Kasus Plagiarisme, Pembajakan dan Hak Cipta Karya untuk Para Ilustrator

Good artists copy, great artists steal,” adalah sebuah kutipan terkenal dari seniman maestro, Pablo Picasso. Kutipan tersebut punya dampak besar dalam kehidupan para seniman yang berkarya setelahnya. Nah, jika bicara terlalu general soal banyak bidang dalam kesenian, rasanya terlalu rumit. Maka itu, artikel ini akan membahas kasus dan solusi hukum yang bisa kita lakukan sebagai seniman, terutama di industri ilustrasi.

Kutipan Pablo Picasso tersebut memiliki arti bias yang tidak jarang disalahartikan oleh pelaku seni malas yang berniat mencari validasi dari sebuah kalimat seniman besar untuk melakukan penjiplakan. Padahal, Picasso tidak pernah bermaksud menyampaikan kalimat itu secara literal. Jika membedah kutipan itu, Picasso berusaha memberi pesan pada seniman-seniman lain untuk memperbolehkan mereka untuk mengasah diri secara teknis dengan meng-copy teknik seniman lain. Selebihnya, yang Picasso maksud dalam kata “steal” adalah untuk para seniman mencuri inspirasi, ide, motivasi untuk kemudian mengeksekusinya dengan gayanya sendiri.

Pencurian, penjiplakan dan pembajakan karya ilustrasi semakin sering dilakukan di beberapa tahun belakangan ini. Pelakunya sendiri, entah mengapa seakan punya keberanian amat besar dengan men-discredit seniman aslinya. Bahkan, pelaku dari kejadian-kejadian menyedihkan ini bukan hanya dari seniman ke seniman lain, namun sering juga dilakukan perusahaan-perusahaan besar dalam rangka meraup keuntungan secara cuma-cuma (tanpa meng-hire ilustrator itu atau membayar atas hak karyanya).

Beberapa kasus plagiarisme/pembajakan karya oleh perusahaan besar terjadi di luar negeri. Tuesday Bassen adalah salah satunya. Beberapa karya ilustrasi buatannya dijiplak oleh perusahaan pakaian Zara. Atau ilustrasi “Doggie Language” buatan Lili Chin yang dicatut dan dicetak di atas kaus oleh Kohl.

Baca Juga: Tren Desain Era Digital: 3 Jenis Ilustrasi

 

Kasus Plagiarisme, Pembajakan dan Hak Cipta Karya untuk Para Ilustrator
(Dok. Giphy)

Di Indonesia sendiri, kasus plagiarisme atau pembajakan sering terjadi. Sebagian besar, karena pelakunya tidak mengerti atau tidak teredukasi mengenai arti plagiarisme dan batas-batasnya. Beberapa waktu lalu, ilustrator bernama akun Monez karyanya (dalam bentuk mural) dijiplak. Lewat mediasi dan pertemuan dengan kedua belah pihak, akhirnya kasus itu selesai.

Kita yang selama ini melihat dan mengikuti reaksi para seniman ini mungkin merasa hukuman sosial (public shaming) bisa menjadi sebuah jalan keluar. Namun, yang perlu diperhatikan oleh para ilustrator adalah bahwa kita sebenarnya bisa menjaga karya-karya seni kita lewat hukum. Jika bicara hukum, rasanya tidak tepat jika kita tidak bicara langsung dengan ahlinya. Untuk itu, Crafters menghubungi Fallissa Putri, seorang pengacara dan Co-Founder Klikonsul untuk mengerti lebih jauh soal hak cipta dan peraturan hukum yang bisa kita lakukan untuk melindungi karya (terutama ilustrasi) kita.

 

Kasus Plagiarisme, Pembajakan dan Hak Cipta Karya untuk Para Ilustrator
Posting akun Monez, seorang ilustrator yang karyanya dijiplak (Dok. Instagram @monez_)
Kasus plagiarisme umum terjadi di kalangan ilustrator. Sebenarnya, apa sih pilihan perlindungan yang dimiliki oleh para ilustrator?

Tidak ada definisi hukum akan apa itu plagiarisme. Tapi menurut KBBI, plagiarisme adalah penjiplakan yang melanggar hak cipta. Saat seseorang menjiplak karya orang lain dan menampilkan karya tersebut seolah-olah itu karyanya sendiri, itu merupakan plagiarisme.

Untuk perlindungan karya di bidang seni, sastra, dan ilmu pengetahuan, kita bisa menggunakan hak cipta. Menurut UU Hak Cipta, definisi hak cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif (pernyataan) setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Artinya, hak cipta otomatis muncul saat karya kita dibuat. Kita bahkan enggak perlu mendaftarkan haknya di mana-mana supaya hak itu diakui. Cukup wujudkan karyanya secara nyata.

