Hans Danial: Orisinal, Unik, dan Anti Caption Norak

hans danial profile 2

Makanan selalu jadi topik menarik dan pemecah suasana awkward saat kehabisan bahan pembicaraan dengan siapa saja. Tak heran jika topik tentang makanan juga kerap jadi konten yang menarik buat bahan tulisan; maka itu profesi food blogger jadi salah satu pilihan profesi baru yang terkesan mudah dan digemari, sambil juga mengenyangkan.

Ya, frasa yang digarisbawahi tersebut bisa jadi pemikiran yang salah. Pertama, karena profesi ini sebenarnya bukan barang baru; karena profesi ini bisa disebut juga sebagai “kritikus makanan di era digital”. Tokoh kuliner Bondan Winarno bahkan sudah memulai profesi ini sejak 17 tahun lalu. Dan jelas, ini juga bukan pekerjaan yang mudah.

Salah satu yang juga bisa dibilang sebagai pelopor food blogging adalah Hans Danial; atau banyak juga yang lebih mengenalnya dengan nama eatandtreats, sesuai titel laman blognya.

Ciri khas konten food blogging seperti foto top angle, optimalisasi filter, sampai berlomba mengulas tempat hangout kekinian yang sedang ramai diperbincangkan, tak selalu jadi andalan konten blog Hans. Pria kelahiran Sambas, Kalimantan Barat, 26 tahun lalu ini lebih fokus membahas tempat yang ia anggap menarik; bukan hanya apa yang sedang hype.

Berikut obrolan The Crafters dengan Hans Danial:

Apakah ada ambisi khusus saat pertama kali terpikir menjadi food blogger?

Sebetulnya enggak ada ambisi apa-apa pada awalnya. Actually nothing specialI was just in the last week of my internship di salah satu majalah hits anak muda, yang belakangan baru tutup. Kebetulan waktu itu lagi edisi tentang Food, and I read the article about this food blogger who is now actually my dear friend; dan pas baca I feel like I share the same hobby.

Beberapa hari setelah baca artikel itu saya langsung bikin blog aja, dengan nama eatandtreats yang sebetulnya dicetuskan oleh salah satu teman saya. There was no ‘fire’ or ‘ambitious’ vibe about the making of the blogit was more like candid, apa adanya, dan perkembangannya juga pelan-pelan; gather more readers withough any specific method to promote my blog.

Sampai akhirnya sekarang, saya sibuk blogging and work on projects as food and lifestyle influencer project, even though I think the term ‘influencer’ is silly, hahaha…

Apakah Anda setuju, untuk menjadi food blogger sukses harus punya konsep berbeda dari yang lain?

Yes! Bukan hanya sebagai food blogger saja, tapi juga dalam hal apapun, orisinalitas, keunikan, dan kualitas adalah tiga faktor penting yang bisa membedakan content creator yang satu dengan lainnya.

Saya sendiri enggak terlalu percaya hal-hal mainstream, karena apa poinnya menjadi sama, kalau bisa berbeda dan unik. Soal unik di sini berarti: you do you and you do your best!

hans danial photo 4
Apa ciri khas atau keunikan pada konten dari seorang Hans?

Saat posting, saya suka menyelipkan cerita-cerita personal, baik di blog maupun Instagram, dan sebenarnya juga, saya tipe yang enggak terlalu peduli tentang orang suka atau enggak; karena yang penting buat saya adalah saya menyukai apa yang saya post; meski secara umum, saya menulis dalam bentuk review atau memberikan informasi detail tentang tempat-tempat yang saya kunjungi.

Apa kiat dari Anda soal mengatasi rasa bosan akibat menulis topik yang sama terus-menerus?

To be honest, I feel like my boredom is going on and off, ada kalanya lagi jenuh banget, dan hiatus sebentar; but from that hiatus I constantly diingatkan untuk jangan menyerah terhadap passion-mu. Dan pada akhirnya saya jadi kangen pada proses menulis, mengedit gambar, dan fotografi.

Karena kenyataannya, i just love blogging. Memang tidak mudah menjaga komitmen; kadang-kadang kita lelah secara mental dan fisik, maka itu ada kalanya penting untuk berhenti sejenak.

Apa saja ‘peralatan perang’ Hans untuk membantu pembuatan konten blog?

I love carrying my mirrorless cameras around with at least 50mm lens equivalent or more. Dulu bawa DSLR ke mana-mana tapi berat. Sekarang prinsip kameranya sudah berubah, dulu mau yang superkeren biar kualitas bagus; sekarang cari yang kualitas mungkin enggak sebagus full frame, tapi masih bisa menghasilkan gambar bagus dan lebih praktis.

hans danial photo 3
Bagaimana cara membuat konten yang tidak terlalu ‘jualan’, tapi tetap menghasilkan impact nyata buat klien?

I don’t do hard selling, even though it’s ad; dan aku sering kasih info (AD) atau hashtag #ad agar orang tahu kalau konten itu adalah iklan; tapi saya eksplor juga apa yang memang bisa ditonjolkan dari produk tersebut.

Misal, fokus ke makanannya, fokus ke tampilannya, atau rasanya, sekreatif mungkin.

I am quite a rebel, karena saya enggak pernah mau posting sesuatu yang caption-nya norak setengah mati, dan hard selling habis-habisan.

Either I do it my way or I am out of the campaign.

Memang tidak mudah menjaga komitmen; kadang-kadang kita lelah secara mental dan fisik, maka itu ada kalanya penting untuk berhenti sejenak.
Apa pendapat Anda mengenai peran food blogger sebagai marketer?

Kadang saya merasa bersalah karena kerap mempertanyakan diri saya, apakah saya membawa traffic untuk restoran yang saya ulas atau tidak.

Tapi klien selalu memberi tanggapan, katanya setelah saya promote, mendadak jadi ramai, atau penjualan membaik. Hal itu membuat saya senang, dan meski tidak bisa melihat dengan mata kepala sendiri, semoga bisa jadi kolaborasi yang baik untuk kedua pihak.

Kalau Anda diberi kesempatan memiliki marketplace dengan kategori makanan, kira-kira akan seperti apa?

Wow, this one’s interesting, but I think I’ve always wanted a delivery (untuk online shop atau bisnis yang baru berkembang), dan ada fitur ‘online shop of the week‘, juga restaurants online reservation combined together, and I think we already have one.

Tapi buat rencana saat ini, maybe just seriously doing my YouTube and travel the Scandinavian countries.

 

Banyak penulis berkualitas seperti Hans Danial yang telah bergabung di GetCraft untuk menawarkan jasa penulisan dan editing untuk para klien di seluruh Indonesia. Ingin tahu penulis mana saja yang sudah gabung? Yuk lihat disini!

hans danial photo 5