Jason Ranti: Bicara Soal Pak Haji dan Komunis, Lewat Lagu

Jason Ranti featured 1

Aku siaga, selalu waspada, bahaya merah di mana-mana
Kini curiga waktu kulihat istri tercinta rambutnya merah
Bibirnya merah, behanya merah, kukunya merah, sepatunya merah
Oh, istriku mengapa kau merah?
Mungkin ia agen rahasia?
Ooo, sudah kuduga…

Di bawah tembakan lampu merah, Jason Ranti mendendangkan bait lagu Bahaya Komunis. Mimiknya begitu serius, hingga tak jarang matanya memejam. Begitu menghayati.

Tapi tidak begitu dengan penonton di hadapannya. Tawa-tawa kecil terdengar dari arah pendengar. Ya, lirik-lirik Jason ibarat seloroh komedi yang mengocok perut. Dipadu dengan kocokan gitar kopong, yang membuat alunan musik renyah di kuping.

Walau terdengar jenaka, bait demi bait yang tertuang sebetulnya sarat makna; bahkan beberapa kritik terhadap berbagai sudut kehidupan sosial tersampaikan dengan terang. Baca saja lirik di Suci Maksimal berikut ini:

Uuu…pak penjahat, naik haji setahun sekali
Uuu…bu penjahat, cuci kaki satu jam sekali
Suci maksimal
Uuu…pak penjahat, cita-cita jadi robin hood
Uuu…bu penjahat, angan-angan mati di pantai
Mati maksimal

Jason Ranti 2

Konyol, kocak, dan padat kritik. Persepsi itu yang kemungkinan besar Anda atau penggemarnya tangkap dari aksi Jason Ranti di atas panggung.

Padahal, menurutnya langsung, bukan begitu niatnya saat menciptakan deretan lirik dalam album Akibat Pergaulan Blues, ataupun saat berdendang di atas pentas. Kata Jason, semua lirik itu adalah masalah pribadi dan mewakili pemikirannya sendiri.

“Saya tidak tahu kenapa orang mempersepsikan itu sebagai kritik sosial, padahal saya tidak ada rencana jadi kritikus,” kata Jason pada The Crafters. “Lalu ada yang menganggapnya humor, dan tertawa saat mendengarkan saya di panggung. Padahal buat saya, yang saya tulis itu serius.”

Menurut Jason, semua memang sudah kebolak-balik. Ia mencontohkan satu orang yang katanya pemimpin agama, tapi juga nyambi jadi pemimpin ormas. “Buat saya, malah dia itu komedian. Perilaku dan perkataan dia pada saat ceramah, bagi saya lucu. Ini saya bicara terus terang, bukan menghina,” ujarya.

“Tapi orang mempersepsikan dia sebagai orang yang serius, dengan pesan yang serius pula. Sedangkan saya yang serius, malah dipersepsikan humoris. Yah begitulah begitu…”

Jason Ranti 1

Jason Ranti mulai mengenal musik sejak kecil, lewat koleksi cakram padat dan kaset milik sang ibu. Bahkan hingga kini, ia masih suka mendengarkannya. Seperti album Stars-nya Simply Red, ataupun lagu-lagu dari John Mayall.

Ia mengingat, kalau ketertarikan bermusiknya sudah ada sejak kecil, saat ia ingin sekali belajar memainkan instrumen musikal. Sayangnya, harapan itu tidak kesampaian.

Saat SD, ia memang sempat mendapatkan pelajaran musik di sekolah. “Tapi alat musiknya suling, saya tidak suka.” Keinginannya baru terkabul di kelas 1 SMP, ketika ia mulai belajar bermain gitar.

Sementara soal menulis musik, Jason baru memulainya ketika SMA. Lagu itu ia tujukan ke seorang teman perempuan; meski begitu ia mengaku lupa, apakah lagi itu untuk orang yang ia suka atau sebal.

Yang jelas, karena menciptakan lagu untuk teman perempuan, ia sempat diejek teman-teman satu sekolah; dan hal itu membuat kepercayaan dirinya runtuh, dan akhirnya berhenti menggubah lagu.

Ia baru kembali melakukannya ketika duduk di bangku kuliah. Alasannya karena ia merasa sedang tertampar realita, terutama saat lapar dan sulit membeli makanan.

Sekitar pada saat itu juga, Jason sedang bersinggungan dengan karya WS Rendra, berjudul Nyanyian Angsa, dan merasa ada kedalaman di syair tersebut. Membuatnya merasa ingin, mampu, dan harus menciptakan lagu.

“Ada dorongan bagi saya untuk berkarya,” tandasnya.

Sejak itu, kebanyakan saat sedang mengendarai motor, ide-ide lagu Jason berkelebatan di kepalanya. Menurutnya, membayangkan lagu dan liriknya saat tengah mengendarai sepeda motor, lengkap dengan terpaan anginnya, membuat pikirannya berlarian ke mana-mana. Lalu, saat sempat dan bila ingat, ia baru menuliskannya di kertas.

“Bisa musik dulu, atau lirik duluan. Tapi sebenarnya enak kalau sudah ada musiknya, bisa kasih stimulus buat nulis lirik,” katanya mengisahkan.

Saya itu enggak lucu, tapi serius. Ada satu orang yang katanya pemimpin agama, tapi juga nyambi jadi pemimpin ormas. Buat saya dia itu lebih komedian. Lucu. Ini saya bicara terus terang, bukan menghina.

Lagu-lagu itu dia buat sekenanya. Meski kemudian banyak orang menganggap musik yang ia bawakan adalah jenis folk, Jason lagi-lagi merasa tidak pernah memikirkannya. Malah ia menganggap musiknya termasuk jenis disko tunggal; meski juga mengaku tidak bisa bisa menerangkannya secara jelas.

Pada dasarnya, Jason hanya tidak mau dikenal berkiblat ke genre tertentu, yang menurutnya justru bakal membatasinya dalam berkarya. “Seperti disko tunggal, itu buatan saya sendiri. Enggak ada batasannya, jadi saya merasa lebih bebas,” ujarnya.

Jason memang tidak suka kalau musik mesti dikotak-kotak berdasarkan aliran tertentu. Menurutnya, musik itu hanya ada dua: enak dan tidak enak didengar. Ia mengaku suka musik boyband Backstreet Boys, saat masih bersekolah dulu. Dan jadi harus menyembunyikan kesukaannya itu, karena menghindari ejekan teman. “Minimal dikasih label homo,” imbuhnya.

Jason Ranti featured 2

Kini, Jason Ranti tengah menggandrungi album Vulgar, dari Joe Million. Menurutnya, rapper asal Papua itu memiliki banyak pemikiran mendalam, dan berani mengungkapkan pendapatnya. Tapi jika bicara soal berkolaborasi, uniknya Jason justru ingin bernyanyi bersama mantan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono. Alasannya, “Beliau punya bakat menyanyikan lagu-lagu minor.”

Lepas dari musik, Jason juga tergugah dengan karya-karya dari seniman Karel Appel, sehingga ia pun gemar menuangkan kreativitasnya di atas kanvas.

Bahkan saat kami menanyakan, mana yang ia anggap lebih menyenangkan di antara bermusik dan melukis, Jason pun menanggapinya dengan ujaran, “Oh, mengapa hidup dijejali dengan pilihan sulit?”