Kebon Studio Yogyakarta: Signature bagi Filmmaker Itu Penting

Johnathan Paul, seorang peraih penghargaan filmmaker, penulis, juga film director asal Amerika menuliskan bahwa memulai sebuah perusahaan produksi (House Production) tidaklah mudah. Perlu kerja keras dan dedikasi tinggi, memang. Tetapi, apabila kamu mendedikasikan dirimu untuk hal itu, niscaya karya-karya besarmu akan jadi nyata.

Selain itu, Johnathan juga menjelaskan beberapa hal yang perlu diketahui untuk memulai sebuah perusahaan produksi dengan sukses. Dimulai dari yang paling dasar yaitu mengidentifikasi kekuatan kamu dan tim yang kamu miliki, selanjutnya melihat bagaimana membangun, dan bekerja sama menjalankan perusahaan ini ke depannya.

Poin kedua adalah melakukan banyak riset. Artinya, kamu perlu melihat dan mencari tahu bagaimana dan seperti apa perkembangan pekerjaan ini, sehingga bisa mengukur kualitas karya yang akan diproduksi dan bisa bersaing di pasar nantinya.

Kebon Studio Yogyakarta: Signature bagi Filmmaker Itu Penting
(Dok. Kebon Studio Yogyakarta)

Ketiga adalah menentukan nama yang tepat (tentunya, dengan kreatif) karena ini adalah kunci. Bagaimanapun juga, pada akhirnya nama tersebut akan menjadi brand untuk perusahaan atau rumah produksi yang kamu bangun, juga, hal-hal yang berhubungan dengan business plan seperti fokus produk layanan yang akan kamu berikan, surat-surat perizinan, hingga pemasaran untuk rumah produksimu.

Proses membangun rumah produksi ini sangat menarik untuk para kreator yang tertarik membangun rumah produksi tersebut. Ingin tahu lebih jauh langsung dari sumbernya mengenai rumah produksi (House Production), saya menghubungi salah satu house production lokal yang berbasis di Yogyakarta, bernama Kebon Studio untuk berbagi cerita tentang perjalanannya menjalani bisnis ini.

Baca Juga: Seeds Motion: Fokus Pada Susunan Konten dan Style yang Berkualitas

Kebon Studio mengawali perjalanannya di tahun 2006. Di mulai dari komunitas anak muda (mahasiswa, musisi, anak punk) yang sering menghabiskan waktu bersama membicarakan musik, film dan hal-hal lain yang berhubungan dengan industri kreatif. Berawal dari bersenang-senang dan mencari jati diri serta konsistensi, lambat laun akhirnya orang-orang dalam komunitas ini terdidik untuk disiplin dalam berkarya.

Melihat ini sebagai bisnis yang menjanjikan untuk memenuhi kebutuhan dapur tanpa menjadi karyawan dalam konteks kerja konvensional, maka dibentuklah Kebon Studio secara resmi menjadi sebuah PT pada tahun 2016. Selama kurang lebih 3 tahun, Kebon Studio memproduksi berbagai jenis konten video mulai dari film, video animasi, TVC, coorporate video hingga 2D atau 3D animation sebagai kegiatan pemasaran untuk meningkatkan bisnis dan dokumentasi klien. Sampai saat ini tetap bertahan dan bahkan masuk ke lingkaran utama industri kreatif lewat seni audio visual dalam berbagai macam koridor.

Tahun 2015, Kebon Studio terpilih sebagai salah satu peserta yang mendapat pendanaan film dari dinas kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta dalam sebuah produksi film pendek berjudul Natalan dan berhasil masuk dalam nominasi film pendek terbaik FFI (Festival Film Indonesia), Light of Asia Competition serta Jogja-NETPAC Asian Film Festival atau yang biasa dikenal JAFF di tahun yang sama. Berkat kesuksesan yang diraihnya, Kebon Studio kembali terpilih untuk menerima pendanaan film yang kedua di tahun 2018 dari Dinas Kebudayaan DIY melalui film pendek yang dibuat berjudul, Loz Jogjakartoz.

Mewakili Crafters, kami melakukan wawancara dengan Ignatius Dimas Yulianto selaku Produser dari Kebon Studio Yogyakarta untuk membahas bagaimana Kebon Studio Yogyakarta bertahan sampai saat ini dan terus memproduksi karya-karya yang digarapnya.

Bagaimana cerita awal Kebon Studio Yogyakarta didirikan?

Berawal dari sekumpulan anak muda yang sering nongkrong bareng, lalu bermetamorfosa menjadi jaringan pekerja seni yang telah menangani ratusan order dari klien lokal maupun nasional sejak 2008, lalu pada tahun 2016, saya bersama Narottama dan Sidharta meresmikan ini menjadi PT Kebon Studio.

Dari awal studio ini berdiri sampai sejauh ini, project bentuk apa sih yang paling sering dikerjakan? Dan selama tiga tahun berdiri, adakah pergeseran demand yang dirasakan Kebon Studio Yogyakarta?

