Jurnal Ruang: Membahas Produk Budaya Populer Secara In-Depth

Saya seringkali mencari dan membutuhkan bahan bacaan baru. Tujuannya, untuk menulis atau cuma sekadar membaca bacaan yang bisa menyibukkan pikiran saya ketika senggang. Kala itu, saya belum lama menghadiri sebuah pembacaan buku puisi terbaru dari Gunawan Maryanto yang berjudul Sakuntala di Reading Room, Kemang Timur.

Rasa penasaran mengantarkan saya ke sebuah artikel dari media online yang bernama Jurnal RuangSakuntala dan Penyair Menyaru Prabu Duswanta, begitu judul dari artikel tersebut. Saya menikmati tiap kata dan alur cerita yang disajikan sang penulis di artikel tersebut.

Produk budaya populer, lebih spesifiknya musik, literatur, dan film adalah tiga topik utama yang selama kurang lebih 6 bulan belakangan ini difokuskan oleh Jurnal Ruang.

Saya bertemu langsung dengan Managing Editor Jurnal Ruang, Farhanah Faridz. Kami janjian di Bentara Budaya Jakarta untuk ngobrol-ngobrol santai di kantin soal media baru yang sering diperbincangkan ini. Artikel in-depth dengan bahasan tiga budaya populer tersebut memang jadi andalan dari Jurnal Ruang.

Takjub dengan tulisan-tulisan yang dihadirkan oleh Jurnal Ruang, kami melanjutkan pembicaraan dengan membedah beberapa poin yang diusung oleh media yang ternyata pelan-pelan telah berubah dalam misinya ini.

 

Jurnal Ruang: Membahas Produk Budaya Populer Secara In-Depth
Tampilan JurnalRuang.com yang dalam waktu dekat ini akan diperbaiki
Masa lalu Jurnal Ruang

Farhanah mengatakan bahwa Jurnal Ruang telah melewati beberapa fase dalam visinya. Dulunya, Jurnal Ruang tidak memiliki situs sendiri. Gramedia sebagai “ibu” situsnya, menambahkan Jurnal Ruang sebagai salah satu blog yang menempel untuk mensosialisasikan buku-buku terbitannya.

Berisi review buku dengan pilar konten yang amat banyak, dulunya Jurnal Ruang dimaksudkan untuk “menjual” buku-buku terbitan Gramedia secara soft-selling. “Tapi lama-lama konsepnya diubah. Kita lepas dari situs Gramedia. Yang tadinya kita jadi satu, kita jadi jurnalruang.com. Itu jauh sebelum saya gabung kira-kira dua tahun lalu. Jadinya si Gramedia.com punya blog lagi sendiri. Jurnal Ruang berdiri sendiri. Memang dengan dilepas, bisnis pergerakannya menjadi lebih dinamis. Misal, kalau bicara artikel musik, sekarang enggak harus kembali lagi “jualan” buku. Jadi memang bahas musik aja,” jelas Farhanah.

Baca Juga: Sedikit Nakal, Banyak Akalnya Konsep Media Sosial Mojok.co

Jurnal Ruang sebagai ruang bebas dan media budaya populer

Setelah Jurnal Ruang berdiri sendiri dalam satu situs, Farhanah mulai tegas dalam pengembangan konten yang disajikan. “Jadi, saat sudah pindah ke JurnalRuang.com ini, harus dibuat fokusnya tiga itu. Sebelumnya ada Sastra, Fiksi Populer, Musik dan Film. Akhirnya saat saya gabung, kita mencoba merge lagi. Jadi, si non-fiksi dan sastra ini ada di bawah payung literatur. Jadi dengan adanya literatur, harapannya kita enggak hanya bahas tentang sastra atau karya fiksi, penulis/editor kita akhirnya bisa bahas buku-buku non-fiksi. Akhirnya sekarang kita fokus ke 3 dulu: literatur, musik, dan film,” jelasnya.

