Ika Vantiani: Upaya Edukasi Seni kepada Publik Lewat Kolase

Satu-satu hal yang saya tahu mengenai kolase adalah istilah tersebut merupakan sebutan untuk teknik seni visual. Mencari sebuah gambar yang atraktif, memotongnya dan menggabungkannya dengan bagian gambar lain menjadi bentuk baru–sebatas itulah istilah kolase yang saya pahami dulu. Itu pun saya pahami bukan ketika mencari tahu informasi mengenai dunia kesenian, melainkan saat tengah berusaha memahami teori sastra demi menyusun tugas akhir di bangku perkuliahan.

Jadi ketika teman saya mengajak saya untuk mengikuti salah satu kelas Kolase Saudari, saya hanya berpikir, “Wah, seperti prakarya menempel waktu kecil dong.” Tidak ada ketertarikan yang terlalu besar pada saat itu. Yang ada hanya pikiran kegiatan tersebut akan menjadi sebuah kegiatan mengisi waktu luang.

Beberapa bulan semenjak itu, teknik kolase memiliki pergeseran tempat dalam kepala saya. Kata kolase berubah dari hanya sebuah istilah demi menjelaskan teori sastra menjadi kegemaran baru. Apalagi semenjak saya mulai jatuh hati pada karya Adam Hale, seorang seniman kolase dan animator yang tinggal di Surrey, Inggris.

Saya lantas kembali melihat ke belakang, mencoba mencari tahu kolase lewat karya-karya salah satu sosok seniman yang menjadi mentor di kelas Kolase Saudari yaitu Ika Vantiani.

Ika Vantiani: Upaya Edukasi Seni kepada Publik Lewat Kolase
(Dok. Ika Vantiani)

Ika Vantiani adalah seorang seniman perempuan Indonesia yang medium utamanya dalam berkarya adalah kolase. Karya-karyanya tak hanya dipamerkan di dalam negeri, namun hingga luar negeri. Pada tahun 2018, karya Ika Vantiani dipamerkan di Museum Nasional Yogyakarta dalam acara  “ARTJOG Enlightenment”. Selain berpameran, ia pun banyak membuat lokakarya seni, kriya dan media.

Mewakili Crafters saya mengontak Ika Vantiani untuk tahu lebih dalam mengenai kolase, dunia arts and craft, filosofinya dalam berkarya, serta tantangan terbesar yang dihadapi seniman kolase dalam lanskap dunia kesenian di Indonesia.

Baca Juga: Resatio Adi Putra dan Rahasia Seni Kolase

Apa yang memutuskan Ika terjun berkarya dalam dunia arts and craft tanpa memiliki latar belakang seni sebelumnya?

Pertama, karena saya bisa. Kedua, karena pada 2008 saat saya membuat karya kolase dengan tangan, saya kemudian menemukan bahwa art & crafts adalah dunia yang selama ini saya cari di mana saya bisa menjadi diri saya sendiri dengan mengekspresikan diri saya melalui karya art & craft saya. Rasanya seperti menemukan rumah tempat pulang. Apa pun yang terjadi pada diri saya, saya akan tetap bisa menjadi diri saya sendiri termasuk hidup di dalamnya.

Kegelisahan atau alasan apa yang mendorong Ika memutuskan untuk berekspresi melalui medium kolase?

Saya menemukan kolase sebagai teknik berkarya yang sederhana alat dan bahannya, namun luar biasa hasilnya. Kolase juga menjadi medium untuk saya yang tidak memiliki latar belakang seni untuk berani berkarya dengan apa yang saya miliki. Untuk saya, kolase terasa membumi untuk membawa saya ke angkasa, ke tempat-tempat yang belum pernah saya datangi sebelumnya.

Mengapa Ika percaya medium tersebut merupakan cara yang tepat untuk menyampaikan pesan Anda?

Ini bukan tentang kepercayaan saya bahwa medium ini merupakan cara yang tepat untuk menyampaikan pesan saya, kecuali dalam konteks bahwa seni mestinya adalah sesuatu yang bisa dilakukan semua orang. Di luar itu saya tidak merasa hanya kolase saja yang dapat menyampaikan pesan saya. Satu pesan yang paling jelas yang disampaikan oleh kolase, sebagai sebuah teknik berkarya adalah semua orang bisa membuat karya dengan bahan dan alat yang ada di sekitarnya.

Siapa saja sosok seniman yang mempengaruhi Ika dalam berkarya? Bagaimana pengaruh mereka terhadap cara Ika menggarap karya, jalan karier, serta cara berpikir Ika?

Ada satu orang seniman perempuan Amerika, Lisa Congdon, yang merupakan seniman yang menginspirasi saya untuk menggunakan kolase sebagai medium, di luar hanya sebagai teknik untuk membuat zine saja. Lisa yang memulai karier senimannya dalam usia 33 tahun menginspirasi saya yang memulai berkarya sebagai seniman di usia yang sama. Kisah-kisah Lisa sebagai seorang perempuan dan seniman jugalah yang memberi banyak amunisi semangat saya untuk tetap bisa terus berkarya.

Selain menggeluti dunia kesenian, kamu memiliki minat terhadap isu perempuan. Bagaimana minat dan aktivitas di luar dunia kesenian tersebut membantu menemukan pribadi serta hasil berkesenian Ika sekarang?