Awalnya semua hampir rata; project shooting, baik itu film pendek non karya, tv commercial maupun animasi. Tapi seiring berjalannya waktu, demand yang masuk ke Kebon Studio kebanyakan justru di kebutuhan video animasi dan turunannya. Mulai untuk animasi atau grafis untuk kebutuhan TVC maupun 3D arsitektur/properti sampai kebutuhan untuk konten multimedia sebuah event dan juga sebuah video mapping. Mungkin karena dari awal berdirinya Kebon Studio menjadi sebuah perusahaan atau sebuah studio yang berada di Jogja, semua pekerjaan bisa diselesaikan dari Jogja, tetapi klien bisa dari manapun di luar Jogja.

 

Kebon Studio Yogyakarta: Signature bagi Filmmaker Itu Penting
(Dok. Kebon Studio Yogyakarta)

Pergeserannya, kalau untuk TVC tetap ada, baik pegang project sendiri atau hanya sebagai production service jika ada shooting commercial di Jogja. Selain itu terkadang kami  di-hire secara profesional oleh perusahaan lain untuk mengerjakan project mereka.

Dari beberapa pelayanan produksi video yang ditawarkan oleh Kebon Studio Yogyakarta, mana yang paling rumit atau menantang untuk kalian garap?

Sebenarnya hampir semuanya punya kerumitan tersendiri, baik project shooting maupun video animasi. Tapi yang paling menantang, ya, saat mengerjakan video 3D projection mapping yang dipadukan dengan tarian atau show secara live. Ini sangat menantang  karena membutuhkan teknik dan harus benar-benar presisi sekali serta workshop yang begitu detail.

Sebagai rumah studio yang juga memproduksi film dan iklan. Apa pandangan Kebon Studio Yogyakarta soal fenomena videografi periklanan dan film di Indonesia?

Untuk dunia film di Indonesia, perkembangannya cukup pesat. Hal ini bisa dilihat dari jumlah film yang semakin bertambah setiap tahunnya, dan juga banyak bermunculan film dengan budget produksi besar. Itu artinya banyak investor melirik industri yang sedang berkembang kearah yang lebih bagus.

Kalau di industri periklanan, nasional khususnya, saya kira 3 tahun terakhir ini adalah masa di mana banyak house production berlomba-lomba untuk tetap bertahan dengan industri yang budget produksinya semakin kecil, tapi harus dengan kualitas yang bagus. Mau bagaimana lagi. Kami semua harus bisa putar otak agar bisnis ini terus berjalan.

Sekarang masyarakat sudah sangat dekat dengan teknologi dan internet. Banyak konten video yang bisa dilihat atau ditonton, misalnya webseries yang saat ini banyak diminati. Apa pandangan Kebon Studio Yogyakarta terhadap budaya produksi video soal ini?

Kami rasa beberapa tahun ke belakang, banyak brand yang sedang merancang strategi promonya menuju ke arah itu. Karena webseries akan menjadi sesuatu yang dapat bertahan lama dan mudah untuk selalu diingat jika memiliki kualitas cerita dan value yang bagus. Kebanyakan orang dipastikan akan mencari dan menontonnya. Ini berbeda dengan TVC. Siapa sih yang nonton TVC atau mencari untuk menontonnya? Kan orang-orang iklan itu sendiri, dan banyak orang akan pindah channel begitu ada iklan. Tapi jika sebuah iklan itu dikemas sedemikian rupa seperti sebuah cerita pendek, maka semua orang akan berlomba-lomba menontonnya.

Justru mungkin sebagai produsen konten, kadang hal itu menjadi senjata makan tuan bagi kami. Karena media tayang semakin mudah, maka tak jarang banyak sekali brand atau perusahaan yang memanfaatkan itu untuk menciutkan budget produksi atas nama ‘tayang di digital’. Namun begitu, kami selalu berusaha memberikan edukasi kepada para calon investor maupun brand yang mau mempromosikan produk mereka bahwa pekerjaan ini adalah pekerjaan yang bermartabat. Pekerjaan utama yang justru memberikan benefit paling banyak kepada mereka.

 

Kebon Studio Yogyakarta: Signature bagi Filmmaker Itu Penting
(Dok. Kebon Studio Yogyakarta)

Tren harus dijalankan secara seimbang, lalu dimodifikasi ke dalam bentuk yang lain sehingga output yang dihasilkan mempunyai rasa yang berbeda. Berbicara ciri khas, setiap sutradara pasti punya ciri khas tersendiri, sekecil apapun porsinya akan terlihat di dalam karyanya, dan itu penting untuk bagi filmmaker memiliki signature.

Apa tantangan terbesar saat menghadapi permintaan brand atau klien yang ingin bekerja sama untuk memproduksi sebuah karya video?

Tantangan terberat adalah brief kreatif tidak sebanding dengan budget yang mereka miliki asal masih bisa dikejar dengan kreatif yang sedikit bisa dirubah tapi pesan dan keinginan klien terpenuhi, buat kami ya, kenapa tidak?