Dari sekitar setengah tahun lalu juga, Jurnal Ruang mulai mengukuhkan timnya dengan penulis tetap. Sebelumnya, Jurnal Ruang hanya fokus dengan para editor yang menerima tulisan-tulisan dari kontributor di luar tim mereka. Baru belakangan ini, mereka menerima dua penulis in-house yang kini bertugas menulis untuk pilar film dan musik.

Lihat publisher yang tergabung dalam jejaring GetCraft!

 

Jurnal Ruang: Membahas Produk Budaya Populer Secara In-Depth
Salah satu konten Jurnal Ruang di Instagram untuk mendistribusikan artikel (Dok. Instagram @jurnalruang)
Jurnal Ruang: Membahas Produk Budaya Populer Secara In-Depth
Jurnal Ruang membahas literatur secara in-depth

“Dulu, kita itu enggak punya penulis inhouse. Kantor isinya hanya editor dan kita mengandalkan tulisan dari kontributor saja. Atau kadang editornya sendiri yang menulis. Sekarang ini, kita sudah lebih lengkap sebagai tim. Ada yang bertugas untuk media sosial, pelan-pelan ada inhouse,”

“Saat ini, penulis tetap Jurnal Ruang ada dua, untuk menulis kanal film dan musik. Kontributor pun masih. Kami juga terus membuka open submission artikel dan senangnya, banyak juga yang kirim lewat e-mail setiap harinya,” jelas Managing Editor Jurnal Ruang yang sekarang ini memiliki tim berjumlah kurang lebih 11 orang.

Bicara bentuk tulisan, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa Jurnal Ruang banyak menayangkan artikel-artikel in-depth atau long read. Kritik Farhanah, soal Gramedia sebagai salah satu entitas yang sudah lama pergerakannya di industri buku dan faktanya cukup ketinggalan dari beberapa aspek pemasaran juga amat terasa. Maka itu, Jurnal Ruang juga sekarang berdiri untuk menjembatani itu semua. Salah satunya dengan cara tidak hanya membahas buku-buku terbitan Kompas Gramedia saja, namun juga terbitan lain supaya terbentuk koneksi dengan komunitas-komunitas kanal yang dituju tersebut.

Baca Juga: Bagaimana Cara Tirto.id Menggarap Infografik dan Visual Report?

Tujuan Jurnal Ruang tidak hanya itu. Seperti namanya–ruang–dimaksudkan untuk memberikan keleluasaan bagi pembaca untuk menyampaikan opininya, layaknya koran. “Iya, karena sesuai namanya, “ruang” kita merasa sama dengan konsepnya koran. Koran dari dulu kan punya ruang untuk pembaca untuk menulis. Nah, Jurnal Ruang juga begitu. Kita juga ingin selalu ada sumbangan tulisan dari pembaca/kontributor. Bahkan, kalau si penulis mengkritik tulisan lama lewat tulisan baru, juga enggak apa-apa. Kita ingin selalu ada ruang itu untuk pembaca,” tegasnya.

Di akhir wawancara, saya bertanya dengan Farhanah untuk menjelaskan Jurnal Ruang secara singkat. “Media populer tentang produk-produk budaya yang sekarang ini kita batasi. Seperti literatur, musik dan film–yang bisa menjembatani si grup Kompas Gramedia ini, meng-cover hal-hal yang sebelumnya belum banyak dibahas. Misalnya, media yang membahas buku yang mungkin amat populer sudah banyak. Nah, kita pengen memberi tahu kalau ada yang lain lho, pilihannya di tiga skena tersebut. Tapi, kami enggak membatasi juga, untuk membahas yang populer. Intinya, kami memberikan pilihan juga. Kita ingin menjadi salah satu support system yang ada di industri budaya ini. Kalau bicara tiga industri itu, media perannya amat besar. Kita ingin mengisi itu–dengan cara berkontribusi di dalamnya lewat tulisan,” tutupnya.

 

Apakah publisher-mu belum tergabung dalam jejaring GetCraft?