Joshua Suherman: “Banyak Likes Belum Tentu Baik, Baik Belum Tentu Banyak”

Generasi yang lahir besar di tahun ’90an adalah generasi yang bertahan lewat nostalgia. Di tengah terpaan beragam masalah dan perubahan menuju masa depan yang sepertinya akan dikuasai oleh mesin pintar, internet, serta krisis identitas, nostalgia menjelma sebuah kekuatan untuk generasi ini dalam menjalani hari-hari. Maka tak heran, banyak yang mencari suaka ke hiburan masa lalu atau mengingat-ingat masa dulu ketika era televisi masih menjadi hiburan mainstream generasi kami atau mencari tahu kira-kira apa sih yang tengah dikerjakan idola semasa kecil saat ini.

Upaya yang terakhir saya sebutkan sering saya lakukan sendiri. Baru-baru ini, saya keranjingan mencari info mengenai penyanyi idola semasa kecil yang sempat membuat saya ingin menjadi penari latar di video klipnya, Joshua Suherman. Seperti seorang teman lama yang ingin mengetahui kabar teman karibnya, saya mengandalkan mesin pencari demi mendapatkan info terbaru mengenai idola semasa kecil saya itu.

Joshua Suherman: "Banyak Likes Belum Tentu baik, Baik Belum Tentu Banyak"
(Dok. Instagram @jojosuherman)

Joshua Suherman telah beranjak dewasa dan masih berkarya sampai saat ini lewat dunia seni peran, tarik suara, hingga komedi. Tahun lalu ia turut ambil bagian dalam film Yowis Ben bersama Bayu Skak. Ia juga aktif sebagai komika dan mengembangkan Majelis Lucu Indonesia bersama sejumlah komika lainnya. Bersamaan dengan itu, Joshua pun aktif di media sosial seperti Twitter dan Instagram membagikan beragam bidang kesenangannya dan bekerja sama dengan brand serta turut memasarkan produk lewat media sosialnya tersebut.

Di tengah zaman yang memiliki teknologi melipat dan meringkus jarak serta sedikit keberuntungan lewat teman, saya berhasil menghubungi Joshua Suherman. Mewakili Crafters, saya mewawancarai mantan penyanyi cilik tersebut mengenai kesehariannya, industri kreatif, influencer, dan dunia hiburan tanah air.

Baca Juga: Bayu Skak: Memerangi Mata Manusia

Ceritakan dong alasan apa yang membuat kamu terjun ke dunia media sosial dengan banyaknya ketertarikan kamu seperti dunia tarik suara, seni peran, dan fotografi?

Untuk pertanyaan pertama jawabannya karena media sosial sekarang hampir jadi hal yang seolah-olah wajib untuk semua orang. Apalagi untuk orang di usia 18, 24 sampai 30 tahun. Bagi orang-orang di usia tersebut sepertinya memiliki akun media sosial adalah hal yang lumrah. Saya tidak terjun secara sengaja untuk membuat media sosial karena lahannya ‘basah’. Lebih ke buat pribadi saja. Tapi kemudian, karena satu dan lain hal, dari sana saya dapat tawaran-tawaran menggiurkan juga.

Ketertarikan dengan banyak hal itu cuma jadi konten saja. Bukan karena ketertarikan itu kemudian saya bikin medsos. Tapi karena saya bikin medsos dan saya punya ketertarikan, sehingga kontennya pasti seputar itu. Saya enggak mungkin membuat suatu konten yang saya enggak paham atau saya enggak suka.

Menekuni profesi di industri kreatif sebagai musisi, artis peran, dan influencer secara sekaligus, bagaimana aktivitas-aktivitas tersebut membantu menemukan pribadimu dan apa pengaruhnya terhadap proses kreatif kamu?

Menemukan proses kreatif itu bisa dari mana saja. Kebetulan saya dari kecil kan juga sudah di industri ini dan bahkan, dulu belum ada internet. Saya sudah di bidang ini sebelum saya bisa membaca. Kegiatan-kegiatan seperti menonton, mengobrol, melihat sesuatu, memperhatikan, mengamati, itu yang bisa menghasilkan ide baru dan sudah biasa saya lakukan. Jadi enggak pernah stuck.

Referensi bisa didapatkan di mana saja. Seperti era ketika saya kecil dulu yang populer itu VCD, ya nonton VCD. Kalau bicara sekarang, mungkin eranya Netflix, ya tonton lah Netflix. Saya mengobrol dan menonton semua bentuk seni yang ingin saya tonton. Selain itu, selagi bekerja, saya juga menyambi belajar. Saya enggak pernah les akting, tapi dulu belajarnya dari main film dan melihat senior-senior berakting.