Bagaimana proses ceritanya terpilih menjadi salah satu finalis terpilih yang menerima Pendanaan Film dari Dinas Kebudayaan DIY?

Kami dapat pendanaan film dari pemerintah Yogyakarta khususnya di Dinas Kebudayaan DIY. Pertama pada tahun 2015 dengan judul Natalan, lalu yang terakhir pada tahun 2018 dengan judul Loz Jogjakartoz. Awalnya kami memang dekat dengan film, lalu komunitas kami juga sangat mendukung untuk mendalami film lebih lanjut. Film pendek pertama kami adalah The Messager pada tahun 2012, lalu film Tresno pada tahun 2014. Tahun 2015  kami sudah ada cerita yang siap diproduksi, karena memang kami selalu mengembangkan  sebuah cerita terus menerus disela-sela kesibukan industri commercial.

Selain itu,  kebetulan ada program pendanaan dari dinas kebudayaan Yogyakarta untuk para filmmaker Jogja yang akan memproduksi filmnya. Kami mengirimkan  proposal lengkap dengan sinopsis, treatment, naskah, kebutuhan lokasi, artistic, pemain, budgeting dan timeline. Tahap pertama kami lolos lalu diundang untuk presentasi di depan Kurator, Dinas Kebudayaan dan para peserta lainnya maupun penonton umum. Dan proposal tersebut disetujui untuk diproduksi karena kami dinilai secara cerita dan persiapannya sudah siap produksi. Tahun itu adalah tahun yang sangat penting untuk karya kami di dunia film, khususnya film pendek, karena film Natalan masuk sebagai nominasi film pendek terbaik FFI dan Light of Asia Competition, JAFF 2015.

Lalu pada 2018 kami mengajukan lagi proposal film yang berjudul Loz Jogjakartoz, dengan proses yang sama juga, kali ini bercerita tentang kisah satu malam seorang pemuda skinhead yang berusaha kembali merebut burung legendaris dari tangan-tangan penguasa. Kali ini kami produksi dengan skala dan standar yang lebih tinggi. Karena untuk mengakomodir kebutuhan cerita, bisa dikatakan film Loz Jogjakartoz menggunakan teknologi yang lumayan tinggi dan dengan SOP produksi yang lumayan rumit bagi kami. Karena biasanya semua diurus oleh vendor jika kami sedang produksi commercial. Kami benar-benar memanfaatkan kesempatan ini dengan baik untuk bereksperimen menggunakan teknologi lighting dan kamera terbaru tersebut dengan tujuan agar karya ini dapat menjadi showreel untuk dapat berjualan film ke level yang lebih tinggi. Terbukti, sutradara kami, Tata Sidharta ditarik untuk mengerjakan project film serial namun belum bisa diceritakan project-nya itu seperti apa.

Berbicara soal style dalam sebuah produksi karya video, bagaimana pandangan Kebon Studio Yogya soal mengikuti tren? Apa ciri khas itu penting?

Mengikuti tren itu pasti, baik secara langsung maupun tidak langsung, pasti kita akan terbawa tren di masa itu. Namun bukan berarti kita hanya asal menjiplak dan copy paste, tidak! Tren harus dijalankan secara seimbang, lalu dimodifikasi ke dalam bentuk yang lain sehingga output yang dihasilkan mempunyai rasa yang berbeda. Berbicara ciri khas, setiap sutradara pasti punya ciri khas tersendiri, sekecil apapun porsinya akan terlihat di dalam karyanya, dan itu penting untuk bagi filmmaker memiliki signature. Karena ciri khas menjadi komoditas yang dicari oleh para investor, brand maupun para agency kreatif.

Baca Juga: Sounds From The Corner: Membuat Arsip Video Musik untuk Masa Depan

Apa tips yang bisa dibagikan bagi videografer yang sedang mengembangkan kariernya di industri produksi video?

Banyak menonton dan terus mencoba, yakin bahwa apa yang kalian tekuni akan membuahkan hasil. Kalau jatuh, ya, bangun lagi. Jatuh, bangun lagi, dan seterusnya. Proses itu tidak instan. Setia pada proses akan membuahkan hasil yang manis.

Terakhir, apa yang sedang digarap Kebon Studi Yogyakarta?

Kalau untuk karya, kami sedang memproduksi serial animasi dengan genre horror, khususnya cerita-cerita seram dari sudut kota Jogja karena konsep seperti ini jarang kami temukan di sini. Bisa dibilang juga tantangan buat kami untuk mencobanya. Selama ini, tanpa kami sadari, konten yang kami buat kebanyakan mengisahkan cerita lokal tetapi tidak banyak yang orang tahu. Misalnya, seperti film pendek kami yang berjudul Loz Jogjakartoz.

Harapannya, project ini bisa mengenalkan atau mendekatkan kembali orang-orang lokal dengan cerita horor yang ada disini namun dikemas dalam bentuk animasi. Dan semoga saja bisa diterima dan banyak suka.

 

Apakah kamu seorang videografer yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?