Gembira Putra Agam: Pentingnya Mendengar dan “Membaca” Musik

Seperti kebanyakan orang yang lahir di era ’80-an, Gembira Putra Agam tumbuh akrab dengan kaset dan radio. Menurutnya, ketika itu, televisi belum terlalu bisa diandalkan untuk memperoleh hiburan, terutama musik yang menjadi kegemarannya; apalagi di Indonesia, kanal televisi masih dirajai lembaga penyiaran milik pemerintah.

“Hiburan dari TV enggak begitu bisa diharapkan,”​ ujar Gembi, sapaan akrabnya saat berbincang dengan The Crafters. “Dan waktu itu, era musik Indonesia masih didominasi pop cengeng,” imbuhnya. Maka itu ia lebih menikmati hiburan musik dari kaset dan radio.

Gembi memang sudah menggandrungi musik sejak masih kecil, ia mengaku dari berusia sekitar empat tahun. Walaupun belum terlalu dalam, katanya ia sudah ngeh dengan musik. Maka itu ia merasa memiliki hubungan intim dengan musik. Dari situlah musik terus jadi bagian penting dalam hidupnya; dari mulai mendengar, menikmati, hingga akhirnya menjadi bagian erat dari profesinya kini sebagai penulis.

Berikut obrolan The Crafters soal musik dan dunia tulis, dengan Gembi, yang kini juga salah satu Editor di Alibaba UC News:

gembira putra agam crafters 1
Bagaimana awal hubungan Anda dengan musik?

Semua gara-gara Pet Shop Boys. Dulu, lagu Domino Dancing-nya PSB lumayan heavy rotation di radio lokal. Selain itu, sepupu yang sudah SMU dan kuliah juga meracuni lewat koleksi kaset kompilasinya.

Dulu sih cuma nyambung sama nadanya. Catchy, terus sentimental at the same time. Tapi belum paham dance music atau new wave. Jadi masih buat seru-seruan aja, “Oh, ada ya musik begini, kayak buat aerobik.”

Tapi bukan fanboy sih, cuma suka sekadarnya aja. Sampai sekarang, basically saya dengar semua jenis musik. Misalnya waktu kecil, meski dengar PSB, saya juga mengikuti lagu anak-anak, seperti kebanyakan anak-anak kelahiran awal dekade ’80-an. Kayak lagu Bondan Prakoso, Enno Lerian, soundtrack Ksatria Baja Hitam, Saint Seiya. Tapi fokus koleksi musik, kebanyakan UK Indie atau Britpop.

Apakah ada pengalaman yang lebih personal dengan musik?

Wah, apa ya. Mungkin saat saya iseng-iseng bikin band, asal-asalan, eh malah dapat vote tertinggi di ICEMA 2012, untuk kategori Best Noise-Experimental. Waktu itu, nama band-nya Sungsang Lebam Telak, lagunya Semburan Diare Langsung ke Lidah yang Telah Terpatahkan Oleh Teori Usang Tata-Titi Bersepeda.

Walaupun terasa berantakan dan absurd, ternyata ada juga yang mengapresiasi band saya.

gembira putra agam crafters 3
Soal menulis, kapan Anda mulai tertarik menggelutinya?

Menulis secara umum mungkin sejak SMU, ketika teman memperkenalkan saya dengan puisi Sutardji Calzoum Bachri. Di awal kuliah, sekitar 2001-2002, saya mulai belajar nulis tentang musik dari zine dan newsletter independent.

Lalu pertama menulis ulasan musik justru dari rasa amazed dengan album yang disuka waktu itu, Another Green World dari Brian Eno. Jadi berani nulis karena pingin ngasih tau ke orang-orang, “Kalian juga mesti dengar album ini!” Kenapa? Karena ini album progressive rock yang terbilang unik. Banyak eksplorasi suaranya, hingga banyak mempengaruhi produser, komposer, dan musisi setelah eranya.

Sekitar 2003, saya bertemu teman kuliah yang juga founder Wasted Rockers, Dede. WR ini newsletter independent yang referensi musiknya lumayan OK di kalangan anak underground waktu itu. Di situlah, saya mulai serius menekuni music writing.

Kapan Anda mulai menulis musik, secara profesional?

Iya. Itu di pekerjaan pertama saya setelah lulus kuliah, yaitu menulis untuk majalah FHM Indonesia. Di majalah pria dewasa itu, saya menulis ulasan musik, film, produk teknologi, dan buku, selama tiga tahun.

Saat menulis musik, saya ngegabungin tiga hal: dengerin musik yang mau diulas, referensi untuk bisa jadi tambahan data, dan kalau ada kenangan terkait lagu itu, syukur, biar bisa memperkaya tulisan.
Apa “persenjataan” Anda saat menulis musik?

Harus seimbang antara mendengar musik, dan “membaca” musik. Baca musik itu sendiri harus terus dilatih, seiring dengan mendengarkan musik. Termasuk mengeksplorasi dan memahami akar genre musik.

Nah, saat menulis musik, saya ngegabungin tiga hal: dengerin musik yang mau diulas, referensi untuk bisa jadi tambahan data, dan kalau ada kenangan terkait lagu itu, syukur, biar bisa memperkaya tulisan.

Apakah pernah “mati angin” saat nulis musik?

Pernah banget! Biasanya saat mau coba-coba mengulas musik yang sebenarnya enggak dimengerti. Dan itu sering. Kalau sudah begitu, berhenti nulis dulu, sampai keluar mood yang nyaman. Lalu nulis lagi, setelah eksplorasi soal subjeknya. Makanya sekarang kalau mau menulis, saya pahami dulu musiknya; dan mencari serta mendengarkan juga roots-nya.​

gembira putra agam crafters 4
Apakah ada buku atau esai musik yang jadi favorit Anda?

Energy Flash-nya Simon Reynolds. Ini buku sejarah dance music yang terbilang lengkap. Dibagi per era, dari zamannya disco, house, techno, sampai ke UK garage, dubstep.

Kalau lokal, yang terakhir dibaca dan favorit tuh bukunya Ucok Homicide, Setelah Boombox Usai Menyalak. Ini kumpulan tulisannya Ucok, seru banget. Dia pakai pendekatan yang personal saat bicara soal musik. Terus bicara soal ideologi juga.​

Kalau penulis musik, saya suka Alexis Petredis yang konteks menulisnya selalu menarik. Sebab menurut saya, tulisan bisa dikatakan enak dibaca itu kalau memiliki referensi dan data, atau menggunakan pendekatan sejarah.​

OK, sekarang soal musik di Indonesia; sebagai penikmat dan penulis musik. Apa pendapat Anda?

Kalau sekarang, musik lokal sudah jamak banget. Banyak referensi keren didapatkan dengan mudah. Yang membedakan, kualitas produksi anak-anak sekarang jauh lebih keren, even di tataran DIYSoal keseriusan dan kualitas mereka, juga pernah saya bahas dalam tulisan saya ini: Dance Music Kita Tak Pernah Semeriah Ini​.

Begitu pula dengan penulis musik, saat ini makin ramai dan banyak anak muda yang tulisannya bagus-bagus.

Apa musik andalan Anda untuk membangkitkan mood?

Semua lagu Suede, kali ya. Juga komposisinya Max Richter, Ryuichi Sakamoto, komposer-komposer modern classical gitu. Kalau throwback, lagu Pass the Dutchie-nya Musical Youth.