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, seni adalah tempat di mana saya menjadi diri sendiri. Artinya, sebagai perempuan dan juga seniman perempuan saya menyampaikan segalanya mengenai kedua fakta tersebut melalui karya-karya saya. Mereka tidak terpisah, tapi saling melengkapi. Apa yang saya rasakan sebagai perempuan, saya tuangkan dalam karya-karya sebagai seniman. Bahkan sebelum saya melihat diri saya sebagai seniman seperti hari ini, saya sudah membicarakan tentang perempuan dalam tulisan-tulisan di zine saya dan karya-karya setelahnya. Biasanya saya akan memulainya dari apa yang saya rasakan dan saya temukan di dalam diri saya sebagai seorang perempuan.

Tantangan kreatif apa yang kamu hadapi selama menjalani profesi yang kamu jalani sekarang dan apa solusinya?

Di Indonesia, seni belum dilihat sebagai sesuatu yang penting sehingga apa pun yang berkaitan dengan seni, termasuk profesi seniman itu sendiri, belum diapresiasi layaknya profesi lainnya. Sebagai seniman, saya merasakan bagaimana infrastruktur seni di sini belum terbangun dengan baik. Akibatnya, seniman lebih sering harus membuat dan melakukan semuanya sendiri, termasuk menciptakan infrastruktur tersebut.

Profesi seniman tidak memiliki jadwal kerja yang rutin, penghasilan yang tetap, dan apresiasi material yang memadai selain fakta bahwa karya Art & Crafts bukanlah produk primer. Itu semua seringkali membuat proses berkarya bagi seorang seniman menjadi semakin berat baik internal maupun eksternal. Solusinya adalah yang saya lakukan kemudian; saya mencoba menciptakan supporting system untuk meringankan beban saya tersebut sambil sekaligus melakukan upaya edukasi seni kepada publik dalam keseharian saya.

 

Ika Vantiani: Upaya Edukasi Seni kepada Publik Lewat Kolase
(Dok. Ika Vantiani)
Bagaimana proses pembuatan kolase yang Ika buat?

Biasanya prosesnya bisa dimulai dari berbagai sisi. Dari bahan kolase yang saya gunakan adalah salah satunya; di mana saya seringkali menggunakan limbah atau bahan bekas sebagai bentuk pertanggungjawaban saya yang memproduksi sampah setiap harinya. Selain itu, pilihan visual yang sebagian besar bernuansa vintage. Saya merasa gaya visual tersebut memiliki karakter yang lebih menarik dibandingkan dengan visual-visual baru.

Tak hanya itu, pembuatan kolase saya juga bisa berangkat dari pesan yang ingin saya sampaikan, di mana pada prosesnya saya akan mencari visual yang saya rasakan tepat untuk menyampaikan pesan tersebut. Lalu setelahnya, saya membuat komposisi kolase mengenai apa yang ingin saya utarakan.

Proyek apa yang tengah digarap sekarang ini?

Saya seringkali menjalankan beberapa proyek sekaligus baik yang panjang maupun pendek. Selain agar tidak bosan, hal ini membuat saya memiliki jarak dengan proyek-proyek tersebut untuk bisa terus menerus kembali saat mendapatkan ide atau menambahkan sesuatu bila perlu. Selain proyek Kata Untuk Perempuan (@Katauntukperempuan), di mana saya mengumpulkan kata yang digunakan untuk mendeskripsikan perempuan dalam kehidupan sehari-hari melalui media kolase, saya juga masih melanjutkan riset untuk karya Perempuan Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sejak tahun lalu. Rasanya dua proyek itu yang sedang saya jalankan saat ini.

Baca Juga: Andhika Muksin: Kolase Digital Gabungan Pop Culture dan Disney!

 

Ika Vantiani: Upaya Edukasi Seni kepada Publik Lewat Kolase
(Dok. Ika Vantiani)
Adakah tips yang ingin Ika bagikan untuk mereka yang tertarik dengan dunia berkesenian, utamanya yang juga turut memilih kolase sebagai medium berkarya?

Sebagai seniman otodidak yang memulai segala sesuatunya sendiri, saya akan merekomendasikan untuk langsung terjun saja ke dalam dunia kesenian termasuk kolase. Berkarya terus, termasuk eksperimen dan mencoba medium dan teknik-teknik baru, berkolaborasi, ngobrol dengan seniman kolase lain, ikut submission dan pameran. Itu semua yang saya lakukan sejak awal sampai sekarang. Setiap hari. Sampai nanti bisa menemukan teknik, topik, dan konsep karya yang dirasakan pas. Tak perlu dipikirkan dulu uangnya karena nanti itu datang sendiri di satu titik saat orang sudah tahu dan melihat serta mengapresiasi karya kita.

Adakah salah satu tempat kreatif yang Ika rekomendasikan dan alasannya?

Tempat kreatif saya adalah kamar saya sendiri. Kenapa? Karena saya merasa sebagai seseorang yang kreatif mesti bisa memberi bahan bakar dan menciptakan ruang kreatif kita sendiri. Lagipula definisi kreatif dan kebutuhan semua orang berbeda. Ingat, semua orang itu kreatif, tapi tidak semua orang rajin. Haha!

Selain itu, saya juga suka ke Ruang Selatan untuk mengerjakan beberapa pekerjaan termasuk berkarya. Di sana, saya menyukai kegiatan-kegiatan kreatif yang dibuat di Ruang Karya, zine corner, serta tentu saja makanan dan selalu tersedianya pembalut di kamar mandinya. Just wonderful!

Baca rekomendasi tempat kreatif lainnya dari Crafters di sini!

 

Apakah kamu seorang kreator yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?