ICAD X: Upaya Para Seniman Kontemporer Mencari Hal-hal Terselubung

Semenjak zaman purba, kesenian menjadi salah satu aspek yang tak pernah lepas dari kehidupan manusia. Setiap zaman memiliki tema yang penting dan tak juga tuntas dibahas generasi selanjutnya lewat karya-karya seniman besar. Hanya saja, yang menjadi pertanyaan para penikmat seni dan awam yang melihat karya mereka selalu sama: apa sih faktor pendorong yang membuat seorang seniman, khususnya seniman kontemporer dalam menciptakan sebuah karya? Pertanyaan itulah yang ingin dijawab dalam pameran Indonesian Contemporary Art and Design (ICAD) atau pameran seni dan desain kontemporer Indonesia tahun ini.

Seni dan Desain Kontemporer Indonesia (ICAD) adalah pameran pertama dan satu-satunya yang memprakarsai kolaborasi antara desain, seni, teknologi, hiburan, dan industri perhotelan; melibatkan desainer interior, desainer grafis, fotografer, videografer, penulis skenario, pelukis, pematung, pembuat film, dan banyak pencipta lainnya. Di tahun ini, acara pameran tersebut masih diselenggarakan oleh Yayasan Design+Art Indonesia didukung oleh Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf), Artura Insanindo, dan Grandkemang. ICAD diadakan setiap tahun untuk mengeksplorasi kekayaan kearifan lokal Indonesia dengan cara kontemporer. Diadakan untuk pertama kalinya pada tahun 2009, ICAD telah menjadi pameran berskala besar, mempromosikan desain dan seni kontemporer di Indonesia. Umumnya pameran ini diadakan selama 6 hingga 8 minggu, disertai dengan acara pendukung lainnya, konvensi, lokakarya, dan pemutaran film.

Baca Juga: Ilustrator dan Desainer Grafis, Apa Sih Bedanya?

 

ICAD X: Upaya Para Seniman Kontemporer Mencari Hal-hal Terselubung
(Dok. Instagram/icadartura)
ICAD X: Upaya Para Seniman Kontemporer Mencari Hal-hal Terselubung
Karya FX Harsono di ICAD 2019 (Dok. Instagram/icadartura)

ICAD 2019 adalah pameran kesepuluh ICAD. Telah menyelenggarakan pameran secara konsisten setiap tahunnya selama sepuluh tahun, pameran ICAD kali ini seolah menjadi titik bersejarah perjalanan panjang untuk acara budaya dan kreatif di Indonesia sejak pertama kali diadakan pada tahun 2009. Untuk merayakan pencapaian ini, pihak penyelenggara menghadirkan sesuatu yang berbeda dalam presentasi di GrandKemang Hotel.

Bertajuk Searching for the Veiled Things, ICAD X beserta sepuluh seniman besar, empat belas generasi seniman baru, delapan seniman yang mengikuti open submission serta empat seniman yang diundang mengisi acara ini unjuk gigi menunjukkan hasil pencarian mereka terhadap praktik orang kreatif yang memberikan kontribusi penting bagi budaya kontemporer Indonesia.

Faktor X menjadi tema sentral ICAD 2019, yang dibingkai dalam metode kuratorial pemetaan pikiran. Para peserta pameran ini diundang untuk mengungkap karya kreatif mereka, yang telah disembunyikan dalam dokumen arsip, dokumentasi visual, catatan, dan buah pemikiran. Untuk mempresentasikan ide tersebut dalam sebuah pameran, Tim Artistik ICAD 2019 membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menjelajahi latar belakang sosial, metode artistik, dokumen, baik dengan mewawancarai para seniman / desainer dan memeriksa karya seni yang dibuat oleh sepuluh peserta seniman besar yang dianggap mewakili perkembangan karya kreatif terbaru di Indonesia. Kesepuluh seniman tersebut terdiri dari Adi Purnomo, Agus Suwage, Dolorosa Sinaga, F.X. Harsono, Hardiman Radjab, Hendra Hadiprana, Nirwan Dewanto, Rinaldy Yuniardi, Syahrizal Pahlevi, dan Tisna Sanjaya.

Cara yang dilakukan oleh pihak penyelenggara untuk peserta generasi yang lebih muda, seperti yang tercantum dalam laman perkenalan acara di website resminya, sama seperti kesepuluh seniman besar lainnya. Terdapat empat belas nama seniman muda yang turut mengikuti pameran ini; Achmad Krisgatha, Aliansyah Caniago, Bandu Darmawan, Benny Wicaksono, Danny Wicaksono, Denny R Priyatna, Lenny Ratnasari Weichart, Maryanto, Mulyana Mogus, Paul Kadarisman, Pingkan Polla, Suvi Wahyudianto, Tommy Ambiyo Tedji, Wimo Ambala Bayang, serta Yaya Sung; dan delapan nama seniman yang mengikuti open submission, Aditya Tri Suwito, Agnes Hansella, Dea Yuliana Kombaitan, Dhanurendra Pandji, Izal Batubara, Maria Deandra & Taufiqurrahman, Marten Bayuaji, The Distillery Asia. Para peserta ini diundang untuk mempresentasikan karya seni mereka dengan memberikan pengalaman terkait metode kreatif yang mereka lakukan.

Ide pemetaan pikiran atau mind mapping dibingkai dengan strategi membuka tabir atau membaca ‘jejak kaki’ (‘footprint’) milik para seniman dan desainer selama proses kreatif mereka. Ini berlandaskan kepercayaan jika semua karya ada di dunia kontemporer pada kenyataannya memiliki jejak kaki yang konstruktif yang berasal dari pemikiran pencipta mereka dan melekat pada dunia sosial di sekitar karya-karya para seniman dan desainer tersebut.

 

ICAD X: Upaya Para Seniman Kontemporer Mencari Hal-hal Terselubung

Dapat disimpulkan, melalui pencarian Faktor X dari sekian banyak peserta pameran, ICAD X ingin menyatakan bahwa konsep karya desain harus memiliki jejak spekulatif-konstruktif dari perancang yang membangun relevansi dengan masyarakat. Tak hanya itu, lewat acara yang sama tersirat sebuah harapan bahwa pameran tersebut dapat memberikan para penikmatnya pengalaman baru dalam melihat pekerjaan kreatif.

Baca Juga: Nadiyah Rizki & Astro Ruby: Spesialisasi Desainer dan Ilustrator Selalu Mengungguli Generasi

Tertarik untuk menjelajahi langsung jejak kaki para seniman kontemporer? Pameran ICAD X masih terbuka untuk umum dari tanggal 16 Oktober hingga tanggal 24 November 2019 di GrandKemang Hotel Jakarta.

 

Apa kamu seorang desainer yang ingin bergabung dalam jejaring GetCraft?