Kamila Andini: Kehidupan Adalah Inspirasi Terbesar Saya

Setelah selesai menonton film Sekala Niskala (The Seen and Unseen, 2017) karya Kamila Andini yang diputar di Ubud Writers and Readers Festival 2018, ada perasaan yang jauh berbeda dengan film-film yang biasa saya tonton di bioskop. Setiap frame dan perpaduan scoring yang ditampilkan mencekam, seram, namun indah. Energi spiritual melalui latar belakang budaya yang digunakan juga sangat kuat, membuat saya bertanya-tanya tentang misteri di balik kehidupan.

Berawal dari film ini juga, saya jadi tahu tentang art film dan mengapa terasa “berbeda”  dengan film-film lain yang saya tonton di bioskop. Seperti yang dikatakan David Bordwell dalam bukunya The Art Cinema as a Mode of Film Practice, bahwa art film memiliki ambiguitas yang dapat diinterpretasikan oleh penonton sebagai fungsi realisme atau komentar pengarang – mengubah perhatian penonton dari perkembangan naratif menuju psikologi karakter dan intervensi auteur. Sedangkan film Hollywood menggunakan bentuk naratif yang jelas untuk mengatur film menjadi kejadian yang saling terhubung dalam sebuah ruang dan waktu, dengan setiap adegan bergerak menuju sebuah tujuan.

Kamila Andini ialah sutradara muda perempuan Indonesia yang sudah mengukir beberapa prestasi lewat karya-karyanya sampai ke festival film luar negeri. Film pertamanya yang berjudul Laut Bercermin (The Mirror Never Lies, 2011), berhasil memenangkan kategori Film Cerita Anak-Anak Terbaik di Asia Pacific Screen Awards Australia dan mendapat tujuh nominasi dalam Festival Film Indonesia 2011.

Kamila Andini: Kehidupan Adalah Inspirasi Terbesar Saya
(Dok. Kamila Andini)

Sekala Niskala juga berhasil memenangkan beberapa penghargaan nasional dan internasional seperti: Festival Film Tempo 2017, Best Youth Feature Film Asia Pacific Screen Awards 2017, dan Grand Prize Tokyo FILMeX International Festival 2017. Film ini sempat diputar di Busan International Film Festival, Toronto International Film Festival, serta Jogja-NETPAC Asian Film Festival.

Selain itu, Kamila juga membuat film pendek seperti Sendiri Diana Sendiri (Following Diana, 2015) yang menyinggung isu perempuan dan poligami.

Kali ini, saya mewakili Crafters berkesempatan untuk datang ke kantor Kamila yang berada di bilangan Bintaro. Ia menceritakan perjalanannya sebagai sineas, proses kreatif saat berkarya, serta pandangannya soal industri film di Indonesia. Berikut obrolan kami.

Adakah peran atau pengaruh keluarga, terutama sang Ayah, sehingga Kamila memilih dan menjadi seorang sutradara sekaligus produser film?

Kalau peran dari keluarga tentu saja ada dan besar sekali. Maksudnya, bisa dibilang saya lahir dari dunia film karena memang ayah saya seorang filmmaker dan sutradara. Beliau adalah seorang seniman. Jadi memang dari kecil kami dibesarkan sangat dekat dengan seni. Walaupun begitu, bukan berarti beliau memperkenalkan seni karena ingin anaknya menjadi seniman (juga), tetapi mungkin beliau percaya bahwa mengajarkan dan mendekatkan anak dengan seni dapat melatih kepekaan diri, olah visual, olah rasa, sama seperti saat beliau berkarya lewat film.

Saya dan adik-adik saya hingga remaja belajar dan banyak menghabiskan waktu dengan aktivitas-aktivitas yang berhubungan dengan seni. Belajar musik, tari, melukis, teater, macam-macam. Tetapi saya percaya bahwa setiap orang memiliki ruangnya masing-masing. Ada hal-hal misalnya saat saya kecil dan belajar piano, pasti ada ending-nya. Ada moment di mana saya merasa bawa ini bukan pegangan saya, saya tidak ada bakat di sini karena kerjaannya menghafal terus. Padahal kalau kita ada bakat di situ, naluri dan intuisi kita akan berjalan secara alamiah, dan ternyata ini tidak terjadi saat saya belajar piano. Sama seperti saat belajar nari, ada waktu di mana saya merasa semakin berat dan malah tidak enjoy.