 

Joshua Suherman: "Banyak Likes Belum Tentu baik, Baik Belum Tentu Banyak"
(Dok. Instagram @jojosuherman)
Seperti apa proyek pertama ketika kamu menjadi influencer? Bolehkah diceritakan?

Saya enggak pernah mengklaim diri saya sebagai influencer karena saya enggak merasa diri saya meng-influence orang. Saya cuma orang yang nge-post apa yang saya suka dan kebetulan menarik magnet yang sejiwa atau yang punya kesukaan serupa. Setelah terkumpul, ada brand yang ingin menggunakan perkumpulan itu untuk tempat jualan. Ya begitu saja.

Saya tidak pernah meng-influence atau membuat sebuah gerakan. Bicara project pertama… Apa ya… saya juga lupa. Yang pasti di Twitter. Lupa brand-nya apa dan harganya berapa. Hahaha.

Menurutmu apakah hal menyenangkan dari profesi sebagai influencer dan perbandingannya dengan jenis pekerjaan kreatif lainnya yang tengah kamu jalani? Apa tantangan terberat yang pernah kamu hadapi menggeluti semua profesi tersebut secara bersamaan?

Saya enggak bisa bilang itu profesi, karena saya tetap merasa medsos adalah etalase saya. Etalase untuk kerjaan-kerjaan lain. Misalnya ketika saya syuting film, saya punya film, saya punya proyek lainnya… saya pamerkan di situ. Saya punya perusahaan dan setiap perusahaan saya membuat satu event atau produk, saya promoin di situ. Lebih jadi etalase dan juga wadah buat orang keep in touch sama saya. Income-nya juga bukan dari situ utamanya.

Tantangan terberatnya pasti waktu. Kita sama-sama diberi waktu 24 jam sehari, hanya saja membagi-bagikannya itu yang pusing. Itu aja sih. Sisanya enggak ada. Di lain sisi, yang menyenangkan adalah industri kreatif biasanya tidak memerlukan suatu hal yang baku. Kita hanya diminta untuk terus bergerak dan membuat sesuatu yang beda, yang baik, yang menghibur. Itu sih yang diutamakan. Saya merasa nyaman karena saya kurang suka dengan konsep kelas dan kantor. Ada orang-orang yang andal dalam hal seperti itu, tapi saya merasa kurang cocok.

Pernahkah ada brand yang menawarkan hubungan kerja sama namun bertentangan dengan idealisme kamu?

Pernah. Pernah ada yang akhirnya saya tidak terima karena bertentangan dengan stand saya. Enggak cuma brand. Biasanya campaign untuk ajakan melakukan sesuatu yang menurut saya,“Apa sih ini?” Terus ajakan memilih seorang kepala daerah juga pernah datang. Tidak saya terima juga karena saya bukan berasal dari daerah tersebut. Saya enggak berani tanggung jawab untuk bilang calon kepala daerah itu baik atau buruk karena saya juga enggak tahu.

Apa pandanganmu soal industri influencer? Dan menurutmu, seberapa besar sih pengaruh influencer di masyarakat?

Seperti tadi yang udah saya jawab, kalau bagi saya pribadi sih pengaruhnya hanpir enggak ada. Karena saya lebih nyaman dibilang aktor, musisi, atau komedian daripada influencer. Karena saya tidak pernah meng-influence orang secara terang-terangan di medsos atau ada dikotomi influencer dan non-influencer, atau makna influencer sekarang sudah bergeser dan banyak orang yang self-proclaim influencer…. Saya juga enggak tahu kenapa, tapi saya enggak pernah merasa diri saya influencer.

 

Joshua Suherman: "Banyak Likes Belum Tentu baik, Baik Belum Tentu Banyak"
(Dok. Instagram @jojosuherman)

Medium industri kreatif bisa saja berganti, tapi kita−pelakunya−akan tetap bisa survive selama bisa beradaptasi. Kita enggak perlu merasa lebih spesial karena ada dalam satu platform dengan platform lainnya karena industri hiburan akan selalu bergerak.

Selain ketertarikan-ketertarikan yang tengah kamu jalani sekarang ini, adakah yang ingin kamu coba lagi?