Konsekuensinya, ide tidak dapat dilindungi oleh hak cipta. Kalau ada yang menjiplak ide kamu, kamu tidak bisa menggunakan hak cipta untuk melawan si penjiplak. Jadi selalu waspada dalam berbagi ide; dan selalu wujudkan ide kamu dalam bentuk nyata supaya hak ciptanya muncul, minimal dalam bentuk sketsa atau tulisan.

Selain kasus plagiarisme, kasus yang sering terjadi di industri ilustrasi itu seperti apa dan apa jalan keluarnya?

Selain plagiarisme, pembajakan juga masih sering terjadi. Menurut UU Hak Cipta, pembajakan adalah penggandaan ciptaan dan/atau produk hak terkait secara tidak sah dan pendistribusian barang hasil penggandaan dimaksud secara luas untuk memperoleh keuntungan ekonomi.

Bayangkan kamu sudah berusaha keras membuat ilustrasi, lalu ada yang mengambil dan menggunakan ilustrasi tersebut ke kaus. Lalu kaus itu dijual ke masyarakat dan kamu sebagai ilustratornya tidak menerima keuntungan apa-apa secara ekonomis. Tidak di-credit pula (plagiarisme!).

Kamu bisa menggunakan hak cipta untuk melawan pembajakan. Ada dua jalur hukum yang bisa ditempuh, yaitu jalur perdata dan pidana. Melalui jalur perdata, kamu bisa mengklaim ganti rugi. Sedangkan dalam jalur pidana, si pembajak bisa dijebloskan ke penjara.

Bentuk ilustrasi seperti apa yang secara spesifik bisa kita lindungi? Misal, karakter (IP) atau sebenarnya semua bentuknya bisa dilindungi? Boleh tolong dijelaskan?

Semua ilustrasi kita bisa dilindungi dengan hak cipta selama ilustrasi tersebut sudah dituangkan dalam wujud yang nyata (bukan sekadar ide).

 

Kasus Plagiarisme, Pembajakan dan Hak Cipta Karya untuk Para Ilustrator
(Dok: Pexels)
Kalau sebuah kasus muncul dan si korban terlanjur tidak mendaftarkan hak cipta, apa sih yang baiknya mereka lakukan untuk membuat pelakunya jera?

Sedikit meluruskan istilah, hak cipta itu dicatatkan bukan didaftarkan. Seperti sudah kita bahas sebelumnya, hak cipta muncul secara otomatis, tidak perlu didaftarkan ke pemerintah. Tapi pemerintah melalui Dirjen Kekayaan Intelektual memfasilitasi pencatatan hak cipta, sehingga kita bisa memiliki surat ‘sakti’ yang menyatakan bahwa kita adalah pemegang hak cipta yang sah dari suatu karya cipta tertentu.

Tapi, meskipun kita belum mencatatkan hak cipta, kita tetap berhak untuk menegur, menggugat, dan menuntut orang-orang yang menyalahi hak cipta kita. Kita mulai dengan menegur dulu. Kita bisa minta mereka hentikan kegiatan pelanggaran mereka, atau malah mengajak kerja sama resmi supaya kita bisa menikmati keuntungannya juga. Jika mereka tidak mengindahkan teguran kita, kita bisa menempuh jalur hukum, baik perdata maupun pidana.

Untuk media sosial, kita bisa report posting-an mereka yang memuat karya kita dengan alasan pelanggaran hak kekayaan intelektual. Sayangnya tidak semua media sosial memfasilitasi pelaporan ini.

Baca Juga: Rukmunal Hakim: Edukasi Dunia Ilustrasi lewat Karya dan Podcast

Langkah awal apa yang bisa dilakukan para ilustrator saat mulai berkarya? Dan berapa lama waktu perlindungan untuk sebuah karya ilustrasi?

Tuangkan ide dalam suatu wujud yang nyata. Bubuhkan nama, tahun, dan tempat pembuatan pada karya cipta kamu, supaya jelas siapa pemegang hak ciptanya, kapan dan di mana karya ini dibuat. Kalau sedang ada uangnya, catatkan hak cipta karya kamu di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual.

Masa berlaku hak cipta berbeda-beda, tergantung dari jenis karya ciptanya. Misalnya untuk buku, gambar, dan musik, hak cipta berlaku hingga 70 tahun setelah penciptanya wafat. Sedangkan untuk, misalnya, fotografi dan film, hak cipta berlaku selama 50 tahun sejak pengumuman karya. Pengumuman adalah pembacaan, penyiaran, pameran, suatu ciptaan dengan menggunakan alat apapun baik elektronik/non-elektronik atau melakukan dengan cara apapun sehingga suatu ciptaan dapat dibaca, didengar, atau dilihat orang lain.

Jadi, selalu cek kembali UU Hak Cipta ya!

 

 

Foto feature oleh: Sandeep Swarnkar, Unsplash