Sebenarnya dari dulu saya agak menghindari belajar film, karena saya merasa obvious aja kalau saya berada di situ dengan latar belakang ayah saya yang seorang filmmaker. Bahkan dari kecil pun, kalau ketemu orang, pertanyaannya selalu sama: pengen jadi sutradara juga ya? Jadi buat saya, itu terlalu obvious.

Di samping itu, saya belajar fotografi sampai SMA dan saya suka ilmu sosial. Jadi saat bikin foto pun temanya selalu tentang human interest. Lalu saya akhirnya mulai belajar film karena dengan belajar fotografi mau tidak mau belajar audio-visual.

Usai kuliah, saya menemukan titik di mana saya berpikir bahwa film itu medium seni yang tidak pernah habis. Dalam fotografi, karena saya gaptek, ada momen di mana saya merasa teknologi cepat sekali berkembang dan saya kesulitan mengikutinya. Sedangkan film buat saya tidak pernah ada habisnya, tidak ada hentinya, tidak ada ujungnya. Bahkan sampai sekarang saya masih bertanya-tanya apakah saya akan terus di film?

Apa tantangan atau kesulitan terberat saat berperan sebagai sutradara?

Saya selalu membuat film-film yang biasa dibilang art house, artistik, di mana kita melihat film itu sebagai bentuk seni yang mengedepankan gagasan dan visi, termasuk bahasa visual-nya. Jadi, tantangan terbesarnya adalah menemukan diri sendiri, menemukan bahasa film, bahasa visual yang ingin saya sampaikan, yang distingtif. Nah, buat saya itu tidak mudah. Apalagi sekarang, tahun 2019, kayaknya any kind of film sudah banyak dibuat. Kita besar dengan banyak referensi-referensi, originalitas seperti mulai tidak ada, habis, tetapi bagaimana membuat ulang atau menciptakan ulang originalitas yang sudah ada agar bisa bercerita dengan distingtif, itu tantangannya.

Kamila Andini: Kehidupan Adalah Inspirasi Terbesar Saya
(Dok. Kamila Andini)

Kamila sempat merilis film pendek Sendiri Diana Sendiri (2015) di tengah-tengah masa rilis film feature pertama (Laut Bercermin, 2011) dan kedua (Sekala Niskala, 2017). Mengapa memilih bermain-main dalam format film pendek?

Film pendek memiliki fungsi yang berbeda untuk filmmaker, dia punya ruang yang berbeda dengan film panjang di mana kita bisa leluasa melakukan eksplorasi. Bisa juga untuk (medium) bercerita dengan investasi secukupnya, yang tentu tidak sebesar dan selama film panjang. Kadang kita harus menunggu sangat lama untuk memiliki kesempatan memproduksi satu film, apalagi film-film seperti yang saya buat.

Tapi, justru karena film pendek investasinya kecil, kebebasannya juga lebih besar. Film pendek tidak melibatkan partner yang banyak, format ini memungkinkan kita untuk bermain dan mencari diri sendiri, menjelajah, dan mengeksplorasi. Jadi itu yang selalu saya saya lakukan. Sampai sekarang saya sudah bikin lima film pendek.

Di film Sekala Niskala (2017), Kamila berperan sebagai produser, sutradara, sekaligus penulis naskah. Bagaimana Kamila menjalani ketiga peran ini?

Ini case khusus. Sekala Niskala dibuat dengan micro budget. Karena investasinya sulit, akhirnya sebagian besar dibuat dengan uang company saya sendiri. Dari situ, mau tidak mau saya juga harus berperan sebagai produser di film ini.

Kalau sebagai sutradara dan penulis, saya memang dari dulu adalah sutradara yang menulis cerita saya sendiri. Membuat film atas ide saya sendiri. Keduanya tidak bisa dipisahkan karena saat saya menulis pun sebenarnya (secara tidak langsung) sudah men-direct, dan saat men-direct juga menulis lagi. Jadi buat saya itu dua profesi yang tidak bisa saya pisahkan saat berkarya.

Apa yang paling menginspirasi dan menjadi pengaruh terbesar terhadap karya-karya Kamila?

