Ingin Jadi Selebtwit? Begini Caranya!

Twitter belakangan ini menjadi sebuah platform yang menjanjikan bagi para penggunanya. Hal ini juga dirasakan oleh banyak brand karena keefektivitasan Twitter dalam kesuksesan sebuah campaign atau penyampai pesan para brand kepada audiens.

Seperti pada platform media sosial umumnya, kreator yang ada di Twitter pun amat beragam. Para kreatornya pun kontennya juga memiliki ciri khas yang amat mudah dikenali para audiens. Hal ini lah yang mendukung kegiatan marketing di platform Twitter.

Dalam Jakarta Creators Meetup yang diadakan di Go Food Festival, GBK, 16 Mei 2019 lalu lewat topik Jadi Selebtwit atau Influencer Sukses Lewat Twitter? Ini Caranya! GetCraft mengundang 3 pembicara dengan beragam insights. Muhammad Widi Prastomo (Widi), selaku Social Media Manager GOJEK mengatakan bahwa “saya percaya Twitter itu aktif sebagai media pengantar jika brand ingin membangun sebuah conversation dengan audiens.” Sebagai salah satu dari 3 pembicara yang hadir di acara JCM, ia hadir menyajikan insights dari sisi brand.

Kedua pembicara lain, yaitu Falla Adinda (Twitter Content Creator) dan Dea atau yang dikenal dengan nama akun @mahasiswikupu2 di Twitter melengkapi insights acara JCM dari sisi para kreator/influencer di platform media sosial Twitter.

Baca Juga: Membuat Thread di Twitter yang Menarik Banyak Audiens

 

Ingin Jadi Selebtwit? Begini Caranya!
Menjadi Selebtwit

Bagaimana sih para selebtwit ini memulai kariernya hingga sukses memiliki followers banyak? Hal ini banyak dipertanyakan oleh para kreator yang ingin berkarier menjadi influencer di platform Twitter. Memang, sebutan “viral dalam waktu satu malam” bisa menjadi sebuah kesempatan, namun, tidak semua orang memiliki kesempatan tersebut.

Dea menjelaskan bahwa karier awalnya dimulai dengan keluhan-keluhan perkuliahannya yang ia salurkan di akun Twitter-nya. Ternyata, karena relevansi konten yang besar dengan para audiensnya, ia banyak di-retweet dan kemudian perlahan-lahan akunnya menjadi besar. Ia mengambil kesempatan ini untuk menghasilkan konten yang konsisten dengan tema mahasiswa yang ia ambil hingga sekarang. Dea saat ini berhasil mendapatkan lebih dari 100.000 followers di Twitter! Bagaimana dengan Falla Adinda?

“Kalau enggak pinter banget, ya lucu banget,” jelas Falla Adinda saat ditanyakan kunci untuk menjadi seorang influencer di Twitter. Namun, Adinda Falla sendiri juga telah melewati banyak proses sebelum namanya naik di kalangan para selebtwit.

“Saya percaya bahwa sosial media itu efeknya domino. Kita akan ikut terekspos jika kita terhubung dengan mereka yang sudah memiliki panggung sebelumnya. Jadi, benar itu istilah ‘panjat sosial’. Tetapi, kita tetap harus membuat konten yang baru dan segar,” jelas Falla.

Falla menceritakan interaksinya di Twitter banyak bermula dari menghadiri acara-acara influencer Twitter yang diadakan di Jakarta, lewat acara seperti itu, ia berkenalan dan mulai berinteraksi secara online dan offline. Hal inilah yang memicu para followers dari selebtwit lain untuk ikut penasaran dengan sosok Falla Adinda dan kemudian menjadi followers-nya.

Namun, seperti yang sudah dikatakan Falla sebelumnya, untuk membuat para followers-nya tetap terkoneksi dengan akun Instagram-nya, Falla tetap dengan konsisten menyajikan konten fresh yang cocok dengan audiensnya. Jadi, pastikan jangan hanya terkoneksi dengan para selebtwit, namun juga untuk selalu melahirkan konten kreatif yang orisinal!

Baca Juga: Memulai Karier Fashion Influencer dengan Budget Minim? Bisa!

 

Ingin Jadi Selebtwit? Begini Caranya!
Ingin Jadi Selebtwit? Begini Caranya!
Influencer Twitter pilihan brand

Bicara soal orisinalitas, sisi brand mengatakan bahwa salah satu konsiderasi besar dalam memilih influencer adalah aspek konten tersebut.

Selain itu, apa saja pertimbangan para brand? Widi menjelaskan empat poin penting untuknya. Yang pertama adalah orisinalitas. Aspek ini penting karena brand akan mempertimbangkan audiens para influencer dari sini. Biasanya, konten yang orisinil akan menggambarkan ketertarikan si influencer dan jangkauannya terhadap followers-nya. Brand dapat dibantu dengan ciri khas untuk menentukan project/campaign yang cocok dengan para influencer tersebut.

Selanjutnya, Widi menjelaskan soal engagement. Seperti yang sudah ia utarakan sebelumnya, bahwa menurutnya Twitter adalah sebuah media yang dapat menghasilkan sebuah conversation. Maka itu, semakin banyak engagement yang dapat dihasilkan para influencer, akan semakin banyak juga obrolan soal brand tersebut dan seberapa besar mereka peduli dengan brand itu.

Yang terakhir adalah jumlah followers dan reach. Tidak dipungkiri, jumlah followers akan menjadi pertimbangan sebuah brand dalam bekerja sama dengan para influencer. Yang terakhir adalah reach. Widi menjelaskannya sebagai sebuah kesempatan untuk konten brand tersebut sampai ke audiens yang tepat. Dari pertimbangan-pertimbangan ini, diharapkan para influencer dapat menyajikan konten kerja sama dengan brand secara maksimal. Good luck!

 

Kamu seorang influencer yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?