan berbagai kebutuhan perangkat serta finansial; kini saatnya buat menentukan tipe layanan yang bakal ditawarkan pada klien. Pertimbangan utama, selain kemampuan memberikan kualitas terbaik pada tipe layanan tertentu adalah, memperkirakan waktu pengerjaan dan potensi pemasukan pada layanan tersebut.

Jika sudah diperkirakan, sesuaikan perkiraan waktu pengerjaan dan potensi pemasukan dengan uraian di awal tadi. Jika waktu yang dibutuhkan buat menggarap layanan yang ditawarkan sesuai dengan alokasi waktu kerja; dan potensi pemasukannya terhitung menguntungkan, maka Anda sudah menentukan tipe layanan yang tepat dan sesuai dengan gaya hidup pilihan.

Contoh, kalau Anda seorang penulis yang biasa menggarap topik teknologi; maka perkirakan, berapa waktu yang dibutuhkan untuk menggarap satu artikel ulasan gadget, mulai dari briefing hingga tuntas; apakah waktu itu cocok dengan alokasi jam kerja yang ditentukan sebelumnya. Jika cocok, maka perkirakan lagi, ada berapa artikel yang bisa Anda tangani dalam satu pekan, berdasarkan satuan waktu per artikel.

Selanjutnya, jika Anda mendapatkan tawaran untuk menulis jauh lebih banyak artikel dari ketentuan itu, sebaiknya tidak diterima dulu; kecuali Anda sudah menemukan cara dan waktu buat mengelola pengerjaannya.

Mengkomunikasikan waktu kerja dan korespondensi dengan klien

Salah satu elemen penting dalam usaha adalah mengelola ekspektasi klien. Kita mungkin sudah akrab dengan nilai-nilai untuk tidak over-promise, dan jangan under-deliver; salah satu cara melakukannya adalah dengan menjaga komunikasi yang terang dan jelas buat kedua belah pihak, bahkan dari sejak fase awal kerja sama berlangsung.

Dalam hal ini, sampaikan dengan baik ke klien tentang jam kerja dan waktu Anda bisa melakukan korespondensi terkait project yang digarap, seperti ketika ada revisi yang perlu dilakukan.

Misal, Anda memberi tahu klien, bahwa waktu kerja Anda ada di antara pukul 08.00 sampai 12.00 WIB dan 19.00 sampai 21.00 WIB; dengan demikian, jika klien membutuhkan respon terkait pekerjaan, Anda bisa segera merespon pada jam-jam tersebut.

Namun, jikapun klien merasa kalau waktu itu tidak cocok dengan saat mereka biasanya menanggapi project yang berlangsung, setidaknya mereka jadi bisa langsung menyampaikannya dan kita pun bisa langsung menyesuaikan diri atau mendiskusikan jalan tengah yang baik buat kedua belah pihak.

Jangan ragu untuk membicarakan hal ini secara terbuka pada klien, meminalisasi permintaan dadakan atau membuat Anda mesti mengurus pekerjaan di luar waktu kerja atau di tengah waktu istirahat. Seringkali, kenyataan bahwa klien adalah pihak yang memberikan project dan penghasilan membuat kita jadi segan; padahal kerja sama klien dan freelance adalah pertukaran nilai yang diperhitungkan secara adil sejak awal.

Kerja sama klien dan freelance adalah pertukaran nilai yang diperhitungkan secara adil sejak awal.

Manfaatkan teknologi untuk membuat proses jadi lebih efisien

Kini, banyak hal jadi lebih mudah dengan bantuan teknologi, maka itu, manfaatkanlah. Anda bisa memilih banyak layanan online untuk mempermudah proses riset, editing, hingga pengelolaan projectpayment, dan sebagainya. Pemanfaatan teknologi bisa membuat pekerjaan lebih tertata, mudah dijalani, dan akhirnya bikin Anda jadi lebih bisa merasakan keleluasaan waktu sebagai freelance.

Dengan teknologi juga, Anda bisa menghindari penggunaan waktu yang tidak terlalu perlu; misalnya, menjalani 3-5 meeting dalam satu hari di berbagai tempat berbeda.

Ketimbang mesti berjibaku dengan keadaan lalu lintas yang ruwet, dan menghabiskan total 2-4 jam dalam perjalanan, Anda bisa memaksimalkan fitur emailmessaging group, atau video call; agar Anda hanya perlu menghadiri meeting yang benar-benar penting saja, dan menghemat waktu dan tenaga.

Pada dasarnya, menjadi pekerja lepas atau freelance sama dengan membangun bisnis. Diperlukan perhitungan yang baik, sistem dan proses kerja yang jelas, tingkat kedisiplinan tinggi, serta kemampuan komunikasi mumpuni buat menghindari salah pengertian dan mengelola ekspektasi di kedua belah pihak.

Kalau sudah begitu, besar kemungkinan, pekerjaan bakal lancar dan pilihan menjadi freelance agar bisa menyesuaikan rutinitas kerja dengan gaya hidup pun benar-benar terasa.