Hidup sih. Kehidupan bagaimanapun adalah inspirasi terbesar. Ada tiga hal besar yang selalu menjadi concern saya saya saat membuat film: pertama, keberagaman budaya. Saya senang sekali mengangkat akar budaya Indonesia dengan seluruh keberagamannya. Makanya film pertama saya ada di Wakatobi dengan budaya suku Bajo, film kedua saya ada di Bali, lalu film-film pendek saya semua berbasis kultur. Saya selalu ingin mencari diri saya sendiri dengan melihat budaya-budaya yang kita punya.

Kedua, ruang sosial dan lingkungan. Saya selalu punya concern ingin mencari tahu atau menjelajah tentang society kita, bagaimana orang Indonesia berpikir, karena bagaimanapun kita orang-orang timur yang pasti (punya pandangan) berbeda. Apalagi saya merasa saya anak yang masih berada dalam skala generasi muda, yang memang terpapar modernity dan bergerak sangat cepat. Filmmaking membantu mengingatkan saya sebenarnya tentang diri sendiri, yang hidup di lingkungan tertentu, society, serta kultur tertentu.

Terakhir, tentu saja suara-suara perempuan. Sebagai filmmaker perempuan saya selalu mempunyai concern untuk juga ikut andil menyuarakan suara-suara perempuan.

Film itu buat saya tidak pernah ada habisnya, tidak ada hentinya, tidak ada ujungnya.

Apa arti berkarya dalam sebuah film bagi Kamila?

Berkarya itu soal menemukan diri sendiri, menjelajahi diri sendiri. Karena bagi saya, film punya bahasanya sendiri. Film menjadi cara saya berdialog dan mencari tahu, sekaligus wadah reflektif tentang identitas saya.

Apa pandangan Kamila terhadap industri film di Indonesia saat ini?

Industri film Indonesia sekarang lagi seru-serunya, lagi asyik. Film komersil dan film artistik sedang bagus-bagusnya. Setiap tahun kita punya film-film komersil yang bagus, film box office yang bagus, namun di sisi lain kita juga punya film-film artistik yang semakin ke sini semakin asyik. Dan ini balance banget. Jarang sekali ini terjadi, bahkan di berbagai negara. Biasanya ada gap yang besar antara film komersil dan film artistik. Saya juga melihat banyak sutradara yang bisa bikin film komersil sekaligus film artistik. Selain itu para filmmaker juga saling mendukung satu sama lain.

Menurut saya, sekarang ini film Indonesia sedang jadi sorotan di dunia. Beberapa tahun lalu, saya datang ke festival-festival film dan menemukan film Indonesia cuma ada satu, itupun tahun berikutnya belum tentu ada lagi. Biasanya ada negara-negara yang filmnya banyak, seperti Filipina dan Thailand, dan pasti rombongannya banyak, selalu ada, selalu dibicarakan.

Dua tahun terakhir, orang-orang sedang membicarakan film Indonesia karena ada terus dan selalu berbeda. Dua tahun lalu ada dua film Indonesia yang diputar: Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak dan The Seen and Unseen, itu kan dua film yang sangat berbeda, tetapi dua-duanya menarik.

Kamila Andini: Kehidupan Adalah Inspirasi Terbesar Saya
(Dok. Kamila Andini)

Apa yang ingin disampaikan Kamila untuk mereka yang ingin menjadi sineas?

Ketahuilah bahwa dunia film itu naik turun banget. Bikin film itu nafasnya panjang. Enggak seperti sprint atau lari jarak pendek. Ini tuh seperti maraton. Nafasnya panjang, perjalanannya panjang, prosesnya juga panjang dan sangat meletihkan.

Kalau kamu masih melihat beberapa filmmaker yang masih membuat film dan terus membuat sinema sampai sekarang, itu sudah pasti karena passionPassion-lah yang bisa membuat mereka mampu bertahan dengan semua kerumitan dan kelelahannya. Jadi, kalau kamu ingin berada di sini, pastikan itu adalah energi terbesar kamu, itu bahan bakar terbesar yang kamu butuhkan.

Tiga hal yang selalu menjadi perhatian saya adalah keberagaman budaya, ruang sosial dan lingkungan, serta suara-suara perempuan.

Apakah kamu seorang kreator yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?