Saya selalu suka sama hal-hal baru, cuma ada beberapa hal yang saya menyerah untuk mencoba. Misalnya, menggambar. Sepertinya saya tidak dilahirkan untuk kemampuan motorik tersebut, atau memang itu hasil karena dari TK saya sudah di doktrin tulisan saya jelek jadi motorik dalam hal menulis dan menggambar saya buruk. Tapi pengin banget sih. Beberapa waktu lalu bersama pacar, saya pernah mencoba kelas melukis dan hasilnya buruk memang. Hehehe. Yang terdekat, saya ingin mencoba buat film sebagai orang yang memproduksi bukan sebagai aktor.

Bicara mengenai dunia hiburan tanah air, pergeseran jenis hiburan dari media mainstream seperti televisi ke digital tentunya membawa banyak dampak bagi segala macam aspek hidup. Menurutmu, sebagai pelaku industri kreatif dan hiburan yang telah aktif sedari kecil, bagaimana iklim industri hiburan di Indonesia sekarang ini? Boleh diceritakan?

Menurutku industri kreatif itu enggak akan pernah mati atau hilang. Pada intinya, orang akan tetap butuh hiburan. Medium industri kreatif bisa saja berganti, tapi kita−pelakunya−akan tetap bisa survive selama bisa beradaptasi. Kita enggak perlu merasa lebih spesial karena ada dalam satu platform dengan platform lainnya karena industri hiburan akan selalu bergerak. Industri hiburan itu progresif sekali. Jadi, fokus saja pada bidang kreatifnya. Kita enggak perlu pusing soal mediumnya, kita enggak perlu pusing soal marketing-nya. Biarkan keduanya dipikirkan sama orang-orang yang tugasnya memikirkan hal-hal tersebut. Kalau menurutku sih begitu.

Tapi untuk sekarang ini, karena akses internet sangat mudah didapat dan murah, sepertinya numbers itu jadi penting banget. Dulu waktu eranya TV, ada lembaga seperti Nielsen yang punya wewenang untuk menyatakan acara ini ditonton dan disukai oleh sekian orang. Itu ada surveinya. Kalau sekarang kan semuanya sangat terbuka. Dulu, hasil Nielsen tidak dibuka ke publik, tapi kalau YouTube atau retweet, jumlah likes itu kan ketahuan. It’s all about numbers. Ini enggak sehat kalau terlalu melihat angka atau kuantitas, bukannya kualitas. Ada baiknya jika sesuatu dinilai baik karena kualitas alih-alih angka. Banyak belum tentu baik, sebaliknya baik juga belum tentu banyak. Sedikit belum tentu jelek.

Baca Juga: Millen Cyrus: Menyebarkan Hal Positif dengan Menjadi Diri Sendiri

Apa kritik atau pesanmu terhadap para pengguna media sosial di era digital seperti sekarang ini dalam memilih jenis informasi dan khususnya hiburan?

Kritik terhadap pengguna sih pasti sudah banyak diutarakan. Semua orang punya keresahan masing-masing. Engga adil kalau itu dijadikan patokan. Saya cuma berharap semua dari kita lebih menahan jempol ketika kita melihat sebuah karya di media sosial atau di internet.

Bedanya dengan era televisi adalah kalau di TV kita tidak diberikan wadah untuk memberikan kritik dan saran secara langsung. Palingan dulu kita suka mengirimkan surat kritik, tapi itu pun tidak dibacakan kepada khalayak. Kalau di YouTube kan orang dengan bebas bisa menulis ini dan itu. Itu saja sih pesannya; lebih menahan diri.

Kalau enggak suka ya enggak usah ditonton. Sesimpel itu saja. Seperti zaman tv dulu, kalau kita enggak suka, ya tinggal pindah channel, enggak perlu ngatain.

Terakhir, apa harapanmu ke depannya terhadap industri hiburan tanah air dan masa depan para pengguna media sosial?

Yang pasti semakin beragam. Enggak seragam dan itu-itu aja. Karena numbers-nya besar akhirnya kiblatnya jadi ke situ semua. Enggak begitu. Enggak terjadi polarisasi. Karya sedikit atau banyak peminatnya, tetap punya panggung, punya porsinya. Bisa tetap jadi wadah edukasi dan tetap asik.

Enggak harus semuanya mendidik, kok. Maksudnya, boleh yang menghibur aja. Cuma juga jangan sampai mengedepankan ego dengan enggak mementingkan lagi kualitas. Dan untuk masa depan para pengguna media sosial, ya, harus lebih banyak edukasi yang diberikan untuk kita bisa lebih menahan diri dan jempol.

 

Apakah kamu seorang content creator yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?